Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Debu
Pagi itu, suasana istana terasa lebih sibuk dari biasanya. Raja Valerius memerintahkan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh persediaan makanan dan persenjataan sebagai persiapan untuk festival tahunan kerajaan.
Bagi Aurelia, ini adalah kesempatan emas. Karena kesibukan itu, penjagaan di sekitar gudang logistik sedikit melonggar karena para prajurit lebih fokus mengawal perpindahan barang-barang besar.
Aurelia melangkah menyusuri koridor dengan gaya yang sangat tenang, seolah-olah ia hanya sedang ingin menghirup udara segar di taman samping. Begitu sampai di area gudang, ia melihat Lucas sedang sibuk. Kali ini, Lucas tidak sendirian. Ia berdiri di samping ayahnya, Kepala Logistik yang sudah terlihat lebih tua namun tetap gagah.
Lucas sedang membacakan daftar inventaris dengan suara yang lantang dan jelas. "Tiga puluh karung gandum dari wilayah selatan, sepuluh peti rempah-rempah, dan pasokan daging kering untuk musim dingin sudah tertata di blok C, Ayah."
Ayahnya mengangguk bangga, menepuk bahu Lucas dengan keras. "Kau melakukannya dengan baik, Nak. Kau sudah jauh lebih teliti daripada saat kita pertama kali berangkat enam tahun lalu."
Aurelia berdiri di kejauhan, menatap bangga ke arah Lucas. Pemuda itu benar-benar telah menjadi tangan kanan ayahnya. Namun, saat tatapan mereka bertemu secara tidak sengaja, Lucas segera memberikan kode kecil dengan kepalanya, menunjuk ke arah ruang penyimpanan peralatan yang jarang digunakan di ujung gudang.
Aurelia mengerti. Ia memutar lewat jalur belakang dan menyelinap ke dalam ruangan yang penuh dengan debu dan sarang laba-laba itu. Tak lama kemudian, pintu kayu yang berat berderit pelan. Lucas masuk dengan wajah yang sedikit berkeringat.
"Tuan Putri, Anda benar-benar nekat," bisik Lucas, namun kali ini ada senyuman lebar di wajahnya. "Ayahku ada di luar. Kalau dia tahu aku menemui Anda secara rahasia seperti ini, dia bisa jantungan."
"Ayahmu sedang bangga padamu, Lucas. Aku mendengarnya tadi," jawab Aurelia sambil duduk di atas sebuah peti tua yang tertutup kain kasar. "Kamu benar-benar sudah menjadi Wakil Kepala Logistik yang hebat."
Lucas bersandar pada pilar kayu di depan Aurelia, melipat tangannya di dada. "Aku harus hebat, Aurelia. Kalau tidak, bagaimana aku bisa punya alasan untuk tetap berada di dekatmu? Pekerjaan ini berat, tapi melihatmu setiap hari di balkon itu membuat semuanya terasa lebih ringan."
Aurelia merasakan jantungnya berdegup kencang. "Lucas, apakah kamu pernah merasa menyesal karena kembali ke sini? Maksudku, di luar sana kamu bebas. Kamu bisa pergi ke mana saja tanpa harus membungkuk pada siapa pun."
Lucas terdiam sejenak. Ia menatap ke jendela kecil di atas ruangan yang memperlihatkan langit biru. "Kebebasan tanpa tujuan itu melelahkan, Aurelia. Di luar sana memang luas, tapi tidak ada satu pun tempat yang terasa seperti rumah. Bagiku, rumah adalah tempat di mana janji kita dikubur. Jadi, aku tidak pernah menyesal."
Tiba-tiba, suara berat Raja Valerius terdengar dari luar gudang. "Di mana Wakil Kepala Logistik? Aku ingin melihat laporan persenjataan secara langsung."
Wajah Lucas seketika menjadi pucat. "Itu Raja! Beliau datang melakukan inspeksi mendadak!"
Aurelia berdiri dengan panik. "Apa yang harus aku lakukan? Kalau Ayah melihatku di sini, dia akan sangat marah!"
"Sembunyi di balik tumpukan karung gandum itu, sekarang!" perintah Lucas dengan suara berbisik yang tegas.
Aurelia segera merangkak ke balik tumpukan karung yang tinggi, menahan napasnya. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka lebar. Raja Valerius masuk dengan langkah kaki yang berat, diikuti oleh Kepala Logistik dan beberapa prajurit pengawal.
"Hormat saya, Baginda Raja," suara Lucas terdengar sangat formal dan stabil, meskipun Aurelia tahu Lucas pasti sedang sangat tegang.
"Mana laporannya?" tanya Raja Valerius tanpa basa-basi.
"Ini, Baginda. Semua persenjataan telah diperiksa dan dalam kondisi siap digunakan untuk festival besok," jawab Lucas sambil menyerahkan gulungan kertas.
Raja Valerius memeriksa kertas itu dengan teliti. Matanya yang tajam sempat melirik ke seluruh ruangan, termasuk ke arah tumpukan karung gandum tempat Aurelia bersembunyi. Aurelia memejamkan matanya rapat-rapat, berdoa agar detak jantungnya yang keras tidak terdengar oleh ayahnya.
"Bagus," ucap Raja akhirnya. "Kau masih muda, tapi kerjamu sangat efisien. Teruskan bakatmu ini. Kerajaan membutuhkan orang-orang yang bisa diandalkan, bukan hanya orang yang bisa bicara."
"Terima kasih, Baginda," sahut Lucas sambil membungkuk dalam.
Setelah Raja dan rombongannya pergi, suasana kembali sunyi. Lucas segera menghampiri tempat persembunyian Aurelia dan membantunya berdiri.
"Hampir saja," bisik Lucas sambil menghela napas lega. "Wajahmu sampai pucat begitu."
Aurelia tertawa kecil, meskipun tangannya masih sedikit gemetar. "Ayah memujimu, Lucas. Dia bilang kau orang yang bisa diandalkan. Itu pujian yang sangat besar darinya."
Lucas tersenyum tipis, namun matanya memancarkan keseriusan. "Dia benar, Aurelia. Aku bisa diandalkan. Bukan hanya untuk urusan logistik istana, tapi untuk melindungimu. Apapun yang terjadi nanti, aku tidak akan membiarkanmu menghadapi dunia yang kaku itu sendirian."
Aurelia menatap Lucas, menyadari bahwa pemuda di depannya ini bukan lagi sekadar teman bermain, melainkan sosok yang siap menjadi pelindungnya di tengah badai kerajaan yang mulai mendekat.
Di ruangan berdebu itu, di tengah aroma gandum, mereka kembali memperbarui janji yang pernah mereka buat di bawah hujan enam tahun lalu.
---