Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan aneh!
Minggu pagi, Nadia ikut joging bersama Laura, Yuri dan Jeni. Kini mereka duduk santai di pinggir danau di taman setelah joging.
"Nih, minum dulu." Yuri dan Jeni memberikan air mineral pada Laura dan Nadia.
"Beb, nanti siang kalian ikut gue ya!" ucap Jeni yang baru duduk di samping Nadia.
"Kemana?" tanya Yuri.
"Gue mau kenalin pacar gue ke kalian."
"Asyik, udah jadian aja nih..." teriak Yuri ketus.
"Udah hampir seminggu loh beb jadiannya." jawab Jeni malu malu.
"Lah kok baru cerita sekarang!" Protes Yuri.
"Sorry, habisnya kalian sibuk sih."
"Mana ada gue sibuk. Alasan! Pasti lo takut gue mintain pajak jadian kan?!" tuduh Yuri.
"Ih gak gitu ya. Emang dasar kalian aja yang gak ada waktu buat nongkrong sama gue." bantahnya tak terima dengan tuduhan itu.
"Ya udah kali, udahan debatnya. Yang jelas satu besti kita udah sold out." celetuk Laura menengahi perdebatan itu.
"Dengar tu..." ketus Jeni hendak mencubit pipi Yuri, tapi sebelum itu terjadi Yuri sudah lebih dulu memukul tangan Jeni.
Pertengkaran ringan itu pun berlanjut membuat Laura dan Nadia ikut tertawa geli melihat dua gadis yang saling pukul itu.
"Udah ah, capek..." Jeni menjauh dari Yuri. Kini dia duduk di dekat Nadia. "Jadi gimana, setuju gak?" Lanjutnya yang membuat tiga orang lainnya saling menatap bergantian.
"Setuju ngapain?" tanya Laura setelah mereguk air mineralnya.
Jeni menghela napas sebelum kembali bicara. "Gue mau ngajak kalian makan makan sekalian gue kenalin ke pacar gue. Mau gak!"
"Gue kerja, beb." jawab Nadia cepat.
"Ya ampun, Nadia! Izin dulu deh hari ini. Please!" rengek Jeni dengan ekspresi imutnya itu.
Nadia melirik kearah Laura dan Yuri yang ikut memohon seperti Jeni. "Iya, iya nanti gue izin."
"Nah gitu dong, Nad. Jangan kerja Mulu. Sesekali bersantai, jalan, makan, main, kumpul bareng teman, hal seperti ini juga perlu." celetuk Yuri.
"Iya. Gue ikut." ulang Nadia.
"Makasih ya, beb." Jeni merangkul lengan Nadia. "Kalian juga ikut kan!" melirik pada Laura dan Yuri.
"Ya jelas dong kita ikut, ya kan Ra. Makan gratis, ya gak mungkin nolak lah...." Yuri heboh.
"Eh tunggu.... Jen, gue penasaran deh. Lo kok bisa jadian sama cowok lo itu dalam waktu singkat! Padahal sebelumnya kalau pedekate, lo baru terima cinta cowok kalau udah lebih dari tiga bulan HTS-an?!" selidik Yuri penasaran.
Jeni tersenyum, pipinya bersemu merah. Laura dan Nadia juga terlihat serius menunggu jawaban Jeni.
"Idih, dasar pick me!" lanjut Yuri sebelum Jeni sempat membuka mulut.
"Mulut lo, najis kasar amat Yuri!" teriak Jeni kesal.
"Ye, mulut mulut gue!"
Jeni mendelik kesal hendak memukul lengan Yuri, pukulan itu akan tepat sasaran andai Laura tidak menghalangi. "Udah buru cerita. Kita juga penasaran nih."
Jeni pun mulai menceritakan kisah cintanya yang manis itu hingga membuat ketiga sahabatnya ikut senyum senyum gemas.
"Manis sih, tapi gue kayaknya sampai matahari terbelah dua pun gak akan ketemu cowok yang seperti itu deh." celetuk Yuri pesimis.
"Hus, gak boleh ngomong gitu." celetuk Laura dengan menyentuh pipi Yuri yang duduk di depannya.
"Gue serius! Cowok cowok tu ngedeketin gue karena gue tinggi, putih, cantik, anak orang kaya dan ya, hanya karena itu. Gak ada satu pun cowok yang suka gue dengan tulus."
"Kalau yang seperti lo ngerasa gitu, terus gue yang botol Yakult, item, gak cantik, bukan anak orang kaya ini gimana dong?!" sambung Nadia yang membuat ketiga temannya terdiam heran.
Nadia tidak pernah bicara seperti itu sebelumnya. Ya itu yang mereka tau. Nadia selalu terlihat tenang, diam, gak suka ikut berkomentar saat Yuri yang sering insecure tentang kisah cintanya.
"Nadia.... Beb, sumpah ya, lo gak cocok ngomong gitu." tegur Yuri.
"Kenapa? Kan benar, gue ngomong fakta."
"Iya sih ngomong fakta. Eh tapi, bukan gitu Nad... Bukan gitu maksud gue." memegang kedua tangan Nadia merasa khawatir Nadia akan tersinggung.
"Buset dah mulut lo Yuri!" Teriak Jeni dan Laura yang langsung memukuli Yuri dengan plastik berisi cemilan yang tadi dia beli.
"Lah kok malah nyalahin gue? Orang gue belum selesai ngomong. Dengerin dulu... Oii berhenti pukul gue!"
Mereka pun berakhir kejar kejaran, Nadia tersenyum melihat mereka yang sekarang malah saling serang, Jambak dan saling tendang. Tidak! Mereka tidak memukul dan menjambak kuat, hanya sekedar bercanda.
"Gue ikut..." teriak Nadia yang ikut berlari mengejar mereka.
Jeni dan Laura kini bersekongkol dengan Nadia untuk menyerang Yuri.
"Woi kalian beraninya keroyokan!" jerit Yuri mencoba melepaskan diri dari tiga orang itu.
Keseruan itu berlanjut hampir setengah jam. Mereka benar benar menikmati hari liburan ini mumpung Nadia mau dibujuk untuk cuti kerja hari ini.
Setelah puas bermain, mereka sarapan bareng, nyalon bareng, lalu pulang ke rumah masing masing untuk bersiap menemui pacar Jeni di kafe tempat Nadia bekerja.
Nadia kerja di kafe hari ini mulai pukul 5 sore sampai pukul 10 malam. Jadi, Jeni memilih Sky kafe tempat ngumpul, supaya nanti Nadia tidak perlu pulang lagi ke rumah, karena jauh dan juga capek kalau harus bolak balik.
>~<
Pertemuan itu akhirnya di atur pada jam tiga sore, karena Kevin ada job dadakan tadi siang.
Nadia, Yuri dan Laura sudah memesan minuman dan cemilan sambil menunggu Jeni datang membawa pacarnya.
"Siapa sih nama pacarnya Jeni?" tanya Yuri.
"Kalau gak salah namanya Kevin." sahut Nadia.
"Si fotografer itu, right!"
"Yeah." jawab Laura.
Saat dua orang itu saling melempar pertanyaan tentang pacarnya Jeni, Nadia sendiri mulai membuka buku tentang mental health dan ia mulai membacanya. Akhir akhir ini Nadia sangat suka membaca buku seperti ini. Lumayan untuk membantu penyembuhan mentalnya. Sebenarnya, Nadia sangat ingin ke psikolog, tapi tidak punya cukup uang untuk itu.
Terlebih, mulai bulan depan Nadia sudah harus mengirim uang ke rekening Nina seperti yang diperintahkan ibunya. Belum lagi bulan depan Nadia juga harus bayar cicilan motor dan uang sewa kontrakan.
"Hai girls!" Jeni datang, menggandeng lengan berotot pria tinggi berpakaian semi formal.
"Waw, so handsome!" bisik Yuri pada Laura.
"Halo girls, aku Kevin." sapanya yang disambut Laura, Yuri dan Nadia dengan senyuman dan sedikit anggukan kepala.
"Hai kak, aku Yuri. Kak Kevin ganteng deh." goda Yuri sok centil yang membuat Jeni bersungut.
"Makasih Yuri. Tapi, boleh panggil Kevin aja dong, biar lebih akrab aja gitu."
"Oh gitu. Oke deh, Kevin." ulang Yuri ramah.
"Gue Laura. Salam kenal, Kevin."
"Hai Laura, salam kenal juga."
Kevin melirik kearah Nadia yang akhirnya menutup bukunya dan tersenyum sambil menundukkan sedikit kepalanya kearah Kevin. Nadia tidak memperkenalkan diri, karena mereka sudah berkenalan minggu lalu di Kafe ini juga.
"Hai, Nadia." Sapa Kevin yang membuat Yuri dan Laura heran, karena Kevin langsung menyebut nama Nadia padahal Nadia belum memperkenalkan diri.
"Lo kenal Nadia?" tanya Yuri penasaran.
"Iya. Date ke dua kita kebetulan di kafe ini, jadi waktu itu langsung dikenalin sama Jeni." jelas Kevin yang direspon dengan anggukan kepala oleh Jeni.
"Jadi, lo udah kenalin pacar lo ke Nadia, tapi ke kita baru sekarang! Oke fine." ketus Yuri tak terima.
"Sorry beb. Lagian waktu itu kan kebetulan aja."
"Yeah fine!"
"Ih, Yuri! Jangan gitu dong." Jeni merasa bersalah.
Tapi beberapa detik kemudian Yuri tersenyum puas, melihat wajah bersalah Jeni. "Gue bercanda kali, beb."
"Kan, lo suka banget ngerjain gue. Sebel!"
Mereka tertawa sebelum melanjutkan obrolan dengan Kevin.
"Eh, Kevin. Lo tau gak sih pernah jadi crush nya Jeni?" Yuri langsung membuka percakapan.
"Ya, baru-baru ini sih." jawab Kevin santai sambil mengatur posisi duduk di kursi yang berdampingan dengan Jeni.
"Berarti benar dong, dulu lo gak kenal Jeni sama sekali?"
Kevin tersenyum, sebentar dia menatap wajah malu-malu Jeni. "Dulu gue udah kelas tiga SMA waktu Jeni baru kelas satu SMP. Dan ya, gue gak punya waktu juga gak tertarik untuk mengenal adik adik kelas gitu."
"Oh gitu." respon Yuri dan Laura serentak.
"Terus, lo pernah pacaran kan sebelumnya...." selidik Yuri.
Sebelum menjawab, Kevin tersenyum pada Jeni. "Iyalah, pernah beberapa kali sebelum akhirnya ketemu Jeni."
"Uuu...."
Yuri terus bertanya banyak hal, kadang dia juga bicara random yang membuat Jeni dag Dig dug ser. Untungnya Kevin bukan orang yang mudah tersinggung, terlebih dia sudah diberi tahu Jeni bahwa Yuri memang orang yang sangat blak blakan.
Tapi, Nadia! Ya, Kevin sering diam diam melirik kearah Nadia yang paling sedikit bicara. Tatapan Kevin pada Nadia itu cukup membingungkan. Mungkin kalau Yuri atau Laura menyadari itu, mereka akan mengira Kevin tertarik pada Nadia.
Beruntungnya kali ini, Baik Jeni, Yuri, Laura bahkan Nadia sendiri pun tidak menyadari tatapan aneh Kevin yang mengundang kecurigaan itu.
Bersambung...