NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: JEJAK BENANG DI TRASTEVERE

Fajar menyingsing di atas Roma dengan warna kelabu yang suram, seolah kota itu sedang berduka atas hilangnya sang pangeran kegelapan, Matteo Al-Ricci.

Di dalam Villa Al-Ricci yang kini terasa terlalu luas dan hampa, Alesha duduk di lantai ruang kerjanya.

Di sekelilingnya bukan lagi gulungan sutra atau sketsa gaun malam, melainkan peta wilayah Trastevere dan Ostia yang sudah dipenuhi coretan tinta merah.

Di tengah peta itu, tergeletak mawar hitam yang ia ambil dari kursi roda Matteo.

Alesha mendekatkan mawar itu ke hidungnya. Ia memejamkan mata, membiarkan instingnya sebagai seorang perajin tekstil bekerja.

Mawar itu tidak berbau bunga. Ada aroma tajam yang menusuk, bau belerang yang bercampur dengan aniline, sebuah senyawa kimia yang sangat ia kenal.

"Ini bukan mawar alami yang dicelup tinta biasa," bisik Alesha.

Aroma itu adalah residu dari pewarna sintetis kelas industri yang digunakan untuk menghitamkan kain wol kasar.

Di seluruh Roma, hanya ada satu tempat yang masih menggunakan formula kuno dan beracun itu karena harganya yang murah, sebuah pabrik tekstil terbengkalai di pinggiran zona industri yang berbatasan dengan dermaga tua.

Namun, mengetahui lokasi hanyalah separuh dari peperangan.

"Nyonya, saya baru saja menerima kabar dari bank," Vincenzo masuk ke ruangan dengan wajah yang lebih gelap dari biasanya.

Perban di kepalanya tampak merembas darah segar.

"Lorenzo telah mengaktifkan klausul darurat. Semua rekening atas nama Matteo, termasuk tunjangan operasional rumah ini, telah dibekukan sementara menunggu 'kepastian hukum' atas status Matteo."

Alesha mendongak, matanya yang lelah namun tajam menatap Vincenzo.

"Artinya kita tidak punya uang untuk membayar informan atau menyewa bantuan?"

"Kita lumpuh secara finansial, Nyonya. Lorenzo ingin mencekik kita sampai kita menyerah."

Alesha berdiri, berjalan menuju lemari besi di sudut ruangan yang berisi koleksi masterpiece yang ia siapkan untuk pagelaran busana musim gugur mendatang.

Gaun-gaun itu adalah jiwanya, hasil kerja keras selama berbulan-bulan yang ia harapkan bisa membangun namanya sendiri tanpa embel-embel Al-Ricci.

Tanpa ragu, ia mulai memasukkan gaun-gaun itu ke dalam kantong pelindung.

"Apa yang Anda lakukan?" tanya Vincenzo terperangah.

"Jika Lorenzo memutus aliran darah kita, maka aku akan membuat donor darahku sendiri," sahut Alesha tegas.

"Bantu aku membawa ini ke bagasi. Kita akan ke Trastevere. Bukan ke bagian yang cantik dan penuh turis, tapi ke gang belakang tempat pasar gelap beroperasi."

Trastevere di siang hari adalah labirin gang-gang sempit yang dipenuhi aroma roti panggang.

Namun di bawah bayang-bayang gereja tua, terdapat dunia bawah tanah yang hanya dikenal oleh mereka yang tumbuh besar di jalanan.

Alesha melangkah masuk ke sebuah kedai kopi kumuh yang tersembunyi di balik toko barang antik.

Ia tidak lagi mengenakan gaun merahnya, ia mengenakan celana kulit hitam dan jaket bomber yang membuatnya tampak seperti warga lokal yang berbahaya.

Di hadapannya duduk seorang pria tua dengan mata satu yang dikenal sebagai 'Il Ragno'—Sang Laba-laba, broker informasi paling licin di Roma.

Alesha membentangkan tiga gaun haute couture di atas meja kayu yang berminyak.

Kain-kain itu berkilau kontras dengan lingkungan sekitarnya yang kumuh.

"Ini adalah desain orisinal yang belum pernah dipublikasikan," ucap Alesha dingin.

"Satu gaun ini cukup untuk membeli rumah di pinggiran kota. Aku ingin ditukar dengan informasi dan akses ke jaringan informan jalanan di wilayah industri timur."

Il Ragno menyentuh kain sutra itu dengan jari-jarinya yang kasar.

"Keluarga Al-Ricci sedang runtuh, Nyonya. Mengapa aku harus membantumu dan mencari masalah dengan Lorenzo?"

"Karena Lorenzo adalah singa tua yang akan mati, sedangkan aku..." Alesha mencondongkan tubuh, tatapannya menghunjam jantung pria tua itu.

"...aku adalah orang yang akan memegang kunci brankas Al-Ricci saat semua ini berakhir. Kau mau bertaruh pada masa lalu yang busuk, atau pada masa depan yang sedang marah?"

Pria itu terkekeh, lalu menarik gaun-gaun itu ke bawah meja.

Ia memberikan selembar kertas lusuh berisi catatan koordinat dan nama-nama preman dermaga yang bisa disuap.

"Pabrik tekstil tua di Via della Croce," bisik Il Ragno.

"Mereka membawa seorang pria dengan penutup kepala ke sana dua jam yang lalu. Tapi hati-hati, Nyonya. Tempat itu dijaga oleh orang-orang yang tidak peduli pada keindahan kainmu."

Alesha kembali ke mobil dengan langkah cepat, namun di sana Vincenzo sudah menunggunya dengan wajah yang tidak bisa diajak kompromi.

"Saya tahu apa yang Anda dapatkan dari Il Ragno," ucap Vincenzo, menghalangi pintu kemudi.

"Dan saya melarang Anda pergi ke sana."

"Kau melarangku?" Alesha tertawa sinis.

"Vincenzo, aku baru saja menjual seluruh masa depanku demi alamat itu. Aku tidak akan duduk diam di villa sambil menunggu mereka mengirimkan potongan tubuh Matteo satu per satu!"

"Nyonya, Anda tidak mengerti," Vincenzo merendahkan suaranya, matanya menyapu sekeliling untuk memastikan tidak ada yang menguping.

"Pabrik itu bukan sekadar tempat persembunyian. Itu adalah zona merah. Lorenzo memiliki pasukan tentara bayaran di sana. Marcello masih terbaring di rumah sakit, dan luka saya belum pulih. Pergi ke sana sekarang adalah misi bunuh diri."

"Lalu apa? Kita menunggu polisi yang sudah disuap?" tantang Alesha.

"Kita butuh rencana. Kita butuh waktu untuk mengumpulkan sisa-sisa pengawal yang masih setia kepada Matteo," tegas Vincenzo.

"Jika Anda pergi sekarang dan tertangkap, saya tidak hanya kehilangan tuan saya, tapi saya juga gagal melindungi wanita yang ia percayakan kepada saya."

"Dia tidak mempercayakan aku padamu, Vincenzo! Dia mempercayakan rencananya padaku!" Alesha berteriak, air mata frustrasi yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga.

"Dia berdiri di depan mataku, Vincenzo! Dia berdiri setelah bertahun-tahun berpura-pura lumpuh hanya untuk menunjukkan bahwa dia percaya padaku. Dan sekarang dia hilang karena kecerobohanku dalam pesta itu!"

Alesha memukul kap mobil dengan kepalan tangannya.

Rasa bersalah itu jauh lebih menyakitkan daripada ancaman Kiara.

Vincenzo terdiam melihat kerapuhan di balik ketangguhan Alesha.

Ia melangkah maju dan meletakkan tangannya di bahu Alesha.

"Kita akan menjemputnya, Nyonya. Saya berjanji. Tapi bukan dengan cara ini. Jika Anda pergi tanpa persiapan, Anda hanya akan menjadi senjata lain yang digunakan Lorenzo untuk memaksa Matteo menyerahkan segalanya."

Alesha menatap kertas di tangannya, alamat pabrik tua itu seolah mengejeknya.

Ia tahu Vincenzo benar secara logika, namun api di dalam dirinya menuntut tindakan segera.

Di dunia desain, satu jahitan yang salah bisa merusak seluruh gaun. Di dunia ini, satu langkah yang salah berarti kematian.

"Baik," bisik Alesha sambil menghapus air matanya.

"Kita susun rencana. Tapi aku tidak akan menunggu sampai besok."

Ia masuk ke dalam mobil, menatap lurus ke depan.

Di dalam benaknya, ia mulai membedah struktur pabrik tua itu berdasarkan pola pewarna tekstil yang ia temukan.

Jika ia tidak bisa masuk sebagai tentara, ia akan masuk sebagai sesuatu yang jauh lebih berbahaya, sebuah anomali yang tidak bisa diprediksi oleh siapa pun.

Malam kembali merayap di Roma, dan di balik kemewahan Trastevere, sebuah rencana yang lahir dari keputusasaan dan keberanian mulai terbentuk.

Alesha mungkin telah menjual gaun-gaunnya, tapi dia baru saja mengenakan zirah yang tidak bisa dibeli dengan uang manapun.

1
Ani Basiati
lanjut thor😍😍
merry
suka dech akhir ale tau yg slh siapa yg salah dan bnrr dan teo gk salh melakukan kebohongan
merry
orang tua dan mertua y celakaiin mantuy sndri demi harta,, Kiara mah juga terlibat
Yoyoh Rokayah
double up thor
chelsea dian
amazing
Ani Basiati
lanjut thor💪💪💪
Yoyoh Rokayah
lanjut thor
Ani Basiati
lanjut thor 💪💪💪
Yoyoh Rokayah
double up dong thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!