Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
013~ Zhou Lian
Lin Xia Mei terus berjalan mengelilingi etalase yang memajang jarum dengan berbagai ukuran.
"Apakah aku harus menjadi ahli akupuntur palsu untuk membuat Zhu Chen marah? Hihi."
Lin Xia Mei membayangkan jarum-jarum tajam itu menancap di kepala Zhu Chen tanpa beraturan, bukannya mengobati malah merusak titik akupuntur lainnya. Lin Xia Mei terkekeh pelan kemudian melanjutkan kegiatannya.
Setelah memilih peralatan dan bahan yang dibutuhkan, ia segera ke kasir untuk membayar.
"Wah, ini alat dan bahan untuk menyulam. Anda suka menyulam?" tanya petugas kasir.
"Iya, tapi masih tahap belajar."
"Oh, bagus-bagus. Gadis zaman sekarang sudah jarang yang minat dengan kerajinan seni menyulam."
"E-Eh gadis," Lin Xia Mei tersenyum malu. Di usianya yang sudah hampir kepala tiga namun tetap terlihat seperti gadis muda adalah impiannya.
...****************...
"Kak, kita selanjutnya kemana?" tanya Supir.
"Ke pantai, aku butuh pemandangan indah." jawab Lin Xia Mei sembari memasang sabuk pengaman.
Mobil pun melaju dan berhenti saat lampu merah menyala. Baru saja Lin Xia Mei bersandar di kursi mobil dan mencari posisi nyaman, sebuah ketukan di kaca sebelahnya membuyarkan kenyamanan.
Matanya terbelalak melihat siapa yang mengetuk, itu adalah Wei Zhu Chen yang mengetuk keca mobil dengan posisi masih di dalam mobilnya sendiri.
Supir pun membuka tanpa curiga, berpikir mungkin ada hal penting. Lin Xia Mei segera memasang wajah datar dan bosan ketika kaca terus bergerak menurun dan memperlihatkan wajahnya.
"Nyonya Lin, sebaiknya kau ikut denganku." kata Wei Zhu Chen, nadanya terdengar sedang mengancam.
Lin Xia Mei menoleh dan menatap malas.
"Mau naik mobil siapa itu terserah padaku, Tuan Wei. Tidak perlu mengaturku."
Wei zhu Chen mengepalkan tangan, kesal karena penolakan istrinya.
"Kau, jalankan mobilnya sekarang. Jangan pedulikan orang itu." titah Lin Xia Mei pada supir.
"Baik,"
Mobil melaju mendahului mobil Wei Zhu Chen.
"Kau tahu jalan pintas disini?" tanya Lin Xia Mei.
"Tentu saya tahu."
"Lewat sana. Pastikan orang tadi tidak bisa mengikuti kita."
"Tapi..."
"Aku bayar double. Bagaimana?"
"Setuju!"
Berhubung supir grab car-nya sudah profesional dalam mengemudi dan hafal seluruh seluk-beluk jalan disini, ia pun berhasil meloloskan diri. Wei Zhu Chen memukul stir mobilnya karena kesal kehilangan jejak. Pikirannya sudah berkelana, membayangkan yang tidak-tidak.
"Lin Xia Mei, kau semakin berani!" gerutunya.
Sesampainya di pantai...
Lin Xia Mei turun dari mobil, senyumnya terlukis ketika angin laut menyapanya. Ia tidak berkata apapun, hanya tersenyum seolah menemukan ketenangan yang langka.
"Siapa namamu?" tanya Lin Xia Mei.
"Namaku Zhou Lian, kak."
Lin Xia Mei mengangguk pelan.
"Namamu lebih enak didengar daripada nama pria tadi." pujinya.
Zhou Lian tersenyum.
"Terima kasih pujiannya, Kak." ucapnya ramah.
Lin Xia Mei berjalan hingga ke bibir pantai, beruntung pengunjung tidak terlalu ramai, ia jadi bisa berekspresi sesukanya. Ia melepas Heels-nya dan merasakan pasir lembut bercampur air laut.
Senyumnya kembali merekah saat air laut mengenai jari kakinya, rasanya sangat indah dan menyenangkan. Lin Xia Mei berjalan menciptakan jejak kaki di atas permukaan pasir yang basah, ia berjalan lalu perlahan berlari kecil sambil tertawa kecil.
Zhou Lian tersenyum kecil seperti melihat anak kecil yang sedang bermain.
"Bao!" panggilnya menggunakan suara hati.
Bip.
"Bao disini, inang."
"Bao, lihat. Ini sangat menyenangkan!" kata Lin Xia Mei sambil menunjukkan hamparan laut biru dan jejak kakinya.
"Bao, lihat itu juga, ada batu-batu indah. Sangat memanjakan mataku."
Bao tersenyum.
"Inang, tingkat stressmu menurun drastis setelah kemari." ujar Bao.
"Tentu! Akhirnya aku melihat pemandangan alam yang sangat indah ini."
"Inang, ini adalah pantai yang melambangkan keromantisan."
"Oh..."
"Selain menyuguhkan pemandangan alam yang indah luar biasa, pantai ini sering digunakan untuk keperluan foto prewedding."
"Di duniaku juga ada pantai ini, tapi aku belum pernah mengunjunginya. Aku sibuk mencari uang, hihi."
"Ini adalah pilihan yang bagus, inang."
"Benar, Bao. Zhou Lian memang pandai memilihkan pantai yang bagus."
Bao melihat ke arah Zhou Lian yang berdiri di kejauhan sana.
"Inang, kau menciptakan tokoh sampingan yang baru."
"Eh..." Lin Xia Mei terkejut.
"Apakah dia memiliki potensi muncul lebih banyak?" tanya Lin Xia Mei.
"Bao mendeteksi ada yang tumbuh di hatinya."
Senyum Lin Xia Mei memudar.
"Bao, maksudmu sesuatu yang tumbuh itu rasa suka?"
Bao mengangguk.
"Matilah aku, Bao. Wei Zhu Chen akan menghabisiku kalau sampai tahu ada yang menyukaiku saat ini."
"Ya, obsesinya masih ada dan akan menghabisimu, inang."
Lin Xia Mei terduduk lemas, ia membayangkan akan mati dicekik oleh Wei Zhu Chen. Saat ini tingkat rasa sukanya masih 70%, tentu cemburu dan obsesi masih ada.
"Habislah akuuu~"
"Inang, toko di sistem sudah terbuka. Kau sudah bisa membelinya dengan menukar poin."
Lin Xia Mei memicingkan mata.
"Bao? Yang benar saja? Berapa poinku?"
"Inang, poinmu masih imut. Nol."
"Aakhhhhh! Patah hatiku." Lin Xia Mei meremas dada kirinya.
"Inang, kau bisa mendapatkan poin dengan cara berbuat jahat pada orang-orang sekitar, bisa tetangga atau acak."
Lin Xia Mei memasang wajah lelah.
"Aku sudah jadi tokoh jahat bagi Wei Zhu Chen dan Wei Ji Xiang, Bao. Huhu, dan sekarang aku akan benar-benar jadi tokoh antagonis bagi seluruh orang di dunia ini? Aakhhh!"
"Inang, jangan lupa. Jika berkomunikasi dengan Bao di tempat umum lebih baik menggunakan suara hati." kata Bao sambil tersenyum.
"Ya ya ya, aku ingat."
"Inang! Tokoh sampingan baru sedang berlari ke arahmu."
Lin Xia Mei memukul jidatnya pelan.
"Kak, apakah anda baik-baik saja?" tanya Zhou Lian tampak khawatir pada Lin Xia Mei.
"Ya, aku baik-baik saja." jawabnya dengan senyum lelah dan terpaksa.
"Matahari semakin terik, sebaiknya anda bernaung."
"Tidak perlu, aku mau pulang saja."
"Baiklah.."
Lin Xia Mei berdiri dan berjalan dengan enggan. Kepalanya sedang pusing mendadak.
"Maaf jika pertanyaanku lancang. Siapakah nama anda?" tanya Zhou Lian.
"Lin Xia Mei. Bukankah sudah ada di aplikasi?"
Zhou Lian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"O-Oh iya, aku lupa." Zhou Lian langsung gugup.
"Aku tidak boleh membuatnya semakin ingin mendekatiku, bisa mati muda aku." batin Lin Xia Mei.
"Ah, padahal Nona Lin juga sudah tahu namaku di aplikasi, tapi dia masih bertanya. Sekarang aku melakukan hal yang sama tapi malah membuat Nona Lin merasa kesal." batin Zhou Lian.
"Gadis cantik memang unik." lanjutnya sambil tersenyum kecil.
Setelah masuk ke dalam mobil, Lin Xia Mei langsung memejamkan mata, memikirkan cara agar tidak mati hari ini juga.
"Kak Lin, apakah ada yang tidak nyaman?" tanya Zhou Lian.
"Inang, jangan sampai ada tokoh lain yang tertarik padamu untuk saat ini." saran Bao.
"Mobilmu jelek, tidak nyaman." jawab Lin Xia Mei dengan nada malas. Jawaban tersebut berhasil membuat Zhou Lian merasa tidak percaya diri.