Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: AKUN ANONIM "V"
Bab 5: Akun Anonim "V"
Hari Sabtu pagi di kediaman Elrod selalu dimulai dengan aroma panggangan roti premium, kopi arabika berkelas, dan mentega impor yang menguar dari dapur utama di lantai atas. Namun, kehangatan itu tidak pernah menyentuh koridor bawah tanah tempat kamar gudang Valerie berada. Di ruangan sempit yang lembap itu, satu-satunya aroma yang tercium adalah bau debu tua dan kayu lapuk yang perlahan digerus usia.
Valerie terbangun tepat pukul lima pagi. Tubuhnya yang kurus diregangkan sedikit, merasakan otot-ototnya yang mulai terbiasa dengan ritme berjalan kaki lima kilometer setiap hari. Tidak ada keluhan, tidak ada air mata. Baginya, rasa sakit fisik ini adalah pengingat terbaik bahwa dia masih hidup dan memiliki utang darah yang harus ditagih pada garis waktu ini.
Dia duduk bersila di atas ranjang lipatnya, meraih ponsel pintarnya yang retak seribu. Langkah pertama hari ini adalah melakukan audit finansial menyeluruh terhadap modal yang baru saja dia ledakkan dari saham INOV kemarin.
Jemari ramping Valerie bergerak taktis di atas layar. Saldo Rp52.450.000,00 di akun sekuritas lokalnya segera ditarik (withdrawal) secara penuh ke rekening bank digital basic yang dia buka atas namanya sendiri tanpa afiliasi kartu kredit keluarga Elrod. Setelah dana itu mendarat, Valerie tidak mendiamkannya satu detik pun.
Menggunakan koneksi jaringan terenkripsi VPN tingkat tinggi, Valerie mengalihkan seluruh modal itu ke sebuah broker komoditas berjangka internasional yang berbasis di Zurich, Swiss. Di bursa internasional ini, dia tidak mendaftarkan diri dengan dokumen resmi yang bisa dilacak oleh jaringan intelijen bisnis Gilbert Elrod. Dia masuk ke dalam kegelapan siber, menggunakan protokol kriptografi tanpa wajah, dan menciptakan sebuah akun perdagangan anonim yang hanya diidentifikasi dengan satu huruf tunggal di papan peringkat pasar: "V".
"Bursa lokal terlalu lambat dan terlalu banyak regulasi pembatasan," gumam Valerie, matanya memancarkan binar dingin saat melihat grafik pergerakan harga minyak mentah (Crude Oil) dan kontrak berjangka emas (Gold Futures) yang bergerak liar dua puluh empat jam penuh di layarnya. "Untuk melipatgandakan lima puluh juta menjadi miliaran dalam waktu singkat, saya butuh pasar dengan likuiditas tanpa batas dan leverage tinggi."
Valerie memilih menggunakan skema leverage $1:500$, sebuah sistem perdagangan bermata dua yang sangat mematikan. Bagi investor amatir, menggunakan leverage sebesar ini dengan modal lima puluh juta rupiah sama saja dengan bunuh diri finansial—satu pergerakan kecil yang salah bisa menghapus seluruh modal dalam hitungan milidetik. Namun bagi Valerie yang memegang lembar cetak biru memori masa depan, volatilitas pasar dunia ini tidak lebih dari sekadar tarian angka yang koreografinya sudah dia hafal luar kepala.
Dia melihat grafik minyak mentah dunia yang sedang mengalami konsolidasi akibat ketegangan geopolitik semu di Timur Tengah. Para analis top di Bloomberg dan CNBC memprediksi harga minyak akan terkoreksi turun hari ini. Namun, Valerie tahu persis bahwa dalam waktu tiga jam ke depan, sebuah kilang minyak utama di Selat Hormuz akan mengalami kegagalan sistem teknis mendadak yang akan memotong suplai harian global sebesar dua persen.
Tanpa ragu, Valerie mengeksekusi posisi Long (Beli) dalam jumlah lot maksimal yang bisa ditampung oleh margin modalnya melalui akun "V".
"Eksekusi selesai," bisik Valerie, mengunci ponselnya lalu meletakkannya di atas meja kayu kecil di samping ranjang. Tugasnya di lantai perdagangan digital untuk pagi ini sudah selesai. Sekarang, taruhan itu sedang berjalan di benua seberang.
Pukul 07.30 pagi, perut Valerie mulai berbunyi karena lapar. Selama seminggu terakhir, dia sengaja melewatkan sarapan di meja makan utama karena tidak sudi melihat wajah-wajah palsu keluarga Elrod sebelum berangkat sekolah. Namun, pagi ini dia memutuskan untuk pergi ke dapur belakang guna mencari hak asupan nutrisinya yang mendasar.
Ketika Valerie melangkah masuk ke area dapur kotor tempat para pelayan biasa menyiapkan makanan, suasana mendadak canggung. Tiga orang pelayan wanita senior yang sedang merapikan piring-piring porselen mahal seketika menghentikan obrolan mereka dan menatap Valerie dengan pandangan sinis bercampur meremehkan.
Kepala pelayan rumah tangga kediaman Elrod, seorang wanita paruh baya bertubuh gempal bernama Mbok Darmi, berjalan mendekati meja konter kayu dengan langkah yang sengaja dihentakkan. Di tangannya, dia membawa sebuah piring aluminium murah—jenis piring yang biasanya digunakan untuk memberi makan hewan peliharaan atau pekerja bangunan musiman.
Di atas piring itu, terdapat dua lembar roti tawar pinggiran yang sudah agak mengering, sepotong sosis dingin yang tampak layu sisa makan malam Christian tadi malam, dan sedikit olesan margarin murah.
"Ini jatah sarapan buat kamu, Valerie," ucap Mbok Darmi dengan nada suara yang sangat angkuh, bahkan tidak sudi memanggilnya dengan sebutan 'Non' seperti yang selalu mereka lakukan pada Alethea. "Nyonya Victoria bilang, menu sarapan di ruang utama hari ini sangat terbatas dan khusus disiapkan untuk tamu-tamu penting Papa Gilbert. Jadi, kamu makan ini saja di kamar bawah. Jangan naik ke atas dan mengotori ruang makan utama, mengerti?"
Dua pelayan muda di belakang Mbok Darmi tampak menutup mulut mereka, menahan tawa geli melihat "putri kandung" yang posisinya bahkan lebih rendah dari mereka di rumah ini. Mereka sengaja melakukan ini karena tahu bahwa memperlakukan Valerie seperti sampah adalah cara tercepat untuk mengambil hati Victoria dan Alethea.
Valerie menatap piring aluminium itu selama tiga detik. Wajahnya tidak menunjukkan rasa terhina, terluka, atau matanya berkaca-kaca menahan malu. Sebaliknya, dia menatap Mbok Darmi tepat di manik matanya dengan tatapan yang teramat hambar—sebuah tatapan kosong yang entah mengapa membuat bulu kuduk kepala pelayan itu mendadak berdiri.
Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Valerie mengulurkan tangan kanannya, mengambil piring aluminium tersebut.
Mbok Darmi tersenyum puas, mengira gadis panti asuhan ini akhirnya tunduk pada hierarki rumah. Namun, senyuman itu langsung membeku di wajahnya ketika Valerie membalikkan badannya dengan anggun, berjalan dua langkah menuju tong sampah besar berbahan stainless steel di sudut dapur, lalu melepaskan pegangan tangannya.
PRANGGG! CLAKKK!
Piring aluminium beserta seluruh makanan sisa di atasnya jatuh terhempas ke dalam tumpukan sampah dapur, bercampur dengan kulit telur dan sisa sayuran busuk.
"Kamu... apa yang kamu lakukan?!" Mbok Darmi berteriak histeris, wajahnya memerah karena syok dan merasa otoritasnya ditantang. "Lancang sekali kamu ya! Itu makanan masih layak makan! Kalau kamu tidak mau, tidak usah dibuang ke tong sampah! Dasar anak tidak tahu diuntung, sudah ditampung di rumah ini malah bertingkah!"
Valerie membalikkan tubuhnya perlahan, menyandarkan punggungnya pada dinding dapur dengan santai, melipat kedua tangannya di dada.
"Layak makan, katamu?" suara Valerie beralun begitu tenang, namun setiap katanya terasa seperti tusukan jarum yang tajam. "Jika makanan sisa dan dingin itu menurutmu layak makan, silakan kamu pungut kembali dari dalam sana dan habiskan sendiri bersama teman-temanmu, Darmi. Perut saya terlalu berharga untuk diisi oleh sampah yang sengaja kamu siapkan demi menjilat pantat Victoria."
"Kamu—!!" Mbok Darmi menunjuk wajah Valerie dengan jari yang bergetar hebat karena amarah yang memuncak. Dia tidak pernah menyangka bahwa anak remaja yang biasanya diam dipojokkan ini bisa mengeluarkan kata-kata sekejam dan sedingin itu tanpa kedipan mata.
Sebelum Mbok Darmi sempat membalas dengan makian lain, Valerie sudah berbalik dan melangkah pergi meninggalkan dapur kotor dengan langkah kaki yang konstan, mengabaikan seluruh teriakan histeris dari para pelayan di belakangnya.
Kembali ke dalam kamar gudangnya, Valerie duduk di tepi ranjang. Dia mengeluarkan ponselnya kembali, membuka sebuah aplikasi layanan pesan-antar makanan premium dari restoran hotel bintang lima yang terletak tidak jauh dari kawasan Menteng.
Dia memesan satu porsi Australian Wagyu Ribeye Steak dengan tingkat kematangan medium-rare, ditemani dengan sup asparagus hangat dan jus jeruk murni tanpa gula—sebuah menu makanan bergizi tinggi yang kaya akan protein dan zat besi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh tirusnya saat ini. Total tagihannya mencapai tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, jumlah uang yang setara dengan gaji setengah bulan seorang pelayan di rumah ini.
Tanpa kedipan mata, Valerie melakukan pembayaran instan menggunakan kartu debit virtual dari akun bank digital barunya. Uang hasil ledakan bursa miliknya kini telah memberinya kebebasan mutlak atas apa yang ingin dia masukkan ke dalam tubuhnya sendiri.
Tepat setelah transaksi makanan itu selesai, sebuah notifikasi kilat (flash notification) muncul di bagian atas layar ponsel pintarnya dari aplikasi broker Zurich.
Notifikasi: Akun "V" — Target Keuntungan Terpenuhi (Take Profit Triggered).
Mata hitam pekat Valerie seketika menyipit tajam. Dia membuka aplikasi perdagangan berjangka internasional tersebut. Di sana, grafik harga minyak mentah dunia telah meledak tegak lurus, menembus angka batas atas yang telah dia kalkulasikan sejak pagi tadi akibat berita kerusakan kilang di Selat Hormuz yang baru saja dirilis oleh Reuters semenit yang lalu.
Posisi Long berleverage tinggi yang dia ambil dengan modal lima puluh dua juta rupiah beberapa jam lalu telah ditutup secara otomatis oleh sistem bursa pada titik tertinggi absolutnya.
Valerie melihat angka saldo barunya yang tertera di layar dalam denominasi Dolar AS, yang kemudian dikonversikan secara otomatis ke dalam mata uang Rupiah oleh sistem pelaporan portofolionya.
Saldo Akun Anonim "V": USD 134,200.00 (Setara dengan Rp2.013.000.000,00)
Dua miliar rupiah.
Sebuah angka yang fantastis, yang berhasil dikumpulkan oleh seorang gadis remaja berusia delapan belas tahun dari dalam sebuah kamar gudang pengap berukuran dua kali tiga meter, hanya dalam waktu kurang dari satu minggu setelah dia dibuang dengan uang saku tiga ratus ribu rupiah.
Pintu luar koridor bawah tanah terdengar diketuk pelan oleh kurir pengantar makanan hotel bintang lima yang membawa pesanan mewahnya. Valerie bangkit berdiri, mengambil alih kantong makanan premium berlogo emas itu, lalu menikmatinya di atas meja kayu lapuknya dengan ketenangan seorang ratu sejati.
Sambil memotong daging steak yang empuk dan berair itu, mata Valerie menatap lurus ke arah jendela kecil berteralis di atas kepalanya yang menunjukkan siluet menara utama rumah keluarga Elrod di atas sana.
"Nikmati sisa hari-hari tenang kalian di atas sana, Gilbert, Victoria, Christian, Nicholas," batin Valerie Vespera dengan seulas senyuman kemenangan yang teramat anggun, dingin, dan absolut di bibirnya yang indah. "Karena dari kamar pojok yang gelap ini, kaisar bayangan kalian telah lahir, dan dua miliar pertama saya sudah siap digunakan untuk meruntuhkan seluruh dinding istana palsu kalian."
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...