Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Yang Tercuri
Pagi ini, mansion Gemilar diselimuti kabut tipis yang merayap dari perbukitan, seolah-olah alam pun sedang berusaha menyembunyikan dosa-dosa yang terjadi di dalamnya. Shabiya duduk mematung di kursi riasnya. Di belakangnya, seorang wanita paruh baya bernama Bu Lastri —seorang penata rambut yang dikontrak khusus oleh Galen— sedang mengerjakan helai-helai rambut Shabiya dengan ketelitian seorang ahli.
"Tarik sedikit di bagian pelipis, Bu Lastri. Thana tidak suka rambutnya menutupi telinga saat ia sedang berpikir," suara itu datang dari arah pintu.
Galen berdiri di sana, masih mengenakan jubah sutra hitamnya, memegang secangkir kopi yang uapnya mengepul tipis. Matanya tidak beralih dari pantulan Shabiya di cermin. Ia tidak melihat istrinya, ia hanya sedang mengoreksi sebuah lukisan hidup.
Shabiya memejamkan mata. Rasa mual yang ia rasakan semalam di ruang kerja Galen kini telah menetap menjadi rasa jijik yang dingin. "Galen, bisakah kau berhenti melakukan itu?"
"Melakukan apa, Sayang?" tanya Galen pelan, suaranya terdengar sangat tulus, yang justru membuat bulu kuduk Shabiya meremang.
"Berhenti mendikte caraku bernapas," desis Shabiya. "Kau mengatur cara rambutku jatuh, kau mengatur cara aku memegang sendok, kau bahkan mengoreksi intonasi suaraku saat aku memanggil namamu. Aku merasa seperti robot yang sedang kau program."
Galen meletakkan cangkirnya di atas meja marmer dan berjalan mendekat. Ia memberikan isyarat agar Bu Lastri meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Galen meletakkan kedua tangannya di bahu Shabiya. Cengkeramannya lembut, namun memiliki tekanan yang mengisyaratkan bahwa tidak ada ruang untuk negosiasi.
"Aku tidak memprogrammu, Shabiya. Aku hanya sedang menyempurnakanmu," bisik Galen ke arah pantulan mereka di cermin. "Kau memiliki potensi untuk menjadi luar biasa. Keanggunan, ketenangan, aura misterius... itu semua ada padamu. Aku hanya membantu mengeluarkannya."
"Itu semua ada pada Thana! Bukan padaku!" Shabiya berbalik mendadak, membuat tangan Galen terlepas. "Aku adalah Shabiya yang suka tertawa keras, yang suka makan mi instan di pinggir jalan, yang lebih suka memakai jeans robek daripada gaun sutra menyesakkan ini. Kau mencuri identitasku, Galen. Kau menghapusnya perlahan-lahan sampai aku sendiri tidak mengenali suaraku."
Galen tidak marah. Ia justru tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tenang hingga terasa mengerikan. Ia mengambil sebuah tablet dari kantong jubahnya dan menyalakannya. Layar itu menampilkan video lama.
Dalam video itu, terlihat seorang wanita sedang berjalan di sebuah taman. Ia berjalan dengan ritme tertentu, bahunya sedikit miring ke kiri, dan setiap tiga langkah, ia akan menyentuh kalungnya.
"Lihat cara dia berjalan," ucap Galen, seolah-olah mereka sedang mendiskusikan masalah bisnis yang sepele. "Kemarin, saat kita di pesta, kau berjalan terlalu cepat. Kau tampak... terburu-buru. Thana tidak pernah terburu-buru. Dunia yang menunggunya, bukan sebaliknya. Mulai hari ini, Arsen akan membantumu berlatih berjalan dengan beban di kepalamu sampai ritmemu benar."
Shabiya menatap video itu dengan ngeri. Ia menyadari bahwa selama berminggu-minggu ini, setiap latihan protokol yang ia anggap sebagai "etika istri konglomerat" sebenarnya adalah sesi latihan peran untuk menjadi orang yang sudah mati. Pakaian yang dikirimkan ke kamarnya setiap pagi bukan hanya dipilih berdasarkan warna, tapi berdasarkan kronologi hidup Thana. Hari ini merah karena hari ini adalah tanggal Thana menerima penghargaan pertamanya. Besok biru karena itu adalah warna yang Thana pakai saat mereka pertama kali bertengkar.
"Kau gila," bisik Shabiya. "Kau sedang melakukan nekromansi terhadap jiwaku."
"Jangan gunakan kata-kata kasar itu," Galen mengusap pipi Shabiya dengan punggung jarinya. "Pikirkan ini sebagai bentuk keabadian. Shabiya yang kau banggakan itu hanyalah gadis biasa yang akan dilupakan sejarah dalam waktu singkat. Tapi sebagai Thana... kau akan dicintai olehku selamanya. Kau akan menjadi legenda di rumah ini."
Setelah mengecup singkat pelipis wanita tersebut, Galen langsung berlalu pergi, melangkahkan kakinya ke luar ruangan.
Di meja makan, Shabiya merasa diawasi oleh ribuan mata tak kasat mata. Galen duduk di depannya, memperhatikannya makan suap demi suap.
"Gunakan tangan kirimu untuk memegang serbet, bukan tangan kanan," tegur Galen saat Shabiya baru saja akan menyeka sudut bibirnya. "Thana kidal dalam hal-hal kecil. Itu memberinya sentuhan artistik."
Shabiya meletakkan sendoknya dengan dentuman keras. "Aku bukan kidal, Galen! Aku tidak bisa melakukannya!"
"Kau bisa jika kau berusaha," suara Galen mendadak menjadi sedingin es. "Identitas hanyalah kebiasaan, Shabiya. Dan kebiasaan bisa diubah. Kau berpikir kau adalah Shabiya hanya karena kau sudah melakukannya selama dua puluh sekian tahun. Berikan aku satu tahun, dan kau akan lupa siapa itu Shabiya."
Shabiya menatap makanan di depannya, sup asparagus kesukaan Thana yang ia sendiri sebenarnya sangat benci karena baunya. Ia menyadari betapa dalam jaring yang ditenun Galen. Ini bukan hanya tentang pakaian atau rambut. Ini adalah invasi psikologis. Galen sedang melakukan gaslighting massal terhadap eksistensinya.
Ia melihat ke arah Arsen yang berdiri di sudut ruangan. Arsen menghindari tatapannya. Shabiya menyadari bahwa semua orang di rumah ini adalah kaki tangan dalam "pencurian identitas" ini. Para pelayan, pengawal, bahkan dokter pribadi yang sesekali datang untuk memeriksa kesehatannya, semuanya bekerja di bawah instruksi sang penguasa untuk memastikan "produk" mereka tetap pada jalurnya.
Sore harinya, saat Shabiya dipaksa duduk di perpustakaan untuk membaca buku-buku puisi Prancis—kegemaran Thana yang lain— ia menemukan sesuatu di sela-sela halaman buku Les Fleurs du Mal.
Itu adalah sebuah foto kecil yang terselip. Bukan foto Thana, tapi foto Shabiya sendiri yang diambil secara diam-diam saat ia masih kuliah dulu. Di foto itu, Shabiya sedang tertawa lepas dengan noda cat di hidungnya, memegang kuas dengan cara yang semrawut.
Di balik foto itu, ada tulisan tangan Galen yang belum pernah ia lihat. Tulisan itu dibuat sebelum mereka menikah.
"Bahan baku yang sempurna. Masih terlalu mentah, terlalu banyak 'kebisingan' identitas asli. Harus dikupas lapisan demi lapisan sampai hanya tersisa struktur wajahnya yang indah. Aku akan membangun kembali Thana di atas reruntuhan gadis ini."
Membaca itu, Shabiya merasa dunianya runtuh. Ia bukan lagi seorang manusia di mata Galen, ia adalah lahan kosong yang harus diratakan dengan buldoser sebelum dibangun sebuah monumen baru. Galen tidak pernah mencintainya sejak awal, bahkan rasa manis yang ditunjukkannya beberapa hari lalu hanyalah teknik untuk melunakkan "bahan baku" agar tidak pecah saat dibentuk.
Shabiya meremas foto itu dan menyembunyikannya di dalam pakaian dalam. Sebuah api kecil mulai menyala di matanya, bukan api Thana yang dicari Galen, melainkan api kemarahan Shabiya yang asli.
"Kau tidak akan bisa menghapusku, Galen," bisiknya pada keheningan perpustakaan. "Kau bisa mencuri pakaianku, aromaku, dan cara jalanku. Tapi kau tidak bisa memiliki pikiranku."
Saat Galen masuk ke ruangan itu beberapa menit kemudian, Shabiya segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar dan tenang, persis seperti yang diinginkan Galen. Untuk pertama kalinya, Shabiya mulai sadar bahwa untuk mengalahkan sang penguasa, mungkin ia harus menjadi tokoh utama bagi kebohongannya sendiri.
"Bagaimana puisinya, Sayang?" tanya Galen, berdiri di belakangnya.
"Sangat indah, Galen," jawab Shabiya, suaranya kini terdengar sangat mirip dengan suara Thana di video tadi. "Aku merasa... aku mulai mengerti kenapa dia menyukainya."
Galen tersenyum puas, tidak menyadari bahwa di balik kemiripan itu, Shabiya Sena Cantara baru saja bersumpah untuk menghancurkan setiap inci monumen yang sedang dibangun Galen, meski ia harus membakar dirinya sendiri bersama monumen itu.
Identitasnya mungkin telah dicuri untuk saat ini, namun Shabiya baru saja belajar satu hal penting, pencuri yang paling hebat adalah mereka yang bisa membuat pemiliknya tidak sadar bahwa mereka sedang merencanakan sebuah pembalasan yang mematikan.
baru mulai... ky'a seru