Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Tanpa sepengetahuan Zira, ayah kini tengah berdiri di tepi jendela kamarnya. Pria paruh baya tersebut nampak menitihkan air mata saat menyaksikan kepergian putri kesayangannya.
"Mengapa kamu begitu keras kepala, Zira..." Batin ayah sambil mengusap sudut matanya yang basah oleh air mata.
Di depan gerbang rumah, Zira nampak menanti kedatangan taksi online pesanannya. Tanpa disadari oleh wanita itu, ada sepasang mata yang sejak tadi mengamatinya dari kejauhan. Menyaksikan Zira menyeret koper besarnya, pria yang kini duduk dibalik bangku kemudi mobilnya tersebut lantas melajukan mobilnya menghampiri keberadaan Zira.
"Apa yang anda lakukan di sini?." Seketika Tubuh Zira gemetar ketakutan saat menyaksikan Lexi turun dari mobilnya.
Tanpa menjawab, pria itu memaksa Zira masuk ke mobilnya. Awalnya Zira menolak namun saat menyadari tatapan tajam Lexi, nyali Zira langsung menciut dan pada akhirnya dengan tubuh bergetar menahan rasa takut ia masuk ke mobil mewah milik pria itu. Setelah memasukan koper Zira ke dalam bagasi, Lexi lantas menyusul masuk ke mobilnya dan kembali duduk di bangku kemudi, menghidupkan mesin mobilnya lalu perlahan menginjak pedal gas hingga kini mobil mewahnya mulai melaju.
Dengan memberanikan diri Zira menoleh pada Lexi yang tengah fokus mengemudi.
"Cincinnya belum berhasil dilepaskan, tuan. Tapi saya janji akan berusaha melepaskan cincin ini dan setelahnya akan segera saya kembalikan pada anda." Mengingat ia telah menyudahi hubungannya dengan Leon hingga Zira pun yakin bahwa satu-satunya alasan Lexi sampai mendatangi dirinya adalah karena cincin milik pria itu yang hingga detik ini masih tersemat dijari manisnya, lebih tepatnya cincin yang sulit dilepaskan dari jari manis Zira.
"Apa kamu diusir dari rumah?." Bukannya menjawab, Lexi malah balik bertanya. Koper besar yang dibawa serta oleh Zira berhasil memancing pertanyaan demikian dari Lexi.
Deg
Zira terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab. "Bukan urusan anda." Jawaban serta mimik wajah Zira sudah cukup menjadi jawaban bagi Lexi.
"Mengapa kamu tidak mengaku saja dihadapan mereka semua bahwa akulah pria yang telah merenggut kesucianmu?." Rupanya tadi diam-diam Lexi menguping pembicaraan antara kedua orang tuanya dan kedua orang tua Zira.
"Tidak perlu. Lagipula, bukankah kejadian pahit sudah seharusnya dilupakan, bukannya dikenang." Zira berujar dengan nada tenang, rasa takut yang tadi sempat merajai hati seolah sirna begitu saja. Kalaupun pada akhirnya kata-katanya justru menyinggung perasaan pria itu, Zira sudah siap jika Lexi menghilangkan nya-wanya sekalipun. Lagipula diusir dari rumah rasanya begitu berat bagi Zira, jika memang hidupnya harus berakhir ditangan seorang Lexiano Fernandez, wanita itu sudah ikhlas asalkan pria itu tidak melibatkan keluarganya.
Jawaban Zira membuat Lexi menepikan mobilnya.
"Apa maksudmu?."
"Saya telah menyudahi hubungan dengan adik anda, tuan. Dan saya juga berjanji akan menjauhi keluarga anda. Jadi, saya mohon pada anda untuk berhenti mengusik ketenangan hidup saya!" Zira memohon dengan mengatupkan kedua tangan di depan da-da, tanpa berniat menjawab pertanyaan Lexi.
Mendengar permintaan Zira justru membuat Lexi menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Zira tak berontak seperti sebelumnya, wanita itu hanya diam saja dan hal itu justru terasa aneh bagi Lexi. Pria itu lantas mengurai pelukannya dan menatap manik mata indah milik Zira yang kini sudah terlihat berkaca-kaca.
"Apa kamu masih marah padaku?."
"Saya tidak marah, tapi saya sangat membenci anda, tuan Lexiano Fernandez." Balas Zira seraya membalas tatapan Lexi.
Deg.
Lexi tertegun mendengarnya dan kesempatan tersebut digunakan oleh Zira untuk segera keluar dari mobil pria itu. Tanpa peduli dengan kopernya yang masih berada di dalam bagasi mobil Lexi, Zira segera berjalan cepat dan menjauh.
Secara kebetulan sebuah taksi melintas. Zira lantas memberhentikannya dan segera masuk ke dalam mobil taksi tersebut. "Jalan, pak!." Kata Zira.
Lexi yang baru tersadar lantas membuntuti taksi yang ditumpangi oleh Zira. Lexi terus membuntuti dengan jarak aman, hingga akhirnya taksi tersebut berhenti di depan sebuah gedung apartemen.
"Jika kamu tetap bersikap seperti ini maka jangan salahkan aku bila akhirnya aku bertindak dengan caraku sendiri, Azira." Gumam Lexi sesaat sebelum kembali melajukan mobilnya, meninggalkan kawasan apartemen yang didatangi oleh Zira.
Di dalam unit apartment milik sahabatnya, Reni, di sinilah Zira berada saat ini. Persahabatan yang terjalin antara dirinya dan Reni membuat Zira tak sanggup menyembunyikan permasalahan hidupnya dari sahabatnya itu.
Betapa terkejutnya Reni saat mendengar pengakuan Zira tentang berakhirnya hubungan sahabatnya itu dengan tunangannya. Dan yang lebih mengejutkan lagi bagi Reni adalah alasan Zira sampai memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Leon.
Reni hanya bisa memberikan pelukan sebagai bentuk suportnya pada Zira.
"Jangan pernah merasa sendirian, karena aku akan selalu ada bersamamu, Zira!." Ujar Reni seraya mengusap punggung Zira. "Kita akan melewati semua ini bersama-sama, Zira."
"Thank you, Ren. Kalau tidak ada kamu, entah kemana lagi aku harus pergi." Balas Zira disela tangisnya.
"Jangan bicara seperti itu! Kita ini sudah bersahabat lama, mana mungkin aku tega membiarkan sahabatku berada dalam situasi sulit seperti ini sendirian, Zira." Zira sangat bersyukur memiliki sahabat sebaik dan setulus Reni. Namun begitu, Zira tetap berniat menyewa apartemen di gedung yang sama dengan Reni untuk kedepannya. Sekalipun Reni mengizinkannya tinggal di apartemennya, namun Zira cukup tahu diri untuk tidak berlama-lama merepotkan sahabatnya itu.
Di saat seperti ini Reni tidak ingin mendesak Zira untuk mengakui siapa pria yang telah merenggut kesuciannya, pria yang telah menjadi penyebab hancurnya harapan sahabat baiknya itu. Ia akan menanti saat di mana Zira siap untuk mengungkapkan siapa pria jahat itu.
*
Keesokan paginya.
Semua anggota keluarga Fernandez sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama, termasuk Lexi tentunya.
"Untuk cincin milik mas Lexi yang kini masih tersemat di jari Zira, aku akan membantu Zira mencari tenaga professional untuk membantu melepaskannya dan segera mengembalikannya pada mas Lexi." Saat kejadian itu Zira masih kekasihnya maka dari itu Leon merasa bertanggung jawab untuk mengembalikannya pada sang kakak.
"Tidak perlu!." Singkat, padat, dan jelas. Namun, jawaban tersebut justru memancing kerutan halus di dahi Leon.
"Maksud mas?."
"Mungkin mas Lexi ingin mengikhlaskan cincin itu buat Zira. Kalau memang benar begitu niat mas Lexi, maka tidak perlu dipermasalahkan!." Daddy angkat bicara.
"Baiklah." Leon berusaha percaya dengan alasan tersebut walaupun tak terucap langsung dari mulut sang kakak.
"Selamat pagi Aunty... uncle....Leon..."
"Selamat pagi, mas Lexi." Ditengah sesi sarapan tiba-tiba tamu tak diundang datang bertamu.
"Pagi." Balas Daddy, mommy dan juga Leon. Sementara Lexi, pria itu hanya diam saja, tak berniat membalas sapaan Reka.
"Silahkan duduk, Reka!." Mommy mempersilahkan gadis itu untuk bergabung bersama di meja makan.
"Terima kasih, Aunty." Reka menarik kursi kosong tepat di samping Lexi kemudian menempatinya. Baru saja Reka mendudukkan tubuhnya, Lexi langsung menyudahi sarapannya dan bangkit dari duduknya.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣