"Jangan deket-deket gue! Inget, jarak lo satu meter." — Nicktan Megantara.
Nicktan adalah pembalap GT3 yang perfeksionis. Hidupnya diatur dengan ketat oleh ayahnya, Azeus, demi menjaga kondisi jantungnya yang sensitif. Segala bentuk "debaran emosional" adalah terlarang.
Lalu hadirlah Elea. Gadis agresif yang tak kenal takut dan hobi memancing emosi Nick. Satu tahun mereka terpisah oleh benua dan ego, Nick berubah menjadi aktor dingin yang hampa. Namun malam itu, di tengah sunyinya Jakarta, Nicktan menemukan kembali mangsa lamanya.
Sebuah kisah tentang pengabdian, rahasia keluarga Megantara yang terkubur selama dua dekade, dan perjuangan seorang pria yang mencintai wanita hingga ke titik jantungnya berhenti berdetak.
Visualisasi Nicktan terinspirasi dari Wang Yibo, namun seluruh alur cerita dan pengembangan karakter adalah murni fiksi karya penulis.
#wangyibo
Novel ini adalah Season 2 dari novel "Owned By Azeus"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Sinyal Darurat dan Cubitan Maut
Matahari pukul dua siang menggantung terik di atas kediaman Megantara. Nick duduk kaku di sofa teras, jempolnya bergerak gelisah di atas layar ponsel yang sebenarnya hanya ia geser geser tanpa tujuan. Pikirannya masih kacau memikirkan bagaimana bisa ayahnya begitu cepat akrab dengan Elea.
Di dalam rumah, Azeus menyeringai puas sambil menyesap sisa kopi hitamnya. Ia melirik Elea yang masih tampak santai.
"Lea, samperin tuh si kaku di luar. Kasihan, muka dia udah kayak ban kempes gara-gara gue cuekin tadi," perintah Azeus sambil tertawa rendah.
Elea menyeringai nakal. "Siap, Om! Saya bikin dia makin meledak ya?"
"Hahaha! Terserah lo, yang penting motor dia aman hari ini," balas Azeus ugal-ugalan.
Elea melangkah ringan menuju teras. Begitu melihat punggung Nick yang tegang dan bahunya yang kaku, jiwa cegil nya langsung meronta. Ia sengaja melangkah tanpa suara, mendekat hingga tepat di belakang telinga pria itu.
"Sayannnggg!" seru Elea dengan nada manja yang sengaja dibuat melengking.
Deg!
Nick tersentak hebat sampai ponselnya hampir meluncur dari tangan menuju lantai marmer. Ia menoleh dengan gerakan kaku seperti robot karatan yang kekurangan pelumas.
"Apaan sih lo?! Jangan panggil gue begitu! Berisik!" gerutu Nick, suaranya serak karena kegugupan yang luar biasa.
Elea justru tertawa renyah, ia tidak mundur, malah duduk di lengan sofa tepat di samping Nick. "Kenapa? Kakak pembalap yang manis nggak suka dipanggil sayang? Padahal semalam di chat kayaknya pengen banget liat gue terus, kan?"
Nick membuang muka, telinganya mulai memerah. "Itu... itu kan urusan ganti rugi mobil! Jangan geer!"
"Masa?" Elea mencondongkan wajahnya, masuk ke jarak pandang Nick. "Ganti rugi mobil kok mintanya mau lihat kamu? Itu mah kangen, Kak Nicktan sayang..."
"Diem lo, cewek gila! Gue nggak kangen!" bantah Nick telak, meski tangannya mulai berkeringat dingin.
"Ngaku aja sih. Om Azeus aja udah setuju kalau gue sering-sering ke sini," goda Elea lagi. Ia bisa mencium aroma parfum maskulin Nick yang bercampur dengan sedikit aroma sirkuit. "Gimana kalau besok gue bawain bekal ke sirkuit? Mau?"
"Nggak usah! Gue bisa beli sendiri!"
"Oh, maunya disuapin?" Elea menyenggol bahu Nick nakal.
Nick benar benar kewalahan. Ia merasa oksigen di teras itu mendadak hilang. Setiap kali ia mencoba membalas dengan kata kata ketus, Elea justru memberikan serangan balik yang lebih parah. Nick hanya bisa meremas pinggiran ponselnya. Salting tingkat dewa.
"Oke kalo gitu...."
Tiba-tiba, ponsel di saku celana Elea berdering nyaring. Elea merogoh saku, menatap layar, dan seketika binar jahil di matanya padam. Wajahnya berubah serius, garis rahangnya mengeras sesaat setelah membaca sebuah pesan singkat yang muncul.
Nick yang sejak tadi membuang muka, menyadari keheningan mendadak itu. Ia menoleh perlahan. "Kenapa? Ada masalah?" tanya Nick, kali ini suaranya jauh lebih lembut, tanpa nada ketus.
Elea menyimpan ponselnya kembali dengan gerakan cepat. "Gue harus pulang, Kak. Darurat!" jawab Elea terburu buru.
"Darurat apa? Perlu gue anter?" tanya Nick spontan, sisi protektifnya mencuat tanpa ia sadari.
"Nggak usah kak. Kan Gue bawa motor sendiri," Elea bangkit berdiri. Namun, sebelum ia benar benar pergi, ia menatap Nick lama. "Makasih ya buat hari ini."
Elea hendak berlari menuju motornya, namun ia berhenti sejenak dan berbalik. Ia mendekati Nick yang masih duduk mematung. Tanpa peringatan, ia menjulurkan kedua tangannya dan mencubit gemas kedua pipi Nick dengan cukup keras.
Cubit!!.
"Aw!!" pekik Nick kaget.
"Sampai ketemu lagi, kakak pembalap ganteng..," bisik Elea pelan di depan wajah Nick, lalu memberikan kedipan mata cepat sebelum benar benar lari menuju motor sport nya.
Nick hanya bisa melongo, tangannya menyentuh pipi yang terasa panas. Ia menatap punggung Elea yang kini sudah duduk gagah di atas motor besar itu. Perpaduan blouse ruffle elegan dan mesin gahar itu terlihat sangat kontras namun entah kenapa terlihat begitu pas di mata Nick.
BRUUUMMM!
Raungan mesin motor Elea memecah kesunyian saat ia melesat keluar gerbang. Nick mengembuskan napas panjang. "Gila ya... baru nemu gue cewek modelan kayak begitu," gumam Nick sendirian.
Tak lama, Ardan keluar dari mobil sambil menguap lebar dan meregangkan ototnya. Ia melirik Nick yang masih bengong di sofa.
"Mau ke mana cewek lo? Kok dibiarin pergi gitu aja? Bukannya dikandangin biar aman di rumah?" celetuk Ardan dengan gaya bicaranya yang menyebalkan.
"Kandangin mata lo! Emangnya dia kambing?!" bentak Nick kesal, mencoba mengalihkan rasa malunya.
Ardan tertawa terbahak bahak sambil menepuk bahu bos mudanya. "Kambing mah nggak cantik, Nick. Tapi liat muka lo... merah banget. Kayaknya lo yang malah udah kena jeratnya, bukan dia."
"Berisik, Dan! Sana urusin jadwal latihan gue besok!"
"Iya, iya. Tapi jujur deh, Nick. Dia asik kan? Bokap lo aja seneng banget tadi di dalem," Ardan menyeringai. "Gimana? Garasi aman?"
Nick terdiam, bayangan Elea yang mencubit pipinya kembali melintas. Ia membuang muka ke arah jalanan kosong yang ditinggalkan Elea. "Gue nggak tahu. Tapi yang jelas, cewek itu... beneran gila. Gue nggak ngerti jalan pikirannya."
Meskipun mulutnya ketus, Nick merasakan sesuatu yang kosong. Pikirannya tertinggal pada perubahan raut wajah Elea saat menerima telepon tadi. Darurat apa? Kenapa dia langsung panik begitu? batin Nick, mulai merasa tidak tenang tanpa alasan yang jelas.
Ternyata Nick sudah mulai menunjukkan sisi protektif dan rasa ingin tahu yang besar pada Elea.