NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak Sama CEO Es, Malah Hamil Anaknya

Nikah Kontrak Sama CEO Es, Malah Hamil Anaknya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kentos46

Aluna butuh 3M buat nebus utang kakaknya. CEO es batu Arsen Asmara nawarin nikah kontrak setahun. Syaratnya gampang: Tidur pisah ranjang, dilarang jatuh cinta.

Tapi semua berantakan gara-gara satu malam salah kamar. Aluna hamil anak CEO paling ditakuti se-Indonesia.

Pas foto mereka satu selimut viral + saham anjlok 12%, Arsen bukannya marah malah pasang badan hajar mantanku. Katanya ini cuma kontrak... tapi kenapa ciumannya bikin jantungku mau copot?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi atau Kehilangan Semuanya

Malam itu dunia Aluna seperti runtuh perlahan.

Tangannya gemetar saat menatap layar ponsel yang masih menampilkan foto rumah ibunya.

Rumah kecil sederhana yang selama ini jadi satu-satunya tempat aman dalam hidupnya.

Namun sekarang…

rumah itu ikut diseret masuk ke dalam kekacauan ini.

“Kalau kamu nggak ninggalin Arsen, keluarga kamu berikutnya.”

Napas Aluna terasa sesak.

Pikirannya langsung dipenuhi bayangan buruk.

Ibunya.

Rumahnya.

Dan orang-orang yang mungkin mulai mengawasi mereka diam-diam.

“Aku mau pulang.”

Suara Aluna pelan.

Terlalu pelan.

Namun cukup membuat Arsen langsung menoleh cepat.

“Apa?”

“Aku mau lihat Mama.”

Tatapan Arsen berubah tajam.

“Sekarang nggak aman.”

“Tapi kalau benar ada orang yang ngawasin rumah Mama gimana?”

Nada suara Aluna mulai pecah.

“Aku nggak bisa diem aja di sini.”

Arsen berjalan mendekat lalu memegang pundaknya pelan.

“Luna.”

Tatapan mata laki-laki itu serius banget sekarang.

“Saya bakal kirim orang jagain rumah ibu kamu.”

“Tapi—”

“Dengerin saya.”

Nada suaranya sedikit lebih tegas.

Dan itu membuat Aluna langsung diam.

“Saya nggak akan biarin siapa pun nyentuh keluarga kamu.”

Kalimat itu terdengar meyakinkan.

Tapi anehnya rasa takut Aluna justru makin besar.

Karena semuanya sudah terlalu jauh.

Awalnya cuma kontrak.

Lalu berubah jadi skandal.

Sekarang sampai ancaman.

Dan semua orang di sekitar mereka mulai ikut terseret.

“Aku capek…”

Suara Aluna melemah.

Matanya mulai panas.

“Aku beneran capek…”

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai—

Aluna menangis.

Bukan tangisan keras.

Tapi air mata yang jatuh pelan sambil dirinya mencoba tetap kuat.

Dan justru itu yang membuat dada Arsen terasa sesak.

Karena perempuan di depannya selalu berusaha terlihat baik-baik saja.

Padahal dirinya jelas ketakutan.

Arsen langsung menarik Aluna ke dalam pelukan tanpa banyak bicara.

Hangat.

Kuat.

Dan penuh rasa melindungi.

“Aku takut semuanya jadi hancur gara-gara aku…”

Suara Aluna terdengar tertahan di dada laki-laki itu.

Sedangkan Arsen memejamkan mata pelan.

Karena dirinya tahu.

Aluna mulai berpikir untuk pergi.

Dan itu adalah hal terakhir yang dia inginkan.

“Kamu nggak akan kehilangan siapa-siapa.”

Arsen mengusap rambut perempuan itu perlahan.

“Percaya sama saya.”

Namun Aluna justru makin menangis.

Karena semakin Arsen baik padanya…

semakin dirinya takut menyakiti laki-laki itu.

---

Setelah ibu Arsen pergi, suasana penthouse berubah sunyi.

Hujan di luar masih turun deras.

Lampu kota terlihat samar dari balik jendela besar ruang tengah.

Sedangkan Aluna duduk diam di sofa sambil memegangi ponselnya.

Tatapan matanya kosong.

Dirinya terus memikirkan satu hal.

Pergi.

Mungkin semua akan selesai kalau dirinya pergi dari hidup Arsen.

Media akan berhenti.

Keluarga Arsen akan tenang.

Dan orang-orang nggak akan lagi menyerang laki-laki itu karena dirinya.

Namun setiap kali memikirkan itu…

dadanya terasa sakit.

Karena sekarang dirinya sadar.

Dia benar-benar mencintai Arsen.

Dan perasaan itu membuat semuanya makin rumit.

“Minum dulu.”

Suara Arsen terdengar pelan.

Aluna tersadar saat laki-laki itu menyodorkan segelas susu hangat.

Hal kecil.

Tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hatinya goyah.

“Thanks…”

Arsen duduk di sampingnya.

Cukup dekat sampai Aluna bisa mencium aroma parfum khas laki-laki itu.

Namun malam ini suasana mereka berbeda.

Tidak ada godaan.

Tidak ada candaan kecil.

Yang ada cuma rasa lelah dan takut.

“Media sekarang gimana?”

Arsen menghela napas kecil.

“Masih chaos.”

“Kamu rugi besar ya?”

Tatapan Arsen langsung berpindah ke arah Aluna.

Dan seperti biasa…

laki-laki itu terlihat lebih peduli pada dirinya dibanding perusahaan miliaran miliknya sendiri.

“Saya nggak peduli soal uang.”

“Tapi perusahaan kamu—”

“Saya cuma peduli kamu stres.”

Kalimat itu langsung membuat Aluna terdiam.

Karena cara Arsen mengatakannya terdengar begitu tulus.

Tanpa dibuat-buat.

Dan itu justru membuat rasa bersalah Aluna makin besar.

“Aku nggak ngerti kenapa kamu masih milih aku…”

Suara Aluna mengecil.

“Aku bahkan nggak bawa hal baik ke hidup kamu.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Arsen tiba-tiba menoleh penuh.

Tatapannya dalam banget malam ini.

“Kamu mau tahu alasan saya tetap milih kamu?”

Jantung Aluna langsung berdetak nggak nyaman.

Namun dirinya perlahan mengangguk.

Arsen tersenyum kecil.

Tipis.

Tapi hangat.

“Karena pertama kali saya ketemu kamu…”

Tatapan matanya melembut.

“Kamu satu-satunya orang yang lihat saya sebagai manusia.”

Napas Aluna tertahan.

Dan Arsen melanjutkan dengan suara rendah.

“Bukan sebagai CEO. Bukan orang kaya. Bukan pewaris perusahaan.”

Tatapan laki-laki itu lurus ke matanya sekarang.

“Kamu lihat saya sebagai Arsen.”

Dada Aluna langsung sesak.

Karena dirinya nggak pernah sadar hal sesederhana itu bisa berarti besar untuk seseorang seperti Arsen.

“Saya capek hidup di dunia yang semuanya palsu.”

Suara laki-laki itu makin pelan.

“Tapi waktu sama kamu… saya ngerasa tenang.”

Air mata Aluna hampir jatuh lagi.

Karena malam ini Arsen terlalu jujur.

Terlalu terbuka.

Dan itu membuat pertahanannya perlahan runtuh.

Namun sebelum dirinya sempat bicara—

ponsel Arsen kembali bergetar.

Daniel.

Arsen langsung mengangkatnya.

“Ada apa?”

Namun beberapa detik kemudian—

raut wajah laki-laki itu langsung berubah dingin.

“Apa?”

Aluna langsung tegang.

“Ada apa?”

Arsen perlahan menurunkan ponselnya.

Tatapannya berubah tajam.

“Rumah ibu kamu didatengin orang.”

Tubuh Aluna langsung membeku.

“Apa?!”

“Mereka nggak masuk.”

Nada suara Arsen rendah.

“Tapi ada dua mobil berhenti depan rumah dari tadi.”

Napas Aluna langsung kacau.

“Aku harus pulang sekarang!”

Perempuan itu langsung berdiri panik.

Namun Arsen buru-buru menahan tangannya.

“Tenang.”

“Gimana aku bisa tenang?! Itu Mama aku!”

“Ada bodyguard saya di sana.”

“Tapi tetap aja—”

“Luna!”

Nada suara Arsen sedikit naik untuk pertama kalinya malam itu.

Dan Aluna langsung diam.

Laki-laki itu memegang wajahnya pelan.

Tatapannya serius banget.

“Saya ngerti kamu takut.”

Napas Arsen terdengar berat.

“Tapi jangan panik dulu.”

Untuk beberapa detik Aluna cuma menatap mata laki-laki di depannya.

Dan anehnya…

di tengah semua kekacauan ini, dirinya masih merasa aman saat bersama Arsen.

Namun rasa aman itu justru bikin dirinya makin takut kehilangan.

“Aku nggak mau Mama kenapa-kenapa…”

Suara Aluna mulai pecah lagi.

Arsen langsung memeluknya perlahan.

“Saya janji nggak akan ada yang nyentuh keluarga kamu.”

Kalimat itu terdengar begitu tegas.

Begitu yakin.

Namun entah kenapa…

Aluna justru makin merasa dirinya harus pergi.

Karena selama dia tetap berada di sisi Arsen—

semuanya akan terus jadi target.

---

Pukul tiga pagi.

Arsen akhirnya tertidur sebentar di sofa ruang kerja setelah seharian menghadapi media dan masalah perusahaan.

Sedangkan Aluna berdiri diam di depan pintu sambil menatap laki-laki itu.

Matanya perlahan memanas.

Karena bahkan saat tidur pun wajah Arsen masih terlihat lelah.

Dan semua itu gara-gara dirinya.

Perlahan Aluna berjalan mendekat.

Tatapannya turun ke tangan Arsen yang masih penuh luka kecil akibat pecahan kaca tadi.

Dadanya langsung terasa nyeri.

Laki-laki ini terus melindunginya.

Terus berdiri di depannya.

Sampai melawan keluarganya sendiri.

Namun apa balasan yang dirinya kasih?

Masalah.

Skandal.

Ancaman.

Aluna menutup mulutnya pelan menahan tangis.

Lalu perlahan…

perempuan itu mengambil keputusan.

Keputusan yang sejak tadi terus menghantuinya.

Pergi.

Kalau dirinya pergi, semua mungkin akan membaik.

Arsen nggak perlu terus dihancurkan media.

Keluarganya nggak akan diancam lagi.

Dan hidup laki-laki itu mungkin bisa kembali normal.

Meski sakit…

ini mungkin satu-satunya cara.

Dengan tangan gemetar, Aluna mulai menulis surat kecil.

“Aku minta maaf…”

Air matanya jatuh di atas kertas.

“Aku terlalu takut jadi alasan semua orang yang aku sayang terluka.”

Tangannya makin gemetar saat menulis kalimat berikutnya.

“Terima kasih udah bikin aku merasa dicintai.”

Tangisnya pecah diam-diam.

Karena bahkan menulis itu saja sudah terasa menyakitkan.

Namun dirinya tetap melanjutkan.

“Dan maaf… aku nggak cukup berani buat tetap tinggal.”

Setelah selesai, Aluna menaruh surat itu di meja dekat sofa.

Lalu perlahan menatap Arsen sekali lagi.

Dadanya terasa sesak sampai sulit bernapas.

Karena dirinya sadar…

dia benar-benar nggak mau pergi.

Namun ketakutan mengalahkan segalanya malam ini.

Perlahan Aluna mengambil tasnya.

Lalu berjalan menuju pintu penthouse dengan langkah pelan.

Sunyi.

Hanya suara hujan di luar yang terdengar samar.

Tangannya mulai gemetar saat menyentuh gagang pintu.

Namun tepat sebelum pintu terbuka—

suara berat Arsen tiba-tiba terdengar dari belakang.

“Kamu mau ke mana?”

Tubuh Aluna langsung membeku total.

1
Vee
Semangat terus ya thor
Kami tunggu kelanjutan nya💪💪💪💪
Vee
Kerennnnn👍👍👍👍
Vee
Semangat thor
Kami tunggu lanjutan nya
kentos46: terima kasih kak vee, bab selanjutnya dibikin khusus kakak kakak semua yang mengikuti alur cerita🔥
total 1 replies
Titien Prawiro
lanjut
kentos46: hahaha iyaa kak Titien, ini lagi buat kelanjutannya
ikuti terus kelanjutan kak biar makin semangat up bab selanjutnya
total 1 replies
Titien Prawiro
Kasihan Aluna dibuat petang saudara
Titien Prawiro
Ini pasti mantan ceweknya Arsen
kentos46: Betul banget kak! kemunculannya emang sengaja bikin gregetan, tapi tenang aja, Aluna yang sekarang udah gak bakal tinggal diam kok kalau harga dirinya diinjak-injak.
pantau terus ya kak!
total 1 replies
Titien Prawiro
Aluna kenapa gk nyebarin fotonya Bima waktu di Hotel dia tdr sama wanita lain?
kentos46: Wah, makasih banyak ide plotnya kak Titien! Kebetulan banget di bab bab depan Aluna emang bakal mulai mode badass dan pakaii bukti-bukti yang dia punya buat counter attack. siap siap puas ya kak pas ngeliat mereka kena batunya.🔥
total 1 replies
Titien Prawiro
Semakin asyik membacanya. tegang thor lanjut
Titien Prawiro
Menarik.
kentos46: haha makasih kakak😄
total 1 replies
Vee
Mantap thor
Semangat terus up nya ya thor
Kita nggak baca
kentos46: hahaha iyaa kakak makasih sudah membaca, jganlup kasih saran jugaa yaa👍😄
total 3 replies
Vee
Up yg bnyak dong thor🙏🙏🙏
Vee: Makasih udah up
Semangat ya thor
Semoga up nya lebih bnyak lagi
total 3 replies
Vee
Up lagi dong thor
Cerita nya seru sekali
Vee: Cerita seru semua nngak sabaran up
total 2 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
MayAyunda
keren kak👍👍
kentos46: makasih kak kalau sukaa 😍
total 1 replies
Suhirno Cilok
Lanjut.👍
kentos46: sudahh yaa kak
total 1 replies
kentos46
makasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak yaa
kentos46
punya cerita lain ga kak
Clarice Diane
semangat kak💪
kentos46: makasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!