Ketika semua hanya bisa di selesai dengan uang. Yang membuat ia melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan uang, juga termasuk menju*l tubuhnya sendiri.
Tidak mudah menjadi seorang ibu tunggal. di tengah kerasnya sebuah kehidupan yang semakin padat akan ekonomi yang semakin meningkat.
Ketika terkuaknya kebenaran jati diri putrinya. apakah semua akan baik-baik saja? atau mungkin akan bertambah buruk?
Ikuti kisahnya dalam. Ranjang Penyelesaian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangannya
"Sah!"
Mata Lusia merah menyala tak bisa menerima kenyataan kalau suaminya menikah lagi.
Tidak! Aku tidak bisa membiarkan Aulia merampas Dave dariku! Apalagi sampai merampas harta Dave! Coba saja aku tidak membunuh bayi itu! Pasti sekarang aku sudah hidup tenang tanpa gangguan wanita lain. Batin Lusia dalam hati menyesali perbuatannya sudah membunuh putri kandungnya sendiri.
Tapi tidak! Kalau bayi itu masih hidup! Aron pasti marah padaku. Argh! Kenapa semua rencanaku jadi kacau berantakan! Batin Lusia.
Dave dan Aulia menyambut tamu undangan di upacara pernikahan sederhana mereka.
Dave maupun Aulia. Tidak terlihat bahagia, keduanya sama-sama menikah cuma karena terpaksa.
"Selamat. Kau pemenangnya, ternyata yang banyak diam itu. Lebih berbahaya daripada yang berjuang," sindir Zavian.
Mengingat di malam saat pertama kali Zavian dan Vegam bertemu Aulia. Zavian paling kepo dengan privasi Aulia, sedangkan Vegam hanya sesekali berbicara. Dan Dave cuma berbicara saat penting.
Tapi siapa yang menduga kalau Dave yang berhasil menikahi Aulia.
Dave tidak menanggapi Zavian. Dia hanya diam.
"Selamat, semoga lenggang." Ucap Vegam menepuk bahu Dave.
"Semoga kalian juga cepat dapat pendamping," doa Dave menyindir Vegam dan Zavian.
"Cih! Sombong!" Kesal Zavian.
Sementara Vegam tersenyum dengan mata elangnya menatap Aulia.
"Aku akan dapat pendamping. Setelah kau bercerai dengannya," ucap Vegam menunjuk Aulia dengan dagu.
Dave menatapnya dingin. "Apa maksudmu?" Nada Dave mulai terusik dengan ucapan rekannya.
"Karena aku ingin jandamu." Jawab Vegam terkikik melihat wajah merah Dave menandakan sahabatnya sedang marah.
"Aku cuma bercanda." Lanjut Vegam kali ini mengulur tangan depan Aulia.
"Selamat." Vegam mendekatkan wajahnya ke telinga Aulia saat Dave sibuk berbicara dengan salah satu rekan bisnisnya, hingga dia tidak menyadari apa yang dilakukan Vegam.
"Kau mendapatkan yang kau inginkan." Bisik Vegam menyeringai memegang tangan Aulia yang tak mau menyambut tangannya.
"Apa maksud mu? Aku tidak mengerti," elak Aulia menatap mata Vegam.
"Tanyakan dirimu sendiri. Kau pasti sudah punya jawabannya." Suara bariton berat pria itu membuat Aulia sulit mengalih pandangan dari wajah tampan Vegam.
Tentu saja Dave juga tidak kalah tampannya seperti Vegam. Cuma perbedaan mereka, Vegam laki-laki cool, sementara Dave pendiam dan lemah lembut pada wanita yang dia cintai.
Deg! Deg!
Menyadari jantungnya berdebar-debar. Aulia mengalih pandangan tak ingin bersitatap dengan Vegam. Apa lagi statusnya sudah menjadi istri orang.
***
Belum apa-apa. Rosalina sudah berdiri di depan pintu kamar Dave dan Lusia.
Dave baru tiba dari lantai 1 mendorong kursi roda istrinya ingin masuk ke dalam kamar. Sementara Aulia, sudah berada di kamar ujung lumayan jauh dari kamar Lusia.
"Mama? Apa yang mama lakukan di sini?" Tanya Dave berpikir pasti mama ingin membuat ulah lagi.
"Malam ini malam pengantin mu dengan Aulia. Mama cuma mau memastikan, kalau kau tidur di kamar Aulia. Bukan di kamar perempuan cacat itu," Rosalina menunjuk Lusia.
Lusia memegang erat kursi roda. Ingin sekali rasanya dia memberi pelajaran pada wanita paruh baya yang suka mengatur-ngatur putranya meski sudah menikah itu. Namun, dia memilih diam supaya Dave melihatnya dari sisi berbeda.
"Dave tahu, ma. Dan tolong, berhenti memanggil istriku wanita cacat. Aku hanya mencintai istriku, Aulia tidak akan bisa menggantikan posisi Lusia sampai kapanpun!" Dave menegaskan kemudian masuk ke dalam kamar meninggalkan ibu yang ternyata masih tetap menunggu guna memastikan putranya keluar dan tidur di kamar Aulia.
"Kamu mau ke kamar wanita itu, mas? Kamu mau tidur sama dia?" Tanya Lusia seperti tidak mau membenarkan Dave keluar dari kamar.
Mungkin Lusia lupa. Sebelumnya dia pernah membayar Aulia untuk ditiduri oleh suaminya sendiri.
"Kenapa Lusia? Kau lupa? Setahun yang lalu kau pernah membayar seorang wanita untuk tidur denganku. Kenapa sekarang kau terlihat begitu berat? Sebenarnya aku sendiri kadang suka tidak mengerti apa sebenarnya yang kau inginkan?" Jawab Dave menatap mata Lusia.
"Setahun yang lalu itu aku juga tidak mau tidur dengan wanita bayaran mu. Tapi kau memaksa, dan aku memenuhinya. Lantas kenapa sekarang kau tidak mau berbagi dengan wanita lain?" Lanjut Dave.
Disini akhirnya kita mengerti. Adegan dimana Dave pertama kali meniduri Aulia, sehingga merobek paksa keperawanan Aulia. Semua itu karena dia marah dengan Lusia yang memaksanya datang ke hotel dan tidur bersama wanita bayaran Lusia. Yang ternyata adalah Aulia, kini sudah menjadi istri muda Dave.
Lusia bungkam. Tidak ada kata-kata yang bisa dia keluarkan untuk membela diri. Karena pada kenyataannya dia sendiri yang memaksa Dave waktu itu.
"Aku siap berbagi suami. Tapi aku tidak mau kalau sampai wanita itu hamil! Karena kalau wanita itu hamil, mama mu pasti akan membuangku!" Ujar Lusia mengutarakan ketakutannya.
"Apa kau lupa Lusia? Pernikahan hari ini hanya untuk mama bisa punya cucu." Dave menangkup wajah istrinya. "Percaya sama aku, kalau Aulia hamil, dan selamat melahirkan. Aku janji akan menceraikan dia," ucap Dave berusaha meyakinkan pada Lusia bahwa pernikahannya hanya sementara.
"Kamu janji?"
"Iya, aku janji."
Lusia tersenyum merekah.
Ketakutannya disingkirkan sedikit mengurang saat Dave bilang akan menceraikan Aulia kalau mereka sudah punya anak.
Di kamar yang ditempati Aulia. Wanita itu baru saja selesai menghubungi putrinya yang berencana dia jemput besok untuk tinggal bersamanya.
Aulia berdiri di balkon kamar menghirup udara segar. Tiba-tiba bayangan Vegam muncul di benaknya.
Buru-buru Aulia menghapus bayangan itu.
"Aku kenapa? Kenapa bayang-bayang pria bermulut pedas itu bermain-main di benakku?" Lirih Aulia.
Jangan bilang kalau aku mulai menaruh rasa padanya akan perhatian-perhatian kecil yang dia berikan padaku. Tidak! Itu tidak bisa terjadi. Semua laki-laki sama saja, hanya menginginkan wanita saat membutuhkan.
Tidak jauh berbeda dengannya, yang hanya menganggap ku wanita pel*cur. Batin Aulia.
Ternyata saat berada di restoran sewaktu Dave bertanya pada Vegam tertarik atau tidak dengan Aulia, dan Vegam menjawab.
"Aku tidak suka pel*cur."
Semua itu tak lekang dari pendengaran Aulia yang kebetulan sudah mengganti pakaian ingin mengantar kopi untuk kedua pria itu.
Namun kakinya terhenti kala mendengar para pria itu sedang membahasnya.
Dan Aulia juga minta pelayan lain mengantar kopi Vegam dan Dave.
Tanpa Aulia sadari. Hatinya sakit mendengar Vegam menyebutnya pel*cur.
"Kau sudah puas merenung?" Suara bariton Dave menyadarkan Aulia.