Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.
Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.
Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Ketegangan Meningkat
Dua minggu setelah mereka saling mengungkapkan perasaan, hubungan antara Rara dan Arkan berkembang pesat. Meski begitu, mereka memilih untuk menyembunyikannya dari teman-teman kerja di rumah sakit.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.
Suatu pagi di ruang istirahat perawat, Sisi, seorang perawat senior, menghampiri Rara dengan wajah cemas sambil berkata, "Rara, kamu perlu melihat ini."
"Ada apa?" tanya Rara, menerima tablet yang Sisi berikan.
"Ini berita baru," Sisi berkata, menunjukkan artikel online.
Rara terkejut membaca judulnya: "Dokter Muda Bintang Dituduh Malpraktik—Pasien Meninggal Usai Operasi."
Di bawah judul itu tampak foto Arkan dengan ekspresi sedih keluar dari pengadilan.
"Ini tidak mungkin," bisik Rara dengan suara bergetar. Dia yakin Arkan tidak akan melakukan malpraktik.
Sisi mengangguk setuju. "Aku juga tidak percaya. Tapi kasus ini sudah berjalan berbulan-bulan. Berita bilang keluarga pasien menuntut dr. Arkan karena lalai."
"Kenapa baru muncul sekarang?" tanya Rara.
"Sidangnya sudah mau selesai," jawab Sisi. "Katanya bukti-buktinya menyudutkan dr. Arkan."
Rara merasa pening. Hal ini tidak masuk akal baginya. Arkan adalah dokter paling teliti yang dia kenal. Dia tidak mungkin bikin kesalahan sampai pasien meninggal.
"Aku harus bicara dengannya," Rara langsung berdiri.
"Tunggu!" Sisi menarik lengannya. "Dia baru saja masuk ke ruangannya bersama kepala direktur. Sepertinya mereka sedang membicarakan kasus ini."_
"Aku tidak peduli," Rara melepas pegangan Sisi. "Aku harus tahu kebenarannya."
Rara berjalan cepat menuju ruang kerja Arkan. Begitu sampai di depan pintu, dia mendengar suara teriakan. Arkan dan direktur rumah sakit sedang bertengkar hebat.
"Saya tidak salah!" seru Arkan dengan nada tegas. "Semua prosedur saya jalankan dengan benar!"
"Tapi bukti berkata lain, Arkan," jawab direktur dengan suara berat. "Kalau kamu tetap keras kepala, rumah sakit tidak bisa membantu kamu."
"Saya tidak perlu dibela," kata Arkan dengan tegas. "Yang saya inginkan hanya keadilan."
Kepala direktur menanggapinya dengan nada sinis, "Keadilan? Di dunia ini, keadilan itu ilusi, Arkan. Yang penting siapa yang punya bukti paling kuat."
Arkan tetap teguh, "Saya yakin bukti saya benar."
Kepala direktur menghela napas berat, lalu berkata, "Lebih baik kamu ambil cuti selama kasus ini berjalan. Ini untuk menjaga reputasi rumah sakit."
"Jadi saya langsung dipecat?" tanya Arkan dengan nada tersinggung.
"Untuk saat ini, iya," jawab kepala direktur berusaha menenangkan. "Kalau nanti kamu terbukti tidak bersalah, kamu bisa kembali bekerja lagi."
"Lalu kalau tidak?"
"Kamu sudah tahu jawabannya."
Suasana jadi sunyi. Tiba-tiba terdengar bunyi langkah kaki menuju pintu. Rara cepat-cepat mundur saat pintu terbuka dan sang direktur muncul dengan muka ketus.
"Rara?" Kepala direktur tampak terkejut saat melihatnya. "Kenapa kamu di sini?"
"Oh, saya... saya mau menyampaikan sesuatu ke dr. Arkan," Rara buru-buru berbohong.
"Baiklah," jawab kepala direktur sambil mengangguk singkat lalu berjalan pergi meninggalkannya.
Setelah direktur keluar, Rara langsung masuk ke ruang kerja Arkan. Ia melihat Arkan berdiri kaku di dekat jendela dengan tangan mengepal.
"Arkan?" panggil Rara pelan.
Arkan menoleh cepat. Wajahnya pucat dan matanya tampak merah. "Kamu sudah tahu?"
"Aku sudah baca beritanya," Rara mengangguk pelan. "Sebenarnya ada apa?"
Arkan menghela napas panjang. Ia duduk dengan tubuh yang tampak sangat lelah. "Bulan lalu, aku mengoperasi jantung pasien tua. Semua lancar, tapi dua hari kemudian dia meninggal karena komplikasi tak terduga."
"Itu bukan malpraktik," Rara membela. "Komplikasi bisa terjadi pada operasi apa saja."
"Keluarga pasien tetap menuduhku lalai," ujar Arkan dengan suara berat. "Mereka bilang aku lupa memberi obat tertentu setelah operasi."
"Apakah itu benar?" tanya Rara.
Arkan menjawab tegas, "Tentu saja tidak!" Dia menjelaskan bahwa semua obat yang diberikan selalu dia catat dalam rekam medis. Namun, anehnya, catatan tersebut berubah setelahnya.
"Jadi, pasti ada yang memalsukan," simpul Rara.
"Tapi tidak ada yang percaya sama aku," Arkan mengangkat tangan dengan putus asa. "Semua bukti bilang aku bersalah."
"Aku yakin kamu tidak salah," kata Rara sambil menggenggam tangannya. "Kamu pasti tidak melakukan kesalahan seperti itu."
Arkan tersenyum tipis, "Terima kasih, tapi itu belum cukup. Rumah sakit udah mutusin buat memberhentikan aku sementara."
"Itu tidak adil!"
"Rara, hidup memang seperti itu," Arkan menghela napas panjang. "Sekarang reputasi saya hancur. Tidak ada rumah sakit yang mau menerima dokter yang pernah tercatat melakukan malpraktik."
"Namun, kamu bisa membuktikan bahwa kamu tidak bersalah," Rara berusaha menyemangatinya.
"Caranya?" tanya Arkan dengan nada putus asa. "Semua bukti sudah diubah. Tidak ada saksi yang mendukung saya."
"Selalu ada solusi," kata Rara dengan tegas. "Aku tidak akan membiarkan hal ini menimpamu."
Arkan menggeleng, "Kamu tak harus ikut campur. Masalah ini bisa merusak karirmu juga."
Namun, Rara tetap bersikeras, "Aku tak peduli soal itu. Aku akan mendampingi mu untuk membuktikan kebenaran ini."
"Kenapa?" Arkan menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Sebab..." Rara terdiam sebentar sebelum akhirnya mengucapkan kata-kata yang telah lama dipendamnya.
"Karena aku mencintaimu, Arkan. Aku tidak mau orang yang kucintai mengalami ketidakadilan."
Arkan terdiam sesaat, kemudian menarik Rara ke dalam pelukannya. "Aku juga mencintaimu, Rara. Namun, aku tak ingin kamu terluka akibat semua ini."
"Sudah terlambat," kata Rara sambil memeluk Arkan dengan erat. "Aku sudah jatuh cinta padamu. Apapun yang terjadi, aku tetap di sisimu."
Arkan menjawab dengan suara gemetar, "Terima kasih. Itu sangat berarti buatku."
Lalu, Rara melepaskan pelukan dan menatapnya dengan tekad kuat. "Sekarang kita harus cari bukti bahwa kamu tidak bersalah."
"Bagaimana caranya?"
Rara segera menjelaskan, "Langkah pertama kita cek rekam medis asli pasien." Jika ada perubahan, pasti akan meninggalkan jejak."
Arkan mengingatkan bahwa rekam medis sudah di pengadilan. Namun, Rara mengatakan rumah sakit punya salinannya. Kebetulan, Rara juga punya akses ke sana.
"Itu bahaya," kata Arkan dengan cemas. "Kalau ketahuan—"
"Aku hati-hati, kok," sela Rara. "Yang penting kita cari tahu kebenarannya."
"Baik," Arkan mengangguk, meski masih ada rasa khawatir. "Tapi janji ya, kamu hati-hati sekali."
"Aku janji," Rara mengangguk mantap. Dia melirik jam tangannya. "Aku harus balik kerja supaya tidak dicurigai. Kita bicara lagi setelah shift selesai?"
"Iya," jawab Arkan. Dia menggenggam erat tangan Rara. "Dan Rara..."
"Apa?"
"Terima kasih," ucap Arkan dengan mata berkaca-kaca. "Karena sudah percaya sama aku."
"Tentu saja," Rara mengulas senyumnya tipis. Dia meninggalkan ruangan dengan jantung berdebar, berniat mencari tahu kebenaran demi menyelamatkan karir Arkan.
Bersambung....