NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:919
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Matahari sudah tinggi, namun di dalam kamar kecil itu, suasana masih terasa sangat tenang dan hangat. Biasanya, Genesis adalah orang yang paling pertama bangun, siap-siap sendiri, dan langsung berangkat kerja tanpa banyak bicara.

Tapi hari ini, dan hari-hari belakangan ini, semuanya berubah total.

“Gen… ayo bangun. Sudah jam sembilan lho. Nanti kamu telat masuk kerja,” suara lembut itu terdengar lagi, diikuti dengan sentuhan tangan yang mengguncang pelan bahu tubuh kekar itu.

Genesis hanya mendengus malas, matanya masih terpejam rapat. Ia justru membalikkan badan, mendekatkan tubuhnya ke arah sumber suara, lalu menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya.

“Lima menit lagi, Lex… Ngantuk banget…” gumamnya parau, suaranya berat dan serak khas orang baru bangun tidur.

“Nggak boleh! Ayo bangun! Air hangatnya sudah siap, sarapannya juga sudah matang. Kalau kamu telat, nanti bos kamu marah,” bujuk Alexa lagi, tangannya kini beralih mengusap-usap punggung tangan Genesis dengan lembut.

Gerakan itu justru membuat Genesis semakin betah di tempatnya. Ia membuka sebelah matanya sedikit, menatap wajah Alexa yang ada di dekatnya dengan tatapan mengantuk namun penuh sayang.

“Gue nggak peduli bos marah atau enggak,” jawab Genesis santai, lalu tiba-tiba ia menarik tangan Alexa agar ikut duduk lebih dekat. “Yang penting gue mau bangunnya sama lo. Kalau lo nggak bangunin, gue males bangun seharian.”

Alexa terkekeh pelan, meski jantungnya berdegup kencang melihat tingkah laki-laki itu yang berubah drastis. “Ih, kamu ini ya! Dulu kan mandiri banget, apa-apa sendiri. Sekarang kok jadi manja banget sih?”

Genesis justru tersenyum lebar, menampakkan lesung pipinya. “Karena sekarang ada lo. Kenapa gue harus susah-susah sendiri kalau ada lo yang mau bantuin gue? Kenapa gue harus keras-keras sendiri kalau ada lo yang mau lembutin gue?”

Ia menggenggam tangan Alexa, membenamkan wajahnya ke telapak tangan gadis itu, menghirup aroma yang begitu menenangkan.

“Tangan lo tuh magic tau nggak? Kalau gue pegang tangan lo, rasanya semua capeknya, semua pusingnya, ilang semua. Rasanya tenang banget.”

Alexa menatap wajah anaknya yang kini terlihat begitu polos dan rapuh. Hatinya meleleh. Rasa sayang sebagai seorang ibu memuncak kembali. Ia tahu ini salah, ia tahu Genesis mulai melihatnya sebagai wanita, bukan lagi sebagai bayangan ibu, tapi melihat anaknya bergantung padanya seperti ini… rasanya begitu memuaskan jiwanya.

“Yaudah, ayo bangun sekarang. Mandi ya, nanti badanmu pegal semua kalau kelamaan tidur,” kata Alexa lembut, mencoba bangkit.

Namun tangannya langsung ditarik kembali oleh Genesis dengan kuat.

“Jangan pergi dulu!” seru Genesis cepat, matanya kini terbuka lebar, ada sedikit panik di sana. “Temenin gue dulu. Duduk sini.”

Alexa kembali duduk di tepi kasur. “Iya, aku di sini. Mau apa lagi?”

Genesis menggeser tubuhnya, mendekat hingga kaki mereka bersentuhan. Ia menatap Alexa lekat-lekat, wajahnya tampak sangat serius.

“Lex, gue ngerasa aneh akhir-akhir ini,” ucapnya pelan.

“Aneh gimana?”

“Gue jadi nggak bisa jauh dari lo. Serius. Tadi pagi aja pas gue bangun terus nggak langsung liat muka lo, rasanya hari ini bakal hancur gitu aja,” cerita Genesis jujur, tangannya tidak lepas dari genggaman tangan Alexa. “Pas gue lagi kerja, tangan gue rasanya gatal pengen megang sesuatu… ternyata yang gue butuhin itu tangan lo.”

“Pas gue lagi makan, rasanya hambar kalau nggak ada lo yang ngeliatin gue makan. Pas gue tidur, gue harus ngerasa ada lo di sekitar gue, baru gue bisa tidur nyenyak.”

Genesis menghela napas panjang, lalu menatap mata Alexa dalam-dalam.

“Gue jadi bergantung banget sama lo, Lex. Gue jadi kayak anak kecil yang nggak bisa lepas dari ibunya. Lo kesel nggak? Lo risih nggak liat gue jadi lembek gini?”

Pertanyaan itu membuat dada Alexa terasa sesak dan hangat sekaligus. Air matanya hampir tumpah lagi.

Anakku… kamu memang anak kecil buat Ibu. Kamu memang ketergantungan sama Ibu. Itu hal yang wajar.

“Nggak kok,” jawab Alexa dengan suara lembut, ia mengusap kepala Genesis dengan sayang, membelai rambut hitam legam itu. “Aku nggak kesel, aku nggak risih. Aku malah… aku malah seneng.”

“Seneng?” Genesis mengerutkan kening.

“Iya. Seneng karena kamu percaya sama aku. Seneng karena kamu butuh aku,” kata Alexa, matanya berbinar penuh emosi. “Laki-laki itu kan biasanya gengsi buat nunjukin rasa butuhnya. Tapi kamu berani bilang ke aku. Itu tandanya kamu nyaman, kan?”

Genesis mengangguk cepat. “Iya banget. Gue nyaman banget. Gue ngerasa aman banget sama lo. Gue ngerasa… lo itu tempat pulang gue. Lo itu rumah gue.”

Ia mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di depan wajah Alexa.

“Jangan bosen ya ngadepin gue yang makin manja ini. Jangan nyerah ya ngurusin gue. Karena kalau lo ninggalin gue sekarang… gue nggak tau bakal jadi kayak apa. Gue rasa gue bakal hancur lagi. Gue rasa gue nggak bisa hidup kayak dulu lagi.”

“Gue udah terbiasa sama kehadiran lo, Lex. Gue udah terbiasa dimanja lo. Gue udah terbiasa sayang sama lo.”

Alexa menutup matanya sejenak, menahan air mata agar tidak jatuh.

“Aku janji, Gen. Aku nggak bakal bosen. Aku nggak bakal ninggalin kamu. Kamu mau manja sebanyak apa juga, aku terima. Kamu mau bergantung sebanyak apa juga, aku siap jadi sandaran kamu.”

“Beneran?”

“Beneran. Kamu kan… tanggung jawab aku sekarang,” ucap Alexa penuh makna.

Genesis tersenyum lega, senyum yang sangat lebar dan tulus. Ia kembali memeluk lengan Alexa, menempelkan pipinya ke bahu gadis itu dengan perasaan puas dan aman.

“Makasih ya, Lex. Makasih udah ada. Makasih udah mau jadi bagian dari hidup gue yang berantakan ini.”

“Udah, ayo sekarang bangun! Mandi sana! Nanti telat lho!” Alexa mendorong pelan bahu Genesis, mencoba mengalihkan suasana agar tidak terlalu cengeng.

“Oke, oke! Tapi dengan syarat!” Genesis mengangkat satu jari.

“Syarat apa lagi?”

“Lo harus siapin handuknya. Lo harus siapin bajunya. Dan pas gue mandi, lo harus nyanyi di luar biar gue denger suaranya,” tuntut Genesis dengan wajah memelas yang lucu.

Alexa tertawa renyah, gelengan kepalanya tak percaya.

“Wah, jadi raja kecil ya kamu sekarang? Iya-iya, siap! Ayo cepetan!”

Mereka pun akhirnya bangun. Genesis berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang ringan dan semangat. Sebelum masuk, ia menengok ke belakang sekali lagi, menatap Alexa yang sedang sibuk menata baju, dan tersenyum.

Ya, ia memang sudah bergantung. Sangat bergantung.

Ia butuh suara itu, ia butuh sentuhan itu, ia butuh senyuman itu untuk bisa bernapas dengan normal lagi. Dunianya dulu abu-abu, kini berwarna karena Alexa. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menjaga gadis itu dengan nyawanya sekalipun.

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!