Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.
Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.
Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.
“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”
Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.
Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Sesampainya di rumah, jantung Amira masih berdegup kencang, napasnya seakan memburu.
“Kenapa aku berdebar-debar? Jangan-jangan, aku tidak boleh jatuh cinta,” ucap Amira mencoba menepis perasaan yang dirasakannya.
Sementara di tempat yang lain, Zian tak henti-hentinya tersenyum. Pikirannya masih membayangkan Amira yang menggemaskan.
“Pak! Pak! Pak! Pak Zian!” panggil Kevin hingga akhirnya Zian menoleh.
“Ehem… kenapa?” ucapnya sambil merapikan dasi, berpura-pura seolah tidak ada apa-apa. Padahal sudah lima menit Kevin berdiri di sana memanggil namanya.
“Ini, Pak, dokumen laporan bulan ini yang Bapak minta. Oh ya, Pak Khail bilang Bapak disuruh pulang.”
“Kenapa? Tumben sekali Daddy menyuruh pulang,” ucap Zian, karena biasanya Khail selalu datang menemuinya atau bahkan tiba-tiba muncul di apartemen Zian seperti jelangkung.
Kevin menggeleng. “Saya kurang tahu, Pak. Mungkin ada kaitannya dengan kepulangan Rian.”
“Rian? Dia kembali?”
Kevin mengangguk. “Besok malam, pesawatnya landing di Indonesia.”
Zian terdiam. Empat tahun Rian di luar negeri, mengapa tiba-tiba kembali? Zian menghela napasnya, pusing. Bagaimana dia akan menjelaskan tentang Amira?
“Kevin, bisa kamu bantu saya?”
“Tentu, apa yang bisa saya bantu, Pak?”
“Kamu sudah tahu apa yang terjadi antara saya dan Amira. Dan kamu juga tahu kalau Amira adalah cinta pertama Rian. Saya mau kamu membantu saya merahasiakan ini. Saya…”
Kevin diam mendengarkan.
“Saya tidak mau semua menjadi berantakan, apalagi Rian baru kembali setelah pengobatannya.”
Kevin mengangguk paham. Sepuluh tahun Kevin bekerja untuk Zian, tentu saja dia tahu. Rian, adik Zian, memiliki penyakit jantung bawaan. Itu alasannya, pasti Zian khawatir.
___
Waktu terus berputar. Tidak terasa siang berganti malam. Sesuai janjinya, Zian kembali pulang ke kontrakan itu.
“Kamu belum tidur?” tanya Zian.
“Belum, Mas.”
“Tidak bisa tidur, atau…?”
“Tidak kok, Mas. Cuma belum ngantuk saja.”
Zian mengangguk. “Kamu sudah makan?”
Amira mengangguk sambil membereskan pakaian yang dilempari.
“Amira,” panggilnya. Suaranya melemah.
Amira menoleh perlahan, menatap Zian dengan ekspresi yang tidak dapat ditebak.
“Kenapa, Mas?”
“Saya mau tanya…” Zian menggantung perkataannya. Sementara Amira menunggu kalimat selanjutnya. Cukup lama Zian terdiam sampai Amira berkata,
“Apa, Mas? Cepat dong,” seru Amira tidak sabar. Pasalnya lemari ini tidak akan beres sendiri.
Zian terdiam. Tangan yang menggenggam handuk . Kalau Amira tahu, kalau Rian tahu... semua akan hancur.
"Mas! Mas!"
Suara Amira menyentaknya. Dia menggeleng cepat, memaksa senyum. "Tidak jadi. Saya mau mandi dulu."
Zian segera beranjak ke kamar mandi. Amira menatap kepergian Zian dengan heran.
“Dia kenapa sih? Mood nya naik turun banget,” gumam Amira, lalu kembali merapikan lemari.
Setelah selesai, Amira membaringkan tubuhnya di atas kasur. Bersamaan dengan itu, Zian keluar bertelanjang dada, hanya handuk yang terlilit sampai perut.
“Ahhkk… Mas! Kamu ngapain sih? Kenapa tidak pakai baju?” teriak Amira.
"Ngapain teriak-teriak? Kan kamu udah pernah lihat." Ucap Zian santai.
“Dasar mesum. Cepat pakai bajunya!” ucap Amira sambil menutupi matanya dengan bantal.
Zian buru-buru merogoh paperbag yang ia bawa tadi, mengambil baju yang dibeli saat jalan pulang.
“Sudah, saya sudah pakai baju.”
Amira menurunkan bantalnya.
“Aneh, orang udah pernah liat juga." Gumam Zian.
"Itu beda." Sahut Amira tak mau kalah. Entah mengapa tiba-tiba tubuhnya merasa panas.
Zian di depan terlihat tampan. Tubuhnya yang atletis, rahangnya yang tegas, pasti membuat siapa pun akan tergoda.
Tidak mau berpikir aneh-aneh, Amira memilih menarik selimut menutupi dirinya.
“Aduh, aku kelihatan salting banget tidak, ya?” gumam Amira dalam selimut.
Zian tidak begitu menangkapnya. Dia memakai pakaian, lalu kembali duduk di meja kecil dekat tempat tidur. Pria itu membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Cukup lama Zian terduduk di sana, sampai tidak terasa jam menunjukkan pukul satu malam. Zian menoleh ke belakang, melihat Amira yang sudah tertidur pulas.
Tanpa sadar Zian diam menatap Amira begitu lama. Teduhnya wajah itu membuat Zian merasa lega, seolah lelah itu menghilang.
“Dari banyaknya pertemuan, saya tidak pernah menyangka akan terjebak dalam takdir ini. Setiap melihat kamu, entah mengapa membuat saya ingin tetap tinggal,” katanya.
Namun ingatan nya justru kembali pada masalalu, sebelum serumit ini.
Saat itu Zian adalah satu-satunya kakak sekaligus teman bagi Rian. Karena kondisinya yang lemah, Rian tidak bisa beraktivitas dengan leluasa. Setiap hari yang ia lewati hanya di rumah sakit. Bau obat-obatan selalu ia cium. Tidak ada tempat lain selain itu.
Sampai rasa bosan itu membawanya ke sebuah taman. Di sanalah Rian bertemu Amira untuk pertama kalinya. Gadis itu menarik tangannya, mengajaknya bermain, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia akan sembuh dan kata membuat Rian kembali yakin.
Dan beberapa tahun kemudian, tepatnya empat tahun lalu, Rian kembali bertemu Amira di perusahaan yang dipimpin Zian. Dia senang sekali dan langsung menceritakannya kepada Zian.
Tetapi keadaan berkata lain. Tiba-tiba saja penyakitnya kambuh. Rian harus pergi ke Amerika untuk menjalani pengobatan intensif.
Sebelum pergi, Rian berpesan kepada Zian: "Jaga Amira."
Zian mengangguk pada saat itu akan tetapi pada akhirnya dia justru melakukan hal bodoh.
Zian mengelah nafas panjang. Dia menyadari kesalahannya.
Rasa bersalah itu terasa seperti beban berat yang menekan dadanya setiap kali ia menatap Amira. Bukan hanya karena ia melanggar janji kepada adiknya, tetapi juga karena ia melihat ketulusan di mata Amira—ketulusan yang tidak pantas ia nodai dengan perasaan yang seharusnya ia kubur dalam-dalam.
Zian melangkah mundur, menjauh dari kasur tempat Amira tertidur. Tangan mengepal kuat. Dan malam itu, Zian tidak memejamkan matanya. Dia kembali duduk mengerjakan pekerjaannya.
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care