Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERCAYA PADA RASA
Malam itu, suasana di markas terasa jauh lebih berat setelah kunjungan Aditama Atharrazka. Meskipun angin badai sudah mereda, ketegangan di paviliun justru meningkat. Keyra duduk di sofa ruang tengah, pura-pura fokus membaca jurnal medis di tabletnya, namun matanya terus melirik ke arah pintu ruang kerja Ghazali yang tertutup rapat sejak kepulangan ayahnya tadi siang.
Ziva sudah tidur lebih awal, kelelahan setelah seharian mengurus administrasi klinik yang berantakan. Akhirnya, suara pintu terbuka memecah kesunyian. Ghazali keluar, tidak lagi mengenakan seragam kebesarannya, melainkan hanya kaus hitam dan celana kargo. Wajahnya tampak sangat lelah, garis-garis ketegasan di rahangnya sedikit melunak oleh bayang-bayang kesedihan.
---
Ghazali berjalan menuju dapur, menuangkan air minum dengan gerakan yang mekanis. Ia sempat melirik Keyra yang masih terjaga. "Belum tidur? Besok jadwal kunjungan lapangan ke desa terpencil di balik bukit. Kamu harus fit."
"Bagaimana saya bisa tidur kalau Kapten terlihat seperti sedang memikul seluruh beban markas di pundak sendirian?" sahut Keyra pelan. Ia meletakkan tabletnya dan memberanikan diri mendekat ke konter dapur.
Ghazali terdiam, menatap air di gelasnya seolah-olah itu adalah satu-satunya hal menarik di dunia ini. "Ayahku... dia tidak pernah mengerti. Baginya, segala sesuatu adalah investasi. Bahkan anak-anaknya sendiri."
"Termasuk Maya?" pancing Keyra dengan sangat hati-hati.
Ghazali menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat akan penyesalan bertahun-tahun. Ia menarik kursi makan dan duduk, mengisyaratkan Keyra untuk melakukan hal yang sama. Malam ini, si Kulkas Dua Pintu tampaknya butuh seseorang untuk mendengar, bukan sekadar mematuhi perintahnya.
"Maya itu berbeda dariku. Dia lembut, dia suka melukis, dan dia sangat menyayangi Ayah meskipun Ayah jarang punya waktu untuknya. Hari itu, dia ingin pameran lukisan pertamanya dihadiri olehku. Tapi Ayah menahanku di London untuk negosiasi kontrak. Aku menuruti Ayah karena kupikir pameran itu bisa menunggu," Ghazali menjeda, matanya tampak berkaca-kaca terkena pantulan lampu dapur. "Di tengah jalan menuju pameran, mobilnya ditabrak truk rem blong. Ayah melarangku pulang saat Maya masih di ruang kritis karena kontrak belum ditandatangani. Saat aku akhirnya tiba... Maya sudah tidak ada. Dia meninggal membawa rasa kecewa karena kakaknya tidak datang."
Keyra merasakan dadanya sesak. Ia secara refleks mengulurkan tangan, menyentuh lengan bawah Ghazali yang berotot. "Itu bukan salahmu, Ghazali. Kamu juga korban dari ambisi orang lain."
Ghazali menatap tangan Keyra yang menyentuhnya, lalu beralih menatap mata gadis itu. "Kenapa kamu membela saya tadi siang? Kamu bisa saja tetap di klinik dan aman dari amukan Ayah. Dia orang yang berbahaya, Keyra. Dia bisa menghancurkan karier magangmu hanya dengan satu telepon."
"Karena saya tidak peduli pada karier kalau harganya adalah melihat orang baik diinjak-injak," jawab Keyra mantap, matanya berbinar penuh kejujuran. "Dan mungkin... karena saya tidak suka melihat Kapten saya sedih."
Suasana mendadak berubah. Udara di dapur itu terasa lebih hangat dan intens. Ghazali tidak menarik lengannya, justru ia memutar tangannya sehingga jemarinya kini bertautan dengan jemari Keyra di atas meja. Ini bukan lagi hubungan antara atasan dan bawahan, atau pasien dan tenaga medis.
"Kamu adalah gangguan terbesar yang pernah saya temui di markas ini, Keyra Azzahra," bisik Ghazali, suaranya kini serak dan rendah. "Kamu berisik, ceroboh, dan selalu membantah perintah saya."
"Lalu kenapa Kapten tidak mengusir saya ke tenda darurat saja?" tantang Keyra, suaranya hampir hilang karena jantungnya berdegup kencang.
Ghazali menarik tangan Keyra sedikit lebih dekat, hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa inci. Aroma maskulinnya bercampur dengan wangi sabun yang segar membuat Keyra pening. "Karena setiap kali kamu tidak ada di depan mata saya, saya justru merasa markas ini jauh lebih sepi daripada biasanya."
Keyra terpaku. Pengakuan itu lebih kuat daripada ledakan granat saat latihan tempur. Ia menyadari bahwa rasa kagum yang selama ini ia tepis, kini telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia jatuh cinta pada pria kaku di depannya ini.
Tepat saat Ghazali mencondongkan tubuhnya, seolah ingin mengatakan sesuatu yang lebih pribadi, radio pangkalan di pinggang Ghazali mendadak berderit keras.
"Izin, Kapten Ghazali! Laporan darurat dari Desa Sukamaju! Terjadi longsor susulan akibat rembesan air badai semalam. Ada beberapa warga yang tertimbun dan akses jalan terputus total! Mohon instruksi!"
Seketika, mode romantis itu buyar. Ghazali langsung berdiri, matanya kembali tajam dan siaga. Ia menyambar radionya. "Diterima! Siapkan tim SAR dan tim medis lapangan sekarang juga! Saya akan turun ke lokasi dalam sepuluh menit!"
Ghazali menoleh pada Keyra. "Siapkan tas medismu. Kali ini, ini bukan latihan. Ini tugas nyata. Kamu ikut dengan saya."
Keyra berdiri dengan tegap, rasa gugupnya berganti dengan adrenalin. "Siap, Kapten!"
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....