NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Misi Lapangan — Detik-detik di Jalan Raya

“Itu rencananya.”

Ardi tidak menunggu jawaban panjang dari Hartono. Ia keluar dari rumah makan kecil itu dengan langkah cepat, melewati keluarga pasien yang masih menunduk di atas mangkuk soto, lalu berlari menyeberang ke arah IGD RSUD Soetomo.

Di halaman ambulans, Dokter Fajar sudah berdiri bersama Rudi Setiawan.

Rudi memakai rompi emergency, rambutnya berantakan, wajahnya masih menyimpan sisa ragu yang sama seperti hari pertama Ardi kembali. Bedanya, kali ini ia tidak menghindari tatapan.

“Kita ke lokasi?” tanya Ardi.

“Jalan luar kota arah Sidoarjo,” jawab Fajar. “Tabrakan beruntun. Korban utama Pak Lukito, pejabat Dinas Kesehatan Jawa Timur. Mobilnya terjepit truk. Tim pemadam sedang ekstrikasi.”

Rudi menambahkan, “Polisi minta dokter ikut ke lokasi. Katanya korban masih sadar tadi, tapi tekanan darah turun.”

Fajar menatap Ardi. “Kamu bisa?”

Pertanyaan itu bukan soal keberanian lagi.

Itu soal tubuh.

Ardi belum tidur. Matanya perih, tengkuknya kaku, dan setiap otot seperti menagih jam istirahat yang tidak pernah dibayar.

Tapi panel biru Sistem Modifier masih menyala di sudut pandangnya.

Misi Lapangan.

Batas waktu berjalan.

“Saya bisa.”

Fajar menunjuk ambulans. “Rudi ikut kamu. Di lokasi, kalau situasi terlalu kacau, prioritasnya stabilisasi dan evakuasi. Jangan jadi pahlawan bodoh.”

Rudi menoleh ke Ardi. “Dengar tuh, Dok. Jangan bikin gue ikut mati di hari pertama kerja bareng lo.”

Ardi naik ke ambulans. “Kalau takut, duduk di depan.”

Rudi mendengus. “Gue takut, tapi gue juga penasaran.”

Sirene menyala.

Ambulans melesat keluar dari halaman Soetomo, menembus lalu lintas Surabaya yang mulai padat. Motor menepi setengah hati, mobil pribadi terlambat memberi jalan, dan sopir ambulans menekan klakson panjang sampai suara itu terasa masuk ke tulang.

Di dalam kabin, Ardi memeriksa tas emergency. Cairan infus. Balutan tekan. Tourniquet. Cervical collar. Splint. Obat vasopressor terbatas. Tidak ada ruang operasi. Tidak ada lampu steril. Tidak ada mesin canggih.

Hanya waktu, tangan, dan keputusan.

Rudi meliriknya. “Lo kelihatan kayak mau pingsan.”

“Belum.”

“Jawaban bagus. Sangat menenangkan.”

Ardi hampir tersenyum, tapi sirene berhenti mendadak ketika ambulans memasuki area kecelakaan.

Jalanan berubah menjadi neraka kecil.

Tiga mobil ringsek saling menabrak. Satu truk miring di bahu jalan. Pecahan kaca berkilau di aspal seperti hujan beku. Bau bensin, karet terbakar, dan darah bercampur di udara panas. Polisi mengatur warga yang berkerumun sambil mengangkat ponsel. Petugas pemadam memotong pintu mobil hitam yang bagian depannya hancur.

“Dokter dari Soetomo!” teriak sopir ambulans.

Seorang polisi berlari mendekat. “Korban utama di mobil hitam. Masih bernapas tapi lemah. Kami takut mengeluarkan tanpa dokter.”

Ardi dan Rudi berlari.

Pak Lukito terjepit di kursi belakang. Pria itu berusia sekitar lima puluhan, kemeja batiknya robek, wajahnya pucat berkeringat. Sabuk pengaman menahan tubuhnya, tapi dashboard depan terdorong ke belakang. Ada darah di sisi kepalanya, namun yang membuat Ardi berhenti bukan luka itu.

Perut kiri atasnya membesar tegang.

Napasnya cepat dan dangkal.

“Pak Lukito, saya Dokter Ardi dari Soetomo. Bapak dengar saya?”

Kelopak mata pria itu bergetar. “Sa... sakit...”

“Di mana paling sakit?”

Tangan Pak Lukito bergerak lemah ke perut kiri.

Rudi berjongkok di sisi lain. “Tekanan nadi lemah. Kulit dingin.”

“Bukan cuma patah tulang,” kata Ardi.

Rudi menatapnya. “Internal bleeding?”

“Kemungkinan limpa.”

Seorang petugas pemadam menoleh. “Dok, kami bisa potong pintu sekarang, tapi butuh lima menit.”

“Potong. Tapi jangan tarik korban sebelum saya pasang akses dan stabilkan leher.”

Rudi membuka tas. “Cervical collar.”

Ardi memasang collar dengan cepat, lalu mencari vena. Vena pasien kolaps. Tekanan darah jatuh. Tangan Ardi bergerak cepat, tapi medan terbatas, posisi tubuh pasien buruk, dan keringat membuat sarung tangannya licin.

Panel biru menyala.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【SISTEM MODIFIER】 ║

║ ║

║ Skill baru terdeteksi! ║

║ ▸ Hemostasis Manual - Level: ║

║ Pemula ║

║ ║

║ Poin Modifikasi tersedia: 20 PM ║

║ Upgrade ke Menengah? (Biaya: 10 PM)║

║ ║

║ [YA] [TIDAK] ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Ardi tidak ragu.

[YA]

Rasa hangat menjalar ke telapak tangannya. Bukan pengetahuan sebesar transplantasi Livi, tapi cukup tajam: titik tekan, sudut kompresi, cara membaca perdarahan internal dari perubahan kulit, kapan harus menekan dan kapan justru tidak boleh menambah kerusakan.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【Upgrade Berhasil!】 ║

║ Skill Hemostasis Manual telah ║

║ ditingkatkan ke level Menengah. ║

║ ║

║ Saldo PM: 10 ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

“Rudi, dua jalur IV besar. Kalau gagal perifer, siapkan intraosseous.”

Rudi bergerak tanpa membantah. “Siap.”

Ardi menyelipkan tangan ke bawah arcus costae kiri, memberi tekanan terarah yang tidak tampak dramatis tapi membuat napas Pak Lukito sedikit lebih teratur. Ia tidak bisa menghentikan perdarahan limpa dari luar. Tapi ia bisa memperlambat aliran, menjaga tekanan, dan membeli menit yang cukup sampai meja operasi.

“Tekanan?”

Rudi melihat monitor portabel. “Delapan puluh per empat puluh. Nadi seratus empat puluh.”

“Cairan hangat, jangan banjir. Kita butuh darah di RS, bukan mengencerkan semuanya di jalan.”

Rudi menatapnya sekilas.

Itu bukan instruksi dokter yang panik. Itu instruksi orang yang membaca trauma seperti peta.

Pintu mobil akhirnya terpotong.

“Siap evakuasi!” teriak petugas pemadam.

“Pelan,” kata Ardi. “Satu garis. Jangan putar pinggul.”

Mereka mengangkat Pak Lukito ke spine board. Pria itu mengerang, tekanan turun lagi. Monitor menjerit.

“Dok!”

Ardi menekan lebih dalam, tepat di titik yang baru saja dipahami tangannya. “Tahan. Rudi, oksigen maksimal. Beri vasopressor kecil kalau MAP jatuh lagi.”

“Lo yakin dosis segitu cukup?”

“Kalau lebih, jantungnya kerja terlalu keras dan perdarahannya makin deras.”

Rudi mengumpat pelan, tapi tangannya mengikuti.

Mereka memasukkan Pak Lukito ke ambulans. Sirene kembali meraung. Di belakang, polisi membuka jalan. Di depan, waktu menipis.

Ambulans berguncang melewati aspal tidak rata.

Rudi memegang infus dengan satu tangan dan monitor dengan tangan lain. “Tekanan tujuh puluh lima.”

“Beri bolus kecil.”

“GCS turun.”

Ardi menepuk pipi Pak Lukito pelan. “Pak Lukito, tetap dengar suara saya. Bapak sedang menuju Soetomo. Jangan tidur dulu.”

Kelopak mata Pak Lukito bergerak.

“Anak... saya...”

“Nanti Bapak bicara sendiri dengan mereka. Sekarang tugas Bapak bernapas.”

Rudi menatap Ardi lagi.

Kali ini bukan curiga.

Lebih seperti orang yang mulai percaya dan tidak suka mengakuinya terlalu cepat.

“Gue pikir...” Rudi mengganti tabung oksigen kecil. “Gue pikir cerita orang soal lo mungkin benar.”

“Cerita yang mana?”

“Yang bilang lo bahaya buat pasien.”

Ambulans menghantam lubang. Tubuh mereka terguncang.

Ardi menjaga tekanan tangannya agar tidak bergeser. “Sekarang?”

Rudi melihat monitor. Tekanan naik tipis ke delapan puluh lima. Saturasi membaik.

“Sekarang gue pikir orang yang bilang begitu belum pernah lihat lo di lapangan.”

Tidak ada waktu untuk menjawab.

RSUD Soetomo muncul di depan.

Tim sudah menunggu di pintu IGD. Fajar berdiri paling depan, jas putihnya terbuka, wajahnya tegang.

“Limpa rupture kemungkinan besar,” kata Ardi begitu pintu ambulans terbuka. “Trauma multipel, syok hemoragik, respons sementara dengan cairan terbatas. Butuh laparotomi segera.”

Fajar tidak membuang waktu. “Ruang operasi siap. Ardi, ikut.”

Hendro muncul di belakang tim. “Dia baru dari lapangan dan masih tenaga kontrak. Biarkan dokter lain—”

“Tidak sekarang, Hendro,” potong Fajar.

Suara itu membuat koridor diam.

Ardi tidak menoleh pada Hendro. Ia tetap menekan titik hemostasis sampai Pak Lukito dipindahkan ke meja operasi.

Operasi berlangsung cepat dan kasar, seperti perang kecil melawan darah. Fajar menjadi operator resmi. Ardi berdiri sebagai asisten, tapi setiap kali tekanan turun atau perdarahan bersembunyi di balik lipatan jaringan, tangannya bergerak lebih dulu.

Limpa robek.

Pembuluh kecil pecah.

Hematoma retroperitoneal dicurigai tapi tidak aktif.

Mereka menutup sumber utama perdarahan, memasang drain, dan mengirim Pak Lukito ke ICU dalam kondisi stabil.

Ketika pintu ruang operasi tertutup di belakang brankar, panel biru muncul.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【Misi Selesai!】 ║

║ Misi Lapangan: Detik-detik di Jalan║

║ ║

║ Hadiah: +20 PM ║

║ Saldo: 30 PM ║

║ ║

║ Bonus Pembuka: Mode Misi Lapangan ║

║ telah terbuka. ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Ardi bersandar sebentar ke dinding koridor.

Kakinya hampir menyerah.

Rudi berdiri di sampingnya, sama berantakan, dengan noda darah di lengan baju. Ia melihat Ardi dari atas sampai bawah, lalu mengangkat jempol.

“Gue salah menilai lo, bro.”

Ardi menatap jempol itu, lalu wajah Rudi.

“Cuma salah?”

Rudi menyeringai lelah. “Oke. Salah besar. Puas?”

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Soetomo, Ardi tertawa pendek.

Belum sempat tawa itu selesai, Fajar keluar dari ruang dokter dengan ponsel di tangan.

“Besok pagi, sekretaris Pak Lukito ingin bicara. Katanya keluarga ingin tahu siapa dokter yang menahan dia tetap hidup sampai rumah sakit.”

Rudi bersiul pelan. “Dinas Kesehatan, bro. SIP lo bisa makin cepat.”

Ponsel Ardi bergetar.

Nomor tak dikenal.

Ia membuka pesan singkat.

Ardi? Ini Dewi. Kita perlu bicara soal anak-anak.

Tawa kecil yang baru muncul di dadanya langsung padam.

Di layar, nama yang tidak ia simpan itu terasa lebih dingin daripada ruang operasi.

Ardi menggenggam ponsel.

“Akhirnya,” gumamnya.

Rudi menoleh. “Apa?”

Ardi memasukkan ponsel ke saku, tepat di samping dompet yang menyimpan foto Gatra dan Sari.

“Urusan lama yang sudah terlalu lama menunggu.”

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!