NovelToon NovelToon
Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.

​Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.

Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Racun di Sajian

​Aroma kuah sup yang gurih dan hidangan spesial buatan Vina mengepul indah, memenuhi setiap sudut ruangan dapur mansion yang biasanya terasa dingin. Di meja konter tengah, Ica sedang sibuk menata mangkuk-mangkuk porselen, sementara Vina bersiap untuk merapikan nampan.

​"Ica, tolong jaga kompornya sebentar, ya. Aku harus mengambil nampan kayu besar dan alat pemeras jeruk di ruang penyimpanan belakang," ujar Vina seraya mengelap tangannya pada kain bersih.

​"Iya, Nyonya, serahkan pada saya. Supnya tinggal diaduk sebentar lagi lalu matang, kan?" sahut Ica tanpa menoleh, fokus menghias pinggiran piring dengan daun seledri.

​"Iya, tapi jangan ditinggal lama-lama ya, Ca. Aku sebentar saja kok ke ruang penyimpanan," pesan Vina sebelum akhirnya melangkah setengah berlari kecil dan menghilang di balik pintu lorong ruang penyimpanan.

​Kini, Ica sendirian di dapur yang luas itu. Setelah selesai menghias piring, Ica berjalan menuju wastafel yang berada di sudut kiri dapur, membelakangi area kompor untuk mencuci tangannya yang terkena sisa bumbu. Suara gemercik air keran meredam atmosfer sunyi di ruangan tersebut.

​Tepat pada saat itulah, pintu belakang dapur yang terhubung langsung dengan lorong jemuran luar berderit pelan.

Sebuah bayangan hitam bergerak sangat cepat dan senyap. Sosok itu mengenakan pakaian pelayan serba hitam, melangkah mengendap-endap dengan tubuh membungkuk, langsung menuju ke arah area kompor tempat dua panci masakan Vina berada. Tangannya yang gemetar buru-buru merogoh saku celemek, mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisikan cairan bening yang tampak asing.

​Kring!

​Suara tutup botol yang tidak sengaja membentur bibir panci terdengar samar. Ica yang baru saja mematikan keran air langsung menyipitkan mata. Ia membalikkan tubuhnya, dan seketika itu juga jantungnya serasa berhenti berdetak.

​Dari jarak sekitar lima meter, Ica melihat dengan jelas siluet punggung seorang pelayan berbaju hitam sedang memegang botol kecil, mengocok cairan bening itu ke dalam panci sup Radit dan wadah masakan Nyonya Besar.

​"Hei! Siapa itu?! Mau apa kamu di kompor Nyonya Vina?!" teriak Ica lantang dengan suara bergetar, menjatuhkan kain lap di tangannya.

​Sosok hitam itu tersentak kaget. Mendengar teriakan Ica, ia langsung menyumbat kembali botolnya dan berbalik cepat. Namun, karena ia memakai kain penutup wajah, Ica tidak bisa mengenali mukanya dengan jelas.

Sosok itu memberikan tatapan mata yang tajam dan dingin kepada Ica, sebelum akhirnya berbalik dan berlari kencang keluar menerobos pintu belakang dapur, menghilang di kegelapan lorong jemuran.

​"Maling! Hei, berhenti!" jerit Ica panik.

​Ica berlari sekencang mungkin memutari meja konter tengah untuk memeriksa apa yang terjadi di atas kompor. Namun sial, di detik yang sama dari pintu seberang, Vina sudah kembali membawa nampan dan gelas-gelas kosong. Karena tidak ingin Radit menunggu terlalu lama di kamar, Vina bekerja dengan sangat cekatan.

​"Nyonya Vina, jangan sentuh kompornya!" teriah Ica dari kejauhan.

​Namun, kalimat Ica kalah cepat dengan gerakan tangan Vina. Tanpa menyadari kepanikan yang terjadi, Vina langsung menyendok sup ayam yang masih mendidih itu ke dalam mangkuk keramik, menyusunnya di atas nampan dengan gerakan super cepat, dan bergegas berjalan keluar dapur menuju lantai atas.

​"Nyonya Vina, tunggu! Jangan dibawa dulu supnya! Nyonya, berhenti dulu, ada orang mencurigakan tadi!" jerit Ica, berusaha mengejar dari belakang.

​"Ada apa sih, Ca? Aku buru-buru, Mas Radit sudah lapar di atas," sahut Vina dari kejauhan sambil terus berjalan cepat menaiki anak tangga tanpa menghentikan langkahnya.

​Semuanya seolah berjalan dalam keadaan yang lambat. Langkah kaki Vina terlampau cepat karena kamarnya berada di lorong depan lantai dua. Sementara itu, langkah Ica terhambat dan sempat terhuyung karena ujung celemeknya menyenggol sudut meja dapur hingga membuat beberapa stoples bumbu berdenting riuh dan pecah ke lantai.

Di sudut lorong tangga tengah, Bi Asih ternyata juga sudah mengambil wadah makanan spesial untuk Nyonya Besar dan berjalan berlawanan arah dengan langkah anggun menuju kamar tidur sang ibu mertua.

​"Aduh, Ya Tuhan... bagaimana ini?! Tuan Muda bisa celaka!" pekik Ica frustrasi, meremas rambutnya sendiri dengan panik.

​Napas Ica memburu berantakan, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Mengingat taruhannya adalah nyawa Tuan Mudanya, Ica membuang jauh-jauh rasa takutnya akan aturan mansion. Ia berlari menaiki satu per satu anak tangga, melintasi koridor dengan terengah-engah, dan langsung menghantam pintu kamar utama Vina dan Radit hingga terbuka lebar tanpa mengetuk sama sekali.

​BRAAAKKK!

​"TUAN MUDA! NYONYA! JANGAN DIMAKAN! SAYA MOHON JANGAN DIMAKAN!" teriak Ica histeris dengan sisa napasnya, wajahnya pucat pasi seperti mayat dan kedua matanya membelalak ketakutan.

​Di dalam kamar yang semula tenang, Radit dan Vina langsung tersentak kaget dari posisi duduk mereka. Sendok sup yang sudah berada hanya beberapa sentimeter di depan lipatan bibir Radit seketika tertahan kaku di udara. Radit menurunkan sendoknya perlahan, lalu menatap pelayan muda yang berdiri gemetar di ambang pintu itu dengan sorot mata elang yang sangat tajam, dingin, dan mengintimidasi.

​"Lancang sekali kau, Ica! Di mana tata kramamu?!" bentak Radit, suaranya berat dan bergetar menahan amarah karena privasi kamarnya diganggu dengan kasar. "Siapa yang mengizinkanmu mendobrak pintuku dan berteriak seperti orang gila?!"

​Vina yang melihat tubuh Ica gemetar hebat segera berdiri, memegang lengan Radit untuk menenangkannya sebelum beralih menatap Ica dengan bingung dan cemas. "Ica, tenang dulu... ada apa denganmu? Kenapa kamu sampai nekat berbuat seperti ini? Kalau Bi Kepala Pelayan lihat, kamu bisa dihukum berat."

​"M-Mohon ampun, Tuan Muda... Ampun, Nyonya..." ucap Ica terbata-batar, air matanya mulai menetes karena ketakutan setengah mati melihat tatapan membunuh dari Radit. "Tapi saya harus menghentikan Tuan Muda... Makanan itu... Sup ayam itu sudah disabotase oleh seseorang!"

​Radit mengernyitkan alisnya tebal, menatap mangkuk sup di hadapannya dengan pandangan skeptis dan penuh penolakan. "Jangan membuat cerita konyol untuk mencari perhatian, Ica. Di dapur bawah tadi yang memasak hanya istriku dan kamu. Siapa orang luar yang punya nyali masuk ke mansion ini dan mengendap-endap ke kompor?"

​"Benar, Ica. Mas Radit baru saja tenang, jangan membuat suasana kembali panas," tambah Vina lembut, mencoba berpikir logis. "Kita berdua berada di dapur sejak tadi, rasanya tidak mungkin ada yang berani berbuat sejauh itu."

​"Saya tidak berbohong, Nyonya! Saya berani sumpah mati!" tangis Ica akhirnya pecah karena merasa frustrasi tidak dipercaya oleh kedua majikannya. Ia melangkah maju satu langkah, menunjuk mangkuk sup dengan jari yang gemetar hebat. "Tadi saat Nyonya Vina pergi ke ruang penyimpanan belakang, saya sedang cuci tangan di wastafel. Saat berbalik, saya melihat siluet bayangan orang berbaju hitam di depan kompor! Dia menuangkan cairan dari botol kecil ke dalam panci! Orang itu langsung kabur lewat pintu belakang setelah saya teriaki! Nyonya... saya mohon, tolong periksa dulu baunya atau apapun itu di makanan nya itu! Sifat cairan itu sangat aneh dan mengerikan!"

​Melihat kegigihan dan ketakutan yang luar biasa murni di bola mata Ica, perasaan Vina mulai tidak enak. Rasa curiga perlahan merayap di dadanya. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke arah mangkuk sup ayam kampung yang uap panasnya masih membubung tinggi. Vina menutup matanya, mengendus aroma hidangan itu dengan sangat saksama dan hati-hati.

​Seketika, kedua mata Vina membelalak lebar, tubuhnya menegang kaku. "Lho... Mas... baunya... baunya memang berubah," bisik Vina dengan suara yang mendadak tercekat di tenggorokan.

​"Berubah bagaimana?" tanya Radit, kini mulai menangkap ekspresi horor dan keganjilan di wajah istrinya. Radit ikut memajukan tubuh tegapnya, mendekatkan hidungnya ke atas mangkuk sup tersebut.

​Dalam hitungan detik, kening sang perwira berkerut dalam dan rahangnya mengeras seketika. Aroma sup yang beberapa menit lalu berbau wangi rempah tradisional dan gurihnya kaldu ayam kampung asli, kini menguapkan bau yang sangat aneh. Ada semacam aroma getir, asam, dan tajam menusuk hidung—mirip seperti bau zat kimia beracun yang terbakar secara paksa.

​"Jahe..." gumam Vina dengan bibir yang mendadak bergetar hebat dan wajah memucat. Otaknya yang terbiasa mengolah bahan makanan tradisional langsung bekerja cepat. "Mas Radit... cairan asing yang dimasukkan orang itu... zatnya bereaksi secara kimiawi saat berbenturan dengan senyawa panas dari jahe dan merica di dalam kuah sup ini. Bau asam yang menyengat ini... ini bukan bau bumbu gosong, Mas. Ini adalah tanda reaksi zat yang bisa menghasilkan racun mematikan!"

​Mendengar penjelasan ilmiah dan tegas dari mulut istrinya sendiri, kilat amarah yang sangat berbahaya dan dingin langsung memancar dari kedua mata Radit. Seseorang baru saja mencoba meracuninya di dalam rumahnya sendiri.

​Namun, sebelum Radit sempat melontarkan perintah untuk mengunci seluruh akses mansion dan menyeret pelakunya, Vina tiba-tiba membeku di tempat. Wajah gadis itu berubah pucat pasi, seluruh pasokan darah di tubuhnya seolah lenyap seketika. Ia menatap Ica dengan mata membelalak horor yang amat sangat.

​"T-Tunggu dulu..." Vina memegang dadanya yang mendadak terasa sesak, suaranya bergetar hebat. "Ica... panci masakan yang dimasukkan cairan itu... apa hanya panci sup milik Mas Radit saja? Ataukah..."

​Ica menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melebar panik dan air matanya semakin deras mengalir. "I-Iya, Nyonya! Panci yang satunya juga! Orang itu memasukkan cairan dari botol itu ke kedua wadah masakan yang ada di atas kompor!"

​"Astaga, Ibu!" jerit Vina histeris, separuh jiwanya seolah terbang. "Makanan milik Nyonya Besar tadi sudah dibawa ke atas lorong sebelah oleh Bi Asih!"

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, Radit langsung bangkit berdiri dengan sentakan kasar hingga kursi kayu berat di belakangnya terjungkal dan menghantam lantai marmer dengan bunyi berdentum keras.

Dengan gerakan panik yang dipenuhi ketakutan akan keselamatan ibunya, Radit, Vina, dan Ica langsung berhamburan keluar dari dalam kamar. Mereka berlari kencang, membelah keheningan koridor lantai dua menuju arah kamar tidur Nyonya Besar Laksmana di ujung lorong—berharap dan berdoa dengan sangat cemas di dalam hati agar sang ibu sama sekali belum menyuapkan makanan beracun itu ke dalam mulutnya.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
aduh maaf banget di bab kali ini banyak typo bertebaran 😭🙏
Ris Ris.25
Semangat ya Thor🙏
Ris Ris.25
Semangat thor🙏🙏
Ris Ris.25
mana nih kelanjutannya?🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: Oke ditunggu ya kak😊
total 1 replies
Ris Ris.25
Bagus sekali Thor... semangat! 🙏
Sri Sulastri
mana lanjutannya min 🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: huhu makasih ya kak sudah nungguin.. setiap Hari update 1 kali sehari ya biar sehat 🤣🤭 setiap jam 9
total 1 replies
Wawan
Salam kenal Vina ✍️💪
Putri Ayu/PqxxyZ: Hai kakk.. salam kenal kembali..
total 1 replies
Mustafa
Keren
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo kita lihat bersama PERWIRA GANTENG DAN BAIK
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!