"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Lagi pula tuan besar Baskoro sangat senang dengan niatan dari cucunya itu, belajar dari yang paling dasar dahulu, sebelum mengelola perusahaan yang lebih besar, bahkan sebuah group usaha nanti nya.
Tidak susah bagi tuan besar Baskoro untuk membentuk sebuah CV di bawah naungan Hanggada group sebagai mitra kerja nya.
Proyek pertama CV Nusa Kamandara, adalah sebuah gedung SMK dengan tiga kelas.
Berkat pengalaman kerja bangunan sebelum nya, SMK itu bisa di selesaikan beberapa hari sebelum masa kerja habis.
Tentu saja semua berkat bimbingan dari tuan besar Baskoro yang tidak akan melepaskan begitu saja sang cucu di Dunia kerja yang keras ini. Beliau membimbing dari detail yang paling kecil, hingga hal yang paling besar.
Dari kerja pertama nya, Kae mendapat keuntungan bersih hingga tiga puluh juta rupiah dalam waktu hanya tiga puluh hari kerja.
Dari tiga puluh juta rupiah itu, Kaenan hanya mengambil dua puluh juta rupiah saja, sisa dari sepuluh juta rupiah yang dia bagi bagi untuk bonus bagi dua orang mandor nya.
Tentu saja sang mandor sangat senang sekali, mendapatkan seorang bos muda yang tidak pelit.
Malam itu, saat makan malam bersama, tuan besar Baskoro menanyakan kepada Kaenan masalah kerjaan yang baru saja dia selesaikan.
"Bagai mana nak?, sudah selesai kah?" tanya tuan besar Baskoro selesai makan, dan duduk di ruang tengah.
"Alhamdulillah kek, ada tiga puluh juta keuntungan bersih, saya ambil dua puluh juta saja, sepuluh juta saya bagi untuk dua orang mandor saya, sekedar bonus kerja untuk mereka" sahut Kaenan.
"Kenapa harus seperti itu?" tanya tuan besar Baskoro.
"Saya kan tidak kerja kek, yang kerja itu mandor saya dan para anak buah nya, jadi mereka layak mendapatkan bonus dari saya, saya tidak ingin mendapat untung banyak, yang penting bisa untuk hidup sudah cukup, asal tidak rugi sudah syukur" jawab Kaenan.
Tuan besar Baskoro menepuk pundak cucunya itu, hati nya merasa bangga pada sifat cucunya itu.
"Kakek bangga pada mu nak, rupanya jiwa pekerja kakek, hanya menurun kepada mu, tidak kepada papah dan paman mu yang tukang habiskan uang kakek itu" ujar tuan besar Baskoro sangat bangga.
"Kau tahu nak?, dahulu kakek mu juga memulai usaha dengan CV kecil kecilan, bekerja sambil kuliah, hingga bisa mencapai es dua di Inggris!" tambah nyonya Carla
"Lalu bertemu dengan nenek di Inggris kah?" tanya Kaenan.
"Lha iya lah nak, nenek kagum dengan jiwa pekerja keras kakek mu, makanya nenek yang nembak kakek mu lebih dahulu" jawab nyonya Carla.
"Nenek bilang apa waktu itu nek?" ....
"Nenek bilang, I like you, will you be my lover?" ....
"Lalu kakek bilang apa?" ....
"Helleh!, kakek mu ini paling pandai jual mahal, pura pura menolak, saat nenek pacaran dengan orang lain, justru kakek mu yang ngamuk ngamuk, menyuruh nenek bubaran, sampai sampai kakek mu bersikeras mengajak nenek liburan ke Indonesia" ujar nyonya Carla.
"Lalu?" ....
"Janji liburan, ternyata sampai di Indonesia, bukan nya mendapat liburan, ternyata kakek mu mengajak nenek menikah" ....
"Nenek mau?" ....
"Lha iya lah, kalau nenek tak mau menikah dengan kakek mu, nenek juga tinggal ikut siapa?, orang kakek mu mengancam tidak akan mengembalikan nenek ke Inggris" ....
"Benar begitu kek?" ....
Tuan besar Baskoro hanya cengengesan, mendengar sang istri membongkar kisah masa muda nya dahulu.
"Eh nak!, masih berani mengambil tantangan lagi?" tanya tuan besar Baskoro mengalihkan pembicaraan.
"Maksud kakek?" ....
"Kakek punya proyek lagi, SMA dua buah, dan SMP dua buah, keuntungan diperkirakan seratus jutaan, masing masing tiga kelas, masa kerja seratus hari, berani?" tawar tuan besar Baskoro.
"Berani kek, mumpung para mandor saya belum dapat kerja!" jawab Kaenan.
"Baiklah, nanti RAB nya akan kakek serahkan, Senin mulai star bagai mana?" ....
"Oke, saya siap kek!" sahut Kaenan mantab.
Tuan besar Baskoro bangkit berdiri, masuk ke dalam ruang kerja nya, lalu beberapa saat kemudian, keluar dengan tiga buah RAB di tangan nya.
"Ini kau pelajari dulu, jika ada yang kau bingungkan, kau bisa berkonsultasi dengan pak Budi seorang sarjana tehnik bangunan yang sudah ahli, anak buah kakek yang sudah sangat berpengalaman, nanti kakek kenalkan kepada mu" ....
"Oke deh kek, malam ini Kae mau ke rumah mang Hamit, seorang mandor atasan Kae dahulu, barang kali dia lagi kosong!" sahut Kaenan sambil membuka handphone nya, mencari nama Mang Ujang dan mang Nandang, dua orang mandor nya.
"Assalamualaikum mang ujang!" sapa Kaenan.
"Wa' alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh, ada apa bos, ada kerjaan lagi kah?" tanya mang Ujang buru buru.
"Ada mang, besok datang kerumah ya, RAB nya sudah keluar, bangunan nya kurang lebih seperti yang kita kerjakan beberapa hari yang lalu juga mang, tapi kaya nya tidak bersama mang Nandang lagi deh!" ujar Kaenan.
"A… ada apa bos, ada masalah kah dengan Nandang?" tanya mang Ujang cemas.
"Iya mang!" sahut Kaenan.
Mang Ujang terdiam beberapa saat, "kalau boleh tahu, ada masalah apa sama Nandang bos?" tanya nya.
"Eeeh!, masalah nya, mang Nandang akan saya kasih kerjaan juga mang, tapi tidak satu proyek dengan mang ujang" ujar Kaenan.
Terdengar suara mang Ujang menarik nafas panjang, "ta kira ada masalah apa bos, syukurlah kalau begitu, saya senang jika Nandang dapat kerjaan lagi, meskipun tidak bersama saya" ujar nya.
"Oh iya mang Ujang, bilang mang Nandang, besok datang kerumah juga ya! ngambil RAB kerjaan mang Nandang juga" ....
"Oke bos, siap! siap! siap!" ....
Setelah selesai bicara dengan mang Ujang, Kaenan segera mengeluarkan motor metik nya, melaju kearah Rumah kediaman mang Hamit.
Saat itu mang Hamit sedang berbincang bincang dengan seorang pria paruh baya tamu nya, di teras Rumah nya.
"Assalamualaikum mang!" sapa Kaenan.
"Wa' alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh, ayo duduk nak, tumben ada angin apa yang membawa nak Kaenan ke Rumah saya malam malam" ujar mang Hamit mempersilahkan Kaenan duduk.
"Eeeh begini mang, kerjaan mang Hamit yang dulu itu sudah selesai kah mang?" tanya Kaenan.
"Sembilan puluh persen Kae, tinggal finishing saja lagi, ada apa ya Kae?" ....
"Mau enggak mengerjakan proyek saya mang, sekolah SMK, ada tiga kelas, upah nya empat puluh per kelas" ujar Kaenan menyerahkan buku RAB kepada mang Hamit.
Mang Hamit membuka buku RAB yang diserahkan Kaenan kepada nya.
"Boleh!, boleh!, boleh deh, ini proyek milik siapa?" ....
"Milik saya sendiri mang, CV Nusa Kamandara, masih dibawah Hanggada group, sebenar saya dapat tiga lokal, dua SMA dan satu lokal SMK, yang SMA di kerjakan mang Ujang dan mang Nandang, hitung hitung belajar sambil praktek kerja mang!" sahut Kaenan.
Niken, anak gadis mang Hamit muncul membawa tiga cangkir kopi.
"Eeeh Kaenan!, lama tidak kelihatan, ada masalah dengan mas Syarif ya?" tanya dara itu sambil meletakan cangkir kopi keatas meja.
"Ah enggak mbak, saya memang punya masalah keluarga, sama kakek, papah dan paman saya, bukan karena mas Syarif kok, biar bagai mana pun juga, mas Syarif adalah kakak saya" jawab Kaenan.
"Tapi menurut mas Syarif, kau pergi setelah ada selisih paham dengan nya, dan hingga sekarang tidak pernah datang lagi" ....
"Ah endak mbak!, saya sudah lama memikirkan masalah saya dengan keluarga saya itu, hingga akhirnya saya harus mengambil keputusan juga kan?" ....
"Tapi motor kau bawa, jadinya mas Syarif kesulitan kerja!" ....
"Kalau masalah motor, saya minta maaf, itu bukan milik saya, itu amanah dari kak Aisyah, yang minta tolong jaga kan motornya selama dia kuliah ke luar negeri, saya tidak berani menyerahkan kepada siapapun, jika tidak ada ijin kak Aisyah, mohon maaf sekali lagi, bukan pelit dengan harta orang lain, tapi itu amanah orang mbak" sahut Kaenan.
"Kau benar Kae!, amanah adalah kepercayaan, dan kepercayaan adalah harga diri, jangan rusak kepercayaan orang lain" tukas mang Hamit ikut menyela pembicaraan.
"Iya mang, yang lebih penting lagi, dalam tuntunan agama, merusak amanah itu hukum nya munafik, itulah yang saya takutkan" jawab Kaenan.
"Jadi tujuan kau berkunjung malam ini apa?" tanya Niken dengan suara yang masih tidak menyukai Kaenan, mungkin karena persoalan antara Kaenan dan Syarif dahulu.
"Ini nak Kaenan ini sudah punya CV sendiri, dia memberi kerjaan untuk papah nak, nilai nya lumayan besar, sekarang nak Kaenan ini sudah menjadi seorang bos" ujar mang Hamit menjelaskan.
Tapi penjelasan mang Hamit rupanya masih tidak begitu diterima oleh Niken.
"Hati hati lho pah, jaman sekarang banyak tipu tipu, ujung ujung nya harta benda kita habis di tipu orang!" ujar Niken menatap kearah Kaenan dengan sudut mata nya.
Kaenan menarik nafasnya dalam-dalam, hati nya tersinggung, namun dia tidak ingin memperpanjang masalah nya.
"Tidak apa-apa mang, saya hanya menawarkan pekerjaan saja, tidak ada paksaan kok, jika mang Hamit ragu ragu, sebaik nya tidak usah saja, saya menawarkan kerjaan, karena saya kenal dengan mang Hamit, dari pada saya tawarkan kepada orang lain, lebih baik saya tawarkan kepada mang Hamit terlebih dahulu, jika mang Hamit mundur, barulah saya tawarkan kepada orang lain" ujar Kaenan tidak ingin terlalu meyakinkan mang Hamit, karena dia tahu, jika mandor yang siap kerja itu sangat banyak, jauh lebih banyak dari lapangan kerja nya.
"Niken!, masuk!" ....
Terdengar suara mang Hamit pelan namun penuh penekanan kata, sehingga kata kata itu terdengar begitu tegas dan seolah olah tidak ingin di bantah lagi.
"Maafkan Niken nak Kaenan, dia tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan" ujar mang Hamit.
"Tidak apa-apa mang, saya tidak memasukan nya kedalam hati kok, jika mang Hamit bersedia, Senin bisa mulai kerja, soal bayaran, seperti biasa nya, setiap sabtu" sahut Kaenan.
"Tentu saja saya bersedia nak, senin saya mulai kerja, kebetulan anak anak sebagian sudah mulai prei kerja, jadi bisa saya alihkan kesana, apalagi saya lihat tidak terlalu jauh dari tempat ini" ....
Pukul sepuluh malam, Kaenan pulang dari Rumah mang Hamit setelah mendapatkan kesepakatan, bahwa hari Senin sudah mulai kerja.
Kaenan pulang mengendarai motor metik nya dengan santai, menyusuri jalan yang masih padat merayap.
...****************...