NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Trauma masa lalu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: HaluBerkarya

Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.

Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Aku tidak bermaksud...

Seravina Angelina Alastar. Nama itu terukir indah di atas nisan makam yang letaknya terpisah, seolah memiliki dunianya sendiri di tengah hamparan pemakaman umum tersebut. Setiap langkah kaki Gallelio yang mendekat terasa seperti ribuan batu yang menghantam dadanya, menciptakan rasa sesak yang begitu berat untuk ditanggung.

​Tatapannya tidak pernah lepas dari deretan huruf yang terukir itu. Dia bahkan tidak berani berkedip, takut jika genangan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya akan jatuh kapan saja.

​Pria itu perlahan duduk bersimpuh di sisi makam. Dia hanya mampu menatap dalam diam selama beberapa lama karena mulutnya seketika terasa kelu untuk berujar apa pun. Ini adalah kali pertama Gallelio datang dengan rasa hancur yang sehancur-hancurnya. Kehancuran itu begitu hebat hingga dia bahkan melupakan bunga yang biasanya selalu dia bawa di sela-sela kesibukan kerjanya sebagai tanda cinta.

​Kini tangannya hanya meraba nisan dingin itu dengan gemetar. Di tempat yang paling sunyi ini, suara Mama Amanda kembali menggema, menuduhnya telah mengkhianati cinta suci yang sedang dia tangisi ini. Dia ingin bersuara, ingin berteriak bahwa dia masih mencintai istrinya, namun udara di sekitarnya seolah mendadak membeku.

"Maaf..."

​Satu kata itu akhirnya jatuh, bertepatan dengan bahu Gallelio yang mulai bergetar hebat. Pertahanannya runtuh total. Pria yang tadi tampak begitu garang dan keras di depan rumahnya, kini bersimpuh tak berdaya sambil terisak di samping pusara.

​"Kamu kecewa ya, Sayang, sama aku?" ujarnya pelan.

​Suaranya parau, seperti sedang merefleksikan setiap luka yang dia rasakan sendiri. Dia tertawa rendah, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan di tengah kesunyian makam itu.

​"Aku tidak pernah bermaksud berkhianat, Sera... sungguh," lanjutnya lagi dengan nada memohon, seakan-akan nisan di depannya bisa memberikan jawaban atau pengampunan.

​Sore itu, di bawah langit yang semakin gelap, Gallelio seperti menemukan kembali tempat untuk bercerita. Dia meluapkan segala rasa dan emosi yang menghimpit dadanya sejak semalam. Pria itu bercerita dengan jauh lebih jujur tentang ketakutannya, tentang amarahnya pada sang mama, dan tentang rasa asing yang mulai mengusik hidupnya, meski jauh di lubuk hati dia tahu bahwa kalimatnya tidak akan pernah lagi didengar oleh sang pemilik nama.

Tanpa benar-benar dia sadari, area makam mulai menggelap. Sore telah berganti malam, namun Gallelio masih betah berada di sana, seolah-olah kegelapan itu adalah pelukan yang paling dia butuhkan saat ini.

.

.

.

​Sementara itu di kediaman Alastar, suasana jauh lebih ramai dari biasanya. Papa Jordan, Mama Amanda, Ayuna, Anet, dan Aurin berkumpul di ruang keluarga. Mereka bercerita dan mencoba melupakan bahwa sore tadi sang pemilik rumah sangat murka dengan keberadaan mereka di sana.

​"Sepertinya Gallel akan pulang lebih lama, Pa," ujar Mama Amanda dengan suara yang sarat akan rasa khawatir.

​Wanita itu sedikit merasa bersalah karena kalimat tajamnya tadi, juga karena dia terlalu bersikeras pada pendiriannya tanpa mau mendengar penjelasan putranya. Namun di sisi lain, dia tidak menyesal. Pada dasarnya, Mama Amanda memang sudah lama menunggu momen ini. Dia menunggu datangnya seseorang yang bisa masuk ke kehidupan putranya lagi, setelah lima tahun lamanya tidak ada harapan sama sekali.

​Ini bukan berarti dia tidak menghargai mendiang Sera. Mama Amanda justru berpikir, jika seandainya Sera melihat dari sana, menantunya itu pasti akan memiliki pemikiran yang sama. Sera pasti akan sedih melihat suaminya hancur bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.

​Gallelio tidak pernah sembuh. Dia masih terpuruk dalam satu keadaan, sebuah kehilangan besar yang tidak pernah bisa dia ikhlaskan sampai sekarang.

​Tak jarang pula Mama Amanda mendapati putranya menangis dalam kesendirian. Gallelio terjebak dalam ruang gelap yang tidak pernah dia biarkan terang, dan dalam luka yang tidak pernah mau dia sembuhkan. Akibatnya sangat fatal, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi putrinya, Geanetta, yang tidak pernah benar-benar diterima kehadirannya oleh sang ayah.

​Mama Amanda menaruh harapan besar. Semoga dengan adanya seseorang di sekitar Gallelio, dengan kehadiran Aurin nanti, perlahan-lahan luka itu bisa tersembuhkan. Dia berharap Aurin bisa menjadi sosok baru yang diterima dan perlahan membuat Gallelio sadar bahwa hidup harus terus berjalan. Dia ingin putranya itu akhirnya mau menerima putri kandungnya sendiri.

​Egois memang untuk saat ini. Mama Amanda sadar dia seolah menumbalkan Aurin ke dalam kehidupan Gallelio yang berantakan. Namun, dia sangat berharap suatu hari nanti, semua ini akan membuahkan hasil yang indah.

"Ya sudah, kita makan duluan saja!" ujar Papa Jordan yang memang sudah mulai merasa lapar sejak tadi.

​"Betul, Kakak bisa saja makan di luar," sambung Ayuna sembari mulai bangkit dan berjalan menuju area meja makan.

​Aurin merasa sangat ragu untuk ikut bergabung. Rasanya sangat tidak tahu malu jika dia makan sebelum sang pemilik rumah datang. Meskipun di sana ada Mama Amanda dan Papa Jordan, rasa tidak enak di hati Aurin masih mengganjal dengan jelas.

​Dia tidak banyak bicara dan hanya mengekor di belakang mereka. Tatapannya beralih ke deretan menu makanan di atas meja yang dihidangkan dengan sangat melimpah. Namun bukan itu masalahnya. Aurin justru berdiri diam di samping meja makan seperti seorang pelayan dan sama sekali tidak berniat menarik kursi untuk duduk. Ada rasa sungkan yang besar, terlebih karena dia membawa kebiasaan dari rumah paman dan bibinya, di mana dia baru diperbolehkan makan setelah mereka semua selesai.

​"Sayang, ayo duduk. Kenapa masih berdiri di situ?" ujar Mama Amanda lembut.

​"Saya belum lapar, Tan—"

​Kruyukkk!

​Kalimatnya terpotong seketika saat bunyi perutnya terdengar nyaring, menyangkal ucapannya sendiri dengan sangat jujur. Sontak Mama Amanda tersenyum, begitu pula dengan Ayuna. Sedangkan Aurin? Jangan tanya betapa malunya dia saat ini. Wajahnya merona merah padam dan tubuhnya mendadak lemas di sisi meja, rasanya ingin pingsan saja. Dia meringis sembari mengutuk perutnya dalam hati, lalu tersenyum kikuk kepada Mama Amanda dan yang lainnya.

​"Jangan bohong. Mama tidak mau ada orang yang mati kelaparan di rumah ini. Duduklah, Sayang," perintah Mama Amanda dengan nada yang tidak menerima penolakan.

"Mami... Anet mau disuapin, boleh?" Anet menyodorkan piring di depannya. Makanan yang biasanya disuapkan oleh Papa Jordan kini digeser mendekat ke arah Aurin setelah gadis itu duduk di kursinya.

​"Sayang, tapi Mami juga mau makan loh," ujar Mama Amanda mengingatkan cucunya.

​"Tidak apa-apa, Tante. Biar saya yang suapi," jawab Aurin cepat. Dia segera mengambil alih piring makanan Geanetta, sengaja dilakukan untuk mengusir rasa canggung yang masih menyelimuti benaknya di meja itu. Dalam hati, Aurin merasa sangat terharu pada gadis kecil ini. Geanetta seolah-olah memiliki kemampuan untuk membaca kegelisahan yang sedang dia rasakan.

​Geanetta tersenyum riang dan duduk merapat di sebelah Aurin. Dia mulai makan dengan lahap setiap kali Aurin menyodorkan sendok. Sesekali, Aurin juga menyuapkan makanannya sendiri ke dalam mulutnya. Suasana di meja makan itu menjadi jauh lebih hidup, sangat kontras dengan atmosfer rumah yang biasanya terasa mencekam dalam keheningan yang kaku.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Rosita Zaky
bagisss
ChaManda
😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
cih kesal
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kan kan kan kocak ini si Gel... bilang aja aku minta no kamu biar kalau ada apa-apa gampang/Curse//Curse//Curse//Curse/ pke alesan sebagai terima kasih
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: gengsi kk🤣🤣😭
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤔 apa ini? kau mulai water? cihhh... dasar Gelooooooo/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣jangan lama2 dia dinginnya, ntar beku kak
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
huhuhuair mataku😭😭😭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
jeng jeng jeng jeng..... Gel... baik2 bini mu incaran adik lelaki mu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: maca iya yuk lah buat Erza nyemek2
total 4 replies
ChaManda
aduhh kasian juga yaa si Clara
ChaManda
🫵🏻🫵🏻🫵🏻
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ihhh msh kesel sama pak duda ngeselin😑
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
heh astagaaa keliarga gilaa ku penggal juga itu kepala kalian biar sekalian gk ounya otak😑
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
idih.... mulai nyaman dia natap yang belum tumbuh🤭
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Udah tumbuh tapi belum keliatan menarikknya🤣🤣
total 1 replies
ChaManda
buat istrimu atau buat kamu?☺️
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Gallelio: buat gadis itu, biar gak kuyuss krempeng
total 1 replies
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
🤣
ChaManda
🤣😭🫵🏻
ChaManda
🤣🤣🤣🤣 aku suka gayamuu
ChaManda
😭😭😭
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
heleh heleh🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!