Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukun sakti Mbah Sanur
"Silakan masuk, Mbah," sambut Pak Sugeng dengan nada rendah penuh kesopanan. Wajahnya yang kuyu tampak sedikit lega melihat sosok Mbah Sanur berdiri di ambang pintu tepat saat rona merah senja memudar.
Pagi tadi, ke desa seberang demi mencari Mbah Sanur. Namun, sang dukun hanya memberinya tatapan tajam dan memintanya pulang lebih dulu.
"Aku datang saat Magrib tiba, saat batas antara dunia kita dan dunia mereka sedang tipis-tipisnya," begitu pesan Mbah Sanur saat itu.
Kini, Mbah Sanur melangkah masuk membawa aroma kemenyan yang pekat. Matanya yang keruh menyapu setiap sudut ruang tamu.
"Silakan Mbah" Jemput Pak Sugeng.
Pak Sugeng melangkah masuk kedalam rumah Pak Sugeng dengan mulut yang terus komat Kamit membaca mantranya.
"Duduk Mbah." Bu Ranti dengan sopan mempersilakan Mbah Sanur duduk di raung tengah rumahnya.
"Mana anak itu?" Tanya Mbah Sanur langsung.
"Dia ada di dalam kamar Mbah." Ujar Pak Sugeng menunjuk kamar Seno.
"Bawa dia keluar, biar lebih leluasa." Kata Mbah Sanur, meminta agar Seno dibawa keruang tengah saja.
"Baik Mbah." Sahut Pak Sugeng lalu masuk kedalam kamar Seno bersama Bu Ranti untuk membawa Seno keluar.
Seno masih terduduk di sudut kamarnya dengan memeluk lututnya. Tubuh yang berisi kini menyusut kurus. Padahal, baru beberapa hari saja dia sakit seperti itu.
"Le, kita keluar ya." Pujuk Bu Ranti sambil mengusap lembut rambut anaknya itu.
Seno tak bergeming. Ia meringkuk, memeluk lututnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih kaku. Tubuhnya terus bergetar hebat, persis seperti pesakitan yang kehilangan kewarasan di sel isolasi. Matanya yang kini cekung ke dalam tampak gelap dan kosong, namun terus menatap kedepan dengan waspada seolah takut pencabut nyawa menghampirinya.
Setiap kali embusan angin malam masuk melalui celah ventilasi, Seno akan tersentak kaget dan semakin menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Pakaian yang dikenakannya sudah lusuh dan berbau, karena sudah berhari-hari dia tidak mengantuk bajunya. Karena setiap kali Bu Ranti ingin membantunya berganti baju, dia pasti akan meraung ketakutan.
Karena tidak mendapatkan respon dari Seno, akhirnya Pak Sugeng dan Bu Ranti memapah Seno menuju ruang tengah.
Setelah Seno duduk di hadapan Mbah Sanur. Mbah Sanur pun mulai mengeluarkan peralatan perdukunan miliknya yang dia bawah.
Mbah Sanur merogoh bungkusan kain hitam di sampingnya, mengeluarkan seekor ayam cemani yang sejak tadi terdiam seolah terhipnotis.
Mbah Sanur memejamkan matanya, kepalanya mulai bergoyang pelan mengikuti irama mantra yang meluncur dari bibirnya. Suara gumaman itu rendah, serak, dan penuh penekanan, menciptakan getaran ganjil yang membuat lampu tiba-tiba meredup.
"Ilining getih dadi rante,
Napas dadi geni sing ngebong jiwamu.
Kowe dudu sopo-sopo ing ngarepku!
Tak giring kowe bali marang neroko bolong.
Yen kowe sudi mati, manggon kene.
Yen kowe wedi mati, NGLUNTRUNG! MINGGATO!" Dengan satu gerakan cepat dan presisi, ia menyembelih leher ayam itu di atas wadah tanah liat. Cairan kental berwarna merah pekat mengucur, mengeluarkan uap tipis yang berbau besi tajam.
Dia lalu mencelupkan dua jarinya ke dalam darah yang masih hangat itu. Ia menyapukan darah tersebut ke dahinya sendiri hingga membentuk garis merah yang mengerikan, lalu dengan sentakan kuat, ia memercikkan sisa darah di jemarinya tepat ke arah wajah Seno.
"Aaaaaakh!" Seno menjerit histeris. Tubuhnya yang semula meringkuk memeluk lutut tiba-tiba terpelanting ke belakang seolah dihantam godam tak kasat mata.
Percikan darah itu tampak mengepul saat menyentuh kulit Seno, seolah-olah kulit pemuda itu adalah lempengan besi panas. Asap kemenyan yang tadi merayap di lantai kini tiba-tiba bergulung, membentuk pusaran yang mengepung tubuh Seno.
Pak Sugeng dan Bu Ranti terlonjak mundur, wajah mereka pias seketika. Bu Ranti menjerit tertahan sambil menutup mulutnya yang bergetar, begitupun Pak Sugeng yang juga kaget dengan apa yang terjadi.
"Sapa kowe?!" suara Mbah Sanur menggelegar.
Bukan menjawab, Seno malah memekik tinggi, suaranya melengking memecah keheningan Magrib. Tubuhnya yang kurus tiba-tiba melenting ke belakang dengan sentakan kasar, membentuk posisi kayang yang mustahil bagi tulang manusia biasa. Suara tulang punggung yang berderak krak-krak memenuhi ruangan, sementara urat-urat hitam menjalar di lehernya yang menegang.
Mantra Mbah Sanur seolah menguap begitu saja. Seno, atau makhluk di dalamnya, justru tertawa mengejek dengan nada parau yang menggetarkan kaca jendela. Perlahan, kepalanya mulai berputar, melintasi bahu hingga menghadap tepat ke arah Pak Sugeng dan Bu Ranti dengan sudut 180 derajat. Matanya melotot putih sempurna, tanpa hitam sedikit pun, sementara dari mulutnya mengalir cairan hitam pekat yang berbau anyir darah.
Melihat Seno yang seperti itu, Bu Ranti bergerak mundur kearah suaminya. Bulu kuduknya berdiri. Rasa takut kini mengambil alih dirinya.
Mbah Sanur menggeram, urat-urat di leher rentanya menegang. Melihat arwah itu justru mengejek dengan posisi tubuh yang melintir, ia menyambar mangkuk tanah liat berisi sisa darah ayam dan mencampurnya dengan segenggam serbuk kemenyan merah yang menyala.
"Ojo dadi sombong kowe, letheking jagad!" bentak Mbah Sanur. Suaranya kini pecah.
Ia mulai menghentakkan kakinya ke lantai kayu, menciptakan irama mistis yang membuat seisi rumah bergetar hebat. Kali ini mantranya lebih kuat.
"Sungsang bawono, geni dadi rante kencana!
Tak panggil leluhur sing nunggu gerbang pati,
Sabetno pedangmu, tugelno jimat arwah iki!
BALI! BALI MARANG TEPINING NEROKO!"
Mbah Sanur tiba-tiba menusukkan keris tanpa sarung ke telapak tangannya sendiri. Darahnya menetes, bercampur dengan darah ayam, lalu ia menyemburkannya ke arah Seno yang masih dalam posisi kayang.
Tubuh Seno itu bergetar hebat, tulang-tulangnya berderak keras seolah dipaksa kembali ke posisi semula. Seno melengking kesakitan, matanya yang putih mulai mengeluarkan air mata darah, sementara wajah Mbah Sanur sendiri mulai menggelap, seolah ia sedang mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menelan kekuatan arwah tersebut.
Perlahan, kepalanya yang semula terbalik itu berputar kembali, namun gerakannya patah-patah seperti boneka kayu yang dipaksa bergerak. Matanya yang putih bersih tanpa pupil kini menatap lurus ke arah Mbah Sanur, memancarkan kebencian yang murni.
"Mbah tua... ojo melu-melu!" Suara itu keluar dari mulut Seno, namun bunyinya berlapis-lapis.
"Iki urusanku! Urusane nyawa karo nyawa!"
Makhluk di dalam tubuh Seno itu tiba-tiba merangkak cepat di dinding layaknya cicak, menentang gravitasi, lalu berhenti tepat di plafon di atas kepala Mbah Sanur. Wajahnya menggantung ke bawah, hanya berjarak beberapa senti dari wajah sang dukun. Bau bangkai yang menyengat langsung menyergap indra penciuman semua orang.
Mbah Sanur menyambar segenggam garam kasar yang telah dimantrai, lalu melemparkannya ke arah Seno yang masih merayap di plafon.
Garam itu menyentuh kulit Seno. Arwah di dalamnya melengking murka. Seno terjatuh dari plafon, namun ia mendarat dengan posisi merangkak terbalik, tulang-tulangnya berderak krak-krak-krak, dan langsung menerjang Mbah Sanur
Mbah Sanur tidak gentar. Ia mencabut keris pusakanya, lalu menggigit ujung ibu jarinya hingga berdarah dan mengoleskannya sepanjang bilah besi berluk tujuh itu.
"Kowe ra bakal menang! Iki dudu dunyamu!" bentak Mbah Sanur.
"SAKTIKU SAKTI JATI,
GUMULUNG ANGIN, NYEKEP NYAWAMU!
MANUNGGALO KARO WESI IKI,
OJO METU YEN DURUNG TAK UTUS!"
Mbah Sanur menusukkan gagang kerisnya ke dahi Seno. Tubuh Seno pun mengejang hebat.
Seno perlahan mendekatkan wajahnya yang pucat pasi ke arah telinga Mbah Sanur. Sebuah seringai tipis yang mengerikan tersungging di bibir Seno yang pecah-pecah.
"Utang getih kudu dibayar getih. Utang nyawa... kudu bayar nyawa!" Setelah mengucapkan itu Seno mendadak terbatuk hebat, menyemburkan gumpalan darah hitam ke arah dada Mbah Sanur. Detik berikutnya, tubuh kurus itu ambruk ke lantai seperti tumpukan baju usang yang tak lagi bertulang.