Tara, Si gadis ceria yang jatuh cinta kepada ketua osisnya pada pandangan pertama.
Ketua OSIS itu bernama Andre syahreza, laki laki itu memiliki sifat dingin dan datar sehingga membuat Tara kesulitan mendekatinya.
Lantas bagaimana kisah mereka akan terjalin?, ikuti kisah mereka disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. kim22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tara
Bel masuk berbunyi tepat pada pukul 8:00, para siswa dan siswi dari kelas 10 sampai kelas 12 berbondong bondong masuk ke dalam kelas masing masing.
Aku sendiri saat ini sudah berada di dalam kelas bersama Salma, kami sedang berdiskusi tentang pr yang akan kami kumpulkan nanti pada jam kedua.
"Btw, tadi gue lihat lo habis dari ruang osis, ngapain lo?." Salma menatapku dengan penuh tanya, haruskah aku jujur saja ya pada salma, siapa tahu dia bisa membantuku.
"Iya, tadi gue abis dari ruang osis." Aku akhirnya memilih untuk jujur saja, karena kalau dia tahu dengan sendirinya bukan atas kejujuranku sendiri,sudah pasti dia akan merajuk dan tidak akan mau bicara padaku.
"Ngapain?." Salma mengerutkan dahinya semakin penasaran menanti jawabanku.
"Gue habis nemuin seseorang hehe." Aku terkekeh geli mengingat keberanianku tadi pagi di hadapan kak Andre.
"Siapa?, lo punya pacar anggota osis ya." Salma semakin mendekatkan wajahnya ke arahku, jangan lupakan matanya yang memincing tajam penuh kecurigaan.
"Belum jadi pacar, masih calon, doain aja yang terbaik." Aku mendorong wajah salma agar tidak terlalu dekat dengan wajahku setelah menyelesaikan kalimatku.
"Wahhhh....siapa orang yang beruntung itu." Salma menatapku dengan mata berbinar dan juga senyum yang sangat lebar.
"Sini." Aku menyuruh salma mendekatkan telinganya, dan dia dengan patuh langsung mendekat.
"Kak andre." bisikku dengan suara yang begitu pelan, takut takut ada yang denger.
"Hah." Salma berkedip seolah mencerna ucapanku, mulutnya terbuka dengan lebar seolah menyambut lalat masuk ke dalam sana.
"What...." Salma memikik setelah beberapa detik terdiam seperati patung.
Aku menutup kedua telingaku yang seketika berdengung karena cemprengnya suara Salma,anak anak di dalam kelas seketika menoleh ke arah meja kami.
"Hehe, sorry guys." Aku tersenyum kikuk dan meminta maaf kepada teman teman yang kaget karena pekikan salma.
"Gak usah teriak bangke." Aku menatap Salma dengan tajam, malu banget sumpah, untung saja tidak ada yang marah dan kesal.
"Gue kaget, sumpah gak espek." Salma menatapku dengan tatapan tidak percaya, dia tedengar menghela napas selama beberapa kali.
"Ternyata selera lo yang sedikit menantang ya, good job, semoga sukses luluhin gunung es." Salma menepuk nepuk pundakku sambil mengangguk mantap memberikan dukungan penuh.
"Thanks sal." Aku menatap salma dengan penuh haru, aku bersyukur memiliki sahabat seperti salma yang selalu tulus dan selalu mendukungku setiap saat.
Tidak lama kemudian, guru untuk pelajaran pertama akhirnya masuk ke dalam kelas,suasana kelas yang tadinya bising, kini menjadi hening,semua menatap ke depan ke arah pak guru berada
***********
Dua jam kemudian.....
Setelah dua jam lamanya, bell tanda istirahat akhirnya berbunyi, para siswa dan siswi segera keluar dari dalam kelas untuk mengisi perut.
"Yuk kantin." ucap Salma sambil menatapku, dan akupun mengangguk
Kami berdua berjalan sambil sesekali saling menggoda sehingga kami terus tertawa sepanjang jalan menuju kantin.
"Eh..itu kak Andre lagi main basket ra." Salma tiba tiba berhenti sambil menunjuk lapangan tempat anak kelas 11 ipa sedang bermain basket.
Sepertinya mereka sedang mengambil nilai sehingga sampai sekarang belum selesai, aku menoleh ke arah tunjuk Salma, dan benar saja kak Andre saat ini sedang mendribble bola menuju keranjang.
"Oke stop, sudah cukup untuk hari ini." Pak kasim yang merupakan guru olahraga memberikan intruksi untuk segera berhenti.
Aku dan salma diam di tepi lapangan bersama beberapa anak anak yang lain untuk sekedar melihat para kakel yang sedang berolah raga.
Setelah beberapa saat, anak anak cewek membubarkan diri, sedangkan para cowok melanjutkan permainan mereka, termasuk kak Andre.
"Wishh...mantep banget cara main kak Andre." Seorang siswi yang berada di belakang kami memuji kelincahan kak Andre bermain basket.
"Bau bau banyak saingan nih." Ucap salma berbisik di telingaku sambil terkekeh geli.
Aku membuang napas dengan kasar,baru juga mulai udah ada aja satu saingan muncul, gak mood banget dah kalau kayak gini.
"Dah ah ayo ke kantin haus gue." Aku dengan kesal menyeret salma melewati lapangan untuk segera menuju kantin, udah gak mood nonton soalnya para pesaing sudah mulai menampakkan diri satu persatu.
Aku berjalan sambil menggerutu, sedangkan salma hanya terkikik geli di belakang tubuhku, sepertinya dia merasa begitu puas melihatku yang kesal sendiri.
"Awas...."
Saat kami hampir saja melewati tepi lapangan,tiba tiba terdengar suara teriakan yang membuat aku dan salma menoleh.
Aku dan salma melotot melihat sebuah bola sedang melayang ke arah kami, ingin menghindar sudah terlambat dan pada akhirnya...
Duk..
Bola basket itu mengenai kepalaku dengan keras hingga aku terduduk, kepalaku terasa begitu pusing dan yapss aku akhirnya pingsan karena syok sekaligus pusing banget.
Entah apa yang terjadi setelah itu,aku tidak merasakan apa apa lagi , semuanya menggelap dan hening.
"Eunghh..." Aku melenguh begitu tersadar dari pingsanku.
Entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri, tiba tiba sekarang aku sudah berada di uks seorang diri.
"Ehh kamu sudah sadar ya." Aku menoleh ke arah seseorang berbicara padaku.
Di lihat dari penampilannya, sepertinya dia adalah dokter khusus yang bertugas di uks.
"Teman kamu sedang mengambil tas ke kelas, tunggu sebentar sambil saya periksa ya." Dokter itu menjelaskan kebingunganku, dan sepertinya aku pingsan cukup lama karena sekarang sudah waktunya pulang.
Dokter memeriksaku sebentar, setelah itu dia memberikan aku obat untuk mengobati benjolan pada dahiku.
Beberapa menit kemudian, salma akhirnya datang sambil membawa tasku di tangannya, tapi salma tidak sendiri, dia datang bersama Adit dan dika yang terlihat khawatir dengan keadaanku.
"Ra, sumpah akhirnya lo bangun juga." ucap dika dengan lega, sepertinya mereka begitu khawatir haha, beruntung banget Punya sahabat yang kayak mereka ini, meskipun rada rada gila tapi tetap peduli.
"Gue pingsan berapa lama." Aku menatap ketiga sahabatku dengan penuh tanya.
"lo pingsan lima jam anjir, kita sampai khawatir banget liat lo gak bangun bangun." Salma menjawab pertanyaanku dengan mata berkaca kaca.
Aku baru sadar matanya sedikit memerah, sepertinya dia habis menangis karena khawatir melihat aku yang tak kunjung bangun.
"Gue pusing banget sampai sekarang." Aku memjiat kepalaku yang masih terasa begitu pening, sumpah kalau di ingat rasanya sakit banget pas bola itu mengenai kepalaku.
"Ya udah gue pijitin sebentar ya baru kita pulang." Salma segera duduk di sampingku dan dengan lembut memijat kepalaku.
Adit dan Dika dengan sabar ikut menunggu kepalaku sedikit baikan,keduanya memlih duduk di luar agar tidak ada yang berpikir macam macam dengan kami ber 4.
Ketika aku sedang menikmati pijitin Salma, seseorang tiba tiba masuk dengan raut wajah merasa bersalah.
tapi knp munculnya lagi momen begini