Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diselesaikan dengan mudah?
Kian hampir saja terjatuh, dia maju beberapa langkah untuk menyeimbangkan tubuhnya dan Wanda yang ada dipelukannya.
Azka tau, dengan posisi begini Kian agak sulit menundukkan Aditama lebih cepat, walaupun si lemah itu sudah beberapa kali terkena tendangannya.
Reyhan dan yang lainnya pun belum bisa membantu karena menghadapi keroyokan teman teman Aditama. Dia dan kerabatnya butuh sedikit waktu lagi membuat mereka tepar bergelimpangan hingga tak mampu bangun lagi.
Hingga mereka mendengar banyaknya suara deruman mobil dan motor serta suara klakson yang membuat perkelahian itu bubar seketika.
"Papa ....." Kian menatap Azka, kemudian Aditama dengan tatapan menuduh.
"Bukan aku," sanggah Aditama seakan mengerti arti tatapan mengejek Kian dan Azka.
Dia sendiri terkejut melihat kehadiran papanya, juga papa teman temannya yang sudah ada di samping kendaraan masing masing. Kecemasan dan ketegangan terlihat jelas pada wajah papa papa mereka
Aditama teringat supirnya yang dia usir dari mobil tadi di parkiran sekolah.
Jangan jangan dia yang lapor papa, batinnya geram. Padahal hari ini mereka akan bisa menang karena timnya lebih banyak. Kian saja sekarang bisa sia buat kerepotan karena menggendong Wanda. Biasanya dialah yang jadi bulan bulanan Kian.
Hampir saja dia menghentakkan kaki karena kesal. Baru kali ini timnya bisa mengalahkan tim Kian. Biasanya merekalah yang dibuat bergelimpangan.
"Dad, aku jelaskan nanti. Aku harus bawa Wanda ke rumah sakit." Suara keras Kian menyadarkan Aditama.
"Aku yang akan membawanya."
Lagi lagi Azka menghalanginya mendekati Kian yang menoleh saja enggak padanya. Aditama menggeram marah. Dia menatap papanya agar memberikan perintah pada Kian untuk menyerahkan Wanda padanya.
Tapi papanya malah membiarkan Kian melewatinya.
"Panji, aku akan ke rumah sakit dulu. Anakmu juga butuh perawatan," tukas Dewa yang langsung mengikuti langkah Kian.
"Ya." Panji menjawab datar.
"Pa!" kaget Aditama ketika papanya seolah mengalah dan tidak berani menentang papanya Dewa.
Panji menghela nafas. Dia teringat ancaman Dewa.
"Kita ke rumah sakit. Kamu harus diobati."
"Aku ngga apa apa, pa. Aku mau Wanda," ngeyel Aditama dengan suara keras.
Perhatian sempat terfokus pada Aditama. Tapi Kian tetap cuek. Dia ikut masuk ke dalam mobil daddynya dengan Wanda yang berada di pangkuannya.
Hati Aditama tambah panas.
"Buat kamu siksa?" ejek Alen menyela ketika berjalan melewatinya bersama sepupu dan kerabatnya yang lain.
Mata Aditama melotot. Sekarang setiap orang menghampiri papanya masing masing. Termasuk teman temannya. Ngga terdengar suara marah dari papa papa mereka, hingga kerumunan itu ngga lama kemudian membubarkan diri.
Satu persatu motor dan mobil mulai pergi. Begitu saja. Mereka tidak membantah dan ngeyel seperti dirinya.
"Pa," protes Aditama lagi, masih dengan tuntutan agar papanya melakukan sesuatu sebelum mobil yang membawa Wanda pergi.
Yang makin membuatnya menahan ledakan marah karena tangannya masih dipegang papanya.
Panji memutuskan tatapannya dari Dewa dan menunjuk pengawalnya agar mendekat.
"Urus mobil ini." Dia kemudian menoleh pada anaknya yang masih melayangkan tatapan protesnya. Tangannya terulur.
"Mana kunci mobilnya?"
Aditama mendengus.
"Di dalam mobil."
Pengawalnya pun langsung pergi ke arah mobil yang ringsek itu.
Panji menarik tangan putranya ke arah mobil mereka dan membuka pintu mobilnya.
"Kita ke rumah sakit."
Dengan penuh rasa dongkol, Aditama terpaksa menurut.
Sementara Dewa menatap Azka yang ada di dekatnya bersama yang lainnya.
"Kalian juga ke rumah sakit," titahnya
"Iya, dad."
Azka dan kerabatnya hanya mengalami sedikit aja memar, lebih banyak dibandingkan dengan Aditama dan teman temannya.
"Nanti ganti pakaian. Biar mami ngga tau kalian abis berantem," kekeh Quin. Dia ikut datang bersama Theo-kembarannya.
Naresh dan Denish hanya nyengir. Omnya berkata benar karena kalo maminya tau, mereka bakal dicerewetin sampai lebih dari satu jam. Dan akan diungkit terus di setiap kesempatan.
Khalid juga menepuk nepuk bahu Dylan sambil.menggelengkan kepalanya.
Mereka melihat satu per satu musuh bebuyutan anak anak mereka pergi. Tapi karena masih rekan bisnis, beberapa diantaranya sempat melakukan jabat tangan lebih dulu sebelum pergi.
Perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan sebuah motor yang menepi ke arah mereka. Saat helm fullfacenya dibuka, tawa mengejek terdengar.
"Telat banget datangnya, om," sarkas Alen.
Ezra yang disindir bahkan sampai diketawain begitu rupa, hanya memasang wajah cueknya.
"Udah selesai? Ngga ada korban, kan?"
*
*
*
Kening Wanda dililit perban. Untung lukanya tidak parah akibat tubrukan mobil dengan pohon tadi.
Wanda agak bingung ketika matanya sudah terbuka. Matanya menatap langit langit kamar yang pasti bukan kamarnya, karena warna catnya juga beda. Selain itu kamar ini lebih luas dan langit langitnya lebih tinggi dari pada kamarnya. Dia memejankan mata berusaha mengingat yang sudah dia alami.
Dia tadi di mobil, kan, bersama Aditama?
Dimana dia?
Kepalanya berdenyut pelan.
"Hai ...., kamu sudah sadar?"
DEG
Jantung Wanda mendadak berdebar kencang.
Kian.
Dia ngga salah dengar, kan?
Matanya terbuka lagi dan menatap Kian yang sudah ada di sampingnya.
Sejak kapan?
Kok, dia ngga tau cowo ini ada di dekatnya?
Rona merah mewarnai wajahnya ketika menyadari kalo cowo itu sedari tadi berada di sampingnya.
"Aku ...." Tangannya meraih lilitan perban di keningnya.
Pantas saja ada yang aneh di kepalanya.
"Ada luka sobek, tapi ngga apa apa, kok. Udah diobati. Masih terasa pusing, ya?" tanya Kian dengan wajah khawatir.
Wanda agak meringis.
"Sedikit." Debaran aneh makin terasa di dadanya.
Kian di sini? Aditama ngga ada? Jadi sekarang dia sudah bebas dari Aditama? Batinnya penuh dengan banyak tanya. Ada perasaan lega yang muncul tiba tiba, membuatnya merasa nyaman dan aman.
Tuhan, semoga memang ini yang terjadi, batinnya penuh harap.
Kian, cowo yang dilihatnya saat pertama kali masuk sekolah. Waktu itu mereka saling bertatapan ketika dia baru keluar saja dari dalam mobil Aditama dengan tas ounggung berat dna kedua tangannya penuh dengan tentengan goodie bag.
Keningnya berkerut waktu itu. Wanda malu saat itu karena Kian pasti melihat perlakuan Aditama. Untungnya mereka ngga sekelas.
Tapi selanjutnya mereka beberapa kali bertemu karena Kian selalu menolongnya dari kekasaran Aditama. Walaupun untuk itu dia harus mendapatkan dobel penyiksaan. Dari Aditama dan juga mamanya.
Wanda menghembuskan nafas perlahan.
"Mau duduk?" Tanpa menunggu jawaban Wanda, Kian menaikkan sedikit posisi ranjang Wanda hingga cewe itu bisa duduk bersandar dengan nyaman.
Kian menuangkan teh panas dari dalam termos kecil ke dalam gelas.
"Minum dulu." Kian mengulurkannya pada Wanda.
"Terimakasih." Dengan canggung Wanda menerimanya. Kian selalu mentreatnya dengan sangat baik, padahal dia hanya pembantu Aditama.
"Kamu selalu berterimakasih," senyum Kian membuatnya semakin tampan di mata Wanda.
Wanda pura pura menatap teh panasnya yang ada di tangannya. Meminumnya lagi untuk meredakan kegugupannya.
"Pelan pelan aja minumnya," goda Kian yang menyadari Wanda salah tingkah.
Ya, jangan diliatin, kilah Wanda masih ngga mau menatap Kian.