Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Aku Pernah Melihat Wajahnya
Nadira langsung memegangi kepalanya.
Bayangan itu muncul terlalu cepat.
Terlalu jelas.
Dan membuat dadanya terasa sesak.
“Nadira?”
Suara Arsen terdengar jauh.
“Aku…”
Napasnya mulai memburu.
“Aku lihat dia…”
“Apa?”
Pria itu langsung duduk lebih dekat.
“Siapa yang kamu lihat?”
Nadira menutup matanya kuat-kuat.
Potongan ingatan itu masih berputar di kepalanya.
Mobil yang hancur.
Hujan deras.
Darah di kaca.
Dan seorang pria berdiri di luar mobil sambil tersenyum.
Senyum yang membuat bulu kuduknya langsung berdiri.
“Aku pernah lihat wajahnya…”
Suara Nadira bergetar.
Arsen langsung serius.
“Di kecelakaan itu?”
Nadira mengangguk pelan.
“Dia ada di sana.”
Deg.
Ruangan mendadak terasa dingin.
“Bisa ingat wajahnya?”
Nadira mencoba lagi.
Namun kepalanya langsung nyeri hebat.
“Ahh…”
“Udah.”
Arsen langsung memegang pundaknya.
“Jangan dipaksa.”
“Tapi aku hampir ingat…”
“Nggak sekarang.”
Tatapan pria itu berubah lembut.
“Aku nggak mau kamu hancur cuma karena maksa ingatan balik.”
Nadira menatapnya lemah.
Dan lagi-lagi…
Ia merasa sedikit tenang saat Arsen ada di dekatnya.
Sial.
Ini makin berbahaya.
Keesokan paginya Arsen membawa Nadira keluar dari penthouse.
“Kita ke mana?”
“Ketemu seseorang.”
“Siapa?”
“Kepala keamanan lama keluarga kamu.”
Deg.
Nadira langsung menoleh cepat.
“Orang yang tahu soal kecelakaanku?”
“Mungkin.”
Mobil melaju menembus jalan kota yang masih ramai.
Namun sejak telepon misterius semalam, pikiran Nadira tidak tenang.
Kalimat pria itu terus terngiang di kepalanya.
“Kalau kamu ingat semuanya, banyak orang bakal hancur.”
Apa maksudnya?
Dan kenapa rasanya seperti ancaman?
Mereka berhenti di sebuah rumah kecil di pinggir kota.
Tidak mewah.
Bahkan terlihat tua.
Arsen turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Nadira.
“Kamu sopan banget hari ini.”
“Aku selalu sopan.”
“Kecuali kalau ngomel.”
Arsen melirik datar.
“Kamu makin cerewet.”
Nadira hampir tersenyum kecil.
Aneh.
Di tengah semua kekacauan ini, Arsen masih bisa membuatnya merasa sedikit normal.
Namun suasana kembali serius saat seorang pria tua membuka pintu rumah.
Begitu melihat Nadira, wajahnya langsung berubah pucat.
“Nona kecil…”
Deg.
Nadira langsung merinding.
Karena pria itu memanggilnya seperti waktu ia masih kecil.
“Pak Haris?” gumamnya pelan.
Ingatan samar muncul.
Pria tua yang sering mengantarnya sekolah.
Yang suka diam-diam membelikannya es krim.
Dan yang tiba-tiba menghilang setelah kecelakaan itu.
“Apa kabar…” suara Pak Haris terdengar gemetar.
Nadira langsung sadar.
Pria ini takut.
Sangat takut.
Mereka duduk di ruang tamu sederhana.
Pak Haris terlihat gelisah sejak tadi.
Tangannya terus bergerak tidak tenang.
Sedangkan Arsen duduk diam memperhatikannya seperti predator.
“Kami cuma mau tahu soal kecelakaan Nadira,” kata Arsen langsung.
Pak Haris langsung menegang.
“Saya nggak tahu apa-apa.”
“Bohong.”
Pria tua itu menunduk cepat.
“Nona Nadira masih trauma…”
“Aku mulai ingat,” potong Nadira pelan.
Pak Haris langsung membeku.
“Apa?”
“Aku lihat seseorang malam itu.”
Napas pria tua itu langsung tercekat.
Dan itu cukup jadi jawaban.
“Jadi memang ada orang lain,” bisik Nadira.
Pak Haris terlihat makin pucat.
“Saya nggak boleh ngomong…”
“Siapa yang larang?” tanya Arsen dingin.
Pria tua itu diam.
Namun beberapa detik kemudian…
Matanya perlahan mengarah ke rumah besar keluarga Maheswara yang bahkan tidak ada di sini.
Deg.
Nadira langsung mengerti.
“Papa?”
Pak Haris memejamkan mata.
“Saya cuma disuruh diam.”
Dada Nadira terasa makin sesak.
“Kenapa?”
Pria tua itu terlihat ragu.
Namun akhirnya ia berkata pelan,
“Karena malam itu bukan kecelakaan biasa.”
Sunyi.
Bahkan suara jam dinding terdengar jelas sekarang.
“Ada mobil lain yang nabrak mobil Nona sengaja.”
Deg.
Tubuh Nadira langsung dingin.
“Sengaja…?”
Pak Haris mengangguk lemah.
“Dan setelah itu…”
Tatapannya mulai takut lagi.
“Seseorang keluar dari mobil itu.”
Napas Nadira memburu.
“Siapa?”
Pria tua itu menelan ludah.
“Saya nggak lihat jelas wajahnya.”
“Tapi?”
“Dia ngomong sama ayah Nona beberapa hari setelah kejadian.”
Arsen langsung menyipitkan mata.
“Apa yang dia bilang?”
Pak Haris terlihat hampir menangis sekarang.
“Kalau Nona mulai ingat…”
Suara pria tua itu mengecil.
“Semua rahasia keluarga bakal terbongkar.”
Deg.
Kalimat itu sama persis seperti telepon semalam.
Dan sekarang Nadira benar-benar ketakutan.
Saat mereka keluar dari rumah Pak Haris, suasana mobil langsung sunyi.
Nadira menatap kosong ke luar jendela.
Tangannya dingin.
Kepalanya penuh.
“Papa tahu semuanya…”
Suara itu terdengar patah.
Arsen menyetir sambil tetap memperhatikannya diam-diam.
“Kamu mau aku cari tahu lebih jauh?”
Nadira tertawa kecil hambar.
“Aku bahkan nggak tahu aku siap dengar jawabannya.”
Namun jauh di dalam dirinya…
Rasa penasaran mulai berubah jadi ketakutan.
Karena semakin banyak potongan yang muncul…
Semakin terlihat kalau keluarganya menyembunyikan sesuatu yang besar.
Sangat besar.
Malam harinya Nadira akhirnya memberanikan diri masuk ke kamar Nayla.
Saudara kembarnya sedang duduk di lantai sambil melihat foto lama mereka waktu kecil.
“Kamu ngapain?”
Nayla mengangkat kepala pelan.
“Lagi mikir.”
Nadira duduk di sampingnya.
Foto-foto itu berserakan di lantai.
Ada foto mereka ulang tahun.
Foto sekolah.
Foto liburan keluarga.
Dan satu foto membuat Nadira langsung diam.
Foto saat mereka umur lima belas tahun.
Beberapa minggu sebelum kecelakaan.
“Aku ingat ini…”
Nayla menoleh.
“Kamu mulai ingat?”
“Sedikit.”
Tatapan Nadira jatuh ke foto itu.
Di sana mereka terlihat sangat dekat.
Sangat bahagia.
Sebelum semuanya berubah.
“Nay…”
“Hm?”
“Aku berubah banyak ya setelah kecelakaan?”
Nayla diam beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Kamu jadi lebih pendiam.”
“Terus?”
“Kamu juga jadi takut naik mobil malam.”
Deg.
Nadira bahkan tidak sadar selama ini.
“Ada lagi?”
Nayla menggigit bibir.
“Kamu sering mimpi buruk.”
“Mimpi apa?”
Tatapan Nayla perlahan berubah takut.
“Kamu selalu teriak satu nama.”
Jantung Nadira langsung berdetak pelan.
“Nama siapa?”
Nayla menatap lurus ke matanya.
“Adrian.”
Deg.
Nama itu terasa asing.
Namun anehnya…
Dada Nadira langsung sesak mendengarnya.
“Siapa Adrian?”
Nayla menggeleng cepat.
“Aku nggak tahu.”
“Kamu bohong.”
“Aku serius!”
Nayla mulai panik.
“Kamu cuma terus nyebut nama itu waktu tidur.”
Adrian.
Adrian.
Nama itu terus berputar di kepala Nadira sekarang.
Dan entah kenapa…
Ia merasa pernah sangat mengenal orang itu.
Malam semakin larut.
Namun Nadira tidak bisa tidur lagi.
Ia terus mencari-cari sesuatu di internet tentang nama Adrian yang berhubungan dengan keluarganya.
Tidak ada.
Kosong.
Tapi tepat saat ia hampir menyerah—
Ponselnya tiba-tiba menerima email anonim.
Tanpa subjek.
Tanpa nama pengirim.
Tangan Nadira langsung dingin saat membukanya.
Isinya cuma satu file video.
Dan pesan pendek.
Kalau mau tahu kebenaran, tonton sendiri.
Jantung Nadira mulai berdetak keras.
“Arsen…”
Pria itu yang sejak tadi bekerja di meja dekat jendela langsung menoleh.
“Ada apa?”
Nadira menunjukkan layar ponselnya dengan tangan gemetar.
Tatapan Arsen langsung berubah tajam.
“Jangan dibuka dulu.”
“Tapi—”
“Bisa aja jebakan.”
Namun rasa penasaran Nadira terlalu besar sekarang.
Ia langsung menekan video itu.
Layar hitam beberapa detik.
Lalu gambar mulai muncul.
Kualitasnya buram.
Seperti rekaman CCTV lama.
Malam hujan.
Jalanan sepi.
Dan sebuah mobil hitam terlihat melaju cepat.
Deg.
Mobil itu.
Mobil keluarga mereka.
Napas Nadira langsung tercekat.
Detik berikutnya—
Sebuah mobil lain tiba-tiba muncul dari samping dan menabrak mobil mereka keras.
BRAKK!
Video berguncang.
Mobil terbalik.
Dan seseorang keluar dari mobil penabrak.
Pria tinggi.
Memakai hoodie hitam.
Wajahnya samar.
Namun saat pria itu mendekati mobil Nadira…
Ia menoleh sedikit ke kamera.
Dan Nadira langsung membeku.
Karena wajah itu…
Sangat familiar.
Terlalu familiar.
“Aku kenal dia…”
Suara Nadira langsung melemah.
Arsen menatap layar tajam.
“Siapa?”
Air mata Nadira perlahan jatuh.
Karena akhirnya ia ingat.
Pria itu…
Pernah datang ke rumah mereka.
Dan orang itu—
Adalah sahabat papanya sendiri.