Menjadi kaki tangan mafia, tidak menyurutkan peran ganda Mark Robert kali ini.
Duda memiliki anak satu, cantik dan cerdas itu. Tiba-tiba mengejar cinta seorang sekretarisnya. Setelah kegagalan perasaan cintanya atau hanya sekedar tanggung jawab dulu. Apakah Mark akan benar-benar jatuh cinta dan di cintai? Mengingat latar belakang hitam dirinya bukan menyurutkan wanita tidak menyukainya, malah mereka berharap dapat di sentuh pria beranak satu itu.
Selamat membaca kisah tuan Mark Robert sahabatnya Rendi Anggara ya Kak.
Salam hangat dari Herti Bilkis😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herti Bilkis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Istri Orang Kaya?
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Alea kini berdiri di depan sebuah pintu yang bertulisan Direktur utama. Setelah itu, Alea mencoba untuk mengetuk pintu ruangan tersebut hingga ketukan pertama sudah ada sahutan dari dalam ruangan tersebut yang membuat Alea menjadi salah tingkah dan terkejut. Baginya ini adalah kali pertama melamar sebuah pekerjaan langsung berhadapaj dengan direktur utama perusahaan. Ia berjalan melangkah perlahan memasuki ruangan itu dan saat ia mencoba melihat ke depan ruangan tersebut, Alea tertegun melihat ruangan yang begitu elegan rapih dan bersih dengan segala pemandangan melihat pemandangan kota singapura dari atas ruangan tersebut. Alea tertegun hingga terdengar batuk seorang pria yang membuat Alea terkejut dan melihat ke arah suara tersebut.
"Sepertinya perjalananmu menuju sini sangat menyenangkan ya Nona?" tanya Mark datar.
"Emm, saya ...."
"Duduk!" sela Mark datar.
'Eh, kenapa aku di suruh duduk? Duduk dimana ini? Sofa apa di hadapannya? Kok aku berasa ada yang janggal,' batin Alea.
Alea terdiam dari berdirinya masih belum mencerna apa yang sedang ia hadapi, hingga sorotan tatapan dingin dari pria yang ada di hadapannya tak jauh darimana ia berdiri.
"Hmm!" tegas Mark mengisyaratkan Alea untuk menghampirinya dan duduk di kursi depan direktur.
Namun Alea masih bertahan dengan posisinya yang masih berdiri dengan tingkahnya yang memandang pria yang ada di hadapannya.
'Kenapa aku merasa familiar ya dengannya! Tapi dimana? Aku baru di Singapura dan tetep aja lupa dia siapa,' batin Alea.
Mark mengangkat sebelah alisnya melihat Alea yang sama sekali tidak mengerti maksudnya. Ia tersenyum tipis dan tidak mengurangi wajah datarnya yang terlihat sangat jelas di hadapan Alea yang masih bergelut dengan pemikirannya.
"Hmmm,"
Mark masih tak membuka suaranya untuk bertanya lagi pada Alea. Ia mempertahankan wibawa seorang direktur di depan Alea.
"Maaf Tuan, sepertinya saya salah ruangan," ucap Alea membungkukan tubuhnya.
"Memang kau harusnya kemana?" tanya Mark.
'Aku juga tidak tahu resepsionis sialan mengerjai aku sepertinya!' batin Alea.
"Saya permisi dulu Tuan," pamit Alea.
"Kau yakin akan pulang dengan tangan kosong?" tanya Mark.
Alea yang baru beberapa langkah hendak keluar dari ruangan tersebut, ia berhenti dan melirik Mark sekilas dengan wajahnya yang polos.
"Kemarilah!" tegas Mark.
Seperti ada sebuah perintah mutlak dan magnet yang menariknya. Alea berjalan perlahan menghampiri meja Mark.
"Cepat!" ucap Mark kembali.
Kini Alea berada tepat di hadapan Mark dengan tatapan Mark yang masih menatap lekat gadis yang ada di hadapannya. Ia sedikit tersenyum tipis melihat tingkah gadis yang ada di hadapannya itu. Meski dia tidak tahu hal apa yang akan ia tanyakan tentang sebuah perekrutan karyawan. Karena untuk pertama kalinya Mark melakukannya sendiri.
"Untuk apa kamu kemari?" itu yang keluar dari mulut Mark.
"Melamar pekerjaan Tuan," jawab Alea masih berdiri di hadapan Mark.
"Hmm, kenapa kamu bekerja?" tanya Mark.
'Gila apa! Ya tentu saja demi uang!' batin Alea.
Mark terdiam saat tidak mendapat jawaban dari Alea. Ia mengerutkan dahinya gadis yang masih tidak menjawabnya dengan pertanyaannya. Hingga ia harus mengulang kembali perkataannya. Lain dari sifatnya, Mark tidak banyak berbicara apalagi bertanya. Lain dengan gadis yang ada di hadapannya itu. Gadis yang menarik bagi Mark saatmenghadapi pelanggan dengan tegas saat di supermarket.
"Hmm," ucap Mark lagi.
"Saya kerja karena uang Tuan," ucap Alea.
Hanya itu yang menjadi alasannya bekerja, baginya tinggal di Singapura memerlukan uang yang tidak sedikit jika ingin hidup jauh lebih baik lagi.
Mark menatap lekat wajah gadis yang ada di hadapannya sembari ia memikirkan paa yang di bicarakan gadis yang ada di hadapannya. Alasan ia bekerja terbilang sangat sederhana.
"Uang?" tanya Mark.
"Yah, aku bekerja bukan karena ingin pekerjaannya tapi aku ingin uangnya," ucap Alea dengan lantangnya.
"Kalo begitu menikah saja dengna pria kaya gak perlu bekerja dan dapat uang," balas Mark.
"Hah? Kenapa seperti itu?" tanya Alea mengerutkan dahinya.
"Bukannya yang kau cari uang bukan pekerjaan!" jawab Mark.
"Hmmm, benar juga ya? Tapi aku mana bisa mencari cowok kaya, aku memilih kerja saja deh," ucap Alea berpikir sejenak.
Mark tersenyum mendapati seorang gadis apalagi pekerja di perusahaannya bersikap tanpa canggung di hadapannya. Biasanya siapapun yang melihat Mark akan merasa canggung, takut atau berpura-pura agar bisa jauh lebih dekat lagi dengannya hanya sebagai kobeksi untuk keuntungan pribadi mereka.
Namun lain dengan gadis di hadapannya ini, ia terlihat polos tanpa tahu identitas Mark yang sebenarnya dan siapa yang sedang ia hadapi saat ini adalah Direktur utama dimana dia sedang melamar pekerjaan dan semestinya ia menunjukan kebaikan kinerjanya.
"Kau jadi sekertarisku!" ucap Mark.
"Eeh!" Alea tertegun.