NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13:

Malam itu, kediaman Tenggara diselimuti atmosfer yang lebih berat dari biasanya. Di ruang kerja lantai atas yang kedap suara, Eros, sebagai putra sulung sekaligus tangan kanan ayahnya di perusahaan, sedang memeriksa laporan keuangan rumah tangga. Matanya yang tajam di balik kacamata bacanya terhenti pada beberapa transaksi ganjil di rekening operasional yang dipegang oleh Nenek Lastri.

Selama tiga bulan terakhir, ada penarikan tunai dalam jumlah besar dan beberapa transaksi di sebuah apotek serta klinik spesialis jantung kecil di pinggiran kota.

"Aneh," gumam Eros. Ia tahu ayahnya adalah orang yang sangat teliti. Semua asuransi kesehatan asisten rumah tangga ditanggung perusahaan, dan Nenek Lastri sendiri memiliki asuransi pribadi yang sangat lengkap. Untuk apa Nenek menarik uang tunai secara rutin sebanyak itu?

Eros bangkit, melangkah keluar kamar dengan langkah kaki yang berat dan berwibawa. Ia menuruni tangga marmer dan menuju ke arah dapur, tempat Nenek Lastri biasanya masih terjaga untuk menyiapkan teh herbal bagi Bramantyo.

Di sana, ia menemukan Nenek sedang mencuci sebuah gelas kecil dengan tangan yang gemetar.

"Nek," sapa Eros dingin.

Nenek Lastri tersentak hingga gelas di tangannya hampir jatuh.

"Eh, Den Eros. Ada apa? Perlu sesuatu?"

"Uang yang Nenek tarik bulan ini, dua puluh juta rupiah. Untuk apa?" Eros langsung menusuk tanpa basa-basi. Ia berdiri menjulang di depan wanita tua itu, memberikan tekanan mental yang luar biasa.

Nenek Lastri terdiam, wajahnya seketika pucat. "Itu... itu untuk keperluan dapur dan... perbaikan beberapa bagian di kamar belakang, Den."

"Bohong," potong Eros tajam. "Saya sudah cek laporan kontraktor, tidak ada perbaikan di kamar belakang. Dan apotek di pinggiran kota ini? Nenek sakit? Kalau sakit kenapa tidak pakai asuransi?"

"Nenek... Nenek cuma beli vitamin, Den."

Eros mendengus, ia mengambil sebuah kantong plastik kecil yang ia temukan di atas meja makan—kantong yang belum sempat disembunyikan Nenek. Di dalamnya ada beberapa strip obat dengan nama kimia yang rumit. Furosemide dan Digoxin. Eros, yang memiliki pengetahuan medis dasar karena pergaulan bisnisnya, tahu bahwa itu bukan sekadar vitamin.

"Ini obat jantung dosis tinggi," suara Eros meninggi. "Siapa yang sakit, Nek? Nenek... atau Aurora?"

Nenek Lastri mulai terisak. "Den Eros, Nenek mohon... jangan bilang Den Bram. Aurora tidak mau jadi beban. Dia minum ini supaya dia tetap bisa berdiri di depan kalian. Dia tidak mau kalian menganggapnya lemah lagi."

Dunia Eros seolah bergetar sejenak. Namun, egonya yang sudah sekeras batu segera mengambil alih. "Jadi dia benar-benar sakit? Atau ini hanya cara lain agar dia bisa menghamburkan uang Papa secara diam-diam? Kalau dia sakit, kenapa dia tidak bicara?"

"Bagaimana dia mau bicara, Den? Setiap dia membuka mulut, kalian membentaknya. Setiap dia menangis, kalian menghinanya. Dia lebih memilih mati perlahan daripada harus melihat tatapan benci kalian!" Nenek Lastri bicara dengan keberanian yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.

Eros terdiam, rahangnya mengeras. Ia menyambar obat-obat itu dan berjalan menuju kamar Aurora di lantai bawah. Ia menendang pintu kamar itu hingga terbuka.

Brak!

Aurora yang baru saja hendak memejamkan mata tersentak bangun. Ia menatap kakaknya dengan mata bulat yang penuh ketakutan.

"Apa ini?!" Eros melemparkan strip obat itu ke atas tempat tidur Aurora. "Kamu mencuri uang operasional rumah lewat Nenek untuk membeli ini? Kamu mau membuat skenario seolah-olah kamu sedang sekarat agar kami kasihan?"

"Kak Eros... aku nggak mencuri... Nenek yang kasih karena Aurora nggak kuat lagi..." tangis Aurora pecah.

"Kalau kamu memang sakit, kamu ke rumah sakit besar! Bukan ke klinik kumuh dan membeli obat sendiri secara ilegal!" Eros mencengkeram bahu Aurora. "Kamu tahu apa artinya ini? Kamu sedang mencoba memeras emosi kami. Kamu ingin kami merasa bersalah, kan? Kamu ingin kami bilang 'Oh, Aurora maafkan kami karena kamu sakit'?"

"Nggak, Kak! Aurora cuma mau bertahan hidup!"

"Hidupmu itu sudah menjadi kutukan bagi kami, Aurora! Dan sekarang kamu menambah beban dengan kebohongan medis ini!"

Di ambang pintu, Arvin berdiri dengan wajah yang tidak bisa didefinisikan. Ia mendengar teriakan Eros. Ia melihat obat-obat itu. Ia ingin maju dan membela Aurora, namun saat teringat kata-kata Juna bahwa penyakit ini adalah genetik yang "membunuh" ibu mereka, rasa benci itu kembali menyergapnya.

"Gila lo, Ra," gumam Arvin dari pintu. "Lo benar-benar niat ya bikin keluarga ini hancur."

Aurora menatap Arvin, berharap ada pembelaan karena kejadian di sekolah tadi siang. Namun, yang ia dapatkan hanyalah tatapan kecewa. Harapan kecil yang sempat tumbuh saat Arvin memberinya susu cokelat tadi pagi, seketika layu dan mati.

"Keluar..." suara Aurora terdengar dingin dan datar. "Semuanya... keluar dari kamarku."

Eros dan Arvin tertegun. Ini pertama kalinya Aurora bicara dengan nada mengusir.

"Silakan ambil obat itu kalau Kakak pikir itu cuma drama," Aurora mengambil strip obat itu dan menyerahkannya pada Eros dengan tangan gemetar. "Aurora nggak akan minum lagi. Aurora nggak akan jadi beban lagi. Kakak puas?"

Eros menyambar obat itu dan keluar dengan langkah gusar, diikuti Arvin yang sempat menoleh sejenak sebelum akhirnya menghilang di balik pintu yang ditutup kasar.

Di dalam kamar yang kini sunyi, Aurora mematikan lampunya. Ia tidak lagi menangis. Ia hanya menatap kegelapan, merasakan detak jantungnya yang semakin tidak beraturan. Tanpa obat itu, ia tahu waktunya akan semakin singkat. Namun, ia merasa jauh lebih tenang.

Ma... sebentar lagi Aurora datang. Di sana, Mama nggak akan panggil Aurora pembunuh, kan?

Malam itu, di meja kerjanya, Eros menatap obat jantung itu dengan tangan gemetar. Di sisi lain, Arvin di kamarnya tidak bisa tidur, ia terus memikirkan wajah Aurora yang tadi terlihat begitu... pasrah. Ada sesuatu yang salah, dan mereka berdua terlalu takut untuk mengakuinya.

1
Emily
seharusnya kalian keluarga bramantyio juga sebagai tersangka terutama biang kerok si bramantyio
Emily
wah ini bpak nya bisa di kenakan pasal menelantarkan anak
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!