Ketika cinta harus diakhiri karena syarat dari kedua orang tuanya yang mendambakan seorang menantu hafiz Al'quran.
Dan aku terpaksa menikah dengan perempuan lain yang tidak aku cintai karena hutang jasa.
Bagai mana kelanjutannya simak ceritanya di novel. CINTA TERHALANG 30 JUZ AL'QURAN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pelangi senja11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13. Aduan Reza
Mendengar Ariel berkata seperti itu, Pak Imran dan Ibuk Siti saling pandang, Kekhawatiran terpancar diraut wajah keduanya.
Pak Imran dan Buk Siti bukan khawatir, soal uang atau biaya, jika itu mereka masih punya uang tabungan yang dia tabung untuk pernikahan Putrinya, tapi jika Ariel sudah mau bertunangan mereka akan menggunakan uang itu, dan lain kali dia mereka akan menabungnya lagi untuk Putrinya apalagi mereka belum tau kapan Putrinya akan mendapatkan jodoh.
Namun yang menjadi kekhawatiran kedua paruh baya itu yang ingin dilamar Ariel Arumi Anaknya Ustadz Amir.
Biarpun begitu, mereka berdua tidak menolak niat Ariel, yang sudah mereka anggap Putranya sendiri, keduanya sangat menyayangi Ariel, makanya tidak segan-segan untuk menguras tabungannya demi Ariel.
Pak Imran mengajak istrinya kedapur, keduanya ingin membicarakan soal niat Ariel yang ingin melamar Arumi Anaknya Ustadz Amir.
"Pak, bagaimana ini, Ustadz Amir pasti tidak akan menerima lamaran kita, Ibuk takut Nazriel akan kecewa nanti." Ujar Buk Siti.
"Bapak juga merasa seperti itu, tapi kita sebagai orang tua tidak bisa berbuat banyak, kita akan sebaiknya mencoba, jika nanti ditolak, Bapak yakin Nazriel pasti bisa mengerti." Pak Imran akan mencoba masalh diterima apa tidak, dia sudah siap.
Setelah berdiskusi, kedua paruh baya itu kembali lagi keruang tamu dimana Ariel sedang menghitung uang tabungannya.
"Nak, apa kamu yakin ingin melamar Arumi?" tanya Pak Imran ingin memastikan.
"Iya Pak, Buk," jawab Ariel mengangguk yakin dengan niatnya.
"Tapi Nak--" Pak Imran tidak meneruskan perkataannya karena istrinya menggenggam lengannya agar Pak Imran tidak meneruskan perkataannya.
Ariel menatap kedua paruh baya yang sudah menjadi keluarganya itu, dan yang sangat menyayanginya seperti Anak kandung mereka sendiri.
Ariel melihat kekhawatiran diraut wajah kedua orang tua itu, Ariel berpikir kedua paruh baya itu khawatir karena tidak punya biaya.
"Bapak, Ibuk, kalian tidak perlu khawatir, aku sudah punya uang, dan untuk emas lamaran Ariel ada cincin, dan uang ini untuk membeli hantaran." Ariel menyodorkan uang itu kedepan Pak Imran dan Buk Siti.
"Bukan itu maksud Bapak, Bapak tidak khawatir masalah uang, insya Allah Bapak dan Ibu punya kalau untuk lamaran saja Bak rasa cukup." Ujar Pak Imran tidak mau Ariel salah paham.
"Benar Nak, yang membuat kami khawatir adalah kamu, apa kamu bisa menerima kalau orang tua Arumi menolak lamaran kita?" tanya Buk Siti ingin memastikan mental Ariel ketika lamaran ditolak.
"Insya Allah Nazriel siap, Pak, Buk, jika lamaran kita ditolak, itu berarti aku dan Arumi tidak berjodoh, aku percaya tuhan sudah menentukan jodoh untukku, tapi bukankah kita harus mencoba dulu?" Ariel pasrah jika lamarannya ditolak, karena Ariel tau kalau jodoh sudah diatur.
Mendengar kepasrahan Ariel, kedua paruh baya itu sangat lega, ternyata Ariel bukan hanya sopan dan baik hati, dia juga Anak yang pengertian dan penuh keteguhan.
Pak Imran dan Buk Siti mulai mempersiapkan segalanya, dia juga mengajak Pak Imran untuk membelanjakan hantaran untuk Arumi.
Buk Siti sangat antusias mempersiapkan segalanya, walaupun Ariel bukan Amak kandungnya dia sudah menganggap Ariel seperti Anak kandungnya sendiri.
Disaat perjalanan pulang Ponsel jadul Buk Siti berbunyi, menandakan ada panggilan masuk.
"Pak berhenti sebentar, ada yang menelepon." Ucap Buk Siti menyuruh Pak Imran suaminya menghentikan motornya agar dia bisa leluasa berbicara dengan orang yang meneleponnya.
Buk Siti melihat nama pemanggil Fira yaitu Putri semata wayangnya. Buk Fira langsung menekan tombol jawab.
"Assalamualaikum, Buk," terdengar suara lembut dan sopan diseberang telepon.
"Waalaikumsalam, sayang, Ibuk sehat Nak, kamu sendiri gimana?" tanya Buk Siti kembali karena tadi Fira menanyakan kesehatannya.
"Fira juga sangat baik, Buk, Fira hanya ingin memberitahu Ibuk dan Bapak, kalau Fira akan pulang dua Minggu lagi, Fira sudah selesai pengajiannya." Ucap Fira.
"Alhamdulillah, Ibuk dan Bapak sangat senang kita akan berkumpul lagi."
Buk Siti juga tidak lupa menceritakan tentang Nazriel yang sudah menjadi Kakak Fira ingin melamar Arumi besok.
Fira juga sangat senang mendengar kalau Kakaknya yang belum pernah dia lihat wajahnya dan belum dia kenal akan bertunangan.
Setelah merasa cukup mengobrol lewat ponsel, akhirnya keduanya mengakhiri sambungan telepon keduanya.
Setelah itu, Pak Imran dan Buk Siti melanjutkan perjalanannya untuk pulang.
Sementara dirumah Ustadz Amir, Gus Reza datang kerumah Ustadz Amir, dia ingin memberi tahu sesuatu pada ustadz Amir.
"Ada apa Nak Reza, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya ustadz Amir saat Reza sudah duduk didepannya.
"Begini Abi." Reza dengan pedenya memanggil Abi pada Ustadz Amir seperti Arumi memanggil.
Namun Ustadz Amir juga tidak mempermasalahkannya, karena pikir Ustadz Amir lambat Laun Reza juga akan menjadi menantunya.
"Itu Abi, tadi saya tidak sengaja melihat Arumi sedang berbicara dengan seorang pemuda, sepertinya mereka sudah lama kenal, atu saya curiga mereka pacaran, dan karena lelaki itu mungkin dia mengulur waktu menerima lamaran ku." Ujar Reza mengadu pada Ustadz Amir.
"Yang benar, kapan kamu melihatnya, dan siapa lelaki itu?" tanya Ustadz Amir lagi.
Reza menyeringai sepertinya ini saatnya dia membuat Ustadz Amir emosi dan memaksa Arumi untuk menerima lamarannya karena saat Ustadz Amir tau kalau lelaki yang bersama Arumi adalah Ariel.
"Yang lebih parahnya lagi, kalau Abi tau siapa lelaki itu pasti Abi sangat marah." Ujar Reza lagi ingin memanas-manaskan Ustadz Amir.
Ustadz Amir penasaran, dan kelihatan emosi Ustadz Amir sudah mulai muncul.
"Katakan siapa lelaki itu, dan apa yang mereka bicarakan?" paksa Ustadz Amir agar Reza menceritakan semua.
Melihat emosi Ustadz Amir sudah mulai muncul, Reza tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membuat Ustadz Amir marah.
"Maaf Abi, seharusnya saya tidak menceritakan atau memberitahu Abi masalah ini, tapi saya juga tidak mau kalau Arumi akan sengsara jika bersama dengan lelaki itu." Reza mulai berakting berlaku seolah dia orang yang sangat baik.
"Sekarang katakan siapa lelaki itu, jangan membuat aku penasaran." Ustadz Amir sudah sedikit meninggikan suaranya.
"Lelaki itu Nazriel, yang tinggal dirumah Pak Imran, yang parahnya lagi besok dia akan kesini ingin melamar Arumi, jika itu benar, lalu bagai mana dengan lamaran saya?" Reza pura-pura sedih bahkan dia sudah mengeluarkan air mata agar Ustadz Amir simpati padanya.
"Kurang ajar, kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan menerima Anak miskin itu, lagi pula kita tidak tau asal-usul Anak itu, jangan-jangan dia Anak haram." Ustadz Amir dengan mudahnya menghina dia lupa bahwa dia seorang Ustadz.
Reza tersenyum senang sepertinya dia sudah berhasil memanaskan Ustadz Amir.
"Kamu tenang saja, sekarang kita harus memikirkan cara bagaimana kita menolak lamarannya besok." Ujar Ustadz Amir memikirkan cara untuk menolak lamaran Ariel.
"Aku punya ide, Abi tidak perlu risau."
Bersambung.
Jdi g' sabar liat si ustad itu bungkam,,
Tpi g' pa" jga sich lo mereka nikah kn mereka bkan saudara kandung
Semoga cepat ktmu y kesel aq ma ustad sombong itu..Apa ariel y pemilik kebun yg baru itu..