Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Resepsi pernikahan
Suara lantang Rafael yang mengucapkan akad nikah dengan satu tarikan napas terdengar jelas hingga ke kamar tempat Kanaya menunggu.
Setiap kata yang keluar dari bibir pria itu terdengar mantap, penuh keyakinan, seolah tak menyisakan sedikit pun keraguan.
Kanaya yang sejak tadi duduk tenang perlahan mengangkat wajahnya. Entah mengapa, ada sesuatu yang berdesir lembut di dalam dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat, sementara telapak tangannya mulai terasa hangat.
Beberapa detik kemudian, suasana hening berubah oleh suara para saksi yang mengucapkan dengan lantang,
"Sah!"
"Sah!"
Disusul ucapan hamdalah dan takbir yang menggema memenuhi seluruh ruangan.
"Alhamdulillah..."
Refleks, jemari Kanaya saling menggenggam erat di atas pangkuannya.
Mulai detik ini, statusnya telah berubah.
Ia bukan lagi hanya Kanaya Putri Wijaya, melainkan telah resmi menjadi istri Rafael Dirgantara.
Di sampingnya, Keisya yang sedari tadi menahan antusiasme langsung melompat kecil.
"Yeay! Sah! Sah! Akhirnya Kanaya resmi jadi kakak iparku!"
"Selamat besti.."
Tanpa menunggu jawaban, Keisya memeluk Kanaya dengan penuh semangat, membuat beberapa perias dan keluarga yang berada di dalam kamar ikut tersenyum melihat tingkah cerianya.
"Apaan sih, udah. Lepas nggak, jangan sampai riasanku yang sudah memakan waktu berjam-jam ini berantakan karena kamu ya." gerutu Kanaya, saat melihat tingkah Keisya yang menurutnya terlalu berlebihan itu."
"Ck.. Pengantin itu harus bahagia, nggak boleh ngomel-ngomel."
Belum sempat Kanaya menimpali perkataan sahabatnya itu, Kirana masuk ke dalam kamar dengan senyum yang tak mampu menyembunyikan rasa harunya.
Kirana mengusap lembut kepala putrinya.
"Ayo sayang.. Kita turun ke bawah. Suamimu sedang menunggumu."
Mendengar kalimat itu, pipi Kanaya memanas. Ia menarik napas perlahan, lalu mengangguk pelan.
Dengan langkah anggun dan diiringi roncean melati yang bergoyang lembut, Kanaya bersiap meninggalkan kamar untuk menemui pria yang beberapa menit lalu telah mengucapkan janji sucinya dan kini resmi menjadi imam dalam hidupnya.
Kanaya yang berjalan anggun dengan langkah perlahan, di apit oleh ibu dan sahabatnya. Sementara roncean melati yang menghiasi sanggulnya bergoyang pelan mengikuti setiap langkah.
Suasana di lantai bawah yang semula dipenuhi bisik-bisik perlahan menjadi hening.
Semua mata beralih ke arah tangga.
Kanaya mulai menuruni anak tangga satu per satu dengan balutan kebaya pengantin putih gading yang dipadukan kain batik bermotif klasik. Riasan paes yang menghiasi wajahnya semakin mempertegas pesona lembut dan anggun yang ia miliki.
Para tamu tak mampu menyembunyikan kekaguman mereka.
"Masyaallah, cantik sekali."
"Benar-benar seperti putri keraton."
Bisikan pujian terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Harun yang berdiri di dekat pelaminan tersenyum bangga. Begitupun dengan Rafael, ia menatap gadis yang kini sudah menjadi istrinya itu dengan tatapan kagum saat melihat Kanaya terlihat sangat cantik.
Kirana dan Keisya mengantarkan Kanaya hingga ke tempat duduk di samping Rafael. Langkah Kanaya pelan dan anggun, sementara kebaya putih gading yang dikenakannya menjuntai indah mengikuti setiap gerakannya.
Begitu tiba di hadapan Rafael, keduanya saling berpandangan selama beberapa detik.
Namun dengan cepat Kanaya dan Rafael memutus pandangannya, mengalihkan ke arah lain secara bersamaan.
Kirana menuntun putrinya untuk duduk di kursi samping Rafael, ia yang berdiri di samping mereka mengulas senyum tipis lalu berucap lirih pada Kanaya.
"Kanaya, ayo c!um tangan suamimu, sayang." ucapnya lembut.
Dengan perasaan yang masih bercampur aduk, Kanaya menghela napas pelan. Ia meraih tangan Rafael, lalu mengecup singkat punggung tangan pria itu. Gerakannya terlihat kaku dan seolah dilakukan hanya karena menghormati orang tuanya.
Namun, saat hendak mengangkat kepalanya kembali, Kanaya mendadak tertegun.
Rafael yang sejak tadi diam justru ikut sedikit menundukkan tubuhnya. Tanpa terburu-buru, pria itu mengangkat tangan kirinya dan mengusap lembut pucuk kepala Kanaya sebelum mengecupnya pelan.
Sentuhan hangat itu begitu singkat, tetapi cukup membuat waktu di sekitar Kanaya seakan berhenti.
Matanya membulat, napasnya tertahan.
Ia mematung di tempat, menatap Rafael dengan ekspresi kaget yang sama sekali tidak bisa disembunyikan.
Sedangkan Rafael hanya menatapnya tenang. Tidak ada senyum berlebihan, tidak pula sikap yang dibuat-buat. Sorot matanya justru terlihat teduh, seolah ingin menyampaikan bahwa mulai hari itu ia akan menjaga perempuan yang telah sah menjadi istrinya.
Beberapa tamu yang menyaksikan momen tersebut ikut tersenyum haru.
"Aduh... manis sekali," bisik salah seorang kerabat.
Mauren yang duduk dibarisan depan langsung menyenggol lengan Opa Theo pelan, yang duduk tepat di samping dirinya.
"Lihat Pah, ternyata Rafael cucu papa kaku itu bisa bersikap manis juga yah.."
Opa Theo mengangguk sambil menahan senyum bangga. "Dia memang susah di tebak. Kali ini aku benar-benar yakin, tidak salah sama sekali karena sudah menikahkannya dengan Kanaya." lirihnya setengah berbisik pada Mauren.
Rafael mengulurkan tangannya dengan tenang, mengambil cincin yang telah disodorkan oleh Keisya di atas bantalan beludru putih.
Dengan gerakan perlahan namun mantap, Rafael menggenggam lembut tangan kanan Kanaya. Jemarinya yang hangat membuat Kanaya tanpa sadar sedikit menahan napas.
Hening sejenak menyelimuti ruangan.
Lalu, Rafael menyematkan cincin itu tepat di jari manis Kanaya. Tepuk tangan dan senyum bahagia dari keluarga yang menyaksikan langsung memenuhi ruangan, sementara Kanaya hanya bisa menatap cincin yang kini melingkar indah di jarinya.
Tak lama kemudian, giliran Kanaya.
Keisya kembali mengarahkan kotak cincin kepadanya. Dengan cepat, Kanaya mengambil cincin pria itu.
Kanaya mengangkat tangan Rafael perlahan. Sekilas ia melirik wajah pria itu, namun begitu mata mereka bertemu, ia buru-buru mengalihkan pandangan, membuat Rafael tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis.
Dengan hati-hati, Kanaya menyematkan cincin tersebut pada jari manis Rafael hingga pas di tempatnya.
"Alhamdulillah..." bisik beberapa anggota keluarga dengan wajah penuh syukur.
* *
Malam hari, ballroom hotel *** telah berubah menjadi lautan cahaya yang memukau. Lampu kristal menggantung indah di langit-langit, memantulkan kilauan keemasan yang berpadu dengan dekorasi bunga putih dan sentuhan hijau yang elegan. Alunan musik orkestra mengisi setiap sudut ruangan, menciptakan suasana hangat sekaligus megah.
Para tamu undangan mulai berdatangan mengenakan busana terbaik mereka. Kerabat dari kedua belah pihak keluarga saling berbincang sambil menikmati hidangan yang tersaji, sementara para kolega bisnis keluarga Dirgantara dan keluarga Wijaya memenuhi area VIP, bertukar sapa dengan senyum ramah.
Di bagian depan ballroom berdiri sebuah panggung megah dengan latar bunga-bunga segar dan layar kristal yang memancarkan cahaya lembut. Tepat di tengahnya terdapat sepasang kursi pelaminan berwarna putih gading yang tampak anggun.
Tak lama kemudian, lampu ruangan sedikit diredupkan. Seluruh perhatian para tamu beralih ke arah pintu utama ketika musik berganti menjadi lebih syahdu.
Rafael melangkah lebih dulu dengan setelan tuxedo hitam yang dipadukan dasi kupu-kupu senada. Wajahnya terlihat datar namun ketampanannya tetap memancarkan pesona seorang Rafael yang penuh wibawa.
Disampingnya, berdiri Kanaya dengan gaun putih yang menjuntai anggun menyentuh lantai, dihiasi detail payet berkilau yang memantulkan cahaya lampu di setiap langkahnya. Rambutnya ditata sederhana dengan veil panjang yang menambah kesan anggun, sementara senyum tipis di wajahnya membuat banyak tamu terpaku.
Bisik-bisik kagum terdengar dari berbagai penjuru ruangan.
"Masya Allah, cantik sekali..."
"Mereka benar-benar pasangan yang serasi."
Langkah Rafael dan Kanaya bergerak perlahan menyusuri lorong utama ballroom yang telah dihiasi rangkaian bunga putih dan lampu-lampu kristal berkilauan. Alunan musik yang lembut mengiringi setiap langkah keduanya, sementara seluruh tamu undangan berdiri memberikan tepuk tangan meriah.
Kanaya berjalan di sisi Rafael dengan satu tangan menggandeng lengan suaminya. Jemarinya mencengkeram pelan, menyimpan rasa gugup yang masih belum sepenuhnya hilang. Di balik senyum anggunnya, ia berusaha menenangkan debar jantung yang terasa semakin cepat karena menjadi pusat perhatian malam itu.
Rafael yang menyadari genggaman itu melirik sekilas ke arah Kanaya. Tanpa mengucapkan apa pun, ia sedikit menekuk lengannya, memberikan sandaran yang lebih nyaman agar Kanaya dapat berjalan dengan tenang.
Tatapan para tamu mengikuti langkah keduanya hingga tak sedikit yang mengabadikan momen tersebut dengan ponsel masing-masing.
"Benar-benar seperti pasangan dalam dongeng."
"Serasi sekali."
Bisik-bisik kagum terdengar dari berbagai arah, namun Rafael dan Kanaya tetap melangkah pelan hingga akhirnya tiba di depan pelaminan.
Rafael lebih dulu menaiki anak tangga kecil, lalu berbalik menghadap Kanaya. Dengan gerakan alami, ia mengulurkan tangan kanannya.
Kanaya sempat tertegun sesaat sebelum meletakkan telapak tangannya di atas tangan Rafael. Pria itu menggenggamnya dengan mantap, membantu Kanaya menaiki pelaminan tanpa sedikit pun melepaskan genggaman mereka.
Begitu keduanya berdiri sejajar di tengah pelaminan, kilatan kamera langsung memenuhi ruangan. Lampu-lampu sorot menyoroti pasangan pengantin yang tampil begitu elegan.
Tamu undangan mulai bergantian menaiki pelaminan. Senyum hangat dan ucapan selamat terus mengalir untuk Rafael dan Kanaya yang berdiri berdampingan sebagai sepasang pengantin baru.
Satu per satu mereka menyalami para tamu, menerima doa serta harapan baik yang dipanjatkan untuk kehidupan rumah tangga mereka. Beberapa kerabat bahkan memberikan pelukan singkat kepada Kanaya yang tampak anggun dalam balutan gaun pengantinnya, sementara Rafael membalas setiap jabat tangan dengan sikap ramah dan penuh hormat.
"Hufft.. Harusnya aku membatasi undangan yang Mommy sebar, kalau tahu begini." gerutu Kanaya lirih, saat selesai bersalaman dengan salah satu kolega bisnis orang tuanya.
Rafael melirik Kanaya saat mendengar dia menggerutu. Ia terlihat sudah lelah namun tetap mencoba untuk tersenyum manis saat tamu-tamu bersalaman dengannya.
Tanpa banyak bicara, ia menggeser posisinya sedikit lebih dekat dan berbisik pelan.
"Kalau capek, kamu bisa turun sekarang."
Kanaya menoleh, "Emang boleh ? Kalau mereka nanyain aku gimana ?"
"Tinggal jawab saja, pengantin wanitanya kabur karena terpaksa menerima pernikahan ini."
Jawaban Rafael membuat Kanaya melotot, "Aish.. Enak aja ya.. Ka.."
"Diam. Semua orang melihat, kita harus pura-pura saling mencintai di depan mereka. Jangan buat malu keluarga." bisik Rafael, membuat Kanaya menghela napasnya pelan. Mencoba untuk tersenyum dengan manis kembali.
Melihat itu, Rafael menyunggingkan bibirnya. Ia tersenyum tipis, tanpa ada yang menyadarinya baik itu Kanaya atau yang lain.
Namun, tiba-tiba wajah Rafael sedikit menegang saat seorang wanita berjalan menaiki pelaminan. Lalu mengulurkan tangan padanya.
"Selamat Raf, semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan." lirihnya, dengan senyuman yang sulit di artikan.
* * * *
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣