NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pekerjaan (tambahan) baru

Hana sedang membersihkan meja-meja yang sudah kosong oleh pelanggan, di bar hanya tersisa para pekerja yang membereskan semua ruangan.

"Kau tahu sesuatu tentang bar ini?" Tanya seorang pelayan yang baru bekerja satu minggu pada Hana.

"Seperti yang kau lihat." Hana sibuk mengelap meja-meja yang kotor tak begitu memedulikan rekannya yang menghampiri.

"Tidak, kau pasti tahu sesuatu. Aku dipekerjakan di sini oleh kerabatku, namun aku merasa janggal."

"Sebaiknya kau cepat selesaikan pekerjaanmu, dan kita akan segera pulang. Jangan menghambat rekanmu yang lain." Hana menoleh ke arah sesama pekerja yang sibuk membereskan bar.

Pelayan baru itu menyerah, ia menjauh dari Hana menuju area belakang untuk melanjutkan tugasnya.

Louis mengunci bar setelah semua pekerjanya pulang. Ia berjalan menuju rumahnya yang tak jauh dari bar.

Di ujung gang, ia melihat Hana yang berdiri seperti menunggu seseorang. Louis pun mendekati perempuan yang menggerai rambut panjangnya itu.

"Hana, sedang apa kau di sini?" Perempuan itu menoleh ke arah Louis.

"Louis, aku menunggumu."

Pria itu mengernyitkan keningnya.

"Menungguku? Ada apa?"

"Apa kau bisa memberiku gaji tinggi?" Louis tentu mengerti dengan maksud ucapan Hana.

"Apa kau serius? Ada apa Hana?"

"Aku benar-benar membutuhkannya, Louis."

"Kau yakin?" Louis sangat menyayangkan keputusan Hana yang dianggapnya salah.

Dirinya sudah kagum pada pendirian Hana beberapa bulan bekerja di bar tanpa terpengaruh pada lingkungan. Namun, kali ini ia sedikit kecewa.

"Tak ada cara lain. Aku harus segera membayar semua hutangku." Hana ingin segera melepaskan diri dari Luca, ia enggan berurusan dengan pria itu yang akhir-akhir ini mendesaknya untuk menikah atau membayar lunas semua hutangnya.

"Akan aku carikan pekerjaan lain untukmu."

"Tidak, Louis. Aku mohon. Hargaku tinggi."

"Hana, aku tahu keresahanmu. Jadi pikirkan baik-baik, aku akan mencarikanmu pekerjaan yang lebih tinggi dari barku."

"Tidak, kau tak mengerti Louis." Hana berbalik meninggalkan Louis yang terdiam.

"Tunggu!" Louis mengejar Hana yang melangkah cepat.

"Hana! Baiklah, aku akan mencari pelanggan untukmu." Louis menyerah dengan Hana.

Perempuan itu tersenyum lega menatap Louis.

"Terima kasih, Louis. Segera beri tahu aku begitu kau mendapatkannya." Wajah Hana yang berubah cerah namun juga menyiratkan keraguan.

Louis hanya mengangguk diam.

"Apa yang kau lakukan, Hana?!" Suara cempreng Salsa memekakkan telinga Hana ketika perempuan itu mengangkat telepon.

"Kenapa kau berteriak, Sa? Aku masih mendengar."

Hana baru terbangun dari tidurnya ketika Salsa menelepon.

"Kenapa kau ingin menjual dirimu? Kau butuh uang, hah?!" Terdengar Salsa yang murka memaki Hana dengan berbagai umpatan. Hana hanya mendengarkan sembari mengucek mata.

"Kau sangat tahu aku memang membutuhkan uang, Sa."

"Ya! Tapi tidak dengan kau menjual diri, Na! Ayolah, kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dari itu."

"Sa, kau punya uang 1 milyar?"

"Kau gila?! Mana aku punya uang sebanyak itu."

"Aku perlu uang sebesar 1 milyar, Sa."

"HAH?! Apa kau gila?! Apa hutang ayahmu sebanyak itu?!"

"Iya, Sa."

Telepon langsung ditutup oleh Salsa yang terkejut mendengar nominal hutang Hana yang fantastis. Ia bahkan tak tahu harus bagaimana membantu sahabatnya itu.

"Hutangnya lebih dari 1milyar, Sa." Gumam Hana menatap layar ponsel yang mati. Ia merebahkan diri dan memeluk guling.

Matanya memandang langit-langit kamar kost yang dihuninya hampir 4 tahun.

Satu pesan masuk ke ponsel Hana saat ia mandi.

Tak lama ponselnya bergetar menandakan sebuah panggilan masuk. Hana yang baru keluar dari kamar mandi segera mengangkat telepon.

"Kau tak perlu pergi ke kantor, Ruby akan menjemputmu dan temui aku di apartemenku."

"Untuk apa saya ke sana, tuan?"

"Bekerja padaku."

"Ya, memang saya bekerja pada anda."

"Bersihkan apartemenku."

"Baik, tuan. Saya tidak perlu dijemput."

"Untuk pertama kalinya, agar kau tahu letak apartemenku dan cepat sampai."

"Baik, tuan."

Telepon terputus, Hana segera berpakaian dan bersiap untuk pergi ke kediaman Luca.

Satu bulan yang lalu, Hana meminta pekerjaan lebih pada Luca agar bisa segera melunasi hutangnya, namun baru hari ini pria itu memberikannya.

Hana merasa pria tersebut seperti mempermainkannya.

Ketukan pintu terdengar, Hana yakin itu orang suruhan Luca yang datang menjemputnya.

"Anda sudah siap, Nona?" Pria muda yang terlihat ramah berdiri di depan pintu kostnya.

"Ya, aku sudah siap."

"Mari kita berangkat, Nona." Hana mengangguk mengikuti Ruby menuju mobil yang terparkir sangat jauh dari kost Hana yang masuk ke dalam gang-gang sempit.

Memerlukan waktu satu jam untuk sampai ke gedung apartemen dan unit milik Luca yang berada di lantai atas.

Ruby menjelaskan beberapa tempat untuk dibersihkan oleh Hana.

"Kenapa aku harus menginap di sini?"

"Tuan Luca ingin ketika pulang ada yang memasakkan makan malam."

"Aku bisa pulang setelah makan malam siap, tak perlu menginap di sini."

"Sebaiknya anda ikuti saja apa yang diminta oleh Tuan."

"Baiklah."

"Saya permisi, jika anda membutuhkan sesuatu bisa menekan tombol itu dan saya akan segera datang."

Ruby menunjuk sebuah tombol yang berada di sudut dapur.

Hana mengangguk paham.

Sepeninggal Ruby, ia segera melakukan tugas yang diberikan oleh Luca melalui asistennya.

Ruangan yang mewah dengan furniture yang Hana terka semua mahal.

Dirinya sangat berhati-hati dalam membersihkan debu-debu yang menempel pada barang-barang milik Luca.

Menjelang sore, Hana sudah selesai membersihkan semua ruangan, cukup menguras tenaga membersihkan apartemen yang sudah lama tak dibersihkan.

"Bagaimana bisa orang kaya tak menyewa seseorang untuk membersihkan ini secara berkala?"

Hana mengedikkan bahu dan duduk di sofa, ia mendesah lega menikmati empuknya sofa yang membuat tubuh lelahnya terasa nyaman.

"Hah.. rasanya lelah sekali, badanku seperti remuk." Matanya perlahan terpejam hingga suara password pintu berbunyi. Hana segera tersadar dari tidur singkatnya.

"Astaga, bisa-bisanya aku tertidur." Hana melirik jam dinding besar yang menunjukkan pukul 7 malam.

"Makan malam belum aku siapkan."

"Kau sudah selesai membersihkan semua ruangan?" Luca berjalan menghampiri sembari melonggarkan dasi di lehernya.

"Ya, seperti yang anda minta, Tuan."

"Bagus, aku ingin mandi. Siapkan air hangat." Hana mengerjapkan matanya begitu mendengar permintaan Luca.

"Kenapa diam?"

"Ya? Anu.. saya hanya bertugas membersihkan ruangan, Tuan."

"Lalu?" Luca mengernyitkan dahi menatap Hana

"Saya tidak melayani anda."

"Ah, Ruby tak mengatakan bahwa kau menginap di sini?"

"Dia mengatakannya, ta-"

"Itulah tugasmu. Lakukan sekarang."

Luca gemas melihat Hana yang masih diam menatapnya.

"Kau menunda sama saja dengan menambah bunga pada hutangmu, Hana."

"B-baik!"

Hana berlalu menuju kamar di lantai dua untuk menyiapkan air untuk Luca mandi.

Hana mengingat-ingat bagaimana orang kaya berendam di bathup dengan busa, ia pun menuangkan beberapa tetes sabun ke dalam bathtub berisi air hangat.

"Tuan, airnya sudah siap."

"Ya. Kau sudah memasak?"

"Belum, tuan."

"Selagi aku mandi, siapkan makan malam."

"Baik, tuan." Luca melangkah menaiki tangga menuju kamar yang di lantai dua

Hana segera bersiap untuk memasak makan malam agar ia bisa cepat pulang.

"Kau yang memasak semua ini?"

"Ya, tuan. Apa Tuan tidak menyukai menunya?"

Luca seolah tak mendengar, pria itu segera duduk dan mengambil lauk pauk lalu melahapnya.

Hana diam berdiri menunggu di sisi Luca.

"Kenapa kau berdiri di situ?"

"Ya, Tuan?"

"Duduklah, dan makan bersamaku."

"Eh, tidak perlu. Saya akan makan nanti saja."

"Duduk!"

Hana sedikit tersentak, apa ia akan dipecat?

"Apa tidak apa-apa?" Cicit Hana.

"Kau mengira aku rakus bisa menghabiskan semua makanan ini? Cepat duduk dan makan."

"Baik, Tuan."

Hana segera melakukan perintah Luca, sebenarnya ia sangat lapar dan beberapa kali menelan ludah sebelum Luca menyuruhnya makan. Ia makan dengan lahap tanpa menyadari semua gerak-geriknya diperhatikan oleh Luca.

"Tuan, saya permisi untuk pulang."

"Aku berubah pikiran." Luca duduk di sofa menonton tv, sedangkan Hana berdiri di belakang pria itu.

"Ya?"

"Kau siang hari bekerja di kantorku, malam hari di apartemenku."

"Saya tidak bi-"

"Kau menolak?"

"Malam hari saya bekerja di bar, tuan. Hari ini sedang libur jadi saya bisa melakukan pekerjaan di sini sampai malam."

"Apa kau robot?"

Hana diam menunduk.

Apa bedanya?

"Apa gaji di bar lebih besar dari bekerja di apartemen?"

"Saya akan membagi waktu dengan baik, tuan."

"Aku ingin kau hanya bekerja padaku. Kau ingin melunasi hutangmu kan? Maka patuh lah."

Hana terpaksa meminta pekerjaan pada Luca, sebab Louis tak memenuhi permintaannya beberap bulan yang lalu.

Tanpa Hana ketahui, Louis bercerita pada Salsa, dan sahabatnya itu melarang Louis mencarikan pelanggan untuk Hana.

Usai pulang bekerja di perusahaan milik Luca, Hana tak langsung pulang ke kost, ia memilih menuju bar untuk bertemu Louis.

Di sana sudah ada beberapa pelanggan yang berkunjung dan Louis sedang membuatkan minuman untuk tamu di depannya.

"Hana, kau datang lebih awal." Louis menyapa Hana yang masuk menghampirinya.

"Louis, aku ingin berhenti bekerja padamu."

Louis terdiam sejenak lalu mengulas senyum ramahnya.

"Kau sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik?"

"Ya, terima kasih atas pengalaman untuk bekerja di sini Louis. Kau membantuku."

"Ooh, aku tersanjung mendengarnya dengan tempat yang kumiliki ini." Louis terkekeh pelan.

"Datanglah kemari saat kau luang."

"Ya, Louis. Semoga usahamu selalu berjalan lancar."

"Kau gadis yang baik, Hana. Aku berdoa semoga masa depanmu indah."

"Terima kasih, Louis."

"Aku tak bisa lama, pekerjaan baruku sudah menunggu."

"Ya, berhati-hatilah di jalan, Hana."

Ia mengangguk dan keluar dari bar, menunggu di pinggir jalan untuk menunggu taxi yang akan membawanya ke apartemen Luca.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!