Sudah 5 tahun sejak pernikahanku dengan Raymond. Di depan keluarga dan teman, kami adalah pasangan yang harmonis. Tapi ketika di dalam rumah kecilku, aku merasa hampa. Ini terasa seperti aku bermain sandiwara selama 5 tahun lebih. Aku pun tidak tahu apa yang salah dengan diriku sendiri kenapa aku masih memaksa diriku untuk bersamanya. Tapi satu hal yang pasti, suamiku mencintai statusnya sebagai suami bukan mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
"mbak, itu ukurannya sudah oke?"
"tanyanya ke aku Matt bukan ke mbaknya, kan aku yang pake."
"oh gitu ya, ukurannya udah pas Llyn apa perlu di permak?"
"agak gedean dikit sih pinggangnya, tolong dikecilin lagi ya mbak."
"baik nona, kita ukur dulu ya."
Setelah selesai mengurus gaun, mereka makan di restoran yang terletak tepat di depan butik. Ternyata di dalam sana ada Riko yang juga sedang makan siang. Riko baru saja selesai mengurus gaun tersebut lalu masuk ke restoran untuk makan, itu bertepatan sekali dengan bossnya tercinta tiba di butik dengan calon kekasih hatinya.
"eh boss, makan boss," sapa Riko kepada Matt saat melihat Matt dan Llyn melewati mejanya.
"loh lagi makan di sini juga kamu?"
"iya boss lapar hehe, sekalian mampir."
"ya sudah, asal jangan makan gaji buta saja."
Llyn hanya diam melihat interaksi mereka berdua. Panggilannya bos tapi sikap dan tata bahasanya tidak seperti bos dan karyawan. Tapi setaunya Matt hanya karyawan biasa. Kadang dalam pertemanan ada saja panggilan aneh-aneh, mungkin saja Matt tipe yang seperti itu dan pria itu adalah temannya.
"llyn ayo duduk di sana saja."
"nggak mau bareng sama temanmu saja?"
"dia bukan temanku, sudah abaikan saja."
"iya benar, abaikan saja jangan dipedulikan. Kita nggak saling kenal kok."
Llyn mengernyitkan dahinya karena bingung dengan situasi yang aneh ini. Tapi ia tetap mengikuti Matt untuk duduk di meja yang terletak di samping jendela. Seperti biasa, spot favorit Llyn setiap kali ia makan di luar. Kadang ia heran dengan isi kepala Matt, karena pria itu selalu tau apa yang diinginkannya dan apa yang menjadi kesukaannya.
Keesokan harinya, Matt lagi-lagi sudah menyiapkan tim MUA terbaik untuk mempersiapkan Llyn ke pesta. Matt hanya ingin Llyn bisa selalu tampil maksimal di setiap acara yang ia datangi.
Saat pulang ke apartemen dari kampu, ternyata beberapa orang sudah berkumpul di depan pintu apartemennya. Llyn tentu saja kebingungan karena ia tidak mengenal mereka sama sekali.
"oh kalian sudah datang, mari masuk."
Llyn yang awalnya hendak bertanya pun tidak jadi dan langsung menoleh ke arah Matt.
"Llyn ayo buka pintunya."
"mereka siapa? ini apartemenku kenapa kamu asal mengundang teman ke sini?"
"ehh bukan mereka bukan temanku, Riko memanggil mereka untuk mempersiapkan kamu nanti malam."
"Matt itu bukan pesta ya ampun, nggak perlu sebegininya?"
"sudah ayo, kamu harus tampil maksimal malam ini biar semua orang terpesona. Katanya sekalian nambah relasi kan, penampilan harus maksimal. ayo ayo buka pintunya, kasian mereka."
Llyn harus mulai terbiasa karena setiap kali bersama Matt selalu ada saja gebrakan baru setiap harinya. Di sisi lain, ada sedikit rasa haru di sudut hatinya. Baru kali ini selain dari orang tuanya, ia menerima perhatian sebesar ini dalam hidupnya.
Sekitar pukul tujuh malam, acara di hotel X sudah di mulai. Tapi Llyn dan Matt masih belum berangkat. Llyn terlihat buru-buru karena ini acara penting untuknya. Sedangkan Matt masih duduk santai di sofa.
"Matt ayo Matt, kamu sih panggilin tim profesional segala, jadi lama kan persiapannya."
"ngapain buru-buru, lagipula acara utamanya nggak akan berlangsung tanpa aku. Jadi tenang saja jangan buru-buru."
"memangnya siapa kamu sampai mereka nungguin kamu. Lagian kamu datang kan jadi partnerku, gimana sih."
Llyn menarik tangan Matt agar pria itu bangkit dari duduknya lalu mendorongnya keluar apartemen. Ia tidak boleh terlambat lebih lama lagi dari ini.