Arka Fadhlan, seorang pakar kriptografi, menemukan potongan manuskrip kuno yang disebut Vyonich, teks misterius yang diyakini berasal dari peradaban yang telah lama menghilang. Berbagai pihak mulai memburunya—dari akademisi yang ingin mengungkap sejarah hingga organisasi rahasia yang percaya bahwa manuskrip itu menyimpan rahasia luar biasa.
Saat Arka mulai memecahkan kode dalam manuskrip, ia menemukan pola yang mengarah ke lokasi tersembunyi di berbagai penjuru dunia. Dibantu oleh Kiara, seorang arkeolog eksentrik, mereka memulai perjalanan berbahaya melintasi reruntuhan kuno dan menghadapi bahaya tak terduga.
Namun, semakin dalam mereka menggali, semakin banyak rahasia yang terungkap—termasuk kebenaran mengejutkan tentang asal-usul manusia dan kemungkinan adanya kekuatan yang telah lama terlupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Rifa'i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JATUH KE DALAM KEGELAPAN
Angin gurun berdesir kencang saat Arka, Kiara, Ezra, dan Dr. Helena jatuh ke dalam jurang, tubuh mereka melayang bebas dalam kegelapan. Arka merasakan udara dingin menerpa wajahnya, dan detik berikutnya—
BRUKK!
Tubuhnya menghantam tanah berpasir yang keras. Ia terguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti, dadanya naik turun dengan cepat. Rasa nyeri menjalar di seluruh tubuhnya, terutama di bahu yang terkilir akibat benturan.
Di atasnya, Kiara jatuh dengan lebih terkontrol, berhasil mendarat dengan posisi yang relatif stabil. Ezra, di sisi lain, tidak seberuntung itu.
DUAK!
"ARGH!" Ezra mengerang keras saat tubuhnya membentur batu kecil. Ia terbaring dengan wajah meringis, menahan rasa sakit di kakinya.
Dr. Helena adalah yang terakhir melompat. Ia mendarat agak kasar, tapi masih bisa bergerak.
Suara langkah kaki dan perintah keras terdengar dari atas jurang.
"Mereka lompat! Cari jalan turun, sekarang!" teriak pria dari Ordo Lux Veritatis.
Lampu-lampu sorot dari kendaraan di atas mulai menyisir dinding jurang, mencoba mencari mereka.
Arka menahan napas, lalu berbisik, "Kita harus cepat pergi sebelum mereka menemukan jalur ke bawah."
Kiara menoleh ke sekeliling.
Dinding jurang ini ternyata lebih dari sekadar batu kosong. Ada ukiran aneh yang samar, setengah terkikis oleh waktu. Tetapi lebih jauh ke depan…
"Lihat itu," ujar Kiara dengan nada serius, menunjuk ke dalam kegelapan.
Di depan mereka, tersembunyi di balik bayangan, terdapat pintu batu raksasa yang tertanam di dinding gua.
Arka mengerutkan kening. "Apa itu?"
Dr. Helena berjalan mendekat, menelusuri ukiran pada permukaan pintu batu itu.
"Ini… ini adalah simbol Orbis!" katanya dengan suara tertahan.
Ezra, yang masih terduduk sambil memegangi kakinya, mendongak dengan ekspresi tercengang.
"Kau bercanda? Maksudmu kita baru saja menemukan pintu masuk ke Kota Orbis?"
Dr. Helena mengangguk. "Mungkin. Jika kita benar, maka kita sedang berdiri di depan salah satu rahasia terbesar dalam sejarah manusia."
Arka menelan ludah.
"Kita tidak punya pilihan lain. Kita harus masuk ke dalam sebelum mereka menemukan kita."
MISTERI PINTU BATU
Kiara mencoba mendorong pintu batu itu, tetapi tidak bergerak sedikit pun.
"Tertutup rapat," katanya, menghela napas.
Dr. Helena mengamati simbol-simbolnya dengan lebih seksama.
"Tunggu… ada sesuatu di sini," ujarnya sambil mengusap debu yang menutupi sebuah ukiran kecil di tengah pintu.
Di sana, terdapat lubang berbentuk aneh, seukuran telapak tangan.
Ezra menyipitkan mata. "Itu terlihat seperti… bentuk Kunci Orbis."
Arka mengeluarkan Kunci Orbis dari dalam tasnya. Cahaya biru redup terpancar dari artefak itu, seolah-olah merespons keberadaan pintu tersebut.
"Cuma ada satu cara untuk mengetahui apakah kita benar atau tidak," katanya sambil mengambil napas dalam-dalam.
Perlahan, ia memasukkan Kunci Orbis ke dalam lubang itu.
Begitu Kunci Orbis masuk sepenuhnya—
GEMURUH!
Pintu batu itu mulai bergetar. Suara mekanisme kuno yang bergerak terdengar dari dalam, seperti roda gigi raksasa yang telah lama tak digunakan.
Lalu
Pintu itu terbuka sedikit, memperlihatkan celah gelap di baliknya.
MASUK KE DUNIA YANG TERSEMBUNYI
"Cepat masuk!" desis Kiara.
Mereka semua segera melangkah melewati celah itu. Begitu mereka masuk, pintu batu di belakang mereka tertutup kembali dengan sendirinya, meredam suara dari luar.
Di dalam gua itu, keheningan total menyelimuti mereka.
Arka menyalakan senter, sinarnya menyorotkan bayangan panjang di sepanjang lorong batu yang luas.
Dinding-dinding di sekitar mereka dipenuhi ukiran kuno, gambar-gambar yang menggambarkan manusia berselimut cahaya, mesin raksasa, dan simbol-simbol yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Tempat ini… ini bukan sekadar gua biasa," gumam Dr. Helena dengan kagum.
Mereka terus berjalan lebih dalam, langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong.
Setelah beberapa menit, mereka tiba di ruang besar dan di sanalah mereka melihatnya.
Di tengah ruangan itu, berdiri sebuah struktur logam raksasa berbentuk seperti altar, dipenuhi dengan jalur-jalur bercahaya biru yang tampaknya dialiri energi misterius.
Di belakang altar itu, ada sebuah bola kristal besar, melayang di udara tanpa menyentuh apa pun, berputar perlahan.
"Astaga… apa ini?" bisik Ezra dengan mata melebar.
Dr. Helena melangkah lebih dekat, suaranya dipenuhi kegembiraan.
"Ini… teknologi Orbis. Ini bukan sekadar kota biasa. Ini lebih besar dari yang kita duga."
Kiara menyipitkan mata. "Maksudmu?"
Dr. Helena menarik napas dalam.
"Orbis bukan hanya kota. Ini adalah peradaban maju yang pernah ada ribuan tahun lalu. Dan dari apa yang kita lihat di sini… mereka mungkin memiliki teknologi yang bisa mengubah dunia."
Arka menatap bola kristal itu dengan perasaan campur aduk.
Jika yang dikatakan Dr. Helena benar, maka mereka telah menemukan sesuatu yang bisa mengubah sejarah manusia selamanya.
Namun sebelum mereka bisa berpikir lebih jauh.
Terdengar suara langkah kaki dari arah lain gua.
Mereka semua langsung menegang.
Ezra meraih pistolnya. "Kita tidak sendirian."
Arka mematikan senter, dan mereka semua menahan napas.
Dari balik kegelapan, bayangan muncul dan saat sosok itu melangkah ke dalam cahaya, mereka semua terkejut bukan main.
Di depan mereka berdiri Aldrich pria yang sebelumnya mencoba merekrut mereka di markasnya.
Namun ia tidak sendirian.
Di sampingnya, berdiri seorang wanita berjubah putih dengan wajah tertutup topeng perak.
Wanita itu berbicara dengan suara dingin, "Kalian seharusnya tidak ada di sini."
Dr. Helena menyipitkan mata. "Siapa kau?"
Wanita itu tidak menjawab. Sebagai gantinya, Aldrich melangkah maju, suaranya terdengar lebih tenang dari sebelumnya.
"Aku sudah bilang pada kalian, beberapa rahasia lebih baik tetap tersembunyi."
Ia melirik ke arah bola kristal yang melayang di udara.
"Sekarang… kalian harus memilih. Apakah kalian akan bekerja sama dengan kami, atau mati di sini?"
Arka mengepalkan tangannya.
Mereka telah menemukan kebenaran tentang Orbis tetapi tampaknya, rahasia ini tidak akan mudah mereka bawa keluar.
Dan satu hal yang pasti pertarungan belum berakhir.