Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Simposium
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Ballroom utama Grand Hotel Central dipadati oleh ratusan praktisi medis, profesor senior, investor internasional, dan jurnalis dari berbagai media nasional maupun mancanegara. Simposium Medis Internasional & Peluncuran Awal The Nayla Kartikasari Pediatric Center menjadi sorotan utama di dunia kesehatan.
Di area panggung utama, latar belakang layar LED raksasa menayangkan profil laboratorium riset pediatri paling modern se-Asia Tenggara itu.
Nayla berdiri di area backstage, tampak sangat anggun memikat dalam balutan gaun formal berwarna biru navy berpotongan tegas namun elegan. Meskipun tersenyum ramah menyapa beberapa kolega senior yang lewat, jemarinya yang memegang Map Salinan Presentasi tampak dingin.
Tiba-tiba, sepasang lengan tegap merengkuh pinggangnya dari belakang dengan hangat. Aroma woody maskulin yang sangat dihafalnya langsung menyelimuti indranya.
"Napas, Dokter Anak," bisik Narendra rendah di telinga Nayla. Pria bedah itu tampil sangat tampan dan karismatik dalam setelan jas hitam custom-made bernuansa royal.
Nayla menghembuskan napas panjang, bersandar sejenak di dada bidang tunangannya. "Aku tegang banget, Naren. Ratusan pasang mata ada di luar sana, termasuk jajaran konsorsium investor dari Eropa."
Narendra memutar tubuh Nayla perlahan, menangkup kedua sisi wajah tunangannya dengan tatapan yang sarat akan dominasi penuh kepastian. "Kamu sudah meneliti materi riset ini selama berbulan-bulan, Nayla. Kamu adalah dokter spesialis anak terbaik yang pernah aku kenal. Tidak ada satu orang pun di ruangan ini—termasuk Julian Alistair—yang bisa menjatuhkan kamu."
Narendra menunduk, mendaratkan kecupan hangat yang cukup lama di kening Nayla, membuat rona merah manis seketika menyapu pipi cantik perempuan itu.
"Gibran dan tim keamanan internal kita sudah menyisir seluruh sistem presentasi dan akses data," lanjut Narendra pelan. "Fokus pada materi kamu, Sayang. Biar aku yang mengawasi pergerakan di luar panggung."
Satu jam kemudian, giliran Nayla yang naik ke panggung utama.
Dengan ketenangan luar biasa, suara yang mantap, dan pemahaman klinis yang mendalam, Nayla memaparkan terobosan metode penanganan infeksi berat pada anak yang akan diterapkan di pusat riset barunya. Tepuk tangan riuh bergema di seluruh ballroom saat presentasinya selesai.
Namun, saat pembawa acara membuka sesi tanya jawab interaktif untuk jajaran panelis ahli, suasana mendadak hening dan tegang.
Di barisan depan panelis internasional, dr. Julian Alistair berdiri. Pria paruh baya itu menyesap cangkir kopinya pelan, menyunggingkan senyum beracun yang sengaja dirancang untuk memancing emosi.
Julian meraih mikrofonnya. "Presentasi yang sangat memukau, dr. Nayla Kartikasari," suara Julian bergema jernih di seluruh ruangan melalui pengeras suara. "Namun... sebagai calon Kepala Tim Riset, apakah Anda menyadari bahwa formula molekul pengikat yang baru saja Anda paparkan di slide nomor 14 memiliki struktur kimia yang 90 persen identik dengan hak paten riset gagal milik Alistair Biotech sepuluh tahun lalu?"
Gumam kaget dan bisik-bisik spekulatif seketika pecah di seluruh ballroom. Para wartawan langsung menyorotkan kamera mereka ke arah panggung.
Julian menatap Nayla dengan pandangan penuh provokasi. "Apakah Adiwijaya Group sengaja mencuri dan mendaur ulang riset lama saya yang cacat hukum, lalu mengatasnamakan nama Anda hanya demi menarik dana hibah investor?"
Nayla membeku sejenak di atas podium. Jantungnya berdetak kencang akibat tuduhan plagiarisme medis yang luar biasa berat. Namun, alih-alih panik atau memanggil Narendra ke atas panggung, manik mata Nayla justru menajam. Ia menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Julian dengan ketenangan mutlak seorang ilmuwan sejati.
Nayla mengetuk pelan mikrofon di depannya, lalu tersenyum tipis—senyum penuh kemenangan yang membuat Julian mendadak bergeming.
"Terima kasih atas pertanyaannya, dr. Julian Alistair," jawab Nayla, suaranya menggelegar tenang tanpa ada gentar sedikit pun. "Pertanyaan Anda justru memberi saya kesempatan emas untuk meluruskan sejarah busuk yang sengaja Anda kubur rapat-rapat."
Nayla menekan remote di tangannya, mengubah tampilan layar LED raksasa di belakangnya.
Flashback
Malam itu, setelah mendengarkan cerita jujur dari Narendra mengenai kejahatan medis Julian sepuluh tahun silam, Nayla tidak bisa tidur tenang. Naluri akademisnya bergolak. Sebagai peraih predikat summa cum laude yang juga memiliki akses audit komite etik kedokteran, Nayla tahu bahwa menghadapi orang licik seperti Julian tidak cukup hanya dengan bantahan lisan.
Pukul dua dini hari di meja kerjanya, Nayla membuka laptop, masuk ke jaringan arsip digital medis internasional menggunakan kredensial peneliti seniornya. Nayla menggali dokumen rekam medis lama, laporan forensik independen kasus Alistair-09, hingga sertifikat pemecatan Julian yang tersimpan di server pusat.
Nayla secara mandiri membedah dan membandingkan struktur kimia Iodin Sintetis beracun buatan Julian dengan formula Glycerol-Complex miliknya sendiri. Ia mengunduh seluruh bukti autopsi ibu Julian, menyalin data transaksi laboratorium ilegal pria itu, lalu menyelipkannya secara rahasia ke dalam slide presentasi tambahannya untuk simposium malam ini.
Nayla menyiapkan jebakan ini sendiri—sebuah perisai ilmiah paling mematikan untuk membungkam Julian jika pria itu berani memancing di panggung publik.
"Anda mengklaim slide nomor 14 saya adalah tiruan dari riset Anda," ucap Nayla tajam, suaranya mengiris keheningan ballroom. "Mari kita bedah secara ilmiah di depan ratusan profesor dan ahli di sini."
Nayla menunjuk layar LED besar di belakangnya yang kini menampilkan dokumen asli Kasus Alistair-09—termasuk lembar otopsi forensik dan surat keputusan pemecatan Julian sepuluh tahun lalu yang baru saja ia ekstrak dari arsip komite etik.
"Formula Anda menggunakan Iodin Sintetis dengan gugus molekul rantai terbuka yang toksik, yang terbukti secara klinis menyebabkan nekrosis sel otak dan merenggut nyawa ibu kandung Anda sendiri di meja operasi sepuluh tahun silam!" cecar Nayla, setiap kata yang diucapkannya menghujam tajam tanpa ampun. "Sementara formula yang saya kembangkan adalah Glycerol-Complex generasi keempat dengan struktur cincin tertutup yang telah melalui uji klinis global dan dipatenkan oleh Universitas Oxford tahun lalu!"
Nayla melangkah ke depan podium, menatap Julian yang wajahnya kini mendadak pucat pasi seperti mayat hidup.
"Jadi, jangan pernah menyamakan inovasi penyelamat nyawa anak-anak dengan hasil eksperimen gagal dari seorang peneliti yang bahkan mengorbankan ibu kandungnya sendiri demi ambisi busuk!" suara Nayla bergetar penuh wibawa, menguasai panggung sepenuhnya. "Dan atas tindakan pencemaran nama baik, fitnah terbuka, serta upaya sabotase simposium ini, tim hukum Adiwijaya Group akan memastikan Anda tidak pernah lagi menginjakkan kaki di dunia medis seumur hidup."
Hening seketika merayap di dalam ballroom, sebelum akhirnya...
PROK... PROK... PROK...
Tepuk tangan yang begitu meriah, riuh, dan penuh penghormatan meledak dari seluruh penjuru ruangan. Para profesor senior, dokter konsulen, hingga jajaran investor asing berdiri dari kursi mereka, memberikan standing ovation yang panjang untuk ketajaman analisis dan keberanian dr. Nayla.
Di barisan depan, dr. Narendra berdiri tegak. Sepasang mata elangnya menatap Nayla dengan kilatan rasa bangga, cinta, dan pemujaan yang amat mendalam. Pria bedah itu tidak perlu naik ke panggung untuk menyelamatkan tunangannya—karena di hadapan seluruh dunia malam ini, dr. Nayla Kartikasari membuktikan dirinya bukan sekadar wanita yang dilindungi, melainkan ratu tangguh yang mampu menghancurkan musuhnya dengan kecerdasannya sendiri.
Wajah Julian Alistair memerah padam menahan malu dan amarah yang meluap. Sebelum petugas keamanan hotel dan kepolisian bergerak mendekatinya, pria paruh baya itu berbalik badan dan melangkah limbung meninggalkan ballroom, kalah telak tanpa sisa.
Di atas panggung, Nayla menghela napas panjang. Ia tersenyum menatap ke arah Narendra di barisan depan, merasakan kemenangan mutlak yang merajut sempurna sisa malam kebahagiaan mereka.
Jangan lupa like & comment ya friends
Happy Reading