NovelToon NovelToon
Pak Direktur Mengejar Cintaku

Pak Direktur Mengejar Cintaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dina Sen

Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.

Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.

Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.

Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

di antara dua Hati

Mamanya menyodorkan cangkir teh hangat ke tangan Raffa pelan.

“Minum dulu,” ucap beliau lembut.

Raffa menerima cangkir itu, walau sebenarnya tenggorokannya terasa sesak untuk menelan apa pun malam ini.

Uap hangat dari teh mengepul samar di antara suasana kamar yang sunyi.

“Mama tahu kamu pasti kepikiran,” lanjut sang mama pelan. “Kamu dekat sama dia dari lama.”

Raffa menunduk diam.

Asistennya memang bukan sekadar pegawai biasa.

Pria itu sudah bekerja membantu keluarganya sejak usia muda. Selalu sigap, loyal, bahkan sering mengurus hal-hal kecil yang kadang tidak sempat Raffa pikirkan sendiri.

Dan sekarang…

Orang itu pergi begitu saja.

“Malaysia jadi berangkat?” tanya mamanya hati-hati.

Raffa menggeleng pelan.

“Aku batal.”

“Karena ini?”

“Iya.” napasnya terdengar berat. “Aku harus ke rumah keluarganya besok.”

Sang mama mengusap bahu putranya perlahan.

“Kamu gak salah, Raffa.”

“Tapi itu mobil aku, Ma.”

“Bukan kamu yang nyetir.”

Raffa memejamkan mata sejenak.

“Aku gak peduli mobil itu hancur,” gumamnya lirih. “Yang bikin aku gak tenang itu keluarganya sekarang.”

Suaranya mulai melemah.

“Dia masih muda… bahkan belum nikah.”

Mamanya memandang putranya penuh iba.

Raffa memang selalu terlihat kuat di depan orang lain. Dingin. Tegas. Sulit ditebak.

Namun sang mama tahu… hati anaknya sebenarnya terlalu lembut.

Dan kehilangan selalu menjadi hal yang paling menghancurkan bagi Raffa.

Terlebih setelah kematian istrinya dulu.

“Kamu jangan nyalahin diri sendiri terus,” ujar beliau lembut.

Raffa hanya diam sambil menatap teh hangat di tangannya.

Namun jauh di sudut pikirannya…

Entah kenapa wajah Shintia sempat terlintas sesaat.

Lalu hilang lagi tertutup rasa bersalah dan lelah yang memenuhi kepalanya malam itu.

***

Pagi hari Senin di rumah Andreas kembali sibuk seperti biasa.

Suara peralatan dapur terdengar dari bawah, aroma masakan pagi memenuhi rumah.

Mama Shintia sedang bersiap pulang bersama Ayah ke rumah mereka sendiri, sementara Andreas terlihat sudah rapi dengan pakaian kerjanya.

Namun berbeda dari biasanya… Pagi ini Shintia terlihat murung.

Gadis itu duduk diam di meja makan sambil memainkan sendoknya pelan tanpa semangat, sejak malam Minggu ia kepikiran seseorang.

“Shintia, makan dulu,” tegur mamanya.

“Hm…”

Andreas yang sedang memakai jam tangan melirik adiknya heran.

“Kamu sakit?”

“Enggak.”

“Tampangmu kayak orang gagal nikah.”

“Apaan sih Kak.”

Biasanya Shintia pasti langsung membalas panjang. Namun kali ini jawabannya lemah.

Dan itu justru membuat Andreas semakin curiga, sejak dari malam Minggu Shintia hampir tidak tidur. Ia terus mencoba menghubungi nomor Raffa.

Tetap tidak aktif hingga sekarang.

Tidak ada kabar sama sekali. Dan semakin lama, rasa takutnya justru semakin besar. Bagaimana kalau benar pria itu kecelakaan? Karena jelas mobil itu, mobil yang Raffa gunakan, terlebih pembawa berita itu menyebut Asisten Hotel Pratama.

Bagaimana kalau sekarang sedang dirawat?

Atau... Pikiran itu membuat dada Shintia kembali terasa sesak.

“Mama sama Ayah pulang habis sarapan ya,” ujar mamanya kemudian.

Seketika Shintia langsung mengangkat kepala cepat.

“Hah? Cepat banget, harus sekarang?”

Mama mengernyit heran.

“Loh memangnya kenapa?”

Shintia langsung panik sendiri. “Ih… jangan dulu.”

Andreas dan mamanya saling pandang bingung.

“Kamu kenapa?” tanya Andreas.

“Ya… pengen Mama di sini dulu aja.”

“Tumben,” gumam Andreas curiga.

Biasanya Shintia tenang kalau rumah lebih sepi. Namun sekarang gadis itu terlihat seperti tidak ingin ditinggal sendirian sama sekali.

Ayahnya terkekeh kecil. “Anak Papa masih manja ternyata.”

“Bukan gitu…” Shintia menggigit bibir pelan.

Ia sendiri bingung menjelaskan perasaannya.

Sejak melihat berita kemarin malam, hatinya benar-benar tidak tenang.

Dan entah kenapa… keberadaan mamanya membuat dirinya sedikit lebih nyaman. Seolah kalau ia sendirian, pikiran buruk itu akan semakin menguasainya.

Mama Shintia memperhatikan putrinya lekat-lekat.

“Shintia.”

“Hm?”

“Kamu ada masalah?”

Pertanyaan itu membuat Shintia langsung menunduk cepat. Kalau saja ia bisa cerita...

Tapi bagaimana caranya?

“Mama… aku takut.”

Kalimat itu hampir keluar, namun akhirnya tertahan di tenggorokan. Karena bahkan ia sendiri tidak tahu apa haknya merasa takut sebesar ini untuk Raffa.

“Aku cuma lagi pengen ditemenin aja,” jawabnya akhirnya pelan.

Andreas langsung menyipit. “Mencurigakan.”

“Apaan sih.”

“Kamu habis nangis semalam?”

Shintia langsung melotot.

“Kepo banget.”

“Nah itu baru normal.”

Andreas terkekeh kecil, namun mamanya masih terlihat berpikir. Beliau tahu jelas ada sesuatu yang mengganggu putrinya.

Mata Shintia terlihat sembab, wajahnya pucat, dan sejak tadi pikirannya seperti melayang ke mana-mana.

Akhirnya sang mama menghela napas kecil.

“Yaudah Mama temenin sampai nanti siang.”

Wajah Shintia langsung sedikit cerah. “Serius?”

“Iya.”

“Yeay.”

Andreas langsung menatap adiknya geli.

“Manja banget.”

“Kakak diem.”

Ayahnya akhirnya berdiri sambil mengambil tas kerja. “Kalau gitu Papa duluan.”

Mama mengangguk kecil. “Nanti aku nyusul.”

Shintia memperhatikan ayahnya pergi sambil diam-diam merasa lega. Setidaknya sekarang rumah tidak akan terlalu sepi.

Namun begitu pintu rumah tertutup… Pikirannya kembali dipenuhi satu nama.

Raffa.

Tangannya refleks mengambil ponsel di meja. Masih belum ada balasan, dadanya kembali turun.

Laki-laki itu datang tiba-tiba tanpa diundang, mengacaukan hidupnya hanya dalam dua hari.

Dan sekarang… Menghilang begitu saja meninggalkan jejak aneh di hatinya.

Jejak yang bahkan Shintia sendiri tidak mengerti.

“Kenapa sih…” bisiknya lirih sambil menatap layar ponsel.

Andreas yang melihat adiknya terus memperhatikan ponsel langsung mengernyit lagi.

“Kamu nunggu chat siapa?”

Shintia langsung tersentak. “Enggak ada!”

“Bohong.”

“ISH KAK!”

Andreas tertawa kecil lalu mengambil kunci mobilnya. “Aku berangkat dulu.”

Namun sebelum pergi, pria itu sempat melirik adiknya sekali lagi. Walau jahil, Andreas cukup mengenal Shintia.

***

Senin pagi di Hotel Permata terasa berbeda bagi Raffa.

Biasanya suara asistennya selalu terdengar sejak pagi, mengatur jadwal, membawa kopi, atau mengingatkan meeting penting. Namun sekarang… ruang kerja itu terasa jauh lebih sunyi.

Raffa duduk diam di balik meja kerjanya sambil menatap layar laptop tanpa fokus. Pikirannya masih penuh pada kecelakaan itu.

Ketukan pintu terdengar pelan.

Tok tok.

“Masuk.”

Sella muncul dengan senyum manis khasnya. Dress ketat berwarna merah muda membungkus tubuhnya rapi, parfum menyengat langsung memenuhi ruangan.

“Pagi, Pak Raffa…” suaranya dibuat lembut manja.

Raffa bahkan tidak mengangkat kepala.

“Hm.”

Sella mendekat sambil meletakkan kopi di meja.

“Saya dengar soal kecelakaan itu… turut sedih ya.”

“Terima kasih.”

Namun wanita itu tidak pergi. Ia malah berdiri makin dekat.

“Kalau Bapak butuh teman cerita, saya bisa nemenin…”

Raffa akhirnya menatap dingin.

“Sella.”

Wanita itu tersenyum kecil.

“Iya Pak?”

“Saya lagi gak mau diganggu.”

Senyum Sella sedikit memudar, tapi ia tetap berusaha manis.

Sedangkan pagi itu… untuk pertama kalinya sejak bertemu ...

1
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh Raffa cepat dong temui Shintia...

di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh Raffa mau di jodohkan ke Sella 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhhh Shintia masih khawatir tuh sama Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Duhh Shintia kangen sama Raffa tuhhh
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh Raffa harusnya temui Shintia dong 🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Ciiieee ya tuh Raffa sebenarnya berarti buat shintia😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Shintia... Raffa itu masih hidup 🥲🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Sella ganggu Raffa mulu..

duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲

jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...

di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh kenapa Shintia belum mendaftarkan diri? Raffa sedikit kecewa😟 donggg
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh ciiieee Shintia seperti nya sudah jatuh cinta sama Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan: Ciieee Asyik dong 😄😄
total 2 replies
Sharah ArpenLovers Khan
gk cape ya Raffa gombal mulu sama shintia😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Ya ampun... Raffa jail banget sama Shintia😆😆😆
Sharah ArpenLovers Khan
Ciiieee Raffa ajak Shintia ke Pantai😆😆
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Jangan galak² Shintia nnt jatuh cinta dg Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh seperti ny Raffa emng jatuh cinta dg Shintia 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh Raffa blg kekasih Shintia ke Andreas 😆😆😆
Sharah ArpenLovers Khan
Shintia gk tahu klo Raffa itu CEO yaa😆
Sharah ArpenLovers Khan
Cieee Shintia di blg cantik 😆😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!