Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI LIAM DAN SERUNI
Matahari sore mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang lembut dan hangat, menyinari seluruh gubuk kecil itu dengan suasana yang tenang namun penuh kesedihan. Di teras depan rumah panggung sederhana tempat tinggal Pak Suryo dan Bu Lastri itu, dua sosok berdiri berhadapan diam-diam. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan ujung baju mereka dan membawa aroma bunga melati yang tumbuh di halaman, aroma yang selalu melekat dan menjadi ciri khas tempat ini.
Seruni berdiri di sana, mengenakan kebaya sederhana berwarna putih bersih yang biasa ia pakai saat beribadah atau pergi ke tempat jauh. Rambut panjangnya yang hitam dan halus disanggul rapi ke belakang, wajahnya terlihat lebih tenang dan tegar dibandingkan tadi siang, meski mata indahnya masih terlihat sedikit bengkak dan merah bekas menangis. Di samping kakinya sudah tergeletak satu bungkusan kain besar berisi pakaian dan barang-barang yang akan dibawanya, persiapan untuk perjalanan panjang yang akan ia tempuh esok hari.
Di hadapannya, berdiri Liam seperti biasa. Sosok tinggi besar itu tegak diam, punggungnya lurus kaku, wajahnya datar, dingin, dan tanpa ekspresi apa pun. Matanya yang hitam pekat menatap tepat ke arah wajah Seruni, namun tatapannya begitu dalam dan tajam, seolah ingin merekam setiap lekuk wajah, setiap gerakan mata, dan setiap garis senyum gadis itu ke dalam ingatannya selamanya, agar takkan pernah hilang meski waktu berlalu lama sekali.
Setelah perpisahan yang penuh tangis di pinggir jalan tadi, Seruni meminta waktu sebentar lagi untuk bicara berdua di sini, di tempat yang paling akrab bagi mereka berdua, tempat di mana dulu mereka sering duduk berjam-jam hanya diam atau mengobrol hal-hal sederhana. Tempat di mana Liam pertama kali merasa diterima dan merasa memiliki keluarga.
"Aku minta waktu sebentar saja, Liam..." ucap Seruni pelan, memecah keheningan sore itu. Suaranya lembut namun terdengar berat, penuh dengan perasaan yang campur aduk antara sedih, takut, dan harapan. "Besok pagi-pagi sekali, saat ayam baru berkokok pertama kali, aku akan berangkat. Kereta kuda dari kota akan lewat di depan desa, aku akan ikut naik sampai ke pelabuhan, lalu dari sana naik kapal ke kota besar yang sangat jauh."
Seruni berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit, lalu melanjutkan pembicaraannya sambil menatap lekat-lekat wajah dingin di hadapannya itu.
"Tadi aku belum sempat bilang... atau mungkin aku lupa bilang karena terlalu kaget dan sedih. Sebenarnya aku sudah menandatangani surat perjanjian kerja yang mengikat, Liam. Aku diterima bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga bangsawan kaya raya di kota itu. Kontrak kerjanya lima tahun lamanya. Lima tahun penuh aku harus tinggal dan bekerja di sana, tidak boleh pulang, tidak boleh keluar masuk sembarangan, sampai masa kontrakku habis lunas dan gajiku cukup untuk melunasi semua hutang Ayah."
Ada getaran sedih yang jelas dalam suara Seruni saat mengucapkan angka itu. Lima tahun. Bukan dua tahun seperti yang ia janjikan pada orang kaya itu kemarin. Ternyata untuk mendapatkan gaji yang cukup besar dan pasti, ia harus mengorbankan waktu lebih lama, harus meninggalkan desa, keluarganya, dan orang yang paling ia sayangi, selama separuh dasawarsa lamanya. Waktu yang sangat panjang bagi manusia, waktu yang bisa mengubah segalanya.
"Lima tahun..." ulang Seruni pelan, matanya berkaca-kaca kembali menahan air mata yang ingin tumpah. "Lama sekali ya, Liam? Lima tahun itu seribu delapan ratus hari lebih lamanya. Banyak hal bisa berubah dalam waktu selama itu. Orang bisa lupa, orang bisa berubah hati, orang bisa pergi entah ke mana, atau orang bisa menemukan hal baru yang lebih indah dan melupakan yang lama..."
Seruni melangkah maju selangkah, jarak mereka kini menjadi sangat dekat. Ia mengangkat kedua tangannya yang gemetar pelan, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di dada kiri Liam, tepat di atas jantung pemuda itu. Dada Liam terasa keras, kokoh, dan dingin, namun berdetak teratur meski sangat pelan dan nyaris tak terasa. Seruni menempelkan telapak tangannya di sana, merasakan keberadaan nyawa yang ada di dalam tubuh itu, merasakan kekuatan besar yang tersembunyi di balik kulit putih halus itu.
"Selama lima tahun itu, aku akan bekerja keras, Liam. Aku akan menahan rindu, aku akan menahan lelah, aku akan menahan apa saja demi bisa pulang ke sini lagi. Tapi ada satu hal yang paling aku takutkan, hal yang paling membuatku berat dan sakit hati untuk pergi..." suara Seruni pecah pelan, air matanya mulai menetes kembali jatuh membasahi pipinya.
"Aku takut... saat aku pulang nanti, lima tahun lagi... kau sudah tidak ada di sini. Aku takut kau sudah pergi meninggalkan desa ini, entah ke mana mencari asal-usulmu atau hal lain. Aku takut saat aku panggil namamu, tidak ada lagi yang menjawab. Aku takut wajahku sudah kau lupakan, dan hati dinginmu itu sudah tertutup rapat bahkan untukku sekalipun."
Seruni mengangkat wajahnya, menatap tepat ke dalam mata hitam Liam yang dalam dan kosong itu. Di mata itu, ia melihat bayangan dirinya sendiri, satu-satunya bayangan yang tampak jelas dan nyata di sana.
"Maka dari itu... sebelum aku pergi, sebelum waktu memisahkan kita lama sekali... aku mau minta satu janji darimu, Liam. Satu janji yang paling penting, satu janji yang akan menjadi kekuatan terbesarku bertahan di sana nanti."
Seruni menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian dan rasa cintanya yang tulus, lalu mengucapkan permintaan itu dengan suara lantang dan jelas, meski pipinya memerah karena rasa malu yang bercampur ketulusan.
"Lima tahun lagi... saat kontrakku habis, saat aku pulang kembali ke desa ini dengan selamat... aku mau kau menikah denganku, Liam. Aku mau kita bersatu, kita hidup bersama, kita saling menjaga seperti dulu aku selalu ingin menjagamu. Aku mau kau berjanji... saat aku kembali nanti, kau akan ada di sini, kau akan mengingatku, dan kau akan menjadi suamiku."
Keheningan seketika menyelimuti teras itu. Hanya terdengar suara napas halus Seruni dan suara angin yang berhembus pelan. Seruni menunggu dengan napas tertahan, jantungnya berdegup sangat kencang sampai rasanya mau melompat keluar dari dadanya. Ia menatap Liam lekat-lekat, mencari jawaban di balik wajah dingin itu.
Di hadapannya, Liam diam saja. Tak ada perubahan ekspresi sedikit pun. Wajahnya masih sama datar, masih sama dingin, masih sama tanpa senyum. Namun di dalam hatinya, badai besar sedang bergulung hebat.
Permintaan itu... sederhana, namun begitu besar maknanya bagi Liam. Menikah. Bersatu. Hidup bersama. Bagi Liam yang tak tahu siapa dirinya, yang tak tahu asal-usulnya, yang tahu dirinya bukan manusia biasa dan membawa bahaya besar... permintaan itu adalah hal yang paling indah sekaligus paling menakutkan yang pernah ia dengar.
Ia ingin sekali. Ia ingin sekali menerima. Ia ingin sekali berjanji seumur hidup. Karena bagi Liam, gadis inilah satu-satunya alasan ia masih ada di sini, satu-satunya yang tak pernah takut padanya, satu-satunya yang memberinya rasa hangat yang tak ia temukan di tempat lain. Lima tahun? Baginya yang mungkin hidup ratusan tahun lamanya, lima tahun hanyalah sekejap mata. Ia bisa menunggu. Ia akan selalu menunggu, sampai kapan pun.
Namun ada rasa takut samar. Takut kekuatannya akan menyakiti Seruni. Takut jati dirinya yang asli nanti akan menolak hubungan ini. Takut masa lalu yang hilang itu membawa bahaya bagi gadis ini. Tapi melihat air mata dan ketulusan di mata Seruni... rasa takut itu hilang digantikan oleh tekad yang kuat.
Liam perlahan mengangkat tangan kanannya yang dingin itu, menyentuh lembut pipi Seruni, menghapus air mata yang mengalir di sana. Gerakannya kaku, canggung, namun begitu lembut dan hati-hati, persis seperti dulu. Matanya yang hitam pekat menatap tajam dan dalam ke arah mata Seruni.
Perlahan, sangat perlahan, Liam menganggukkan kepalanya sekali. Anggukan yang mantap, tegas, dan tak tergoyahkan.
"Iya," jawab Liam singkat, suaranya rendah, berat, dan tenang, namun kali ini ada nada ketulusan yang mendalam yang terselip di balik nada dinginnya. "Aku janji."
Ia berhenti sejenak, menatap lekat-lekat wajah gadis itu, lalu melanjutkan dengan kalimat yang jelas dan tegas, janji yang diucapkannya dengan seluruh jiwa dan darahnya, janji yang takkan pernah ia langgar meski nyawanya taruhannya.
"Besok kau pergi. Lima tahun... aku tunggu. Kau pulang... aku ada di sini. Aku ingat. Aku tidak lupa. Dan saat kau kembali... aku akan menikahimu. Aku akan menjagamu selamanya. Tidak akan ada yang menyakitimu, tidak akan ada yang memisahkan kita."
Di dalam hatinya, Liam menambahkan janji yang lebih dalam lagi: Demi darah yang mengalir di tubuhku, demi nyawa yang aku miliki, demi rasa cinta yang baru aku mengerti ini... aku berjanji. Lima tahun, seribu tahun, atau selamanya... aku akan menunggumu, Seruni.
Seruni mendengar jawaban itu, mendengar janji sederhana namun kuat itu. Senyum indah pun perlahan merekah di wajahnya yang basah air mata, senyum yang paling indah dan bahagia yang pernah dilihat Liam. Ia tahu, meski Liam tak banyak bicara, meski wajahnya selalu dingin... janji dari pemuda ini adalah janji yang paling setia dan paling kuat di dunia.
Seruni maju selangkah lagi, memberanikan diri, lalu dengan hati-hati ia memeluk pinggang Liam erat-erat, menyandarkan wajahnya di dada bidang dan dingin itu sejenak, menghirup aroma khas pemuda itu dalam-dalam untuk dijadikan beban rindu selama lima tahun ke depan. Liam diam saja, kaku, namun tangannya perlahan bergerak naik, menyentuh lembut rambut panjang gadis itu, membiarkan dirinya dipeluk, merasakan kehangatan itu sepenuhnya.
"Terima kasih, Liam..." bisik Seruni pelan dari dalam pelukannya. "Sekarang aku siap pergi. Aku tahu ada janji yang menungguku di sini. Itu sudah cukup bagiku."
Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, meninggalkan langit berwarna ungu kemerahan yang indah. Di teras itu, di bawah cahaya senja yang mulai redup, dua hati saling berjanji. Satu hati manusia yang tulus, satu hati makhluk malam yang mulai belajar mencinta. Perpisahan itu berat, namun janji yang terucap menjadi jembatan kuat yang menghubungkan mereka melewati waktu dan jarak yang panjang.
Besok pagi, Seruni akan pergi jauh. Tapi Liam sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Ia akan tetap di sini, menunggu, melindungi keluarga Seruni, dan menjadi kuat... agar saat gadisnya kembali nanti, ia bisa menyambutnya dengan kekuatan penuh dan memenuhi janji suci yang baru saja mereka ikrarkan.