Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
" Ma,Pa? Kalian dari mana? Eh ada Umi dan Abah." Sapa Aldo ia baru memperhatikan kehadiran Abah ahmad dan Ummi jemmah.
" Assalamulaikum dulu Aldo." Tegur Tante Gita.
" Eh iya, waalaikumsalam semuanya. Silakan masuk." Ucap aldo menggaruk kepalanya tak gatal.
" Dimana Agam? " Tanya Abah Ahmad tanpa basa-basi.
" Aku menyuruh kalian menghubungi ku saja kan? Tidak usah merepottkan Om dan tante."
" Terserah Abah, kamu juga begitu sama Abah dan Umi!" Protes Abah Ahmad pria itu pastinya marah pada anaknya.
Begitu juga dengan Umi Jemmah, yang sejak tadi hanya diam saja .
" Katanya mama kepasar mana belanjaan nya?" Tanya Aldo heran pria itu memperhatikan Tante gita.
" Mama mu gak kepasar." Sahut Om Gio.
" Lah terus? Berarti Mama sama Papa bohong yaa.." ucap Aldo penuh selidik.
" Memang iya, gak mungkin Papa kamu bilang terang-terangan.Mulutmu kan ember." Ejek Gita pada sang anak yang merrengut.
" Umi... Abah.." ucap Agam pelan.
Umi Jemma langsung berdiri dan tanpa ragu memukul lengan anak nya dengan kesal.
" Aww! Sakit umi...."
" Dasar anak nakal!?" Suaranya begetar antara marah dan lega.
"Kamu mikir kamu siapa? Gak menganggap kami orang tuamu gitu? Kamu mau jadi anak durhaka?!" Umi Jemmah berenten mengomeli anaknya.
" Maaf, Umi.. kejadiannya begitu cepat banget, aku bingung mau jelasin nya gimana."
" Tapi Umi , sudah thu kejadian nya apa belum?" Tanya Agam lagi.
" Sudah, tadi Tante kamu sudah cerita semuanya ke Umi dan Abah." Jawab Abah kali ini pria itu yang ikut berdiri.
" Kalian gak marah? " tanya agam.
" Oh tentu saja..." Jawab Abah Ahmad.
BUGH
AWWW!!!!!
Tanpa aba-aba bogeman mentah mengenai wajah Agam, lelaki itu yang tidak siap sampai tersungkur ke lantai.
" Astagfirullah, Abah!? Pelan-pelan kalau mau mukul anaknya." Ucap Ummi Jemmah kaget ia membantu Agam berdiri.
" Gak apa-apa Mii, aku gak sakit kok." Jawab Agam.
" Cukup Miii, jangan kau bela terus anak mu itu!?" Tegas Abah Ahmad.
" Bagaimana keadaan wanita itu? Dimana rumahnya kita harus cepat kesana. Membahas semuanya." sambung Abah Ahmad.
Ummi Jemmah mengangguk cepat. " Betul, kita harus kesna sekarang. Umi juga mau lihat gimana calon mantu eh mantu mama seperti apa." Ralat Umi Jemmah.
Agam mengusap tengkuknya yang kaku, sorot matanya dingin. " Nanti saja ke sana nya besok pagi, lebih baik kalian istirahat saja dulu."
" Loh gak bisa gitu, lebih cepat lebih baik.jangan-jangan kamu bohong sama Abah tentang semua ini kan? Atau kamu ancam dia?! " Tuduh Abah Ahmad.
" Astagfirullah, gak baik nuduh anaknya seperti itu Abah. "
" Bukan nuduh, salah mu sendiri sembunyi-sembunyi segala. Akhirnya kepergok warga . Bikin malu keluarga saja." Ucap Abah ahmad menggelengkan kepalanya tak habi pikir dengna anak sulungnya.
" Katanya mau cepet dapat menantu giliran dikasih malah mengeluh, Abah kurang bersyukur."
" Heh bocah gendengg! Abah suruh kamu cari jodoh lagi bukan gini caranya! " Kesal Abah Ahmad.
" Sabar Bang, lebih baik kita makan siang saja dulu. Istrku sudah masak, kerumah pak Roslan nya nanti saja sore." Ucap Gio menengahi.
" Huh, tensi kali aku Gi. Kebiasan anak-anak ku selalu membuat darah tinggi sama kelakuan mereka." Ucap Abah Ahmad dituntun Gio menuju dapur.
" Kita makan siang saja dulu Umi, ayo Paman." Ajak aldo mencairkan suasana yang tampak masih menegang.
Mereka makan dengan khidmat tidak ada pembahasan apapun mereka hanya fokus makan hingga selesai dan beberes.
Didapur hanya menyisakan Gita dan Umi Jemmah keduana tampak membereskan dapur bersama.
" Kamu tahu gak gimana istrinya Agam? katanya kalian bertetangga kan. " Tanya umi jemmah.
" Iya Mba, kami tetanggaan. Rumahnya diseberang rumah kami. "
" Oh yang warna hijau ada balkon teras dan pohon mangga nya itu?" Tebak Umi jemmah.
" Iya itu Mbak."
" Dia gimana orangnya Git?"
" Kalau menurutku Mbak, Delina orangnya baik, ramah, memang agak tengil dan cegil lah istilah sekarang. Tapi dia anak rajin. Sering bantu orang tuanya berkebun dan jualn diapasar. "
" Loh katanya yang kudenger, punya sawit kok masih jualan dipasar?"
" Memang punya, cuman sebagian sudah diwariskan ke anak-anaknya sebgai wasiat aku juga kurng tahu bagian itu Mbak cuman denger dari cerita orang-oraang sini aja."
" Dia anaknya baik gak? Maksdunya tuh, takutnya dia gak mampu mengimbangi kehidupan Agam. Tahu sendiri lah gimana sifat dan sikap Agam."
" Insya allah, aku yakin Mbak. Delina pasti bisa. Kalau untuk kebiasaan dia, mbak jangan kaget yaa..."
" Maksudny gimana ?"
" Nanti Mbak juga tahu sendiri,kalau berkunjung kesana." Ucap Gita tersenyum tipis.
...➰➰➰➰...
Di teras, para lelaki berkumpull lebih tepatnya hanya Gio dan Abah Ahmad.
" Gimana kabar mu selama tinggal didesa Gi, ada perubahan?"
"Alhamdulillah, masih dikasih kesehatan. Usaha dikota gimana Bang?" tanya Gio.
" Alhamdullilah, masih berjalan lancar. Kamu gak ada niatan mau kembali ke kota terusin usaha Almarhum Bapak?" tanya Abah Ahmad.
" Abang aja yang terusin, aku disini saja sudah nyaman sama Gita sama Aldo. Disini juga ada kebun ku."
" Abang gak bisa paksa kamu untuk ikut, tapi kalau kamu berubah pikiran kasih tahu abang aja." ucap Ahmad.
" Aman aja Bang, yang penting kita saling kabarin aja."
" Jadi kita kapan kerumahnya Pak Roslan? rumahnya diseberang kan? yang mana?" tanya Abah Ahmad.
" Itu, yang ada pohon mangganya." tunjuk Gio.
" Loh, pas seberangan banget tuh. "
" Iya, makanya. kita lumayan Akrab saling tetanggaan."
" Kira-kira kita sudah bisa keerumah mereka yaa?"
" Sudah kayaknya Bang, ini juga sudah lewat waktu dzuhur biasanya mereka ada dirumah."
" emangnya mereka kemana?"
" Biasanya Bu Nurlela jualan kepasar dulu kadang sama Delina, kadang juga Delina sendirian aja dirumah. Kalau pak Roslan kekebun."
" Oalah, disini masih lumayan asri sekali ya. kerjanya masih hasil pertanian."
" Makanya aku gak mau tinggal dikota, disni saja sudah cukup. Ya, walaupun tetangganya masih suka ikut campur tapi rasa kepedulian mereka bisa diacungkan jempol."
Terdengar langkah kaki dari dalam, ternyata Umi Jemmah, Agam dan Gita.
" Ayo Bah, kita kerumah Pak Roslan." ajak Agam.
" Ayo, kita kesana." ucap Abah Agam beranjak dari duduknya.
" Loh kalian gak ikutan?" tanya Umi Jemmah melihat, tiga orang pemilik rumah itu tampak anteng duduk diteras.
" Kalian saja Mbak, ini kan acara kedua belah pihak takutnya kalau kerabat lain ikut malahan tambah runyam dan tidak enak pastinya."
" Iya, kalian saja. nanti kasih tahu tanggal acaranya saja sama rewangan nya." sahut Gio.
" Ya sudah, kita pergi dulu Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."