NovelToon NovelToon
My Sweet Best Friend

My Sweet Best Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi
Popularitas:665
Nilai: 5
Nama Author: salbiah pulungan

tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7/ flashback 3 tahun lalu

Pada pagi yang cerah di hari Senin. Seorang anak laki-laki terlihat sudah rapi dengan seragam putih biru nya dan duduk di atas sepedanya. Rigecherta kecil terlihat menunggu Tivane di depan rumah Tivane.

"Tiva.. masih lama kah?" Tanya Rigecherta sudah meletakkan kaki di pedal sepeda nya.

" Iya.. ini udah siap" sahut Tivane sambil keluar dari rumah dengan tas biru muda di punggung. Cewek imut dengan rambut di ikat setengah dan pita di rambutnya itu melangkah mendekat ke arah Rigecherta dan langsung naik ke boncengan sepeda Rigecherta.

"Sorry ya lama, tadi nyari buku pr gue" ucap Tivane sambil nyengir membuat Rigecherta mengangguk.

"Btw pr apa tuh?" Tanya Rigecherta sambil melajukan sepedanya ke arah sekolah yang tidak terlalu jauh.

"Lo belum siap?" Tanya Tivane bersiap mengomel.

"Belum, nyontek ya nanti" pintanya sambil mengayuh.

"Ih... Udah di ingetin tau juga kemarin" omel Tivane.

"Ketiduran gue kemarin vane" ujarnya beralasan.

"Iya-iya deh nanti" cibir Tivane namun Rigecherta hanya tersenyum dan menambah laju sepeda itu.

"Pegangan Van" ujarnya membuat Tivane menurut dan menggenggam kaus di bagian pinggang Tivane.

Mereka memang selalu berangkat sekolah bersama. Mereka bahkan selalu bersama dari kecil karena tetanggan.

Namun saat mereka duduk di kelas 8 keluarga Rigecherta rumah. Saat itu Tivane bahkan menangis karena harus berpisah dengan sahabatnya itu namun karena rumah baru Rigecherta tidak terlalu jauh dari kawasan rumah Tivane ia pun merasa lega. Jadi mereka masih bisa berangkat bersama. sampai mereka berdua duduk di kelas 9 SMP malam itu menjadi awal mula Tivane dan Rigecherta berpisah.

Malam itu, Tivane tampak cantik dan lucu dengan Hoodie biru kebesarannya, ia berjalan santai hendak menuju taman tak jauh dari rumahnya karena sudah berjanji dengan sahabatnya -Rigecherta-

Handphone di tangannya berdenting membuat ia menunduk melihat pesan yang di kirimkan oleh Rigecherta.

Rigecherta: gue jemput aja ya Vane.

Tivane: nggak usah ini udah mau nyampe.

Rigecherta: yaudah, gue tunggu.

Tivane: Oky.

Tivane melanjutkan perjalanan sampai di pinggir jalan hendak menyebrang. Ia melihat Rigecherta di seberang duduk di atas motornya sambil menunduk ke handphone nya. Ya, tujuan Rigecherta mengajak Tivane ketemuan adalah untuk berjalan-jalan mencoba motor barunya.

"OY!" Panggil Tivane melambai membuat Rigecherta menoleh dan tersenyum mengangkat tangan balas menyapa.

Tivane melihat ke arah jalan kanan kiri saat hendak menyebrang. Saat melihat jalan sepi ia mulai melangkah menyebrang.

Namun tanpa siapa pun menyadari, dari arah barat ada mobil truk yang tak bisa mengendalikan mobilnya karena rem truk tersebut blong.

TINN..

BRAKK.

Dentuman nyaring itu membuat Rigecherta yang sedang meletakkan helm nya menoleh kaget. Lebih terkejut saat melihat tubuh yang tergeletak di tengah jalan itu.

"VANE!" Rigecherta langsung berlari menghampiri tubuh itu dan memeluk tubuh Tivane yang lemas. Benturan di kepalanya membuat darah mengalir di rambut Tivane membuat Rigecherta semakin kalut dan semakin kuat memeluk Tivane.

Orang-orang yang melihat itu pun berkerumun dan melihat kondisi Tivane.

"Tolong panggilin ambulance!" Pinta Rigecherta panik pada orang sekitar, membuat bapak-bapak menurut dan menelpon ambulance.

" Tiva, bangun Tiv" ucap Rigecherta panik sambil menepuk-nepuk pipi Tivane.

"Tivane..." Jeritnya.

Ambulance datang dan langsung membawa Tivane dan Rigecherta yang sudah kacau dengan tangan dan baju yang terkena darah Tivane.

"Tivane, kamu kuat. Bertahan please" pintanya masih menangis terisak dan menggenggam tangan Tivane.

Ambulance sampai di rumah sakit dan para petugas langsung menurunkan brankar Tivane dan langsung di dorong oleh petugas. Rigecherta juga ikut mendorong ke arah ruang UGD. Sampai di depan pintu ia dilarang oleh petugas agar tak ikut masuk.

Saat pintu UGD di tutup tangisnya kembali pecah dan langsung menghubungi ayah Tivane dengan perasaan campur aduk.

"Iya om, ini aku lagi di depan ruang UGD" ia kembali menghubungi ibunya sendiri.

Rigecherta duduk sendirian di lorong yang dingin itu sambil menatap ke arah pintu seolah berharap semuanya baik-baik saja.

"Rige, gimana keadaan Tivane?" Tanya ayah Tivane datang menghampiri dengan wajah khawatir.

"Kenapa bisa seperti itu kejadiannya Rige?" Tanya ibu Tivane dengan lembut, seolah tau anak lelaki di depannya juga sedang kalut.

"Nggak tau Tante, tadi Tivane mah nyebrang aku juga liat jalanan udah sepi, tapi pas aku balik badan ada truk yang kenceng banget tiba-tiba muncul." Jelas Rigecherta pelan dan tatapan yang tak lepas dari pintu matanya menatap nanar dan berkaca-kaca. _Ia merasa gagal menjaga Tivane._

"Rige," kali ini suara ibunya terdengar membuat Rigecherta langsung menoleh.

"Kamu nggak papa kan?" Tanya ibunya menangkup wajah Rigecherta dengan khawatir.

"Aku nggak papa ma, tapi Tivane parah tadii.." adunya seolah hanya ibunya yang bisa menenangkan diri nya.

" Iya nggak papa, tenang dulu ya, kita tunggu apa kata dokternya" ucap ibu Rigecherta berusaha menenangkannya sambil memeluk anaknya dengan erat.

Bukannya mereda, tangisan Rigecherta malah semakin dalam di dekapan ibunya.

"Udah ya. Kita doain yang terbaik buat Vane" ucap ibunya mengusap kepala Rigecherta.

Saat dokter keluar dari ruangan, orang tua Tivane langsung maju dengan khawatir.

"Gimana keadaan anak saya dokter?" Tanya ibu Tivane.

" Pasien saat ini sudah stabil, mungkin beberapa jam lagi akan siuman, tidak ada luka parah, hanya benturan yang cukup keras di kepala anak anda" jelas dokter.

"Mari kita pindahkan pasien" ucap dokter pada dua susuter di belakangnya membuat kedua suster itu mengangguk.

"Makasih banyak dokter" ucap ayah Tivane menghembuskan nafas lega.

"Sama-sama pak, Sudah tanggung jawab saya" dokter pun pergi untuk memindahkan tempat Tivane ke ruang rawat.

Rigecherta yang sejak tadi hanya diam sambil mendengarkan diam-diam merasa lge mendengar jawaban dokter.

Seperti yang di perkirakan dokter, beberapa saat kemudian Tivane mulai membuka mata perlahan.

" Vane, kamu nggak papa kan sayang?" Tanya ibunya langsung tegak.

" Mana lagi sakitnya?" Tanya ayah Tivane ikut cemas.

Rigecherta hanya bisa mengucap syukur melihat Tivane baik-baik saja.

"Kalian siapa?" Tanya Tivane dengan ekspresi bingung menatap orang di sekitarnya.

"Hah?!" Bagai tersambar petir, Rigecherta yang sudah sedikit lega kembali menatap Tivane yang menatap bingung ke arah mereka.

"Mohon maaf, ibu bapak, seperti yang saya katakan tadi, karena benturan yang cukup keras mungkin membuat anak anda mengalami amnesia" jelas dokter setelah melihat reaksi Tivane.

Rigecherta membeku di tempatnya dengan tubuh terasa lemas.

" Tolong jangan terlalu di paksakan ya ingatan anaknya. Permisi" pesan dokter sebelum akhirnya pamit pergi meninggalkan ruangan.

" Sayang ini mama. Kamu nggak ingat?" Tanya ibunya pelan nyaris berbisik.

"Nama kamu Tivane sayang" ucap ayah Tivane.

"Tivane?" Tanya Tivane pelan.

"Iya sayang, Tivane Gafisia." Ucap ayahnya menambahkan.

Rigecherta hanya bisa diam kemudian pergi dari ruangan, tak sanggup melihat Tivane yang tidak mengenalnya. Di depan ruangan Rigecherta luruh dan menangis sendirian.

Tivane di rawat di rumah sakit mungkin sekitar 3 atau 4 hari, dan setiap hari Rigecherta selalu menjaga Tivane dari luar ruangan. Ia tak pernah berani masuk saat Tivane sadar, ia hanya berani masuk saat Tivane tertidur, menjaganya dalam tidur lelap Tivane.

Saat Tivane sudah di perbolehkan pulang ke rumah ia juga selalu memantau Tivane dari jauh, karena tak ingin memaksakan ingatan Tivane yang mana itu berakhir menyakitinya.

Saat ayah Tivane di pindah tugaskan pun ia ikut membantu Tivane dan orangtuanya membereskan pakaian mereka namun ia hanya diam dan melihat Tivane diam diam saat membantu beberes.

Selama Tivane pindah ke Kalimantan, Rigecherta selalu menanyakan keadaan Tivane pada orangtuanya. Bahkan di pertemuan pertama mereka saat sore itu, Rigecherta rela pergi ke Kalimantan dan sangat senang karena melihat keadaan Tivane baik-baik saja.

Dan sampai saat ia mendengar kabar bahwa Tivane akan pindah kembali ia sangat senang sampai rela bolos sekolah hanya untuk melihat gadis yang ia tunggu selama 3 tahun lamanya.

Ia sangat senang melihat Tivane tidak banyak berubah, hanya saja ia menjadi lebih tinggi dan rambutnya yang semakin panjang.

Saat Tivane jadi murid baru di kelasnya Rigecherta langsung modus meminta nomor. Terlalu lama menunggu terkadang membuat ia hampir nekat menjumpai Tivane dan langsung memeluknya seerat yang ia bisa.

Rigecherta selalu meminta satu hal _tolong jangan pisahkan kami lagi dalam keadaan apa pun itu._

Flashback off

1
jaybi
buat visual dan foto kenangannya ada di Instagram aku ya guys.. namanya: Salbiah
jaybi
jangan lupa tinggalin komentar kalian yaa😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!