Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di Lorong Sunyi
Malam setelah insiden di taman dan pemberian coklat itu menjadi malam yang paling tenang sekaligus paling tegang di rumah utama pesantren. Coklat pemberian Malik masih tersisa separuh di atas meja rias Lea, menjadi saksi bisu bahwa ada upaya gencatan senjata yang canggung di antara mereka.
Lea terbangun tengah malam karena rasa haus yang mencekik. Ia melirik jam dinding pukul 02.00 pagi. Suasana pesantren sangat hening, hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali lantunan ayat suci yang sayup-sayup terdengar dari asrama santri yang sedang melakukan tahajud.
Lea keluar kamar dengan langkah berjinjit. Saat melewati ruang tengah, ia melihat pintu kamar utama terbuka sedikit. Ia mengintip pelan, berharap melihat Najwa sedang tidur nyenyak. Namun, pemandangan di dalam justru membuatnya terpaku.
Najwa sedang duduk di tepi ranjang, tangannya memegang dada, napasnya terdengar berat dan tersengal. Di depannya, Gus Malik bersimpuh di lantai, memegang kedua tangan istrinya dengan raut wajah yang hancur.
"Mas... kalau nanti aku sudah tidak ada," bisik Najwa di sela napasnya yang pendek, "berjanjilah untuk tidak keras lagi pada Lea. Dia hanya butuh dicintai dengan cara yang benar."
"Jangan bicara begitu, Humaira. Fokuslah pada kesembuhanmu," suara Malik bergetar hebat.
"Aku sudah melihat semuanya, Mas. Aku melihat bagaimana kamu menatapnya dengan penuh amarah tadi siang. Itu bukan hanya karena dia salah, tapi karena kamu takut... kamu takut kehilangan kendali atas dirimu sendiri saat di dekatnya."
Lea mematung di balik pintu. Apa maksud kakaknya? Gus Malik takut kehilangan kendali?
"Bimbing dia dengan hati, bukan dengan aturan yang mencekik," lanjut Najwa. "Dia adikku, Mas. Satu-satunya bagian dari diriku yang tersisa untukmu dan Arkan."
Malik menundukkan kepalanya dalam-dalam ke pangkuan Najwa. Lea bisa melihat bahu pria perkasa itu berguncang. Gus Malik, sang pemimpin pesantren yang disegani ribuan orang, sedang menangis sesenggukan di hadapan istrinya yang sekarat.
Lea mundur perlahan, membatalkan niatnya untuk mengambil minum. Ia kembali ke kamar dengan jantung yang berdegup kencang. Ia baru saja melihat sisi manusiawi dari Gus Malik yang selama ini tertutup rapat oleh jubah kewibawaannya.
Keesokan paginya, suasana kembali kaku. Malik sudah berangkat ke masjid sejak sebelum Subuh, dan Lea sengaja berlama-lama di kamar untuk menghindari pertemuan. Namun, saat ia keluar untuk sarapan, ia menemukan sepucuk surat kecil di bawah piringnya.
*“Ada pengajian rutin ibu-ibu di aula utama jam 9 pagi. Najwa ingin kamu menemaninya di sana. Pakailah pakaian yang pantas. – M.”*
Lea mendengus. "Lagi-lagi perintah," gumamnya. Tapi mengingat percakapan semalam, ia tidak membantah. Ia memilih gamis berwarna coklat susu dan kerudung pasmina yang ia lilitkan asal-asalan setidaknya ia tidak ingin memicu "perang dunia ketiga" hari ini.
Di aula, ratusan ibu-ibu sudah berkumpul. Najwa duduk di kursi roda di barisan depan, nampak cantik meski pucat. Saat Lea mendorong kursi roda kakaknya masuk, bisik-bisik mulai terdengar.
"Itu adiknya yang dari luar negeri ya? Cantik tapi kok gayanya masih begitu..."
"Kabar-kabarnya dia mau dijodohkan sama Gus Malik kalau..."
Lea mengeraskan rahangnya. Gosip di pesantren ternyata lebih cepat menyebar daripada berita selebriti di London. Ia mencoba tetap tenang demi Najwa.
Gus Malik naik ke atas mimbar untuk memberikan tausiyah. Pandangannya menyapu jamaah, dan sejenak, matanya bertemu dengan mata Lea. Malik segera memalingkan wajah, berdehem, lalu mulai bicara tentang bab Sabar dan Syukur.
"Sabar bukan berarti diam saat diinjak, tapi sabar adalah menjaga hati agar tetap lurus meski badai sedang menghantam dari segala arah," suara Malik bergema di aula.
Lea mendengarkan tanpa sadar. Kalimat-kalimat Malik entah bagaimana terasa menyindir sekaligus menenangkan hatinya yang sedang kacau.
Tiba-tiba, di tengah acara, Najwa terkulai lemas di kursi rodanya. Wajahnya membiru.
"Kak! Kak Najwa!" teriak Lea panik.
Suasana aula mendadak ricuh. Malik langsung melompat dari mimbar tanpa memedulikan tatapan ribuan orang. Ia berlari menuju istrinya, menggendongnya dengan sigap.
"Siapkan mobil sekarang!" teriak Malik pada para santri.
Lea berlari di belakang Malik, air matanya mulai tumpah. Di dalam mobil menuju rumah sakit, Malik terus membisikkan syahadat di telinga Najwa, sementara tangannya yang bebas menggenggam tangan Lea dengan sangat erat bukan karena benci, tapi karena ia butuh pegangan untuk tidak runtuh saat itu juga.
Lea menatap tangannya yang digenggam Malik. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa jijik. Ia merasakan ketakutan yang sama. Di ambang maut yang mengancam Najwa, dua manusia yang saling membenci ini dipaksa untuk saling menguatkan dalam diam.
"Jangan pergi dulu, Kak... jangan sekarang," bisik Lea sambil terisak, sementara mobil melaju kencang menembus jalanan menuju rumah sakit, meninggalkan ketenangan pesantren yang kini berubah menjadi duka yang mencekam.