Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Ibu Susu 05
Arghhhhh!
"Baru juga sampai rumah tapi malah selalu disuguhi tangisan bayi. Eva, masa kamu belum berhasil juga sih untuk nyusui El! Brisik banget tahu, aku tuh capek pengen bisa istirahat kalau nyampe rumah. Tapi kalau bayinya nangis terus gini, mana bisa aku istirahat, Evaaaaa!"
"Mas, jangan cuma bisanya marah-marah. Aku tuh juga udah berusaha!"
Reza mengacak rambutnya dengan kasar. Satu minggu dia melakukan pekerjaan luar kota dan baru hari ini kembali ke rumah. Namun bukannya senang, Reza malah terlihat kesal dan juga marah.
Semua itu karena kepulangannya ke rumah di sambut dengan tangis histeris Baby El. Reza merasa tidak habis pikir tentang anaknya yang tidak mau menyusu kepada Eva.
"Aku pusing kalau kayak gini terus, Va. Dia selalu nangis dan nangis. Lalu kamu, nggak bisa ngelakuin apapun," ucap Reza. Amarahnya belum sepenuhnya reda tapi dia juga sadar bahwa hal itu bukanlah kesalahan istrinya.
"Aku juga sama, Mas. Aku bingung. Segala cara udah aku lakuin tapi El tetep nggak mau menyusu ke aku. Bahkan saat aku mencoba untuk pumping dan memberinya melalui botol, dia benar-benar nolak."
Bukan sebua kebohongan apa yang dikatakan oleh Eva baru saja, karena memang kenyataanya demikian. Baby El sungguh tidak menerima apapun yang hendak Eva berikan. Bahkan jika dia digendong lama oleh Eva pun, pada akhirnya menangis.
"Kalau begitu, kita cari ibu susu aja buat El. Kita nggak bisa begini terus. Benar kata Suster Ani, perkembangan pertumbuhan El dipertaruhkan. Aku tidak mau anakku, penerus ku, tumbuh dengan kurang baik."
Akhirnya Reza memutuskan hal yang sebelumnya ia tolak. Adanya Eva melakukan terapi laktasi sehingga menghasilkan ASI adalah untuk menjadikan El sepenuhnya putranya. Tapi pada kenyataannya Eva tidak bisa melakukan itu.
"Kalau gitu, dia hanya akan jadi anakmu, Mas. El bukan anakku kalau dia menyusu dari ibu susu dan bukan padaku,"ucap Eva sembari menundukkan kepalanya. Usaha yang dilakukan tidak lah sedikit sehingga rasa kecewa itu timbul sangat besar.
Sraak
Reza duduk di sisi Eva, dia merangkul bahu istrinya.
"Kita bisa mengakalinya nanti, Ev. Kamu lihat sendiri dia selalu nangis gitu, aku khawatir dia sakit malahan. Nanti kalau ibu susunya benar-benar ditemukan, dan dia sudah tenang, kamu bisa mencobanya lagi. Dan aku punya ide, nanti ASI mu kita campurkan dengan ASI milik si ibu susu,"ucap Reza mencoba menenangkan istrinya.
Ya cara seperti itu memang bisa digunakan. Dan Eva mengangguk setuju dengan keputusan Reza untuk mencari ibu susu.
Hal tersebut juga disampaikan kepada Rini. Awalnya ibu dari Reza itu tidak setuju. Akan tetapi Reza bicara soal kebaikan bagi Baby El. Alhasil Rini pun menyetujuinya dengan terpaksa.
"Tapi Za, harus ada syarat bagi ibu susu yang akan menyusui cucu ku. Dia nggak boleh punya anak perempuan. Dan saat ini anaknya adalah anak yang terakhir dimiliki. Kalau bisa cari wanita yang kehilangan anaknya, itu akan lebih mudah bagi dia untuk fokus terhadap cucuku. ASI nya menjadi tidak terbagi. Tapi jika itu sulit, itu saja, dia tidak memiliki anak perempuan,"ucap Rini.
Reza dan Eva mengerti ucapan Rini dan keputusan ini disampaikan kepada Suster Ani juga agar dia bisa membantu mencari ibu susu.
Keluarga Adiguna benar-benar tengah kebingungan sekarang. Orang-orang dewasa itu dipusingkan dengan seorang bayi.
Baik Reza, Eva dan juga Rini lupa, bahwa ada wanita yang lebih pas dan juga berhak untuk menyusui Baby El. Siapa lagi kalau bukan wanita yang telah mengandung dan melahirkannya, ibu kandungnya sendiri, Larasati.
Mengapa mereka harus bersusah payah mencari ibu susu padahal Larasati jelas bisa melakukan. ASI nya juga berlimpah.
Ya, meskipun Laras tidak bisa memeluk, tidak bisa menimang anaknya, dia tetap memompa ASI nya dan menyimpan rapi ASI itu di freezer. Dalam doa yang dipanjatkan, dia masih memiliki harapan besar untuk bisa kembali memeluk anaknya dan memberikan ASI miliknya.
Meski entah kapan itu akan terwujud. Tapi Larasati, tidak putus berharap dan merawat ASI miliknya sebaik mungkin.
"Semua ini untuk kamu, sayang. Buah hati Ibu,"ucapnya sendu. Setiap dia memompa dan menyimpan ASI miliknya, air matanya terus saja menetes tanpa henti.
Setelah berada dalam keterpurukan beberapa waktu, hari ini Laras bertekad untuk bangkit sepenuhnya. Dia ingin mencari pekerjaan. Dia tidak bisa hidup dengan mengandalkan uang yang diberikan oleh Reza secara terus menerus.
Ya, Reza ternyata mengisi rekeningnya dengan uang sebanyak 100 juta. Apa Laras merasa senang? Jawabannya tidak sama sekali. Uang itu diberikan seolah membayar rahimnya. Dia benci jika mengingat itu.
"Lho Laras mau kemana?" Ratna yang hendak ke ruma Laras terkejut melihat tampilan Laras yang rapi dan siap untuk pergi.
"Aku mau cari kerja, Bu. Sudah waktunya aku menjalani hidupku. Aku sudah banyak merepotkan Bu Ratna dan tetangga yang lain. Terimakasih untuk semuanya," ucap Laras. Dia sangat bersyukur mendapati tetangga yang sangat baik, pengertian dan peduli padanya. Jika tidak ada dilingkungan itu, mungkin dirinya sudah mati jauh jauh hari.
"Alhamdulillah, semangat ya Laras. Kamu pasti bisa. Ibu senang lihat kamu semangat seperti ini. Dan jika ada kesulitan, jangan sungkan untuk minta tolong,"sahut Ratna penuh dengan senyum. Dia benar-benar senang melihat Laras yang sudah mulai kembali seperti dulu meski belum sepenuhnya. Tapi perubahan yang Laras lakukan sudah sangat signifikan.
"Iya Bu, tampa Bu Ratna dan semua ibu-ibu di sini, aku tidak mungkin bisa berdiri seperti ini. Sekali lagi terimakasih Bu. Aku pamit jalan dulu."
"Iya Laras, sama-sama. Hati-hati ya."
Laras melenggang pergi. Dia tidak memesan ojek online ataupun menggunakan motornya sendiri, melainkan jalan. Ya dia ingin jalan sambil menikmati pagi ini.
Untuk berkendara sendiri, entah mengapa Laras masih belum berani. Dia takut pikirannya mengambang dan tidak fokus. Hal itu nanti bisa membahayakan dirinya dan juga orang lain.
Ada satu hal yang membuatnya ingin berhati-hati yakni anaknya. Dia masih ingin bisa melihat anaknya, meski entah kapan bisa terwujud. Akan tetapi bukankah segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin?
Ya Laras merasa bahwa dirinya harus berusaha kuat dan juga berdoa agar harapannya itu terwujud.
Laras menuju ke alamat tempat-tempat yang membuka lowongan pekerjaan. Dia menaruh lamarannya. Meski dia berasal dari sebuah kota kecil, tapi Laras adalah lulusan sebuah universitas.
Ketika datang ke kota besar ini, Laras sebenarnya juga ingin tetap bekerja. Tapi oleh Reza di larang.
"Aku tidak ingin istriku kesulitan. Aku akan mencukupi mu dan kamu hanya perlu tinggal di rumah untuk menunggu ku."
Dulu kata-kata itu terdengar sangat manis. Tapi sekarang setelah tahu kenyataan pahit yang didapatkan, Laras jadi tahu mengapa Reza berlaku seperti itu. Ya Reza hanya ingin Laras segera hamil dan melahirkan anaknya. Jadi dia benar-benar hanya diperlakukan sebagai mesin pencetak anak. Semua sikap manis dan lembut itu hanya palsu belaka.
Breeees
"Ya Allah, kenapa hujan?"
Laras membuang nafasnya kasar. Padahal hari ini begitu cerah, tapi hujan tiba-tiba datang. Sungguh seperti dirinya yang masih dalam kondisi tidak menentu.
"Apa alam pun juga tahu apa yang aku rasakan, haaah."
Laras memilih menepi di depan sebuah ruko yang kosong. Dia tidak bisa menerjang hujan yang begitu deras itu.
Hujan yang tak kunjung berhenti itu seolah menggambarkan perasaannya saat ini.
Tap
"Laras, kamu Laras kan?"
EH?
TBC