Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
******
Terhitung sudah dua hari lamanya Calista terbaring tak bergerak di atas ranjang rumah sakit. Kelopak matanya terpejam rapat, wajahnya pucat nyaris tanpa warna, sementara deru halus mesin monitor jantung menjadi satu-satunya penanda bahwa ia masih bertahan.
Belum ada satu pun dokter yang bisa memastikan penyakit apa yang sebenarnya menyerangnya. Semua hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang membingungkan. Tidak ada infeksi serius, tidak ada pendarahan baru, tidak ada kelainan organ vital yang cukup signifikan untuk menjelaskan mengapa ia belum juga sadar.
Namun tubuh Calista terus menunjukkan reaksi yang aneh.
Beberapa kali dalam dua hari terakhir, tubuhnya mendadak menegang. Tangannya bergetar, napasnya memburu, dan layar monitor memperlihatkan lonjakan denyut jantung yang tidak stabil—seolah ia sedang melawan sesuatu yang tak terlihat. Tim medis hanya bisa bergerak cepat setiap kali itu terjadi, memberikan cairan penenang untuk meredakan kejang yang muncul tanpa sebab pasti.
Karena tak kunjung ada perkembangan, Calista akhirnya dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar, dengan fasilitas dan peralatan medis yang jauh lebih canggih. Berbagai pemeriksaan lanjutan dilakukan—CT scan ulang, MRI, tes darah lengkap hingga pemantauan neurologis selama dua puluh empat jam penuh.
Tetap saja… tidak ada jawaban.
Semua hasilnya tampak normal.
Dan justru itulah yang membuat keadaan terasa semakin menakutkan.
Di dalam ruang rawat intensif yang sunyi itu, Damar duduk di sisi ranjang. Matanya sembab, rambutnya berantakan. Tangannya menggenggam jemari Calista yang dingin, mencoba menyalurkan kehangatan yang entah bisa ia rasakan atau tidak.
Hari ini ia berjaga Calista seorang diri di rumah sakit karena Arkana harus terpaksa meninggalkan Calista karena harus mengurus pekerjaannya.
Keadaan Calista saat ini hanya keduanya saja yang mengetahui, bahkan sang ayah mertua yang super sibuk itu tidak berani mereka beritahu.
“Bangun, sayang…” suaranya serak, hampir pecah. “Jangan buat aku khawatir seperti ini. Tolong… jangan kelamaan tidur panjangnya.”
Ia menunduk, keningnya menyentuh punggung tangan Calista.
Suara mesin monitor berdetak stabil, seolah tak peduli pada kepanikan yang menggerogoti dada Damar.
“Apa pun yang kamu lawan di dalam sana, tolong jangan sendirian. Aku di sini. Aku nggak akan ke mana-mana,” lanjutnya lirih. “Kalau kamu capek, istirahatlah… tapi jangan terlalu lama. Kembalilah. Aku masih butuh kamu.”
Tiba-tiba, jari Calista bergerak sangat pelan.
Hanya sedikit.
Nyaris tak terlihat.
Namun cukup untuk membuat Damar tersentak dan menegakkan tubuhnya. Matanya membelalak, napasnya tercekat.
“Calista?”
Ia mendekat, menatap wajah wanita itu dengan penuh harap. Kelopak mata Calista bergetar tipis, alisnya berkerut seakan sedang menahan sesuatu. Monitor jantung kembali menunjukkan perubahan irama—tidak liar seperti saat kejang, tetapi berbeda dari sebelumnya.
“Dokter! Dokter!” Damar berseru panik sekaligus penuh harapan.
Langkah kaki tergesa terdengar di lorong. Pintu ruangan terbuka, dua perawat dan seorang dokter segera mendekat ke sisi ranjang, memeriksa respons tubuh Calista dengan cepat namun hati-hati.
“Respon refleksnya meningkat,” gumam dokter itu serius. “Terus panggil namanya. Jangan berhenti.”
Damar kembali menggenggam tangan Calista, kali ini dengan lebih hati-hati, seakan takut gerakan kecil tadi hanyalah ilusi.
“Calista… ini aku, Damar suami mu. Dengarkan suaraku, kamu aman, kamu sekarang ada di rumah sakit. Semuanya sudah berlalu…”
Satu titik air mata jatuh dari sudut mata Calista.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua hari yang terasa seperti neraka tanpa ujung, secercah harapan akhirnya menyelinap ke dalam ruangan itu.
Sementara di alam bawah sadar…
Calista berdiri seorang diri, kebingungan, saat menyadari dirinya berada di ruang asing yang seluruh sisinya dipenuhi dinding putih tak berujung. Tidak ada pintu. Tidak ada jendela. Hanya hamparan warna pucat yang terasa dingin dan sunyi, seolah menelan suara napasnya sendiri.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, langkahnya terdengar menggema pelan, meski lantai yang dipijaknya pun tampak sama putihnya—tanpa bayangan, tanpa celah. “Di mana ini…?” gumamnya lirih, suaranya terdengar ganjil, seperti terpantul kembali ke telinganya dengan jeda yang tak wajar.
Dadanya terasa sesak oleh kebingungan. Ia mencoba mengingat sesuatu—apa pun—namun kepalanya seperti dipenuhi kabut tebal. Kilasan cahaya, suara samar, dan sensasi nyeri yang menusuk cepat melintas lalu menghilang sebelum sempat ia tangkap sepenuhnya.
Semakin lama ia berdiri di sana, semakin terasa hampa ruang itu. Tidak ada angin, tidak ada suhu, bahkan waktu seolah berhenti bergerak. Namun jauh di sudut penglihatannya, sekelebat bayangan tipis tampak bergetar, seakan ada sesuatu yang mencoba menembus dinding putih tersebut.
Calista menelan ludah. Perasaan asing menyelinap di hatinya—antara takut dan penasaran. Dengan langkah ragu, ia mulai berjalan menyusuri dinding itu, berharap menemukan ujungnya. Tetapi setiap kali ia merasa hampir mencapai sudut, ruang itu justru terasa semakin luas.
Dan di tengah kesunyian yang menekan, sebuah suara samar terdengar memanggil namanya… begitu lirih, namun cukup jelas untuk membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
“Calista…”
"Siapa itu?! " ujar Calista berusaha terlihat berani walau kini hatinya gundah akan ketakutan.
Tiba-tiba saja bayangan samar di lihatnya tadi kini melangkah dekat padanya, "Sekar...? " gumamnya kebingungan melihat kehadiran Sekar disini, sekian lama ia terkurung di tempat serba putih tanpa ujung ini, tanpa ada seorang pun selain dirinya. Kini akhirnya Sekar datang, namun apa semua artinya ini?
"Kenapa kamu bisa ada disini? Dan tempat apa ini sebenarnya, kenapa aku bisa terkurung lama disini? " tanya Calista beruntun saat Sekar sudah berdiri dekat didepannya.
Sekar belum menjawab, ia tersenyum teduh pada Calista didepannya yang terlihat begitu kebingungan. "Ini adalah tempat penentuan hidup dan mati seseorang, " ucap Sekar akhirnya, suaranya tenang dan bergema pelan di antara dinding-dinding putih yang tak berujung itu.
Calista tertegun. “Penentuan… hidup dan mati?” ulangnya lirih, tenggorokannya terasa kering.
Sekar mengangguk perlahan. Gaun putih yang dikenakannya tampak berpendar samar, seolah menyatu dengan ruang di sekitar mereka. “Setiap jiwa yang berada di ambang batas akan singgah di sini. Sebelum takdir benar-benar ditetapkan.”
Calista terdiam seketika, jantungnya berdegup lebih cepat. Ingatannya kembali berputar pada saat ia terjatuh pada kecelakaan pesawat kala itu dan tiba-tiba jiwanya merasuki pada tubuh Sekar.
"Tapi bukannya jiwaku masuk ke dalam tubuh mu? " tanya Calista hati hati, ia takut apa yang ada dipikirkannya ini benar-benar terjadi.
Sekar kembali memberikan senyum tipis pada Calista. Senyum itu tenang, namun menyimpan makna yang dalam dan sulit ditebak.
“Memang benar,” ujarnya lembut. “Tubuh aslimu telah ditemukan. Jantungmu masih berdetak.”
Ucapan itu membuat napas Calista tercekat. Ada secercah harapan yang tiba-tiba menyala di dadanya.
Sekar berhenti sejenak, seolah memberi ruang bagi Calista untuk mencerna kenyataan tersebut. Dinding putih di sekitar mereka berpendar lebih terang, lalu kembali meredup perlahan.
“Pilihanmu kini ada dua, Calista,” lanjutnya dengan suara yang tetap setenang permukaan danau tanpa riak. “Kembali hidup sebagai Aruna… atau melanjutkan peran barumu sebagai Calista, di tubuhku.”
Kalimat terakhir itu menggantung di udara.
Calista membeku. “Melanjutkan peran di tubuhmu? Kenapa? Itu tubuhmu, Sekar. Aku hanya jiwa yang kesasar dan tiba-tiba saja merasuki tubuhmu.”
Sekar terlihat tengah termenung, sebelum akhirnya berbicara. "Jiwaku sudah tiada saat kecelakaan di kolam tempo lalu, Calista. Aku tidak bisa kembali pada tubuhku, pun bila aku masih hidup, aku tidak ingin kembali hidup dan menjadi Sekar. "
Calista terdiam, ia menatap wajah sedih Sekar dengan prihatin. Cukup tau ia beberapa hal dalam hidup Sekar, dan itu memang terlihat begitu menyakitkan.
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭