WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
#13
📥 Mir, keputusan sudah final. Kami akan berpisah.
Pesan singkat dari Ersha, membuat Miranda tertegun untuk sejenak, entah harus sedih ataukah bahagia.
Sedih karena mereka adalah pasangan ideal menurutnya, apalagi keberadaan Abuzar yang sempat membuat Miranda iri. Bagaimana nanti tumbuh kembang Abizar tanpa kehadiran sosok ayah dalam hidupnya?
Senang, karena ikut merasakan betapa perih dan sakitnya bila dirinya yang ada di posisi Ersha. Dinikahi, tapi selama bertahun-tahun, tetap mantan kekasih yang dicintai sepenuh hati.
Miranda memijat pelipisnya, konsentrasinya seketika buyar, bayangan kasus yang sedang ia pelajari pun memudar begitu saja.
•••
Di tempat lain, Ersha sudah bersiap dengan dua buah koper besar yang berdiri di sisinya. Sebelumnya ia tak berniat seperti ini, jadi Ersha hanya membawa 2 buah koper yang ada di rumah. Koper milik suaminya, yang biasa dipakai pria itu untuk bepergian ke luar negeri karena urusan pekerjaan.
“Mama,” rengek Abizar, sepertinya bocah itu mulai mengantuk setelah puas bermain.
“Iya, Nak. Sudah mengantuk?”
Setelah sang mama menggendongnya, Abizar menunjuk ke arah kamarnya, ingin berbaring di ranjangnya seperti biasa bila tidur.
“Bobo di gendongan Mama, ya? Kan kita mau ke rumah Eyang,” bujuk Ersha, seraya memasang kain gendongan agar Abizar lebih nyaman. Akhirnya Ersha harus mengambil keputusan paling berat dalam hidupnya, yaitu pulang kembali ke rumah orang tuanya. Tak ada pilihan lain, karena Firza benar-benar tak berbicara apa-apa sejak pertengkaran terakhir mereka.
Untunglah Abizar tidak protes, hingga beberapa saat kemudian, taksi online yang ia pesan pun tiba. Ersha meminta bantuan sopir taksi untuk mengangkat dua koper yang ia bawa.
Untuk terakhir kalinya wanita itu menatap seluruh isi rumah, saksi bisu perjalanan pernikahannya dengan Firza, tempat mereka memulai harapan baru sebagai sepasang suami istri. Inginnya sampai maut memisahkan, tapi apa daya, semua berjalan tidak sesuai harapan.
Pahit sekali rasanya, tapi dilanjutkan pun, tak akan lagi sama rasanya.
“Selamat tinggal, Bang. Semoga Abang menemukan bahagia bersamanya,” gumam Ersha, seolah-olah Firza berada di sana.
•••
Sementara Ersha merajut asa demi melupakan kesedihannya, di tempat lain, ada yang sedang berbunga-bunga merayakan kebahagiaan.
Dialah Resha, wanita itu menikmati hidangan rumah sakit yang tersedia untuknya. Makanan yang semula terasa menjijikkan karena Resha sudah terlalu jenuh memakannya, kini terasa luar biasa lezat, seperti makanan dari restoran bintang lima.
“Bahagia sekali?”
Resha mengangguk senang, “Aku sangat bahagia, Ma.”
Meski beberapa malam lalu Nyonya Yu sempat luluh hingga menuruti permintaan putrinya, kini ia menyesal. Firasatnya mengatakan rumah tangga Firza saat ini pasti sedang tidak baik-baik saja.
“Apa kamu tidak memikirkan istri Firza? Bagaimana bila mereka benar-benar berpisah?”
Wajah Resha berubah seketika, ia tak suka, ketika mamanya justru memikirkan istri Firza ketimbang anak kandungnya sendiri. “Jadi Mama lebih memilih kehilangan aku?”
“Maksud Mama bukan begitu, tapi kita ini sesama perempuan, bayangkan saja bila kamu yang ada di posisi dia?”
Resha menggenggam garpu dan sendoknya erat-erat, “Itu tak akan terjadi, Ma. Aku sangat yakin bahwa Firza sangat mencintaiku, dan dia tak akan tega berbuat begitu padaku,” katanya bangga.
Sebagai orang yang pernah menjalin hubungan dekat, Resha tahu bagaimana cara memanfaatkan sisi lemah Firza. Itulah yang sedang ia mainkan saat ini, sejak dulu Firza selalu tak tega melihatnya kesakitan. Jadi pria itu akan melakukan apa saja sampai ia benar-benar merasa sehat untuk bisa beraktivitas seperti sedia kala.
Tapi, ada satu hal yang tidak pernah berani ia ungkapkan pada Firza, yaitu niatnya untuk berpindah keyakinan.
“Jangan yakin dulu,” nasehat Nyonya Yu, sebagai wanita yang sudah menelan asam garam kehidupan, serta penganut agama yang taat. Ia tahu bahwa perbuatan putrinya tak bisa dibenarkan, tapi menasehati Resha itu sangat susah, ia selalu saja bertindak sesuka hatinya tanpa mempertimbangkan resiko.
“Ma, Firza itu selalu percaya dengan apapun yang kukatakan, meski aku bohong sekalipun. Jadi aku yakin, kali ini pun Firza akan percaya jika aku berpindah keyakinan atas kemauanku sendiri. Padahal, sebaliknya.” Resha mengangkat kedua pundaknya acuh.
Nyonya Yu hanya menghembuskan nafas berat, lagi-lagi, nasehatnya hanya seperti angin lalu di telinga Resha. Jika Resha masih anak-anak, ia bisa memukul, atau mengancamnya.
Tapi Resha sudah dewasa, memiliki kemauan, dan prinsip sendiri. Rasanya hanya buang-buang tenaga jika Nyonya Yu harus memarahinya atau bahkan memukulnya.
•••
Di tempat lain, Ketegangan sungguh terasa, Firza tengah berhadapan langsung dengan Miranda.
Wanita itu baru saja memarahi Firza habis-habisan, bahkan sempat meminta Firza untuk mempertimbangkan keputusannya untuk berpisah dari Ersha.
Tapi Miranda sedang berhadapan dengan sebuah definisi cinta itu buta. Tapi sebodoh-bodohnya orang buta, ia masih menggunakan tongkat sebagai alat panduan perjalanan.
Dan Firza sedang dalam kondisi bodoh, kuadrat, sudahlah buta, ia juga tidak menggunakan tongkat untuk memandu perjalanannya. Jadilah ia tak tahu bahwa keputusan cerobohnya sedang mengarahkan dirinya hingga ke tepi jurang.
“Hargai keputusanku, Mir.”
Brak!
Miranda menggebrak meja. “Sejak kapan aku tak menghargai keputusanmu, hah?! Aku ini sahabatmu, orang yang berdiri paling depan untuk mendukungmu.”
“Tapi, bila kamu mengambil keputusan bodoh, apa aku harus diam saja? Atau dukung-dukung saja? Ingat, ada Abizar, apa kamu tak memikirkan anakmu?!” sambung Miranda tajam, tekanan darahnya mungkin sedang melonjak saat ini. Karena terlalu geram dengan kebodohan Firza.
Ini saja mereka sengaja mengatur janji temu berdua, jika Biru ada diantara mereka, Miranda tak berani membayangkan apa yang akan terjadi. Mungkin Biru akan menghajar Firza habis-habisan, karena keputusan bodohnya itu berakibat melukai banyak orang.
“Mengenai Abizar, aku tak akan melupakannya, aku akan mengatur jadwal kunjungan untuknya. Aku sangat menyayanginya, kau tahu itu.”
Miranda tersenyum sinis, “Dulu, aku tinggal seatap dengan kedua orang tuaku, tapi apa? Aku tak pernah merasakan hangatnya sentuhan mereka, yang ada kami selalu bertengkar dan berdebat dari hari ke hari.”
“Apa kamu yakin, setelah tinggal terpisah nanti, waktumu untuk Abizar akan tetap sama? Bila kamu dan Resha memiliki anak sendiri, apakah kasih sayangmu akan tetap utuh, tanpa pilih kasih?” sambung Miranda lelah, hingga ia tak lagi punya tenaga untuk memarahi Firza.
•••
Selepas maghrib, mobil Firza memasuki komplek tempat rumahnya berada. Ia menurunkan kecepatan, karena banyak anak kecil lalu lalang selepas pulang dari masjid.
Teringat akan masa kecilnya bersama Biru, biasanya Mamak Karmila akan mengomel bila mereka tak jua bersiap ke surau untuk sholat dan mengaji.
Tak terasa mobilnya pun tiba di halaman rumah, tapi rumahnya kelihatan gelap, tak seperti biasanya. Apa Ersha lupa menyalakan lampu?
Firza pun turun serta langsung memutar handle pintu, tapi terkunci, apakah Ersha masih di luar rumah? Ah, tak mungkin, kemanapun Ersha pergi, ia selalu pulang ke rumah sebelum maghrib datang. Kecuali jika ia berniat untuk menginap di rumah orang tuanya.
Akhirnya Firza menggunakan kunci cadangan yang selalu ada di dalam mobilnya, “Assalamualaikum,” ucapnya dalam sunyi.
Lampu ruang tamu menyala, tapi tak ada sahutan Ersha yang selalu hangat, tak ada pula tawa kecil Abizar yang selalu menyambutnya. “Kemana mereka?” gumam Firza seorang diri.
Pria itu pun mengeluarkan ponsel, bermaksud menghubungi Ersha, tapi tiba-tiba, ada suara mobil berhenti di depan rumahnya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Firza, ia melangkah ke teras dan melihat Mamak Karmila berdiri di hadapannya.
“Mamak.”
###
"Lapor, mak. Anakmu nakal, tuh."
toh sama" single