NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

"Mbak Diana diam saja, tidak usah ikut campur!" sahut Jihan, yang meskipun syok, tetap membela keegoisan anaknya. "Jenita benar, Mas Husen. Faas itu mana punya jaringan informasi seperti itu? Dia kan cuma pengangguran yang kebetulan lewat. Tidak usah membesar-besarkan jasanya."

Jenita mendengus kencang, membalikkan badannya dengan kesal dan kembali berlari ke kamarnya, membanting pintu dengan keras. Di dalam kamar, ia mondar-mandir dengan perasaan campur aduk antara ketakutan yang tersisa, rasa terima kasih yang tertahan, dan kebencian yang mendalam karena egonya terluka.

"Aku tidak sudi berterima kasih pada laki-laki tidak berguna itu! Tidak akan pernah!" umpat Jenita pada dirinya sendiri di depan cermin, mengabaikan fakta bahwa laki-laki tidak berguna yang ia maki baru saja menyelamatkan hidupnya.

___

Sementara itu, di kamar lantai atas yang tenang, Faas baru saja selesai mempersiapkan diri untuk ke kantor, bukan memakai setelan jas yang rapi, Faas hanya memakai pakaian casual seperti anak muda , untuk pakaian formal nya sudah ada di dalam mobil . Ia mendengar semua keributan di lantai bawah melalui indra pendengarannya yang tajam, namun wajahnya tetap sedatar es.

Faas tidak butuh ucapan terima kasih dari Jenita, tidak pula butuh pengakuan dari Husen atau Gavin. Baginya, menyelamatkan Jenita adalah pemenuhan tugasnya sebagai kakak laki-laki, setelah itu selesai, ia tidak peduli lagi pada keegoisan adiknya.

Ia melirik jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 08.15 pagi.

"Sudah waktunya," gumam Faas dengan suara berat tiruannya.

Faas berjalan turun melalui tangga belakang agar tidak berpapasan dengan keluarganya yang sedang kalang kabut. Ia tidak perduli, Faas masuk ke dalam mobil sedan hitam sederhana miliknya, membelah jalanan Jakarta menuju kantor pusat Apex Core.

___

Pukul 08.50 pagi.

Di ruang tunggu utama yang mewah itu, telah duduk lima orang kandidat terbaik. Sesuai instruksi ketat dari sistem manajemen Tuan Malik, tidak ada tempat bagi pelamar yang mengandalkan penampilan menggoda atau bertingkah centil demi memikat atasan. Perusahaan ini terkenal memiliki standar moral dan profesionalisme yang sangat tinggi. siapa pun yang berani bertingkah tidak sopan akan langsung di-blacklist dari dunia industri teknologi.

Oleh karena itu, empat pelamar wanita di sana tampil dengan sangat elegan, berkelas, dan sopan. Mereka adalah lulusan terbaik dari universitas-universitas top luar negeri mulai dari Oxford hingga Stanford, lengkap dengan setelan kerja mahal dan pembawaan yang penuh percaya diri.

Di sudut sofa yang berbeda, duduklah Eliza Daneswara. Pakaiannya yang longgar, tertutup rapi, dengan jilbab yang menjuntai santai, membuatnya tampak sedikit kontras di antara gaun-gaun blazer mewah rancangan desainer milik kandidat lain, Eliza terus bersalawat untuk menenangkan hatinya yang gugup, karena bagaimanapun juga, ini pertama kalinya ia interview.

Sambil menunggu giliran, salah satu kandidat seorang lulusan magister dari London bernama michele melirik kartu identitas peserta milik Eliza yang diletakkan di atas meja.

"Lulusan universitas lokal? Dan... baru lulus bulan ini?" tanyanya dengan nada yang sengaja ditinggikan, memecah keheningan ruang tunggu.

Tiga kandidat lainnya langsung menoleh. Mata mereka beralih dari ponsel ke arah Eliza, memindai penampilan gadis itu dari atas sampai bawah. Detik berikutnya, kilatan meremehkan terpancar jelas dari tatapan mereka. Senyum tipis yang sarat akan rasa superioritas mulai tersungging.

"Maaf ya, bukan bermaksud menyinggung," sahut kandidat lain, seorang lulusan dari Singapura dengan nada sinis yang halus. "Tapi setahu saya, posisi Sekretaris Utama Tuan Malik Ibrahim itu membutuhkan minimal pengalaman tiga tahun di korporasi internasional. Apa kamu tidak salah membaca kualifikasi saat memasukkan lamaran?"

"Benar. Menjadi sekretaris beliau bukan cuma soal mencatat jadwal, tapi mengatur diplomasi bisnis dengan investor global. Tanpa pengalaman... rasanya akan sangat ketat untukmu," tambah Michele sambil membenarkan posisi jam tangan mahalnya, sengaja memamerkan jam tersebut di depan Eliza.

Mendapatkan tatapan kolektif yang meremehkan seperti itu, jantung Eliza sempat berdesir agak cepat. Namun, ia tidak membiarkan tangannya gemetar.

Ia teringat kembali akan bisikan lembut Maudi di telepon semalam: “Jadilah dirimu yang jujur dan tunjukkan integritasmu, Eliza. Pemimpin di sana murni melihat kemampuan dan ketenangan jiwa, bukan sekadar riwayat di atas kertas. Berdoa, dan hadapi dengan tenang.”

Kata-kata Maudi bekerja seperti penawar racun di hatinya. Eliza menarik napas dalam-dalam secara perlahan melalui hidung, mengembuskannya lewat mulut tanpa suara. Sifat rendah hati yang dipelajarinya selama tiga tahun terakhir ini membuatnya tidak merasa perlu untuk mendebat atau membela diri.

Eliza mendongak, menatap keempat kandidat itu bergantian, lalu menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat tulus dan tenang.

"Terima kasih atas pengingatnya, Kak. Saya tahu saya masih banyak kekurangan dan belum memiliki pengalaman seperti kakak-kakak semua," jawab Eliza dengan suara yang lembut namun terdengar sangat stabil, tanpa ada nada minder sedikit pun. "Saya ke sini hanya berusaha memberikan yang terbaik yang saya bisa. Selebihnya, biarlah keputusan ada di tangan pihak manajemen."

Melihat respons Eliza yang begitu tenang dan tidak terpancing emosi, keempat pelamar luar negeri itu justru terdiam sejenak. Mereka merasa heran sekaligus agak kesal karena keangkuhan mereka sama sekali tidak berhasil meruntuhkan mental gadis belia di depan mereka.

Ting!...

Tepat pada saat ketegangan sunyi itu merayap, pintu lift khusus di ujung koridor berdenting pelan.

Semua orang di ruang tunggu serentak menoleh dan langsung berdiri tegak, merapikan pakaian mereka dengan sikap takzim.

Faas melangkah keluar dengan penyamaran sempurnanya sebagai Tuan Malik Ibrahim. Rambut palsu ikal beruban, kacamata kotak tebal, serta kumis silikon tebalnya membuat ia tampak persis seperti pria matang berusia awal 40-an yang dingin dan berwibawa tinggi. Setelan jasnya bergerak seiring langkah kakinya yang konstan.

Diki berjalan setengah langkah di belakangnya, membawa tablet berisi penilaian.

Saat melewati ruang tunggu, pandangan mata Faas dari balik kacamata penyamarannya menyapu kelima kandidat tersebut. Langkahnya melambat selama dua detik tepat di depan Eliza. Dari sisa atmosfer di ruangan itu, insting mantan agennya bisa merasakan bahwa Eliza baru saja mendapatkan tekanan psikologis dari pelamar lain, namun ia melihat bagaimana gadis itu tetap berdiri tegak dengan kepala tertunduk hormat tanpa riak kegelisahan.

Faas tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia melanjutkan langkahnya memasuki ruang kerja utama yang pintunya langsung dibukakan oleh Diki.

Setelah pintu jati besar itu tertutup, Faas duduk di kursi kebesarannya. Ia melepas kacamata penyamarannya sebentar, mengusap pangkal hidungnya, lalu memasangnya kembali.

"Diki," panggil Faas dengan suara berat tiruannya yang serak. "Panggil kandidat pertama sampai keempat terlebih dahulu. Biarkan Eliza Daneswara menjadi urutan yang terakhir."

"Baik, Tuan Malik," jawab Diki patuh, segera membalikkan badan untuk memanggil pelamar pertama masuk ke dalam ruang ujian takdir tersebut.

Faas menyandarkan punggungnya, menatap lembar resume Eliza yang berada di paling bawah tumpukan. Sifat tenang Eliza menghadapi remehkan orang lain mengingatkan Faas pada dirinya sendiri yang setiap hari harus menelan sindiran di kediaman Husen.

Faas mengecek cctv setelah dirinya masuk ke dalam ruangan nya.

"Mari kita lihat, Eliza... seberapa besar ketenanganmu bisa bertahan di dalam ruangan ini", batin Faas menanti dengan sabar.

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!