Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 10
Pukul satu siang tepat, ponsel Mahesa berdering. Panggilan video dari Mama Karina.
Mahesa dengan kasar menarik lengan Inara, memaksanya berdiri di sampingnya di depan ranjang yang penuh kelopak mawar. Cengkeraman tangan Mahesa di pinggang Inara terasa begitu erat dan menyakitkan, seolah memberi peringatan. Jika kau menangis, ibumu akan kehilangan ventilatornya hari ini juga. Meanwhile, Clarissa bersembunyi di balik tirai balkon sambil terkikik geli.
"Hai, Mahesa! Inara sayang!" Wajah penuh binar Mama Karina muncul di layar.
"Wah, kamarnya cantik sekali ya! Gimana? Kalian suka kan kejutan dari Mama?"
Inara, dengan seluruh sisa kekuatan yang ada di raganya, memaksakan sebuah senyuman di balik air mata yang baru saja dia hapus kasar. Bibirnya yang terluka bergetar hebat saat dia berbicara.
"Iyaa, Mama... Terima kasih banyak. Kamarnya., sangat indah. Inara sangat bahagia..."
Kata "bahagia" itu terasa seperti pisau berkarat yang menggorok leher Inara sendiri. Dia mengucapkan kata bahagia di saat suaminya sedang menggenggam ponsel dengan tangan yang dipenuhi aroma parfum jasmine milik Clarissa, siap meninggalkannya sendirian di ranjang pengantin palsu ini beberapa menit lagi.
"Bagus, sayang! Nikmati waktu kalian ya, jangan mikirin kerjaan terus!" seru Mama Karina dengan wajah penuh binar sebelum akhirnya memutus panggilan video tersebut.
Begitu layar ponsel menggelap, detik itu juga sandiwara selesai. Mahesa langsung menghempaskan tubuh Inara menjauh seolah wanita itu adalah seonggok sampah yang mengotori kemejanya. Cengkeraman kuat di pinggang Inara terlepas, menyisakan rasa ngilu yang menjalar hingga ke tulang.
Dari balik tirai balkon, Clarissa melangkah keluar dengan tawa yang berderai renyah.
"Akting yang luar biasa, Nyonya Dirgantara pajangan. Senyummu tadi benar-benar terlihat seperti wanita yang paling bahagia di dunia," ejek Clarissa sembari merapikan tas kecilnya.
Hebatnya, dia sama sekali tidak merasa bersalah setelah menyaksikan air mata Inara yang tertahan di sudut mata. Wanita itu bahkan terlihat sangat menikmatinya. Dan selama itu pula dia tak merasa bersalah kepada Mahesa karena sudah meninggalnya. Dan tiba-tiba saja kembali datang. Tapi entahlah, Inara juga tak tahu apa mungkin sebelumnya mereka masih sering berkomunikasi. Apalagi selama satu tahun dia adalah istri yang tak di anggap.
Clarissa berjalan mendekati Mahesa, lalu menggelayut manja di lengan pria itu.
"Yuk, Mas. Tugasmu di kamar ini sudah selesai kan? Katanya mau menemaniku makan siang dan keliling mall?"
Mahesa melirik Inara yang berdiri mematung di tepi ranjang. Wajah istrinya itu begitu kosong, tatapannya lurus menatap kelopak mawar merah yang bertebaran di atas kasur. Simbol cinta yang kini terasa seperti ejekan kejam bagi takdirnya.
Ada sekelebat rasa tidak nyaman yang kembali menyengat dada Mahesa saat melihat bahu Inara yang sedikit bergetar, namun ego dan rasa cintanya yang buta pada Clarissa buru-buru menepis perasaan itu. Inara memalingkan wajahnya dari mereka.
"Ayo," jawab Mahesa pendek pada Clarissa.
Dia meraih dompet dan kunci mobilnya di atas meja. Sebelum melangkah keluar pintu, Mahesa berbalik sekilas tanpa mendekati Inara.
"Kamu tetap di sini. Jangan berani-berani pergi dari hotel ini sebelum besok pagi, atau Mama akan curiga kalau kita tidak menginap."
Braaaaakkkk
Pintu Presidential Suite itu tertutup rapat, mengunci Inara dalam kesunyian yang membunuh.
Tubuh Inara seketika luruh ke atas lantai karpet yang tebal. Dia tidak menangis histeris. Air matanya mengalir dalam diam, membasahi gaun indah yang sengaja dia pakai demi menyenangkan mertuanya.
Di dalam kamar semegah ini, dia ditinggalkan sendirian, sementara suaminya pergi berkencan dengan wanita lain menggunakan uang yang sebagian di antaranya adalah hasil keringat Inara sebagai karyawan di kantornya.
Di luar hotel, Mahesa menemani Clarissa sepanjang hari. Mereka makan di restoran mewah, berbelanja barang-barang bermerek, dan tertawa bersama. Namun, entah mengapa, ada yang berbeda dengan Mahesa hari ini.
Pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Setiap kali Clarissa mencoba menggandeng tangannya di depan umum atau bersandar di bahunya, ada alarm tak kasat mata di dalam kepala Mahesa yang berbunyi.
Inara adalah istrimu yang sah.
Kalimat itu tiba-tiba terngiang, membuat Mahesa beberapa kali menarik dirinya secara halus dari kemesraan yang dituntut Clarissa. Biar bagaimanapun benci dan kasarnya dia pada Inara karena masalah utang keluarga, Mahesa dibesarkan dalam keluarga Dirgantara yang menjunjung tinggi harga diri dan norma.
Dia mencintai Clarissa, sangat mencintainya, namun statusnya kini berbeda. Mereka bukan suami istri lagi. Mahesa kini memiliki status yang sakral dengan Inara walau menurutnya hanya di atas kertas. Meski tanpa cinta, membuatnya tahu batasan fisik yang tidak boleh dia langgar sebagai seorang suami.
Pukul sembilan malam, mereka kembali ke hotel. Mahesa mengantar Clarissa sampai ke depan pintu kamar terpisah yang sudah disewanya di lantai yang sama.
"Mas, malam ini tidur di kamarku ya? Temani aku," bisik Clarissa manja.
Jemarinya bermain di dada kemeja Mahesa, mencoba merayu. Sebagai mantan istri, Clarissa sangat tahu bagaimana caranya meluluhkan Mahesa dahulu. Tapi kali ini beberapa kali pula dia gagal. Mahesa menatap mantan istrinya itu, lalu perlahan memegang pergelangan tangan Clarissa dan menurunkannya secara tegas.
"Tidak, Clarissa. Aku sudah menemanimu seharian ini. Aku harus kembali ke kamar atas."
Wajah Clarissa langsung cemberut kesal.
"Kenapa sih, Mas? Kamu takut sama wanita pajangan itu? Atau jangan-jangan kamu mulai peduli sama dia setelah dia pingsan kemarin?"
"Jangan konyol," sahut Mahesa, suaranya mendadak berubah dingin.
"Ini masalah prinsip. Aku masih terikat pernikahan sah dengan dia di mata hukum, agama dan juga keluargaku. Aku tidak akan tidur di kamar wanita lain selama status itu belum lepas. Bersabarlah sampai semua aset Keluarga Dirgantara turun ke tanganku."
Tanpa mendengar rengekan Clarissa lebih lanjut, Mahesa berbalik dan melangkah menuju lift, kembali ke lantai teratas tempat Presidential Suite berada.
Tepat pukul sepuluh malam, knop pintu Presidential Suite berbunyi. Namun Mahesa tak menemukan keberadaan Inara di dalam sana. Dia berlari ke arah kamar mandi, Inara tak ada. Mahesa mulai panik, khawatir Inara kabur dari sana tanpa sepengetahuan dirinya.
"sial! Kemana kamu Inara?" kesal Mahesa menyambar ponsel di sakunya dan menghubungi Inara. Namun sayangnya ponsel Inara bahkan ada di dalam tas yang di tinggalkan wanita itu.
"Ck! Kemana kamu? Kalau kabur, masa dia nggak bawa apa-apa!"
Cahaya lampu kota yang gemerlap dari lantai tinggi hotel itu seolah menertawakan kehancuran batin Inara. Angin malam yang dingin menusuk kulit, namun tak sedingin rasa sakit yang merayap di dadanya. Inara duduk bersimpuh di lantai balkon, memeluk lututnya sendiri, menatap titik nol di kegelapan bawah sana.
Mahesa yang diliputi amarah dan kepanikan bukan karena peduli, melainkan karena takut sandiwaranya terbongkar oleh sang Mama. Berjalan cepat menuju balkon setelah menyadari pintu kaca itu sedikit terbuka.
"Inara!" bentak Mahesa saat melihat sosok istrinya terduduk lemas di sudut gelap balkon.
Mahesa menarik lengan Inara hingga membuat tubuh Mereke bertabrakan. Inara mencoba membatasi dengan kedua tangannya. Mahesa sedikit kaget dengan yang di lakukan Inara.
"Apa yang kamu lakukan?! Kamu mau kabur? Kamu pikir kamu bisa lari dari tanggung jawab setelah membuat Mama curiga kalau kamu tidak ada di kamar?!"
Inara tidak berontak. Dia bahkan tidak menatap mata Mahesa. Tatapannya tetap kosong, seperti jiwa yang baru saja meninggalkan raganya.
"Mamamu tak akan tahu, Mas. Harusnya kalau kamu takut Mama, kamu tak akan berani mengajak Clarissa ke sini bahkan kamu malah mengha-biskan waktu bersama mantan istrimu itu!" jawab Inara Pelan kemudian memundurkan tu-buhnya menjauh dari Mahesa yang terdiam.
"Aku tidak kabur, Mas," bisiknya lirih, suaranya parau.
"Aku hanya sedang mencari udara. Di dalam sana, baunya terlalu penuh dengan aroma parfum wanita itu. Aku merasa sesak. Tapi sekarang bahkan semakin membaut aku mual karena bau itu menempel di tubuhmu!"
"Jangan mendrama! Clarissa tak ada urusannya dengan kita! Masuk! Jangan sampai kamu sakit dan kembali menyusahkan aku lagi!"
Inara berbalik masuk ke dalam kamar tanpa membantah lagi. Dia kemudian meringkuk di atas ranjang yang masih bertaburkan kelopak bunga mawar merah yang mulai layu. Menarik selimut hingga sebatas lehernya. Tak peduli dengan tatapan dari Mahesa.
Mahesa benar, dia tidak boleh sakit lagi. Dia harus tetap sehat apapun yang terjadi. Dia harus menghadapi semuanya sendiri. Takdir kejam dalam hidupnya. Inara hanya berharap mimpi buruk ya akan segera berakhir.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛