"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 13
"Jangan lakukan apapun, atau mereka akan semakin menunduhku yang tidak-tidak, Mas. Mereka mengolokku karena melihat kita berdua ke dufan beberapa hari yang lalu."
Tampak Mas Firman menghembuskan napas kasar, "jangan jadi manusia yang terlalu baik Hanin. Kadang kebaikan kita itu dimanfaatkan orang untuk melakukan hal-hal gila."
"Aku hanya tak mau semuanya tambah panjang, Mas. Pikiranku sudah terlalu penuh oleh kenyataan soal Mas Harsa dan Mbak Naura, aku tak ingin pusing lagi."
"Kalau begitu, aku akan memecatnya saja. Agar kedepannya tak akan ada lagi yang mengolokmu apalagi menyinggungmu. Hanin, mungkin kalau dari awal aku tahu kamu adalah adik Naura. Kita mungkin bisa lebih akrab, sebagai kakak adik. Mungkin!"
"Kakak adik?" aku mengerjap bingung.
"Terus maumu apa, hm?" tanyanya menatapku. Sedikit memundurkan wajah, aku malah malu sendiri ditatap seperti itu.
"Aku mau kerja, Mas!" Aku bangkit, ingin beranjak dari ranjang tapi tangannya menahanku.
"Gimana kalau jadi asistenku saja, menggantikan posisi Marsya?" tawarnya.
"Hah?"
Asisten? Itu artinya aku akan lebih banyak punya waktu berinteraksi dengan Mas Firman dan menemani kemanapun dia pergi.
Oh no! Kalau sampai Ibu tahu, mungkin aku bukan hanya akan dimarahi tapi juga dipaksa resign dengan berbagai macam drama.
"Mau kan? Kalau misal Ibu gak setuju, kita bisa diam-diam. Kamu nggak perlu bilang, dan aku rasa selagi tidak bertemu saat kita meeting di luar, semua akan aman-aman saja!"
"Tapi, Mas, aku mana bisa!"
"Tugasmu hanya gampang kok, hanya memenuhi kebutuhanku!"
"Kebutuhan?" aku mengerjap bingung. Kebutuhan bagian apa? Apa itu salah satu siasat Mas Firman mendekatiku? Tapi dia hanya menganggapku adik sejak tau aku adalah adiknya Mbak Naura.
"Hari ini cukup, kamu temani aku ke pengadilan?" pintanya. "Dan mulai besok, kamu kerja sebagai asistenku."
"Tapi Mas, apa gak berlebihan."
"Setuju atau aku pecat Anita?" ancamnya membuatku spontan mengangguk.
Tanpa diduga, ia malah mengusap kepala ini lembut. "Ya Tuhan, jangan biarkan diri ini baper olehnya atau nggak semuanya akan semakin rumit. Aku nggak mau itu terjadi meski tak bisa memungkiri perasaan itu kadang datang dari nyaman."
"Permisi, Pak." terdengar suara ketukan di luar ruangan. Mas Firman menatapku, "aman, dia cuma antar teh hangat buat kamu."
"Gimana keadaan Mbak Hanin?" samar ku dengar suara Nadia, dan berharap itu memang Nadia.
"Lihat aja, dia di dalam."
Meski selanjutnya aku tak lagi mendengar obrolan mereka, tapi aku lihat Nadia masuk dan menatapku penuh tanya.
"Gimana keadaan Mbak Hanin?"
"Baik, Nad. Makasih udah khawatir, aku gak apa-apa, cuma syok aja tadi."
"Syukurlah!" terlihat Nadia menghembuskan napas lega, aku bersyukur dia benar-benar menjadi teman baikku disini.
Nadia celingukan, ia memang masuk sendiri. Sementara Mas Firman mungkin sedang duduk di kursi kebesarannya atau entah kemana. Yang jelas, saat Nadia mendekat aku pun tak kalah keponya.
" Kayaknya Anita dipecat, Mbak!" beritahunya berbisik.
"Apa?" aku jelas terkejut, bukankah Mas Firman baru memberiku pilihan. Kenapa secepat itu? Kesannya kok malah aku yang sok kuasa baru disenggol dikit yang nyenggol langsung lecet.
"Kan baru kayaknya, Mbak!" Nadia meringis.
"Astaga, tak kira. Barusan juga Mas Firman ngasih pilihan kok, bisa-bisanya kamu bilang dipecat. Aku bakal ngerasa bersalah banget, Nad."
Nadia malah tertawa, "bagus dong Mbak, gak usah merasa bersalah, lah dia yang nyakitin Mbak B aja."
Sebenarnya, aku nggak masalah kalau dibilang A sampai Z pun, bertahun-tahun kerja di kota meski gak pernah ketemu orang julid pun, aku sudah bebal. Apalagi akhir-akhir ini mentalku dipertaruhkan karena kelakuan Mas Harsa dan Mbak Naura.
Aku menggeleng tanpa sadar.
"Hayo mikir apa?" sentak Nadia mengejutkanku.
Aku mengubah posisi menjadi duduk, lalu celingukan ke luar. Mas Firman tak ada entah kemana, membuatku tersenyum pada Nadia.
"Balik kerja ke Jakarta kayaknya enak, Nad. Jauh dari orang gibah, mental aman."