NovelToon NovelToon
Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33.Keadilan Yang Terlupakan

Udara pagi di gerbang Kota Nuoding masih membawa hawa dingin sisa malam, namun sinar matahari yang mulai merambat turun perlahan menghangatkan jalanan berbatu itu.

Tahun ajaran baru akhirnya tiba, dan suasana riuh rendah para siswa yang kembali memenuhi jalanan utama menjadi pemandangan yang biasa. Xiao Xuan melangkah tenang, bayangannya memanjang di atas tanah yang mulai kering.

 Sebelum berangkat, ia telah berpamitan kepada Pak Tua Jack, meninggalkan lima keping koin emas di tangan keriput lelaki itu cukup untuk memperbaiki gizi dan kebutuhan hidup keluarga mereka dalam waktu yang lama.

Kini, sebagai seorang Master Roh sejati, ia tidak lagi membutuhkan pendampingan Pak Tua Jack; kekuatan yang dimilikinya sudah cukup untuk melintasi jarak puluhan kilometer tanpa lelah.

Dengan sedikit memanggil kekuatan di dalam tubuhnya, ia mengaktifkan teknik Jimat Berjalan Angin. Gerakannya seolah menyatu dengan hembusan angin, menyusuri jalan setapak dan hutan kecil dengan kecepatan yang membuat pandangan kabur.

Perjalanan yang dulunya memakan waktu setengah hari, kini hanya ditempuhnya dalam waktu tiga jam saja. Saat matahari berada tepat di atas kepala, bayangannya memendek, dan di hadapannya kini berdiri gerbang tinggi Akademi Nuoding, tempat ia menghabiskan masa dasar pendidikannya.

Tujuannya kembali ke sini sangat jelas: menyelesaikan sisa pelajaran, mengambil ijazah kelulusan, dan segera melanjutkan ke jenjang pendidikan Master Roh yang lebih tinggi.

Di sini, ilmunya sudah tidak bertambah lagi. Ia juga tidak berniat pergi ke Akademi Shrek seperti dalam cerita yang pernah ia dengar; jalannya sendiri sudah tercetak jelas, dan ia tidak ingin membuang waktu di tempat yang tidak lagi memberinya apa-apa.

Masuk ke Asrama 7, suasana sudah mulai ramai kembali. Karena tinggal dua hari lagi sebelum semester dimulai, sebagian besar teman sekamarnya yang merupakan siswa pekerja sudah kembali dari desa masing-masing.

Melihat mereka yang tampak lebih gemuk dan segar setelah bertemu keluarga, Xiao Xuan hanya mengangguk singkat sambil melangkah menuju tempat tidurnya yang berada di sudut ruangan.

Namun, sapaan ringannya tidak disambut hangat. Alih-alih senyum atau balasan sapa, ia justru menangkap tatapan-tatapan asing, penuh tanya, dan seolah ada rasa tidak suka yang tersembunyi di balik sorot mata teman-temannya.

Alis Xiao Xuan sedikit terangkat, namun ia tidak bertanya. Ia hanya diam, duduk di tepi ranjang sambil melipat kain-kainnya, berniat menjemurnya sejenak di bawah sinar matahari yang cerah.

Namun, keheningan itu pecah saat langkah kaki pelan namun mantap terdengar mendekat. Ia menoleh dan melihat Tang San berdiri di sampingnya, wajahnya serius, tanpa senyum sedikit pun.

Di belakangnya, terselip sosok mungil dengan dua kuncir rambut panjang yang terayun-ayun—Xiao Wu, yang sedang menatapnya dengan dagu sedikit terangkat, seolah sedang menilai seseorang yang telah melakukan kesalahan besar.

"Xiao Xuan, ada sesuatu yang perlu kubicarakan denganmu," nada suara Tang San rendah, berat, dan penuh tekanan.

Hati Xiao Xuan berdenyut dingin. Sudah dapat diduga. Ia menghela napas dalam diam, menahan rasa kesal yang mulai merayap.

Aku sudah berniat pergi secepatnya, mengapa mereka justru datang mencari masalah? Ekspresinya tetap datar, tak ada satu pun otot wajahnya yang bergerak, menyembunyikan ketidaksukaannya. "Apa yang ingin kamu katakan?"

Tang San menatapnya lekat-lekat, seolah sedang mencari jejak kejahatan di wajah Xiao Xuan. "Xiao Xuan, aku dan Xiao Wu sama-sama tahu soal kejadian di kedai mie itu.

Tentang caramu memperlakukan pemilik dan karyawan di sana. Menurutku, kamu sebaiknya pergi meminta maaf. Kamu melukai pegawainya, membuat toko itu tutup seharian dan kehilangan banyak pendapatan. Lebih baik kamu ganti rugi kerugian mereka dan meminta maaf dengan tulus."

Hening sejenak. Wajah Xiao Xuan membeku. Ia menatap lurus ke manik mata Tang San, berusaha memastikan apakah telinganya mendengar dengan benar.

"Maaf? Ganti rugi? Apa maksudmu dengan semua ini? Masalah itu sudah selesai sejak lama, mengapa tiba-tiba diungkit lagi?"

Melalui penjelasan panjang lebar Tang San, perlahan-lahan benang merah kejadian itu terurai di kepala Xiao Xuan.

Ternyata, sekitar dua puluh hari yang lalu, saat ia sedang pergi bersama Paman Fang Xi untuk berburu Roh, Tang San dan Xiao Wu pernah pergi ke kedai mie itu untuk makan.

Namun, karena peringatan keras dan ikatan yang ia buat pada pemilik kedai agar tidak berani berutang lagi dan segera melunasi kewajibannya, pemilik kedai itu memilih menutup usahanya setengah hari demi menjaga diri.

Akibatnya, Xiao Wu yang sangat menggemari mie iga khas kedai itu tidak bisa memesan makanan kesukaannya, dan hal itu membuat si gadis kecil sangat marah dan kesal.

Dari mulut pelayan yang cerewet, mereka mendapatkan cerita lengkap tentang kejadian hari itu. Tang San segera menyadari satu hal: sosok pemuda bertongkat yang memaksa pemilik kedai itu memiliki ciri fisik dan usia yang sama dengan Xiao Xuan.

Ditambah lagi, waktu kejadian itu persis bertepatan dengan hari kepulangan Xiao Xuan ke desa untuk mendapatkan cincin Roh pertamanya. Bagi Tang San, bukti itu sudah cukup jelas. Ia merasa malu sangat malu.

Karena mereka berdua berasal dari Desa Roh Suci. Tindakan Xiao Xuan, menurut pandangannya, adalah tindakan sewenang-wenang, menindas yang lemah, dan sangat tidak pantas dilakukan oleh orang yang berasal dari latar belakang sederhana seperti mereka.

Tang San datang bukan untuk berkelahi, melainkan karena "rasa senasib". Ia masih mau memberi kesempatan pada Xiao Xuan untuk memperbaiki diri, mengakui kesalahan, dan meminta maaf agar citra anak desa mereka tidak semakin buruk. Namun, ada hal lain yang lebih mendasar di balik kedatangan mereka.

Xiao Wu melangkah maju, menepuk-nepuk bahu Xiao Xuan dengan sikap seolah-olah ia adalah kakak perempuan yang bijaksana dan berkuasa. Matanya yang besar berkilat dengan kepuasan tersembunyi di balik wajah seriusnya.

"Aku yang menyuruh San Kecil berbicara denganmu duluan," ujar Xiao Wu dengan nada yang terdengar mulia dan penuh keadilan. "San Kecil bilang kalian satu desa, jadi dia akan mencoba menasihatimu baik-baik.

Kalau kamu masih keras kepala, barulah aku yang turun tangan. Xiao Xuan, apa yang kamu lakukan itu benar-benar memalukan. Aku senang kok kamu sudah jadi Master Roh dan punya cincin pertama, tapi kamu tidak boleh semena-mena begitu.

Apa bedanya kamu dengan para bangsawan sombong yang suka menindas orang miskin itu, hah?"

Di permukaan, kata-kata itu terdengar luhur dan benar. Namun, di balik itu, rencana licik Xiao Wu berputar cepat di kepalanya.

Ia berpikir, jika ia berhasil membawa Xiao Xuan untuk meminta maaf dan memberi ganti rugi, pemilik kedai mie pasti akan sangat senang dan berterima kasih. Siapa tahu, sebagai tanda terima kasih, pemilik kedai itu akan memberikan diskon besar atau bahkan mie gratis—l untuk waktu yang lama.

Baginya, satu keping koin perak untuk semangkuk mie iga masih terlalu mahal, apalagi uang sakunya terbatas. Meski Tang San rajin bekerja sebagai pandai besi dan bisa memberi uang, penghasilannya hanya sekitar satu koin perak sehari, tidak cukup untuk memanjakan selera makannya setiap hari.

Jadi, memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan keuntungan, sekaligus terlihat sebagai penegak keadilan, tampak seperti rencana yang sempurna bagi Xiao Wu.

"Hah..."

Xiao Xuan hanya bisa tertawa pelan, tawa yang kering dan dingin, bercampur dengan amarah yang mulai mendidih perlahan di dasar hatinya.

Ia menatap kedua sahabatnya itu dua orang yang dulu pernah makan bersama darinya, yang dulu pernah tertawa bersamanya dan melihat betapa yakinnya mereka akan kebenaran versi mereka sendiri.

"Tang San, Xiao Wu..." suaranya rendah namun bergetar karena emosi yang ditahan, matanya menajam seolah dua bilah pedang yang terhunus. "Kalian berani bilang aku sama saja dengan para bangsawan itu?

Kalian begitu yakin bahwa akulah yang bersalah? Kalau begitu, izinkan aku bertanya satu hal: tahukah kalian alasan mengapa aku bertindak tegas hari itu? Tahukah kalian apa sebenarnya masalah yang sedang terjadi?"

Tang San mengernyitkan dahi, merasa tidak terima dengan nada bicara Xiao Xuan. "Aku tahu semuanya. Bukankah hanya soal hutang sayuran milik Paman Fang Xi ?

Penjaga toko itu sendiri bilang dia sedang kesulitan uang dan akan membayar nanti, tapi kamu memaksanya melunasi seketika. Memaksa orang yang sedang susah kalau itu bukan perilaku sewenang-wenang, lalu apa namanya?"

"Lalu... tahukah kamu berapa jumlah hutang yang dimiliki pemilik kedai itu kepada Paman Zhang dan tetangga kita yang lain?" Xiao Xuan menyela, suaranya meninggi sedikit, menekan setiap kata yang keluar.

Tang San menjawab dengan santai, seolah itu hal yang sangat remeh. "Aku tahu. Bukankah hanya satu keping koin emas? Itu kan"

"Hmph! 'Hanya' satu koin emas?!" Xiao Xuan memotongnya tajam, nada suaranya penuh sindiran dan kekecewaan yang mendalam.

Ia berdiri tegak, menatap lurus ke arah Tang San, membuat pemuda itu terpaku di tempatnya. "Tang San, kau benar-benar sudah berubah sejak menjadi Master Roh, ya?

Kau begitu mudahnya mengucapkan kata 'hanya' untuk satu koin emas? Apakah kau sudah lupa betapa berharganya nilai uang itu? Tahukah kau, satu keping koin emas itu cukup untuk memberi makan, memberi pakaian, dan memenuhi kebutuhan satu keluarga beranggotakan tiga orang selama tiga bulan penuh?!"

Ia melangkah selangkah mendekat, suaranya bergema di ruangan asrama yang mulai hening.

"Ini bukan sekadar soal satu keping koin emas! Jumlah itu mewakili hasil panen sayuran Paman Fang Xi, keluargaku, dan beberapa tetangga kita yang lain!

Itu adalah uang hasil keringat mereka, darah dan daging mereka, yang disiapkan untuk menghidupi anak-anak mereka, untuk obat-obatan, dan kebutuhan mendesak lainnya! Kau bilang 'hanya'?

Karena bagimu sekarang itu mungkin terlihat kecil, mengapa kau tidak saja memberikan beberapa koin emas itu kepada keluarga miskin di desa secara cuma-cuma?!"

Napas Xiao Xuan memburu, rasa kecewa itu semakin meluap. Ia menunjuk dada Tang San dengan jari telunjuknya yang kaku.

"Tang San, kau juga lahir dari keluarga miskin! Ayahmu hidup sederhana, dan kau dulu pernah menerima beberapa koin perunggu sebagai bayaran hanya untuk menempa alat pertanian sederhana.

Izinkan aku bertanya padamu: bagaimana perasaanmu jika warga desa memintamu membuatkan alat-alat itu, lalu saat selesai, mereka menunda-nunda pembayaran berbulan-bulan?

Bagaimana jika mereka berkata kepadamu: 'Ah, itu kan cuma beberapa koin perunggu, kenapa kau terburu-buru minta bayaran? Kita kan satu desa, mana tega kau menagih kami?'

Jika hal itu benar-benar terjadi padamu... apakah kau masih akan berdiri di sana dengan tenang dan bicara seolah masalah itu sepele? Apakah kau masih akan merasa bahwa orang yang menagih haknya adalah penjahat?"

Kemudian, ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Xiao Wu yang terlihat sedikit terkejut dengan kemarahan yang meledak-ledak ini. Tatapan Xiao Xuan melembut sedikit, namun tetap terasa dingin dan menusuk.

"Dan kau, Xiao Wu..." ucapnya pelan namun penuh penekanan. "Masih ingatkah kau saat kita pertama kali bertemu? Saat kau tidak punya uang sepeser pun untuk membeli makanan?

Siapakah yang menanggung semua biaya makanmu saat itu? Siapakah yang selalu membayar tagihanmu? Aku kira kita sudah cukup dekat, aku menganggapmu saudara. Tapi lihat dirimu sekarang...

kau dengan mudahnya menuduhku bersalah hanya karena kau tidak bisa makan mie iga kesukaanmu? Kau begitu siap memihak orang asing demi keuntungan kecil, padahal hak kami yang sesungguhnya dirampas.

Apakah ini... caramu bersikap sebagai seorang kakak perempuan? Apakah ini rasa terima kasihmu?"

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Wajah Tang San memucat, mulutnya terbuka namun tak ada suara yang keluar.

Ia baru menyadari sudut pandang yang sama sekali belum pernah ia pikirkan sebelumnya. Sedangkan Xiao Wu, senyum bangga di wajahnya perlahan memudar, digantikan rasa malu yang mulai merayap naik ke pipinya, menyadari bahwa rencana kecilnya ternyata berdiri di atas landasan yang salah.

1
Aisyah Suyuti
good
aldo
lanjut author
ag noja
sejak kapan ada binatang tingkat tiga bukanya jenis dan usianya dari binatang jiwa🤔
ag noja
tunggu sejak kapan di dunia soul land mengenal kata mantra 🤔
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Rusf
semangat terus.
aldo
wah bagus banget author Dan lanjut Kan author 🙏🙏🙏🙏
aldo
waw lanjut author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!