NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18- Mulai menjauh

Mulai Menjauh

Setelah pertemuannya dengan Sandra malam itu, Wira menjadi sedikit berbeda. Tidak terlalu terlihat, tapi Mona bisa merasakannya. Pria itu tetap bekerja seperti biasa. Tetap profesional. Tetap memperhatikannya, namun ada jarak tipis yang mulai muncul dan justru itu yang membuat Mona tidak nyaman.

***

Pagi itu Mona datang membawa kopi ke ruang kerja Wira seperti biasa.

“Americano tanpa gula,” ucapnya sambil menaruh gelas di meja.

“Terima kasih.” Jawaban singkat.

Tidak ada godaan, tidak ada senyum tipis, tidak ada tatapan lama seperti biasanya.

Mona berdiri beberapa detik lebih lama. Menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa, namun Wira sudah kembali fokus pada laptopnya. Akhirnya Mona keluar pelan dan entah kenapa… dadanya terasa kosong.

***

Siang harinya, mereka menghadiri rapat besar bersama direksi.

Mona duduk di samping Wira sambil mencatat jalannya meeting, namun di tengah rapat, salah satu direktur senior tiba-tiba berkata sambil tertawa kecil,

“Pak Wira sekarang beda ya.” Semua orang langsung menoleh.

Wira mengangkat sebelah alis. “Beda bagaimana?”

“Biasanya tidak pernah bawa sekretaris ke mana-mana. Sekarang malah selalu sama Bu Mona.” Beberapa orang tertawa kecil.

Mona langsung salah tingkah, namun sebelum suasana makin aneh, Wira menjawab datar,

“Karena dia kompeten.” Jawaban profesional, normal, tapi entah kenapa… Mona justru sedikit kecewa dan itu membuatnya kesal pada diri sendiri.

Memangnya dia berharap apa?

***

Sore menjelang malam, hujan turun deras di luar gedung kantor. Sebagian besar karyawan sudah pulang.

Mona masih duduk di mejanya menyelesaikan revisi laporan.

Sementara dari balik kaca ruang CEO, Wira beberapa kali melirik ke arah Mona tanpa sadar. Ia tahu dirinya mulai menjaga jarak dan itu sengaja karena Sandra benar tentang satu hal, Ia mulai terlalu jauh melibatkan Mona dalam hidupnya. Padahal hubungan mereka seharusnya sederhana, atasan dan bawahan. Tidak lebih.

Tok tok

Pintu ruangannya diketuk pelan.

“Masuk.”

Mona masuk membawa beberapa map. “Laporan final sudah selesai.”

Wira menerima map itu, namun saat melihat wajah Mona yang tampak lelah, ia mengernyit sedikit.

“Kamu belum pulang?”

“Hujan deras.”

“Bisa pesan mobil.”

Mona tersenyum kecil. “Iya nanti.”

Suasana kembali hening dan lagi-lagi, keheningan itu terasa aneh.

Sampai akhirnya Mona berkata pelan, “Pak Wira marah sama saya?”

Wira langsung menatapnya. “Apa?”

“Belakangan Bapak aneh.”

Wira menghela napas pelan. “Aku biasa saja.”

“Bohong.” Jawaban cepat itu membuat Wira diam.

Mona menggigit bibir pelan sebelum melanjutkan. “Kalau saya salah, bilang saja.”

Tatapan Wira melembut sedikit. “Kamu tidak salah.”

“Lalu kenapa menjauh?” Kalimat itu keluar begitu saja dan setelah mengucapkannya, Mona langsung menyesal.

Terlalu jujur, terlalu emosional, namun Wira tidak memarahinya. Pria itu justru berdiri perlahan dari kursinya, lalu berjalan mendekat.

“Mona.”

“Iya…”

“Kamu tahu apa yang paling berbahaya?”

Mona menggeleng pelan. “Perasaan yang datang di waktu yang salah.”

Deg

Jantung Mona langsung berdegup keras.

Wira berdiri tepat di depannya sekarang. Tatapannya dalam, terlalu dalam dan Mona mulai sadar… ia tidak siap mendengar jawaban yang sebenarnya.

“Aku sedang mencoba tetap waras,” ucap Wira pelan.

Suara hujan terdengar samar di luar, namun bagi Mona, detak jantungnya jauh lebih berisik.

“Pak…”

“Tapi setiap dekat kamu…” lanjut Wira lirih, “itu jadi semakin sulit.”

Mona membeku, otaknya seperti berhenti bekerja.

Apakah…

Apakah ini artinya…

Tiba-tiba...

Brak!

Pintu ruangan terbuka mendadak.

“Wira, aku—” Sandra berhenti bicara saat melihat posisi mereka.

Wira berdiri sangat dekat di depan Mona. Sementara Mona masih membeku dengan wajah merah dan jantung kacau.

Suasana langsung berubah dingin. Tatapan Sandra perlahan berpindah dari Wira ke Mona dan untuk pertama kalinya… senyum wanita itu menghilang.

“Oh…” ucapnya pelan.

“Ternyata aku mengganggu.”

Mona langsung mundur cepat. “Saya keluar dulu—”

“Tidak perlu.” Suara Wira langsung menghentikannya.

Sandra menatap semua itu tanpa berkedip lalu tertawa kecil, tapi kali ini tawanya terdengar pahit.

“Sekarang aku mengerti.”

Wira mengernyit. “Mengerti apa?”

Sandra menatap Mona beberapa detik sebelum kembali ke Wira.

“Kenapa kamu berubah.”

Ruangan kembali hening dan ketegangan di antara tiga orang itu terasa semakin nyata. Untuk pertama kalinya… Mona sadar satu hal. Hubungannya dengan Wira sudah tidak bisa lagi disebut sederhana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!