Nathan Dwi herlangga atau yang biasa dipanggil Nathan adalah anak dari sepasang suami istri Ibu Dewi dan Pak Rama yang tinggal di gubuk sederhana.Semenjak Nathan lahir tidak ada tanda-tanda menunjukan kalau dirinya punya mata batin.Namun seiring berjalan nya waktu Mata batin Nathan terbuka saat ia menginjak usia 7 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SESAJEN
Kala itu,semua warga bermusyawarah dibalai desa.Desa kini sedang tidak aman semenjak kematian Rama dan Sari.Teror Arwah terjadi setiap malam,warga jadi tidak berani bepergian jika malam hari telah tiba.Semua warga datang ke balai desa untuk bermusyawarah.Tidak lupa juga Dewi dan Nathan di undang ke balai desa.
Tepat tengah hari, Bali desa ramai dikerumuni orang-orang berdatangan.Ketika semua sudah hadir,Musyawarah pun di mulai.Pak Kades memulai pembicaraan nya.
"Begini Bapak-bapak dan Ibu-ibu,Saya mengumpulkan anda semua disini untuk bermusyawarah apakah kalian setuju setiap Jumat Kliwon kita bergiliran mengirim sesajen ke gubuk dekat hutan ?"Tanya pak Lurah yang berdiri di depan semua orang.
"Nanti kalau cuma setiap malam Jumat Kliwon,Jumat biasa kita nggak kirim sesajen.Pasti Arwah Sari dan Rama masih meneror warga desa.Bagaimana kalau setiap malam Jumat saja.Jadi tepat di hari Jumat gitu pak Lurah"ujar salah satu warga.
"Bagaimana warga yang lain setuju atau tidak ?"Tanya pak kades dengan Lantang.
Semua teriak"setuju pak kades !!!!!"
Dewi menyetujui saja apa pendapat warga.Selama ini Dewi juga tidak dapat tidur dengan tenang karena arwah suaminya masih saja menampakan diri.
Nathan yang duduk memperhatikan bersama Riza sang teman Arwah nya,Riza berbisik.
"manusia Cemen, semua takut kena teror hantu"
Nathan menatap ke arah Riza dan menyuruhnya diam.Ssstttttt..... Jangan bicara apapun.
Akhir-akhir ini Dewi memperhatikan Nathan,dia sering berbicara sendiri.Dewi belum berani bertanya pada Nathan dia berbicara dengan siapa.
...
Tepat di hari kamis...
Dewi mempersiapkan sesajen untuk di bawa ke gubuk dekat hutan.Biasanya orang Jawa kalau ngasih sajen itu berupa Rokok,pisang,kopi,bunga juga terkadang air putih,Tidak lupa juga kemenyan yang ditaruh di kendil kecil.Tujuan nya agar si Arwah bisa ikut merasakan makan atau minum seperti layaknya manusia hidup.
"mmmm sesajen sudah lengkap,tinggal menunggu orang yang datang mengambil"gumam Dewi.
Sorenya,orang laki-laki yang akan beronda malam sudah datang mengambil sesajen di rumah Dewi.Kalau menaruhnya malam-malam mereka akan takut,belum lagi kegelapan dihutan yang mencekam, membuat bulu kuduk merinding.
Ditaruhnya lah sesajen di dekat gubuk itu,bau amis dan menyengat masih saja membekas di sana,sesekali tertiup angin,baunya terasa lebih busuk.Seakan memberikan pertanda.
Malamnya,sekarang di adakan ronda tiap malam di desa.Tujuan nya agar warga yang tinggal sendiri tidak takut lagi kalau mau keluar malam-malam.Karena disana aman dari Maling.Entah apa yang kurang dengan sesajen yang diberikan Dewi dan para warga.Sosok arwah Sari muncul di hadapan salah satu Bapak yang sedang ronda keliling desa.Sepertinya arwah Sari masih dendam karena diusir dari Desa sebelum dia meninggal tragis.
"Aaaaaaaa tolong jangan apa-apa kan saya !!!"Teriak nya Dengan kencang .
"aku tidak butuh sesajen kalian sudah terlambat,hihihihihi"Arwah Sari mencekik sekuat tenaga ke Bapak itu.Akhirnya Bapak itu ditemukan tergeletak dengan lidah yang terjulur keluar.
"To-tolong !!!!!!!" Teriak salah satu warga sambil memangku jasad pak Tono yang tadi di cekik oleh arwah Sari.
.
Pagi itu Dewi belum mendengar gosip apapun karena belum sempat keluar rumah.Dia mendengar pengumuman di masjid yang suaranya terdengar begitu jelas.
"pak Tono meninggal dunia, kenapa ya.Aku harus melayat kesana sekarang"Dewi bergegas ganti baju dan pergi ke rumah pak Tono.
Di jalan dia mendengar gosip kalau pak Tono mati di cekik oleh arwah Sari.Detak jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.Langkah kaki nya semakin gugup.Tak menghiraukan warga yang sedang bergosip,ia langsung saja terburu-buru ke rumah pak Tono.
Dan benar saja, kesaksian warga yang beronda tadi malam bersama pak Tono melihat sendiri kalau arwah Sari yang mencekik pak Tono.Dewi pun semakin gelisah.
"aku harus pergi ke desa sebelah untuk menemui orang pintar"ucapnya dalam hati.
.
Warga jadi semakin takut keluar malam-malam.Apalagi sudah jatuh korban,desanya semakin tidak aman.
Seusai pulang melayat,Dewi segera pulang ke rumah.Ia mengeluarkan mobilnya untuk pergi ke desa sebelah.Tentunya Dewi tidak sendirian,namun ditemani oleh anak buahnya,Seno.Satu jam kemudian mereka sampai di tempat.
"Ada apa kalian datang kemari"Tanya orang pintar tersebut.
"Begini mbah,saya dari desa sebelah,ada teror dari arwah yang mati mengenaskan Mbah.Arwah suami saya dan kakak saya.Bahkan sudah memakan korban.padahal kami sudah mengirimkan sesajen"Ujar Dewi sembari menyodorkan foto Rama dan Sari.
orang pintar itu menerawang nya.Agak lama Dewi menunggu akhirnya orang pintar itu selesai menerawang.
"Kalian harus menambahkan satu ekor kambing kecil di sesajen sebagai ganti kalau tidak arwah penasaran itu akan terus memakan korban"ujar orang pintar itu.
Sekarang Dewi jadi tau, meninggal nya mereka karena marah dan kelaparan.Makanya meneror warga terus menerus.Dewi akan pulang dan memberitahu para warga akan hal ini.