NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kanker Semua Dunia dan Arus Labirin

Tinta merah dari darahku sendiri yang menetes ke atas perkamen telah mengering, bercampur dengan pekatnya tinta hitam. Di bawah atap yang berlubang dengan udara malam yang menggigit tulang, aku menciptakan kebohongan paling kolosal yang pernah dibaca oleh kota Orario.

​Aku menyebutnya Stellaron, atau dalam bahasa yang bisa dicerna oleh para penduduk dunia ini: Batu Bertuah Kegelapan—Kanker Semua Dunia.

​"Kutukan daging dan mutasi bukanlah penyakit alami, melainkan sebuah simtom. Gejala dari sebuah parasit kosmis yang tertidur di kedalaman absolut labirin—Lantai 100. Benda itu bukanlah mineral atau sihir fana; ia adalah benih keabadian yang terkorupsi."

​"Batu Bertuah Kegelapan memancarkan energi yang bertindak sebagai katalis mutlak, mendistorsi ruang dan sifat geografis di sekitarnya. Di mana batu itu berada, dinding labirin akan hidup, menciptakan monster tanpa batas, dan menolak konsep kematian. Barangsiapa yang mampu menggenggam inti dari Kanker Semua Dunia itu, ia tidak hanya akan mengendalikan pasukan Murid Keabadian, tetapi juga akan memegang kendali atas jantung labirin itu sendiri. Ia akan menjadi dewa baru di atas tanah."

​Aku meletakkan penaku saat fajar menyingsing. Tanganku kebas. Tulisan itu dirancang dengan presisi mematikan. Aku memberikan struktur yang logis—sebuah "inti" atau katalis yang menjadi sumber segala anomali Abundance. Bagi faksi radikal seperti Evilus, janji untuk mengendalikan jantung labirin dan menjadi "dewa baru" adalah candu yang tidak mungkin mereka tolak.

​Aku menyegel naskah itu. Giliran mereka yang termakan umpan ini.

​Pagi harinya, aku harus berurusan dengan kekacauan fisik di ruang kerjaku. Melalui jaringan rahasia, aku membayar mahal sang bartender bermata satu dari The Rusty Coin untuk membawa tim pembersih bawah tanah. Mereka membereskan mayat eksekutor Evilus, menghapus noda darah, dan menutupi lubang di atapku dengan terpal sementara, semuanya dalam keheningan profesional.

​Sang bartender menatapku dengan mata tunggalnya saat menerima sekantung penuh emas dariku. "Kau bermain dengan hal-hal yang melampaui Valis sekarang, Pencerita. Hati-hati."

​"Aku tahu," jawabku pelan.

​Di masa lalu, aku sering merenungkan sebuah filosofi kuno: ngeli nanging ora keli. Mengikuti arus, namun tidak membiarkan diri ini hanyut dan tenggelam. Tiga faksi besar—Freya, Loki, dan Evilus—telah menciptakan arus sungai yang sangat deras, berniat menyeretku ke dasar. Aku tidak bisa menghentikan arus itu, aku tidak punya kekuatan untuk melawannya. Jadi, aku mengarahkan sungainya ke jurang yang lain.

​Dua minggu berlalu sejak jilid "Kanker Semua Dunia" didistribusikan secara eksklusif ke jaringan VIP dan pasar gelap.

​Efeknya jauh lebih mengerikan dan instan daripada yang pernah kubayangkan.

​Kota Orario di permukaan mendadak menjadi sangat damai. Tingkat kriminalitas di gang-gang kumuh turun drastis. Laporan tentang penculikan atau eksperimen gelap menghilang bak ditelan bumi. Namun, kedamaian di permukaan adalah cerminan dari neraka yang baru saja pecah di bawah tanah.

​Berita dari Guild menyebar seperti api liar. Pasukan bunuh diri Evilus tidak lagi mengganggu petualang kelas menengah. Mereka melakukan invasi besar-besaran, menyelam langsung menembus batas aman Lantai 50, mengabaikan korban jiwa, berlomba secara membabi buta menuju lantai terdalam Dungeon yang belum pernah dipetakan oleh manusia mana pun. Mereka menggali mencari Stellaron.

​Tentu saja, Finn Deimne tidak tinggal diam. Sang Braver menyadari bahwa jika sekte gila itu dibiarkan mencari senjata pamungkas di dasar labirin, Orario akan hancur. Loki Familia, didukung oleh aliansi tak terduga dengan faksi tempur tingkat atas lainnya, meluncurkan ekspedisi darurat terbesar dalam sejarah menuju lantai dalam untuk menghentikan mereka.

​Aku berhasil.

​Aku mengosongkan papan catur di permukaan. Freya sibuk menikmati pertunjukan keputusasaan massal dari Menara Babel, sementara Finn dan Evilus saling membantai di kedalaman yang gelap. Tidak ada lagi pembunuh bertopeng di atap rumahku. Tidak ada lagi ancaman interogasi. Mereka semua termakan narasiku.

​Sore itu, tukang kayu yang kusewa baru saja selesai memperbaiki atap ruang bawah tanahku secara permanen. Udara musim semi mulai terasa hangat. Aku menyeduh teh melati, berniat menikmati malam pertama tanpa ketakutan diretas lehernya.

​Tok. Tok. Tok.

​Suara ketukan pintu depan terdengar konstan dan sopan.

​Aku membeku. Itu bukan ketukan kasar dari algojo, bukan pula ketukan rahasia dari jaringan bawah tanahku. Aku berjalan ke lantai atas dengan hati-hati, tanganku mencengkeram pisau perak Tsubaki di balik saku jubah.

​Saat aku membuka pintu, seorang pria bertopi petualang bertepi lebar dengan jubah cokelat usang berdiri di sana. Ia menyunggingkan senyum yang terlalu cerah, sepasang mata jingganya berkilat penuh dengan intrik dan geli yang tak terbatas.

​"Halo, Tuan Penulis Biasa yang Tidak Berbahaya," sapanya riang, mengangkat tangan yang memegang sebuah kotak kayu kecil berisi kue-kue kering.

​Hermes. Sang Dewa Pengembara dan Pembawa Pesan.

​"Hermes-sama..." panggilku waspada, tidak melebarkan bukaan pintu. "Kupikir Familia Anda sudah mundur sejak... 'peringatan' dari Babel."

​"Oh, Asfi dan anak-anakku memang mundur. Berurusan dengan Freya yang sedang cemburu adalah hal terakhir yang kuinginkan," Hermes tertawa kecil, melangkah maju sehingga aku terpaksa mundur atau menabraknya. Ia masuk ke ruang tamuku seolah itu rumahnya sendiri. "Tapi aku adalah Dewa Pengembara. Freya tidak bisa melarang kakiku melangkah sendirian."

​Hermes meletakkan kotak kue itu di atas meja, lalu berbalik menatapku. Senyum cerahnya memudar, digantikan oleh tatapan menembus yang membuat instingku menjerit.

​"Kau memindahkan peperangan ke dasar Dungeon," kata Hermes, suaranya berubah menjadi bisikan tajam yang menggetarkan udara. "Kau membuat taktik yang memaksa Evilus turun, yang secara otomatis memaksa Finn untuk mengejar mereka. Freya puas karena tragedi pahlawan yang ia dambakan kini terjadi secara nyata di kedalaman gelap. Kau membersihkan panggungmu sendiri dengan satu kebohongan epik."

​Aku menelan ludah. "Aku tidak tahu—"

​"Jangan menghinaku dengan kebohongan fana, Anonym," potong Hermes, tersenyum simpul. "Itu adalah trik manipulasi pasar dan psikologi massa terindah yang pernah kulihat sejak aku turun ke dunia fana. Kau luar biasa."

​Hermes mendekat, menepuk bahuku dengan pelan.

​"Tapi kau melupakan satu detail kecil tentang geografi kosmis dunia ini, Pencerita," bisik sang Dewa tepat di sebelah telingaku. "Para Dewa tidak bisa melihat ke dalam Dungeon. Begitu Finn dan Evilus masuk ke lantai dalam, bahkan cermin Freya pun tidak bisa melacak mereka."

​Hermes melangkah mundur, matanya berbinar dengan kegembiraan yang berbahaya.

​"Kau baru saja menciptakan perang buta. Dan di saat para Dewa seperti Freya atau Loki kehilangan pandangan mereka... di situlah dewa pembawa informasi sepertiku memegang kekuasaan tertinggi. Jadi, persiapkan penamu, Anonym. Karena mulai besok, akulah yang akan menjadi matamu untuk melihat apa yang terjadi di lantai 60... dan kau akan menuliskan babak selanjutnya sesuai dengan informasi eksklusif dariku."

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!