Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Hujan tidak turun pagi itu.
Ratu Aurelia berdiri di depan jendela rumah kayu Bibi Ema, menatap halaman kecil yang mulai mengering. Jejak kaki Snow masih terlihat samar di tanah yang belum sepenuhnya kering, seolah kuda itu pun ikut beradaptasi dengan ketenangan di tempat ini. Udara terasa lebih hangat dibanding kemarin, membawa aroma kayu dan dedaunan yang khas—aroma yang tidak pernah ia temukan di istana.
Sudah 1 bulan ia berada di rumah Bibi Ema.
Sebulan tanpa kabar. Sebulan tanpa membuat keputusan tentang permasalahan di istana zorvath.
Di tempat ini, hari-hari berjalan dengan pola yang sama. Tidak ada perubahan besar, tidak ada kejutan. Namun justru karena itulah pikirannya semakin sering melangkah ke masa lalu—ke waktu ketika hidupnya juga pernah terasa sesederhana ini.
“Bibi akan ke pasar sebentar,” suara Bibi Ema terdengar dari dapur. “Tidak akan lama.”
Ratu Aurelia menoleh, seolah baru kembali dari pikirannya. “Biarkan aku ikut bibi?”
Bibi Ema muncul di ambang pintu, membawa keranjang kecil. Ia menggeleng pelan. “Istirahat saja. Anda masih terlihat lelah.”
Nada itu tidak terdengar seperti larangan. Lebih seperti kepedulian yang tidak perlu diperdebatkan.
Ratu Aurelia tidak membantah. Ia duduk kembali di kursi kayu dekat jendela, membiarkan cahaya pagi jatuh mengenai sebagian wajahnya. Saat pintu depan tertutup dan langkah Bibi Ema menjauh, rumah kembali sunyi, tapi juga tidak sepenuhnya sepi.
Keheningan itu memberi ruang.
Dan di ruang itulah, ingatan datang lagi.
Ia muncul pelan, seperti langkah kecil yang dulu sering ia dengar di lorong panjang sebuah rumah yang jauh dari sini.
Lebih jelas.
Lebih dekat.
Ratu Aurelia menghela napas pelan. Tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan kursi. Ia tahu, jika ia membiarkan pikirannya terus melayang, kenangan itu tidak akan berhenti di permukaan. Ia akan membawanya lebih jauh—ke masa ketika dunia belum menuntut apa pun darinya, tapi juga belum mengambil segalanya.
Perlahan, ia menutup mata.
Dan untuk kesekian kalinya sejak ia tiba di Wales, ia kembali menjadi seorang anak kecil—seorang Aurelia yang belum mengenal kehilangan, belum memahami arti perpisahan, dan belum tahu bahwa hari-hari yang terasa biasa… bisa menjadi yang terakhir.
Dulu, hari-hari juga terasa seperti ini.
Biasa.
Langit cerah. Udara sejuk. Tidak ada tanda apa pun bahwa dunia akan runtuh.
Aurelia kecil duduk di lantai ruang tengah kediaman Oxford, menyusun balok kayu satu per satu. Tangannya kecil, gerakannya belum rapi, namun wajahnya terlihat sangat serius.
“Kalau di susun tinggi, nanti jatuh,” suara ibunya terdengar dari meja di dekat jendela.
Lady Rosalin duduk dengan tumpukan kertas dan buku terbuka. Rambutnya disanggul sederhana, beberapa helai terlepas dan jatuh ke pelipis. Tangannya menulis cepat, lalu berhenti sesekali untuk membaca ulang.
“aure bisa bikin lagi,” jawab Aurelia kecil polos.
Ibunya tersenyum tanpa menoleh. “Mama tahu. Tapi tetep saja kalau jatuh terkena kaki tetap akan sakit.”
Aurelia mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti.
Tak lama kemudian, suara pintu terbuka terdengar.
“Papa pulang,” suara ayahnya menggema lembut.
Aurelia langsung berdiri. “Papa!”
Ia berlari, nyaris tersandung karpet, lalu memeluk kaki pria itu erat.
Prince David tertawa kecil, lalu mengangkat putrinya. “Hari ini Aure ingin jadi apa?”
“Jadi dokter,” jawabnya cepat.
Ibunya mendongak. “Jangan mengajari nya hal yang aneh.”
Prince David tersenyum lebar. “Aneh dari mana? Bukankah ibunya dokter?”
“Aku belajar di akademi,” balas Lady Rosalin singkat.
Prince David mendekat, lalu menurunkan Aurelia kecil ke pangkuannya. Ia menatap putrinya dengan ekspresi serius—serius yang dibuat-buat.
“Dengar ya, Aure,” katanya pelan. “Ibumu itu pintar.”
Aurelia mengedipkan mata. “Pintar itu apa?”
Lady Rosalin menghela napas kecil. “David—”
“Pintar itu,” lanjut Prince David sambil menyentuh hidung kecil Aurelia, “orang yang belajar bukan supaya terlihat hebat, tapi supaya bisa menolong orang lain.”
Aurelia terdiam sejenak, lalu mengangguk seolah mengerti, meski sebenarnya tidak sepenuhnya paham.
“Kalau begitu… Aure mau jadi dokter juga. Biar bisa nolong Papa.”
Prince David tertawa pelan. “Papa tidak sakit.”
“Tapi Papa capek,” jawab Aurelia polos. “Mama bilang Papa sering lupa istirahat.”
Lady Rosalin terdiam. Ia menutup bukunya perlahan, lalu menatap putrinya. Tatapannya melembut.
“Kau terlalu banyak mendengar,” katanya, namun suaranya tidak marah.
Aurelia tersenyum lebar, bangga. “Mama bilang Aure harus bisa belajar dari mana saja.”
Prince David tersenyum lebih lebar lagi. “Nah, lihat? Anak kita pintar kan.”
Lady Rosalin menggeleng kecil, lalu mendekat dan mengusap rambut putrinya.
“Pintar atau tidak, yang penting kau sehat dan bahagia,” katanya lembut. “Tidak perlu memikirkan apa pun dulu.”
Aurelia mengangguk, lalu memeluk leher ayahnya.
“Tapi Aure tetap mau jadi dokter,” katanya mantap.
Prince David menepuk punggungnya pelan. “Kalau begitu, belajar yang rajin.”
Lady Rosalin menatap mereka berdua—suami dan anaknya—dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan.
Ia tidak tahu saat itu, bahwa kalimat polos anak kecil itu kelak akan menjadi jalan hidup yang penuh pengorbanan.
Di Wales, Aurelia dewasa menghela napas pelan.
Ia masih ingat betul suara itu. Cara ayahnya mengangkatnya. Cara ibunya berbicara tanpa nada lembut berlebihan, tapi selalu penuh perhatian.
Hal-hal kecil.
Hal-hal yang kini terasa jauh.
Di masa lalu, sore menjelang.
Lady Rosalin menutup bukunya dan berdiri. “Aku harus pergi sebentar,” katanya pada Prince David.
“Ke mana?” tanya suaminya.
“Daerah selatan. Ada laporan wabah. Aku tidak bisa menunggu.”
Aurelia kecil mendongak. “Mama pergi?”
Ibunya berlutut. “Mama akan pulang. Tapi Mama harus membantu orang sakit dulu.”
“Apa kah lama?”
“Tidak,” jawabnya cepat. “Mama janji akan cepat kembali.”
Prince David berdiri di samping mereka. “Aku akan ikut bersamu ke selatan, sayang.”
Lady Rosalin menoleh. “Cuaca sedang tidak bagus.”
“Maka dari itu , aku tidak akan tenang jika kamu pergi sendiri,” jawab Prince David singkat.
Aurelia kecil memeluk ibunya. “Mama jangan pergi lama.”
Ibunya mencium keningnya lama. .
Di rumah kayu Wales, Aurelia dewasa menutup matanya.
Dadanya terasa sesak, tapi tidak sakit.
Bukan kesedihan yang menusuk—lebih seperti ruang kosong yang sudah lama ada, hanya kini terasa kembali.
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
03 Januari 2026