Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.
Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Seseorang dari Masa Lalu
Pagi itu suasana mansion Dimitri terasa lebih ramai dari biasanya.
Para pelayan sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk acara keluarga yang tinggal beberapa hari lagi. Beberapa dekorasi sudah mulai berdatangan, begitu juga dengan pakaian yang akan digunakan Rubi.
Namun berbeda dengan semua orang yang sibuk, Rubi justru sedang duduk di perpustakaan sambil menatap kosong ke arah halaman buku yang sejak lima menit lalu tidak berpindah sama sekali.
Pikirannya sedang tidak fokus.
Entah kenapa sejak semalam ia terus memikirkan satu hal.
Alexander.
Lebih tepatnya perubahan sikap pria itu.
Kalau beberapa minggu lalu ada yang mengatakan bahwa Alexander Dimitri akan memegang tangannya dengan hati-hati, memperhatikan jadwal makannya, bahkan terlihat khawatir saat dirinya meringis sedikit, Rubi pasti akan menganggap orang itu sedang bercanda.
Tapi sekarang semua itu benar-benar terjadi.
Dan itulah yang membuatnya bingung.
"Aku nggak boleh salah paham."
gumam Rubi pelan.
Ia langsung menepuk pipinya sendiri.
"Tenang Rubi. Jangan halu."
Sayangnya semakin ia mencoba tidak memikirkannya, semakin sering wajah Alexander muncul di kepalanya.
Terutama saat pria itu mengatakan,
"Dia benar-benar ada."
Kalimat sederhana itu terus teringat.
Karena saat mengatakannya, Alexander terlihat seperti seorang ayah biasa.
Bukan mafia.
Bukan pengusaha besar.
Hanya seorang pria yang sedang merasakan kehadiran anaknya.
Dan itu membuat hati Rubi terasa aneh.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu membuat Rubi tersadar dari lamunannya.
"Masuk."
Seorang pelayan masuk dengan ekspresi sedikit gugup.
"Nyonya muda."
"Iya?"
"Ada tamu yang ingin bertemu."
Rubi mengernyit.
"Tamu?"
"Iya."
"Siapa?"
Pelayan itu terlihat ragu.
"Katanya teman lama Nyonya."
Rubi langsung bingung.
Teman lama?
Sejak berada di tubuh ini, hampir tidak ada orang yang datang mencarinya.
Paling hanya Clara yang sesekali menelepon.
Karena penasaran, Rubi akhirnya mengikuti pelayan menuju ruang tamu.
Namun begitu memasuki ruangan, langkahnya langsung terhenti.
Seorang pria muda berdiri membelakanginya.
Tinggi.
Berambut cokelat gelap.
Memakai setelan jas berwarna abu-abu.
Saat mendengar suara langkah, pria itu langsung berbalik.
Dan ketika melihat Rubi, senyum hangat muncul di wajahnya.
"Rubi."
Jantung Rubi langsung berdebar.
Bukan karena jatuh cinta.
Tapi karena ia sama sekali tidak mengenali orang itu.
Namun dari ekspresi pria tersebut, jelas mereka saling mengenal.
Atau setidaknya Rubi yang asli mengenalnya.
"Halo."
Rubi berusaha tersenyum.
Pria itu tampak sedikit terkejut.
"Sudah lama nggak ketemu."
"Iya."
Rubi mengangguk canggung.
Lalu berusaha mengingat.
Untungnya beberapa potongan ingatan tiba-tiba muncul.
Namanya Daniel Hart.
Teman kuliah Rubi.
Salah satu orang yang dulu cukup dekat dengannya sebelum menikah.
"Oh..."
gumam Rubi pelan.
Daniel tersenyum.
"Akhirnya ingat?"
Rubi langsung panik dalam hati.
Untung saja pria itu salah paham.
"Iya."
Daniel tertawa kecil lalu duduk kembali.
"Aku dengar kamu sakit."
"Sudah sembuh."
"Syukurlah."
Untuk beberapa saat mereka mengobrol ringan.
Lebih banyak Daniel yang berbicara dibanding Rubi.
Dan diam-diam Rubi bersyukur.
Karena semakin sedikit ia bicara, semakin kecil kemungkinan dirinya ketahuan.
Namun semakin lama berbicara, Rubi mulai menyadari sesuatu.
Daniel benar-benar peduli pada Rubi asli.
Tatapannya hangat.
Cara bicaranya lembut.
Dan beberapa kali ia terlihat menatap Rubi terlalu lama.
Sampai akhirnya Daniel berkata pelan,
"Kamu terlihat lebih bahagia sekarang."
Rubi sedikit terkejut.
"Hah?"
Daniel tersenyum.
"Dulu kamu jarang tersenyum."
Kalimat itu membuat Rubi terdiam.
Karena ternyata bukan hanya Alexander yang menyadari perubahan dirinya.
Orang lain juga.
Dan itu cukup berbahaya.
"Aku cuma merasa lebih baik."
jawab Rubi cepat.
Untungnya Daniel tidak bertanya lebih jauh.
Sementara itu.
Di kantor pusat Dimitri Group.
Alexander sedang menghadiri rapat penting.
Namun ponselnya tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari kepala pelayan mansion.
Biasanya Alexander tidak akan memeriksa pesan saat rapat.
Tapi kali ini entah kenapa ia melirik layar.
Dan langsung membaca isinya.
Daniel Hart datang menemui Nyonya Muda.
Tatapan Alexander langsung berubah.
Daniel Hart.
Nama itu tidak asing.
Bahkan sangat familiar.
Karena pria itu adalah orang yang pernah menyukai Rubi sebelum mereka menikah.
Meski Daniel tidak pernah mengatakannya secara langsung, Alexander mengetahuinya.
Dan entah kenapa informasi itu langsung membuat suasana hatinya memburuk.
Sangat memburuk.
Salah satu direktur yang sedang presentasi langsung berhenti bicara.
Karena wajah Alexander tiba-tiba menjadi lebih dingin dari biasanya.
"Tuan?"
Alexander menatapnya.
"Lanjutkan."
Direktur itu langsung pucat.
"Baik."
Namun sepanjang rapat, pikiran Alexander tidak benar-benar berada di sana.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia merasa terganggu oleh seorang pria yang datang menemui istrinya.
Dan perasaan itu membuatnya semakin kesal.
Sore hari.
Daniel akhirnya berpamitan.
Sebelum pergi, pria itu tersenyum pada Rubi.
"Senang melihatmu baik-baik saja."
"Terima kasih sudah datang."
Daniel mengangguk.
Lalu untuk sesaat terlihat ragu.
Seolah ingin mengatakan sesuatu.
Namun akhirnya ia hanya tersenyum kecil.
"Sampai jumpa, Rubi."
Setelah pria itu pergi, Rubi menghela napas lega.
Pertemuan tadi cukup melelahkan.
Karena ia harus terus berhati-hati.
Takut mengatakan sesuatu yang salah.
Saat sedang berjalan kembali ke kamar, suara mobil terdengar dari halaman depan.
Rubi menoleh.
Alexander pulang.
Biasanya pria itu baru tiba menjelang malam.
Tapi sekarang masih sore.
"Aneh."
gumam Rubi.
Tak lama kemudian Alexander masuk ke dalam mansion.
Tatapannya langsung mencari seseorang.
Dan begitu melihat Rubi berdiri di tangga, langkahnya berhenti.
"Kau sudah pulang?"
tanya Rubi.
"Iya."
Jawaban singkat.
Namun Rubi merasa ada sesuatu yang berbeda.
Alexander terlihat tidak dalam suasana hati yang baik.
"Ada masalah di kantor?"
tanya Rubi.
"Tidak."
"Lalu?"
Alexander terdiam beberapa detik.
Kemudian bertanya dengan nada datar.
"Tadi ada tamu?"
Rubi berkedip.
"Oh. Daniel?"
Tatapan Alexander langsung berubah.
Sedikit.
Tapi cukup jelas.
"Dia datang."
"Iya."
"Ada urusan?"
"Katanya cuma mau menjenguk."
Suasana mendadak hening.
Rubi semakin bingung.
Kenapa rasanya seperti sedang diinterogasi?
Sementara itu Alexander sedang berusaha mengendalikan pikirannya sendiri.
Ia tahu dirinya tidak berhak marah.
Daniel memang teman Rubi.
Tidak ada yang salah.
Namun tetap saja...
Ia tidak menyukainya.
Dan fakta bahwa Rubi menyebut nama pria itu dengan santai membuatnya semakin kesal.
Rubi yang tidak mengerti apa-apa akhirnya berkata,
"Dia orang baik."
Kalimat itu sukses membuat suasana menjadi lebih dingin.
Sangat dingin.
Alexander menatapnya beberapa saat.
Lalu berkata,
"Aku harus bekerja."
Dan langsung pergi menuju ruang kerja.
Meninggalkan Rubi yang berdiri kebingungan.
"Aku ngomong salah?"
gumamnya.
Sementara di lantai atas, Alexander menutup pintu ruang kerjanya sedikit lebih keras dari biasanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alexander Dimitri menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.
Ia tidak suka melihat pria lain terlalu dekat dengan Rubi.
Dan kesadaran itu membuatnya semakin sulit mengabaikan perasaannya sendiri.
kalo sempat mampir ya thor🤭😉