Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berusaha
"Apa yang kalian katakan? Aku papa kalian," ucap Leon.
Bu Yanti hendak menelpon polisi karena yakin anak kecil tidak mungkin berbohong.
"Saya bisa lapor ke polisi jika kamu bukan papa mereka dan mengaku papa mereka. Saya ingat kemarin Bu Alya bilang jika dia janda dan betapa bodohnya saya malah percaya padamu," ucap Bu Yanti.
"Aku memang papa mereka," jawab Leon.
"Bohong! Dia bukan papa kami, Papa kami memang tampan tapi dia pasti baik bukannya jahat kayak Om!" ucap Farad.
Bu Yanti mengeluarkan ponselnya dan hendak menelpon polisi, mau tak mau Leon pergi dari sana dalam keadaan kecewa.
Dia pikir anak-anak itu mudah untuk didekati tapi rupanya mereka sangat cerdas sekali.
Leon menuju ke kantornya, ia terus mengumpat karena tidak berhasil mengambil sampel rambut mereka. Dia juga berpikir bagaimana cara supaya mereka tidak marah lagi kepadanya? Biasanya anak-anak sangat mudah didekati jika diberi makanan atau mainan, Leon akan menggunakan cara itu supaya dia bisa mendapatkan hati mereka.
Sesampainya di kantor.
Rafael marah kepada Leon karena melewatkan meeting penting, Leon melewatinya begitu saja sementara Rafael menarik bahu Leon.
"Tunggu! Kenapa kamu datang terlambat? Meeting kali ini sangat penting sekali, dari mana saja kamu? Jangan bilang jika kamu memesan gadis-gadis muda lagi?" tanya Rafael.
"Aku sedang pusing dan jangan ganggu aku!" ucap Leon.
"Tunggu! Apa yang terjadi? Wajahmu seperti memikirkan sesuatu," jawab Rafael lagi"
"Alya Renatha, mantan istriku muncul".
Rafael mengernyitkan dahinya. "Lalu apa masalahmu? Dia sudah masa lalu mu bahkan 6 tahun yang lalu."
"Masalahnya bukan hanya Alya yang muncul melainkan tiga anak kembar yang dia bawa."
Rafael masih tidak paham apa yang dimaksud Leon.
"Maksudmu dia sudah punya anak? Lalu kenapa? Biarkan saja! Kalian juga sudah berpisah lama," ucap Rafael.
"Masalahnya hasil dari penyelidikan Rick, mereka adalah anak-anakku. Bukan hanya satu anak melainkan tiga anak sekaligus," jelas Leon membuat Rafael sangat terkejut.
"Apa? Anakmu? Kamu yakin? Kamu pasti salah sangka, dia pasti sudah menikah dengan pria lain dan anak-anak itu adalah anak dari suami barunya. Kamu terlalu halu, Leon" ucap Rafael yang tentu saja tidak percaya.
"Maka dari itu aku ingin melakukan tes DNA supaya jelas, tapi aku sudah mendekati anak-anak kembar itu karena dia sudah terlanjur tidak suka padaku. Dari semua data yang dikumpulkan Rick juga mengarah jika mereka adalah anakku," ucap Leon.
Tentu saja semua ini membuat Rafael dan Leon kelimpungan dengan hadirnya Alya yang membawa 3 anak kembar.
Dipikiran Rafael jika 3 kembar itu memang anak Leon maka reputasi Leon bisa hancur dalam semalam karena dianggap menelantarkan mereka.
"Papa harus menyingkirkan mereka," ucap Rafael.
"Apa maksud, Papa?" tanya Leon.
"Jika mereka memang anakmu maka reputasi mu akan hancur. Kita harus menyingkirkan mereka, Papa akan mencari mereka dan menyuruh mereka pergi dari sini," jawab Rafael.
Leon menggelengkan kepalanya. "Jika mereka adalah anak kandungku, tandanya itu juga cucu Papa. Kenapa mau menyuruh cucu sendiri pergi? Mereka darah dagingku."
"Gila! Kamu benar-benar gila! Reputasi mu bisa kacau jika mereka benar-benar anak kandungmu."
"Aku yang akan menghentikan Papa jika Papa sampai mencelakai mereka," teriak Leon.
Tentu saja ucapan Leon membuat Rafael terkekeh geli.
"Kenapa Papa tertawa?" tanya Leon.
"Dulu kamu memperlakukan ibunya seperti apa? Kamu masih beruntung wanita rendahan itu tidak melaporkan KDRT darimu. Sekarang dia sudah punya anak dan bisa saja mengungkap kasus KDRT-mu," jelas Rafael.
Apa yang dikatakan papanya memang benar, kehadiran Alya memang bumerang bagi reputasi Leon. Akan tetapi, Leon juga ingin dekat dengan anak-anaknya.
"Pikirkan anak-anak itu atau reputasi mu akan hancur. Pikirkan baik-baik!" ucap Rafael lalu meninggalkan Leon di ruangan itu sendirian.
Kaki Leon melangkah ke kursi dan ia duduk di sana, masa lalunya bersama Alya memang seburuk itu apalagi dia terus membuat Alya terluka sampai memar juga."Aku harus bagaimana? Perbuatanku memang buruk kepadanya."
Leon menghela nafas panjang, cara satu-satunya adalah bagaimana mendekati tiga bocah kembar itu dan ia sudah berhasil mendapatkan hatinya maka akan sangat mudah mendapatkan hati Alya.
"Jangan pikirkan harga diri! Yang penting aku bisa dekat dengan anak-anakku. Baiklah, sore nanti aku akan datang ke sana lagi dan membawakan banyak mainan untuk mereka," gumam Leon.
Di sisi lain.
Ini adalah hari kedua Alya bekerja di hotel, manajernya terus menyindirnya perihal kemarin tapi Alya tidak mau menggubris.
Dia hanya ingin fokus bekerja walau ia difitnah melakukan hal asusila dengan tamu hotel kemarin yaitu Leon.
Bekerja di hotel memang melelahkan, tapi memang lebih melelahkan lagi bekerja di Resort Indraloka yang memiliki aturan ketat karena resort itu sangat menjunjung tinggi kepuasan pelanggan terutama pelanggan yang VIP, tapi setidaknya bekerja di hotel Alya masih bisa bertemu anak-anaknya dari pada saat di Resort Indraloka yang sistem nya harus menginap di tempat yang sudah disediakan.
Jam istirahat pun tiba, Alya mengambil jatah makanannya, ia mengusap air mata karena merindukan si kembar. Pasti di sana mereka juga sedang makan siang bersama teman-temannya.
"Alya Renatha?"
Alya menoleh dan terkejut ternyata seorang pria yang ditemuinya beberapa hari yang lalu.
"Kamu?"
"Hahaha... kita selalu ketemu, jangan-jangan jodoh?" tanya pria itu yang bernama Agra.
"Kamu mengikuti ku?"
"Eits... tidak, aku pemilik hotel ini," jawab Agra.
Alya melotot terkejut, apa? Pria ini ternyata pemilik hotel tempatnya bekerja? Bagaimana ini? Beberapa hari yang lalu Alya malah kasar kepadanya dan menolak ayam goreng yang pria itu tawarkan.
"Santai saja dan ambil makan sepuasmu!" ucap Agra."Aku... aku..."
"Oh, masih memikirkan hal kemarin?
Wajar saja jika kamu curiga karena aku memang mencurigakan," ucap Agra.
"Aku minta maaf," ucap Alya.
"Tak perlu minta maaf, lalu bagaimana dengan anak-anakmu ketika kamu bekerja?"
"Mereka aku titipkan di Fairy Care."
Agra melihat kesedihan dari wajah Alya, siapa juga yang akan rela jika jauh dari anaknya?
"Ah, maaf malah membuatmu sedih.
Sekarang makan yang banyak supaya bisa bekerja giat. Bye! Aku ada urusan lain, senang bertemu denganmu di sini."
Alya mengangguk, dia menghela nafas kasar, untung saja Agra tidak mempermasalahkan kejadian itu. Setelah mengambil makanan, Alya lekas mencari meja dan duduk diam di sana sambil menikmati makan siang.
Tiba-tiba manajernya yaitu Jardon mendekati sambil tersenyum simpul membuat Alya merasa risih.
"Ada apa ya, Pak Jardon?"
"Begini Alya, ini tawaran untukmu. Lumayan bisa untuk tambahan uang jajanmu."
Alya mengernyitkan dahinya.
"Mau tidur denganku? Aku akan bayar lebih dari gajimu."
Pertanyaan itu membuat Alya sangat kesal tapi dia masih bisa menahannya. "Maaf, aku tidak minat."
"Ah, masih kecil ya penawaran ku?" tanya Jardon.
"Pak, aku bukan wanita seperti itu."
"Hahaha.... kamu pikir aku bodoh?"
Alya memilih kabur dari sana dan melanjutkan pekerjaannya. Namun, saat ia mengambil alat pel yang akan digunakan, tiba-tiba saja Jardon yang kurang ajar memeluknya dari belakang.
Alya kaget dan segera berontak, "Lepaskan aku, Pak Jardon!"
Namun, sebelum Jardon sempat merespon,tiba-tiba saja pria itu terpental ke depan setelah mendapat pukulan keras dari belakang. Alya menoleh dan terkejut saat melihat Leon berdiri dengan amarah yang membara di matanya.
"Jangan berani-berani menyentuh Alya!" ucap Leon dengan nada tegas dan marah.
Jardon yang masih merasa sakit akibat pukulan tadi hanya bisa menggerutu dan memegang wajahnya.
"Apa urusanmu?" tanya Jardon sambil memandang Leon.
Leon mendekat memukul Juna lagi tanpa ampun, Alya lekas melerai mereka dan takut kehilangan pekerjaannya.
"Leon, tidak perlu ikut campur!" ucap Alya.
"Bagaimana bisa aku diam saja sementara mantan istriku diperlakukan seperti itu oleh bosnya," ucap Leon.
Alya melotot mendengar karena Leon tidak sadar diri waktu dulu ia juga begitu.
Jardon bangun lagi, ia menatap tajam ke arah mereka.
"Pak Leon, untuk apa kamu datang kemari jika sudah tidak menginap di hotel ini?
Kamu dianggap penyusup," jelas Jardon.
Leon mendekat dan menarik kerah Juna, tentu saja pria itu berani kepada semua orang. Alya melerai mereka dan mendorong Leon untuk pergi jika tidak ada urusan di sini.
"Leon, aku mohon! Jangan buat aku dipecat!" kata Alya.
"Dia melecehkan mu, Alya."
"Aku baik-baik saja, aku butuh pekerjaan ini," kata Alya dengan mata yang sudah memerah.
"Aku akan menafkahi kalian jika mereka memang anak-anakku. Tinggal mengaku saja apa susahnya sih?" tanya Leon.
Tentu saja hal ini membuat Alya sakit hati, pria itu seperti mudah mempermainkan perasannya.
"Mereka bukan anakmu," ucap Alya."Lakukan tes DNA dulu! Baru aku percaya jika mereka bukan anakku," kata Leon masih memaksa.
Saat bersamaan pemilik hotel ini datang yaitu Agra, ia melihat ada keributan melalui CCTV.
"Ada apa ini?" tanya Agra.
Jardon tentu saja panik, dia bisa dipecat jika tahu yang sebenarnya.
"Pak Leon, dia menyelinap masuk hotel ini padahal sudah tidak menginap," jelas Jardon.
"Benar begitu, Leon?" tanya Agra.
Alya hanya diam saja, dia tidak berani mengadu kepada Agra karena Jardon terus memelototinya.
"Ayo ikut aku, Alya!" Leon menarik tangan Alya supaya ikut dengannya.
Tapi Agra juga memegangi tangan Alya, Leon terhenti dari langkahnya dan menatap Agra.
"Lepaskan tangannya!" ucap Leon.
"Kamu yang lepaskan dia! Dia pegawaiku,"kata Agra.
"Gue ada urusan dengannya."
"Aku juga ada urusan dengan Alya."
Leon dan Agra saling melotot, sementara Jardon kabur supaya tidak terlibat. Tangan Alya kesakitan karena ditarik dua pria itu dan dia melepaskan dengan paksa.
"Tolong lepaskan, aku!" kata Alya lalu tangannya terlepas dari mereka. "Leon ,aku harus melanjutkan pekerjaanku. Pak Agra ini adalah bosku."
"Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar," kata Leon.
Sudah tidak ada yang dibicarakan lagi.
" Kita sudah selesai bukan?" ucap Agra.
Alya mengambil pelnya dan lekas melanjutkan pekerjaannya. Sementara Leon melihat ke arah Agra dengan kesal.
"Lo tahu jika Alya mantan istri gue 'kan? Lo sengaja nerima Alya kerja di sini. Gue akan bayar Alya berapapun yang lo mau, asalkan dia ikut dengan gue hari ini," ucap Leon. "Leon , pantas saja Alya tidak menyukaimu. Sikapmu tidak pernah berubah, wahai sepupuku," ucap Agra sambil tersenyum mengejek.
cuma ada oma riana jd pembantu menantunya gdang salad.
biar nyaman ada halaman nya untuk keluarga dgn anak banyak
sesalah apapun ibu jgn tega begitu membiarkan dia kerja sm menantunya.
klw nikah di grreja artinya agama kristen.
yg menikahkan penghulu,biasanya klw nikah di gereja pendeta
aga membingungkan