NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:81.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.

Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa

Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.

Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inara 10

Pukul satu siang tepat, ponsel Mahesa berdering. Panggilan video dari Mama Karina.

Mahesa dengan kasar menarik lengan Inara, memaksanya berdiri di sampingnya di depan ranjang yang penuh kelopak mawar. Cengkeraman tangan Mahesa di pinggang Inara terasa begitu erat dan menyakitkan, seolah memberi peringatan. Jika kau menangis, ibumu akan kehilangan ventilatornya hari ini juga. Meanwhile, Clarissa bersembunyi di balik tirai balkon sambil terkikik geli.

"Hai, Mahesa! Inara sayang!" Wajah penuh binar Mama Karina muncul di layar.

"Wah, kamarnya cantik sekali ya! Gimana? Kalian suka kan kejutan dari Mama?"

Inara, dengan seluruh sisa kekuatan yang ada di raganya, memaksakan sebuah senyuman di balik air mata yang baru saja dia hapus kasar. Bibirnya yang terluka bergetar hebat saat dia berbicara.

"Iyaa, Mama... Terima kasih banyak. Kamarnya., sangat indah. Inara sangat bahagia..."

Kata "bahagia" itu terasa seperti pisau berkarat yang menggorok leher Inara sendiri. Dia mengucapkan kata bahagia di saat suaminya sedang menggenggam ponsel dengan tangan yang dipenuhi aroma parfum jasmine milik Clarissa, siap meninggalkannya sendirian di ranjang pengantin palsu ini beberapa menit lagi.

"Bagus, sayang! Nikmati waktu kalian ya, jangan mikirin kerjaan terus!" seru Mama Karina dengan wajah penuh binar sebelum akhirnya memutus panggilan video tersebut.

Begitu layar ponsel menggelap, detik itu juga sandiwara selesai. Mahesa langsung menghempaskan tubuh Inara menjauh seolah wanita itu adalah seonggok sampah yang mengotori kemejanya. Cengkeraman kuat di pinggang Inara terlepas, menyisakan rasa ngilu yang menjalar hingga ke tulang.

Dari balik tirai balkon, Clarissa melangkah keluar dengan tawa yang berderai renyah.

"Akting yang luar biasa, Nyonya Dirgantara pajangan. Senyummu tadi benar-benar terlihat seperti wanita yang paling bahagia di dunia," ejek Clarissa sembari merapikan tas kecilnya.

Hebatnya, dia sama sekali tidak merasa bersalah setelah menyaksikan air mata Inara yang tertahan di sudut mata. Wanita itu bahkan terlihat sangat menikmatinya. Dan selama itu pula dia tak merasa bersalah kepada Mahesa karena sudah meninggalnya. Dan tiba-tiba saja kembali datang. Tapi entahlah, Inara juga tak tahu apa mungkin sebelumnya mereka masih sering berkomunikasi. Apalagi selama satu tahun dia adalah istri yang tak di anggap.

Clarissa berjalan mendekati Mahesa, lalu menggelayut manja di lengan pria itu.

"Yuk, Mas. Tugasmu di kamar ini sudah selesai kan? Katanya mau menemaniku makan siang dan keliling mall?"

Mahesa melirik Inara yang berdiri mematung di tepi ranjang. Wajah istrinya itu begitu kosong, tatapannya lurus menatap kelopak mawar merah yang bertebaran di atas kasur. Simbol cinta yang kini terasa seperti ejekan kejam bagi takdirnya.

Ada sekelebat rasa tidak nyaman yang kembali menyengat dada Mahesa saat melihat bahu Inara yang sedikit bergetar, namun ego dan rasa cintanya yang buta pada Clarissa buru-buru menepis perasaan itu. Inara memalingkan wajahnya dari mereka.

"Ayo," jawab Mahesa pendek pada Clarissa.

Dia meraih dompet dan kunci mobilnya di atas meja. Sebelum melangkah keluar pintu, Mahesa berbalik sekilas tanpa mendekati Inara.

"Kamu tetap di sini. Jangan berani-berani pergi dari hotel ini sebelum besok pagi, atau Mama akan curiga kalau kita tidak menginap."

Braaaaakkkk

Pintu Presidential Suite itu tertutup rapat, mengunci Inara dalam kesunyian yang membunuh.

Tubuh Inara seketika luruh ke atas lantai karpet yang tebal. Dia tidak menangis histeris. Air matanya mengalir dalam diam, membasahi gaun indah yang sengaja dia pakai demi menyenangkan mertuanya.

Di dalam kamar semegah ini, dia ditinggalkan sendirian, sementara suaminya pergi berkencan dengan wanita lain menggunakan uang yang sebagian di antaranya adalah hasil keringat Inara sebagai karyawan di kantornya.

Di luar hotel, Mahesa menemani Clarissa sepanjang hari. Mereka makan di restoran mewah, berbelanja barang-barang bermerek, dan tertawa bersama. Namun, entah mengapa, ada yang berbeda dengan Mahesa hari ini.

Pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Setiap kali Clarissa mencoba menggandeng tangannya di depan umum atau bersandar di bahunya, ada alarm tak kasat mata di dalam kepala Mahesa yang berbunyi.

Inara adalah istrimu yang sah.

Kalimat itu tiba-tiba terngiang, membuat Mahesa beberapa kali menarik dirinya secara halus dari kemesraan yang dituntut Clarissa. Biar bagaimanapun benci dan kasarnya dia pada Inara karena masalah utang keluarga, Mahesa dibesarkan dalam keluarga Dirgantara yang menjunjung tinggi harga diri dan norma.

Dia mencintai Clarissa, sangat mencintainya, namun statusnya kini berbeda. Mereka bukan suami istri lagi. Mahesa kini memiliki status yang sakral dengan Inara walau menurutnya hanya di atas kertas. Meski tanpa cinta, membuatnya tahu batasan fisik yang tidak boleh dia langgar sebagai seorang suami.

Pukul sembilan malam, mereka kembali ke hotel. Mahesa mengantar Clarissa sampai ke depan pintu kamar terpisah yang sudah disewanya di lantai yang sama.

"Mas, malam ini tidur di kamarku ya? Temani aku," bisik Clarissa manja.

Jemarinya bermain di dada kemeja Mahesa, mencoba merayu. Sebagai mantan istri, Clarissa sangat tahu bagaimana caranya meluluhkan Mahesa dahulu. Tapi kali ini beberapa kali pula dia gagal. Mahesa menatap mantan istrinya itu, lalu perlahan memegang pergelangan tangan Clarissa dan menurunkannya secara tegas.

"Tidak, Clarissa. Aku sudah menemanimu seharian ini. Aku harus kembali ke kamar atas."

Wajah Clarissa langsung cemberut kesal.

"Kenapa sih, Mas? Kamu takut sama wanita pajangan itu? Atau jangan-jangan kamu mulai peduli sama dia setelah dia pingsan kemarin?"

"Jangan konyol," sahut Mahesa, suaranya mendadak berubah dingin.

"Ini masalah prinsip. Aku masih terikat pernikahan sah dengan dia di mata hukum, agama dan juga keluargaku. Aku tidak akan tidur di kamar wanita lain selama status itu belum lepas. Bersabarlah sampai semua aset Keluarga Dirgantara turun ke tanganku."

Tanpa mendengar rengekan Clarissa lebih lanjut, Mahesa berbalik dan melangkah menuju lift, kembali ke lantai teratas tempat Presidential Suite berada.

Tepat pukul sepuluh malam, knop pintu Presidential Suite berbunyi. Namun Mahesa tak menemukan keberadaan Inara di dalam sana. Dia berlari ke arah kamar mandi, Inara tak ada. Mahesa mulai panik, khawatir Inara kabur dari sana tanpa sepengetahuan dirinya.

"sial! Kemana kamu Inara?" kesal Mahesa menyambar ponsel di sakunya dan menghubungi Inara. Namun sayangnya ponsel Inara bahkan ada di dalam tas yang di tinggalkan wanita itu.

"Ck! Kemana kamu? Kalau kabur, masa dia nggak bawa apa-apa!"

Cahaya lampu kota yang gemerlap dari lantai tinggi hotel itu seolah menertawakan kehancuran batin Inara. Angin malam yang dingin menusuk kulit, namun tak sedingin rasa sakit yang merayap di dadanya. Inara duduk bersimpuh di lantai balkon, memeluk lututnya sendiri, menatap titik nol di kegelapan bawah sana.

Mahesa yang diliputi amarah dan kepanikan bukan karena peduli, melainkan karena takut sandiwaranya terbongkar oleh sang Mama. Berjalan cepat menuju balkon setelah menyadari pintu kaca itu sedikit terbuka.

"Inara!" bentak Mahesa saat melihat sosok istrinya terduduk lemas di sudut gelap balkon.

Mahesa menarik lengan Inara hingga membuat tubuh Mereke bertabrakan. Inara mencoba membatasi dengan kedua tangannya. Mahesa sedikit kaget dengan yang di lakukan Inara.

"Apa yang kamu lakukan?! Kamu mau kabur? Kamu pikir kamu bisa lari dari tanggung jawab setelah membuat Mama curiga kalau kamu tidak ada di kamar?!"

Inara tidak berontak. Dia bahkan tidak menatap mata Mahesa. Tatapannya tetap kosong, seperti jiwa yang baru saja meninggalkan raganya.

"Mamamu tak akan tahu, Mas. Harusnya kalau kamu takut Mama, kamu tak akan berani mengajak Clarissa ke sini bahkan kamu malah mengha-biskan waktu bersama mantan istrimu itu!" jawab Inara Pelan kemudian memundurkan tu-buhnya menjauh dari Mahesa yang terdiam.

"Aku tidak kabur, Mas," bisiknya lirih, suaranya parau.

"Aku hanya sedang mencari udara. Di dalam sana, baunya terlalu penuh dengan aroma parfum wanita itu. Aku merasa sesak. Tapi sekarang bahkan semakin membaut aku mual karena bau itu menempel di tubuhmu!"

"Jangan mendrama! Clarissa tak ada urusannya dengan kita! Masuk! Jangan sampai kamu sakit dan kembali menyusahkan aku lagi!"

Inara berbalik masuk ke dalam kamar tanpa membantah lagi. Dia kemudian meringkuk di atas ranjang yang masih bertaburkan kelopak bunga mawar merah yang mulai layu. Menarik selimut hingga sebatas lehernya. Tak peduli dengan tatapan dari Mahesa.

Mahesa benar, dia tidak boleh sakit lagi. Dia harus tetap sehat apapun yang terjadi. Dia harus menghadapi semuanya sendiri. Takdir kejam dalam hidupnya. Inara hanya berharap mimpi buruk ya akan segera berakhir.

1
Oma Gavin
akhirnya mahesa jadi diri sendiri dan lebih baik
Ilfa Yarni
inara udah bahagia mahesa gmn kabarnya
nely_48
halo arka, udh gede az
nely_48
menepi dl,, siapa tau dgn tinggal d pulau Kalimantan mereka bs ketemu dgn gadis Dayak yg terkenal cancik n baik hati
Muft Smoker
inara tu arka apa nangka mateng di kebun tetangga ,, bunyi ny mantap pisan😁😁😁😁😁😁
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,,

yx sypa tau kak si arka jatuh pas bareng nangka tetangga juga pas kebetulan jatuh juga ,🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Muft Smoker
untung si Gavin gx minta di gendong si inara 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁 ,,
sypa tau aj kak 😁😁😁
total 2 replies
Ambu Rinddiany Thea
ko lucu ya bayangin nya 🤭😁
Ambu Rinddiany Thea: /Grievance/
total 2 replies
Ilfa Yarni
inara udah bahagia tinggal mahesa beri doa bahagia jg tjor
Muft Smoker
berdamai itu indah kan ,, meski terlambaat tp itu lebih baik Dari pada tdak sama sekali kn mahesa ,,
skrang tinggal km yg menata dirimu menjadi lebih baik mahesaa ,,
Ambu Rinddiany Thea
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Ilfa Yarni
syukurlah kalian berdua udah berdamai dgn diri sendiri semoga jdpnnya kalian sama2 bahagia aku paling g suka laki2 yg. mengakui kesalahan dan berubah kpd yg lbh baik
Soraya
mampir thor
Ilfa Yarni
berjuang dan berdamailah dgn dirimu sendiri mahesa
Muft Smoker
mungkin inara hanya satu mahesa ,, tp di luar sana mungkin msh ad yg seperti inara ,, yg bisa nerima km apa adany ,, tanpa dy melihat dirgantara ad di belakang mu ,, tanpa melihat masa lalu mu ,,
Muft Smoker
pergi jauh bukan hanya tuk menghindar ,, tp tuk menenangkan hati ,mmenyembuhkkan diri , membentuk diri menjadi pribadii yg lebih baik ,,
masa lalu mungkin gx kan hilang mahesa ,, tp gx perlu juga selalu di ingat yg dmna akan mempersulit dirimu untuk menemukan jati dirimu yg hilang ,,
Ilfa Yarni
inara perempuan yg naik dan tulus tidak mgkn dia mengabaikanmu ha ya u tuk mi ta maaf tuk yg terakhir kalinya
Ilfa Yarni
pergilah mahesa sembuhkan dirimu semoga disana km udah bisa melupakan masa lalu dan berdamai dgn dirimu sendiri semoga jg ada pengganti inara km temukan disana
Ambu Rinddiany Thea
ss clarisa mah bentar lagi juga kena karmanya , garuk sana garuk sini iiih jijik , ntar kamu yang balik jiji liat clarisa .. ters lah bebenah diri jgn dengerin bisikan2 saiton yg terkutuk mahesa
nely_48
kau br tau mahesa klau Clarissa itu spt sundel bolong,,, br sadar skrg ternyata
Muft Smoker
tenang aj mahesa ,, km udh bnr melakukan semua tu ,,
gx perlu mikirin omongan Clarissa ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!