Kesalahan satu malam Arsenio Bagas Dharmendra (28 th) menyeret seorang gadis bernama Aileen Bela Cempaka (23 th) di dalam sebuah pernikahan tanpa cinta.
Arsenio tak sengaja menyeret Aileen untuk tidur bersama dengan dirinya saat gadis itu sedang bekerja di sebuah hotel di mana Arsenio mengadakan pesta. Dalam kondisi mabuk Arsenio membawa Aileen ke kamar hotelnya hingga keduanya melakukan hal terlarang yang hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri.
"Aku hamil!" gumam Aileen memberanikan diri untuk bertemu dengan seorang pria yang telah menidurinya dua bulan lalu.
"Baik! Kita akan menikah!" ujar Arsenio dengan datar.
Aileen pikir cobaannya telah berakhir setelah Arsenio bertanggungjawab tetapi ternyata ia mengantarkan nerakanya sendiri saat bersama dengan Arsenio yang tak pernah menganggapnya ada.
Mampukah Aileen bertahan dalam pernikahan tanpa cinta yang dilakukannya oleh Arsenio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 (Menikah?)
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Lastri menunggu Aileen dengan harap-harap cemas. Ia berdiri dengan gelisah, takut sahabatnya diperlakukan buruk oleh Arsenio.
"Aku jadi gak tenang gini! Kenapa aku biarin Aileen menemui tuan Arsenio seorang diri ya? Gimana kalau Aileen di apa-apain sama tuan Arsenio? Gimana kalau anak yang di dalam kandungan Aileen di suruh gugurin sama tuan Arsenio! Tuan Arsenio, orang terpandang dan Aileen hanya wanita biasa mana mungkin tuan Arsenio mau menerima Aileen dan anaknya begitu saja," gumam Lastri menjadi gusar sendiri.
Lastri menggigit kuku jarinya menunggu Aileen dengan sangat gelisah, ia sama sekali tidak bisa tenang memikirkan sahabatnya yang berada di kamar Arsenio.
Lastri bernapas lega saat melihat sahabatnya sudah berjalan ke arahnya. Lastri menunggu harap-harap cemas saat melihat raut wajah sahabatnya tidak bisa ditebak olehnya.
"Leen!" panggil Lastri dengan pelan.
Aileen menatap sahabatnya dengan wajah yang tak bisa Lastri jabarkan.
"Kenapa? Kamu tidak di apa-apain kan sama tuan Arsenio!" tanya Lastri dengan gusar.
Aileen menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa wajah kamu seperti ini? Dia gak mau tanggungjawab? Kalau iya, biar aku yang menemui tuan Arsenio!" ujar Lastri yang ingin melangkah tetapi Aileen menahan tangannya dengan menghela napasnya dengan kasar.
"Tuan Arsenio mau bertangungjawab dan seminggu lagi kami akan menikah!" ujar Aileen dengan tersenyum tetapi senyumannya terasa sangat hambar karena entah mengapa Aileen merasa semuanya akan terasa lebih berat.
"S-seminggu lagi kalian akan menikah? I-itu tidak terlalu cepat? Mempersiapkan pernikahan pasti lama," ujar Lastri dengan syok, ia masih tak menyangka jika tuan Arsenio mau bertanggungjawab dengan sahabatnya yang sudah ia hamili, tetapi walaupun begitu Lastri tampak senang karena itu artinya kehidupan sang sahabat akan berubah menjadi lebih baik. Itulah yang Lastri harapkan dari kehidupan mereka setelah badai datang bertubi-tubi.
"Aku tidak tahu, Las! Dia berkata seperti itu kepadaku tadi. Dan aku diminta untuk pulang bersamanya hari ini dan tinggal di rumahnya. Las, bagaimana dengan kamu ketika aku pergi? Aku tidak mau meninggalkan kamu seorang diri," ujar Aileen dengan bimbang. Selain takut dengan Arsenio, Aileen tak ingin meninggalkan sahabatnya begitu saja.
Lastri mengambil tangan sahabatnya sambil tersenyum, dalam hati ia juga merasa sedih karena akan berpisah dengan sahabatnya ini tetapi demi kebahagiaan Aileen, Lastri tak masalah karena ia tahu sahabatnya sudah banyak menanggung beban seorang diri. Dari mulai kehilangan sosok ayah kandung, mendapatkan perlakuan buruk dari ayah tirinya hingga menyebabkan sang ibu juga meninggalkan dirinya, lalu di perkosa oleh bos mereka sendiri hingga hamil. Sangat miris sekali kehidupan sahabatnya bukan? Jadi, Lastri tak masalah jika Aileen meninggalkan dirinya toh ia masih bisa bertemu dengan Aileen, kan?
"Aku tidak apa-apa! Yang terpenting anakmu dapat pengakuan dari ayahnya! Aku bahagia melihatmu bisa bahagia dan menikah dengan tuan Arsenio. Aku yakin dia akan berubah menjadi lebih baik setelah dia mempunyai anak," ujar Lastri dengan tersenyum dan mata yang berkaca-kaca.
Aileen terset kecut. "Tapi pernikahan kami terjadi karena tanpa cinta, Las! Dia akan membuangku ketika kekasihnya kembali! Apakah pernikahan tanpa cinta ini harus terjadi?" gumam Aileen di dalam hati tak ingin membuat sang sahabat mencemaskan dirinya. Ia harus mandiri dan menyelesaikan permasalahan dirinya.
"Amin! Semoga tuan Arsenio bisa baik kepadaku dan anak kami! Aku hanya ingin dia mengakui anak ini! Aku tidak ingin apa yang aku rasakan terjadi pada anakku juga!" ucap Aileen dengan tersenyum.
"Aamiin! Ya sudah nanti sepulang kerja aku akan membantu membereskan bajumu ya!" ucap Lastri dengan tersenyum.
"Semoga kamu bahagia, Leen! Sudah cukup penderitaanmu selama ini!" gumam Lastri di dalam hati yang sangat tulus untuk sahabatnya tersebut.
****
Ini sudah jam waktunya untuk pulang kerja. Aileen berjalan bersama dengan Lastri tetapi tubuh keduanya mematung saat Arsenio tiba-tiba berada di hadapan mereka dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung celana kainnya.
"Pulang bersama saya!" ucap Arsenio dengan nada penuh perintah.
"S-saya ambil pakaian saya dulu, Tuan!" ucap Aileen dengan gugup.
"Tidak usah! Semua keperluan kamu sudah Karina siapkan! Jadi, kamu hanya perlu ikut dengan saya! Saya tidak menerima penolakan, Aileen!" ujar Arsenio dengan dingin.
Aileen menatap Lastri dengan bimbang. "Bagaimana dengan sahabat saya, Tuan?" tanya Aileen yang tidak ingin meninggalkan sahabatnya seorang diri.
Arsenio menatap ke arah Lastri yang menbuat gadis itu gugup seketika. "Dia bisa pulang dengan Taxi! Sebentar lagi Taxi akan datang," ujar Arsenio dengan datar.
"T-tapi..."
"Jangan membantah saya, Aileen! Ayo masuk!" ujar Arsenio dengan tajam saat mobilnya sudah datang.
"Sudah sana pergi, Aileen! Sebentar lagi Taxi yang di pesan tuan Arsenio akan datang," gumam Lastri dengan pelan.
Aileen tampak diam dengan bimbang. Namun, setelah melihat Taxi yang dipesan Arsenio datang Aileen tampak lega.
"Aku pergi dulu ya, Las!" ujar Aileen dengan lirih.
"Iya... Selamat bahagia!" ujar Lastri dengan tersenyum.
Aileen mengangguk, ia ikut masuk ke dalam mobil mewah milik Arsenio. Aileen melambaikan tangannya ke arah Lastri dengan perasaan yang tak rela. Apakah keputusan untuk menikah dengan Arsenio adalah sebuah hal yang benar?
"Kenapa kamu ragu? Jika iya silahkan keluar tapi ingat saya tidak akan mengakui anak ini sebagai anak saya! Dan saty lagi saya pastikan hidup kamu dan sahabat kamu akan menderita!" ujar Arsenio dengan tajam. Kali ini ia tak ingin kehilangan mangsanya, sekali datang kepadanya Aileen adalah miliknya sampai dirinya bosan dan Chelsea kembali kepada dirinya.
"T-tidak Tuan!" ujar Aileen dengan terbata.
Arsenio menyeringai puas. "Jalan, Pak!" perintah Arsenio dengan dingin.
"Baik, Tuan!"
Mobil sudah berjalan meninggalkan hotel, Aileen menatap ke belakang di mana Taxi yang Lastri tumpangi juga sudah berjalan. Perasaan tak enak terus menghantui Aileen, yang membuat wanita itu gelisah sambil memegang perut datarnya.
Arsenio memperhatikan tangan Aileen yang berada di atas perut gadis itu. Entah apa yang membuat Arsenio tiba-tiba tersenyum tipis. Bahkan mengarahkan tangannya ke arah perut Aileen hingga membuat wanita itu mematung.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Arsenio.
"B-baik Tuan!" sahut Aileen dengan terbata karena tak menyangka jika Arsenio akan bersikap seperti ini kepadanya.
"Bagus! Besok kita akan pergi ke dokter kandungan!" ucap Arsenio dengan tegas yang membuat hati Aileen menghangat. Benarkah yang di sampingnya ini adalah seorang Arsenio yang terkenal dengan sikap arogan dan dinginnya?
"Sayang, apa kehadiranmu bisa membuat ayahmu melunak? Jika iya, terima kasih, Nak!" gumam Aileen di dalam hati.
Arsenio menarik tangannya kembali. "Arsenio, apa yang telah kau lakukan? Jangan membuat wanita yang ada di sampingmu besar kepala! Ingatlah pernikahan kalian terjadi karena anak ini akan membuat mama tidak menuntutmu untuk terus menikah! Setelah Chelsea kembali maka kamu akan melepaskan Aileen tetapi tidak dengan anakmu!" gumam Arsenio di dalam hati. Dengan menikah bersama Aileen maka kedua orang tuanya tidak akan menuntutnya untuk segera menikah, orang tuanya tidak akan bisa menolak Aileen karena di dalam rahim Aileen ada penerus keluarga Dharmendra.
semangat ya nulisnya😍😍