NovelToon NovelToon
1 JANUARY - Cinta Yang Seharusnya Tak Pernah Ada

1 JANUARY - Cinta Yang Seharusnya Tak Pernah Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Sad ending / Menikah dengan Musuhku / Selingkuh
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: sea.night~

Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman perjodohan 2

"Soal kejadian kemarin… aku minta maaf, ya," ucap Reyhan gugup, tangannya sedikit mengencang di setir.

"Iya, nggak apa-apa kok," jawab Winda sambil tersenyum lembut.

"Aku lagi ada masalah kerjaan, jadi… emosiku langsung meledak," Reyhan menjelaskan dengan hati-hati, seolah takut salah memilih kata.

"Nggak apa-apa, Han. Aku juga salah," balas Winda pelan.

"Kamu pasti kaget waktu aku membentak kamu."

"Sedikit," Winda tersenyum lagi, kali ini lebih tipis. Senyum yang jelas dipaksakan. "Tapi nggak apa-apa."

Winda menatap ke luar jendela sesaat, lalu kembali bicara, "Oh ya… nanti turunin aku sebelum sampai rumah, ya. Kalau ayahku tahu aku dianter pulang sama kamu… ya, kamu tahu sendiri. Ayahku sama papamu nggak akrab."

Reyhan terdiam sebentar sebelum menjawab, "Kalau di depan rumah Tio, gimana? Nggak masalah?"

"Iya, di situ aja. Nggak apa-apa."

Mobil Reyhan melambat saat mendekati rumah Tio. Lampu teras masih menyala, jalanan terlihat sepi, hanya suara mesin mobil yang terdengar samar di antara keheningan.

"Nah… sampai," ucap Reyhan pelan sambil mematikan mesin.

Winda mengangguk. Tangannya bergerak membuka sabuk pengaman, tapi berhenti di tengah jalan. Ada jeda singkat, seolah ia sedang mengumpulkan keberanian.

"Makasih ya, Han," katanya akhirnya.

"Iya," Reyhan menoleh, ragu. "Sama-sama." lanjut Reyhan dan tersenyum tipis.

Winda membuka pintu mobil. Angin malam langsung menyapa, membuatnya sedikit menggigil. Sebelum menutup pintu.

Reyhan menghela napas panjang, lalu menyalakan kembali mesin mobil.

Winda berdiri disitu menunggu, melihat mobil Reyhan berjalan menjauh hingga sosoknya hilang saat masuk ke dalam garasi rumah Reyhan.

Setelah itu Winda menghembuskan nafas berat membuat beban pikiran nya sedikit berkurang, senyumnya perlahan memudar. Tangannya mencengkeram tas erat-erat, dadanya terasa sesak.

Winda berjalan menuju rumah nya, setiap langkah rasanya sangat berat . Winda akhirnya berdiri di depan rumahnya sendiri. Lampu teras menyala terang, terlalu terang hingga membuat halaman kecil itu terlihat asing. Seolah rumah itu sedang menunggunya—bukan untuk menyambut, melainkan mengadili.

Langkah Winda melambat.

Di kursi teras, Arman duduk dengan tubuh condong ke depan. Kedua tangannya mengepal di lutut. Wajahnya merah padam, urat di pelipisnya menegang jelas. Sejak kapan ia menunggu, Winda tak tahu. Yang jelas, amarah itu tidak baru. Ia telah dipelihara sepanjang malam.

Winda menelan ludah merasa takut. Ia menunduk lalu berjalan perlahan berharap ayahnya tidak memanggil nya.

"Kamu baru pulang?."

Nada suaranya rendah. Terlalu rendah. Dan itu justru membuat jantung Winda berdegup lebih keras.

Winda terhenti di tengah langkah nya perlahan berbalik menoleh ke arah Arman.

"Iya, Ayah" jawab Winda pelan.

"Kamu tahu jam berapa sekarang?"

Winda menunduk. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 21.35

"Setengah sepuluh-"

"Kamu sengaja, kan?" Arman melangkah maju satu langkah. "Kamu tahu mereka datang hari ini."

Winda mengangkat wajahnya sedikit. "Aku kerja."

"Kamu lari," bantah Arman tajam. "Kamu mempermalukan aku di depan tamu."

Dari dalam rumah, tirai jendela sedikit bergerak. Priska pasti mengintip. Tapi tak ada yang keluar. Tak ada yang berani.

Suaranya mulai meninggi. "Kamu pikir ini bisa kamu hindari begitu saja?"

Winda menunduk. Tangannya dingin mencengkeram tali tas.

"Aku nggak mau dijodohkan," ucapnya lirih, tapi jelas.

Kalimat itu seperti percikan api.

“KAU TIDAK PUNYA HAK UNTUK MAU ATAU TIDAK!” bentak Arman. “SELAMA KAMU MASIH TINGGAL DI RUMAH INI—”

"Ini hidup aku, Ayah!" potong Winda tiba-tiba.

Arman terdiam sesaat. Matanya menyipit, napasnya memburu.

"Kamu berani membantah?"

"Kamu benar-benar bikin saya malu."

Kalimat itu jatuh lebih dingin daripada bentakan mana pun.

"Masuk," perintah Arman akhirnya."Besok kita bicara lagi. Dan kali ini—kamu dengar baik-baik.”

Winda melangkah melewatinya. Saat melewati teras, ia bisa merasakan panas amarah Arman begitu dekat, seperti tembok yang siap runtuh kapan saja.

Di ambang pintu, Winda berhenti sejenak. Dadanya sesak, tapi ia tidak menangis.

Ia diam untuk beberapa detik.

Sebelum melanjutkan langkah nya menuju kamar tidur nya. lalu membanting pintunya dengan kesal.

_____________________________________

Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang.

Winda belum sepenuhnya terlelap ketika suara kursi diseret terdengar dari ruang makan. Ia duduk di tepi ranjang beberapa saat, menarik napas panjang, seolah menyiapkan diri untuk sesuatu yang tak terelakkan.

Saat ia keluar kamar, Arman sudah duduk di meja makan. Kemejanya rapi, rambutnya tersisir—terlalu tenang untuk seseorang yang semalam meledak. Justru ketenangan itu yang membuat Winda bergidik.

"Duduk." kata Arman singkat.

Winda menarik kursi perlahan dan duduk berseberangan. Priska berdiri di dekat dapur, diam, wajahnya pucat. Tak ikut bicara, tapi tak juga pergi.

"Kemarin kamu membuat saya malu." ujar Arman datar. "Keluarga Om Bram datang jauh-jauh. Kamu tidak ada."

Winda menunduk. "Winda udah bilang, Winda nggak mau dijodohkan."

Arman menyandarkan punggung, menatap Winda lama. "Itu bukan pilihanmu."

Hening.

"Kamu dengar baik-baik." lanjutnya.

Winda mengangkat wajahnya.

"Pertama," kata Arman, jarinya mengetuk meja satu kali.

"Kamu berhenti kerja lembur. Aku tidak mau dengar kamu menghindar lagi."

"Kedua," ketuk kedua. "Minggu depan, kita makan malam bersama keluarga om Bram Kali ini—kamu ada."

"Dan ketiga," ketuk ketiga, lebih keras. "Kalau kamu menolak… kamu keluar dari rumah ini, saya tak akan memberikan kesempatan apa pun."

Priska tersentak. "Arman—"

"Cukup," potong Arman tanpa menoleh. "Ini urusanku sebagai kepala keluarga."

Winda merasa tenggorokannya mengering. "Kalau aku pergi...Winda mau kemana, Ayah?"

"Bukan urusanku," jawab Arman dingin.

"Kamu sudah cukup besar untuk menanggung akibat pilihanmu."

Pilihan. Kata itu terdengar kejam di telinga Winda.

Ia mengepalkan tangan di bawah meja.

"Kalau aku nurut… Ayah janji berhenti maksa aku setelah ini?"

Arman menatapnya tajam. "Jangan menawar."

Hening kembali jatuh.

"Aku beri kamu waktu," kata Arman akhirnya. "Sampai akhir minggu."

Winda berdiri perlahan. Kakinya terasa lemas, tapi ia memaksa tegak.

"Iya," ucapnya pelan.

Saat ia melangkah pergi, Arman menambahkan tanpa emosi, "Jangan uji kesabaranku lagi, Winda. Dan jangan coba coba untuk melarikan diri. Kau tau akibatnya."

Di ambang pintu, Winda berhenti sejenak. Dadanya sesak, pikirannya kacau.

Ia sadar satu hal dengan jelas...

Apa pun pilihannya nanti—

ia akan kehilangan sesuatu.

1
partini
kalau kata" mah biasa mau ini itu Ampe penghuni kebon binatang pun masih ok busettt ini Ampe nampar gara" muak lihat muka
dalem bnggt sehhh
partini: nanti muka muak Widia jadi ngangenin 🤭
total 2 replies
partini
Kaka ipar yg
sea.night~: yess kakak ifar
total 1 replies
partini
hati yg kosong dari kecil,
sea.night~: huhu iyaa , tapi sama juga kayak Winda nya jadi anak tuntutan keluarga
total 1 replies
partini
aku baca sinopsisnya langsung loncat bab ini ma"af ya Thor
Winda muka tembok ga sih ini
sea.night~: Sudah up ya, kak
Selamat membaca🙏😁
total 11 replies
si kecil nikkey
kayanya si Winda tipe cwe menye2, bkin hati sejati para cwe mencelid TDK senang thor....masa mau aja JD bucin KY gtu lagian d lahirin GK nyadar klo kita ada bukan buat orang lain tp untuk kebaikan diri sndiri, payah Winda dahlah thor..
sea.night~: Setuju sih kak, tapi setiap orang punya waktunya sendiri buat sadar. Winda juga lagi berjuang kok, cuma caranya masih salah.😁🙏
total 1 replies
BiruLotus
Halo kak, aku mampir. Mau kasih saran aja, tanda bacanya masih ada yg keliru. Misalnya setelah tanda petik 2, langsung saja kalimat, jangan pake spasi. Semangat!
sea.night~: okaayy kakak , makasih banyak ya kak saran nyaa 🙏🙏😁
total 1 replies
BiruLotus
lanjut
BiruLotus
Gak punya otak!
BiruLotus
Ayahnya minta di slebew!
BiruLotus
Wah jangan berkecil hati Winda
BiruLotus
Dari Dirga kok berubah Dimas, kak?
sea.night~: 😭makasih koreksi nya kak, awal nya mau di kasih nama dimas kian🙏
total 1 replies
Gohan
Penuh makna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!